Wednesday, 26 August 2020

MEMAAFKAN

MEMAAFKAN

Merupakan suatu keluhuran budi yang tiada tara apabila kita memaafkan orang yang menzalimi kita, maka bangunan di surga akan menunggu kita dan hal tersebut  merupakan suatu akhlak yang mulia.

Tidak gampang memberi maaf kepada orang yang mendzalimi kita. Ada semacam rasa sakit yang tergores yang seakan-akan tidak bisa lepas dari ingatan dan akan senantiasa membekas. Untuk menjadi pribadi yang berlapang dada dan pemaaf.

Manusia adalah tempat salah dan dosa. Memberi maaf orang atas kesalahannya termasuk keutamaan tersendiri bagi orang yang tersakiti.

Sifat pemaaf bukankah sifat yang mudah walaupun memang mudah diucapkan. Apalagi kalau ternyata dia menyakiti hati kita. Karena kesakitan hati itu lebih berat daripada kesakitan badan. Kalau kita terkena pisau beberapa hari atau beberapa minggu sudah sembuh. Tapi kalau hati kita yang disakiti, mungkin bisa bertahun-tahun baru bisa sembuh. 

Kecuali orang-orang yang hatinya betul-betul jiwanya pemaaf, yang betul-betul mengharap keridhaan kepada sang kholik. semata.

KEMENANGAN

KEMENANGAN

Kita kadang bingung sendiri. Ada yang sering mengusik pikiran kita, yang katanya jangan terlalu menampakkan keagamaan kita, kearab-araban ini di Indonesia, berjanggut, celana cungkrang, berjilbab, bercadar,  posting di medsos untuk mengajak kebaikan apa lagi bidang agama, katanya tidak gaul, ketinggal jamankah atau mereka tersinggung belum siap berubah Pada kebaikan.

"Direndahkan tidak mungkin jadi sampah, disanjung tidak mungkin jadi rembulan. Maka jangan risaukan omongan orang sebab setiap orang membaca kita dengan pemahaman dan pengalaman yang berbeda"

Teruslah melangkah selama kita di jalan yang benar, meski terkadang kebaikan tidak selalu dihargai.. Tidak usah repot-repot menjelaskan tentang diri kita, sebab yang menyukai kita tidak butuh itu dan yang membenci kita tidak percaya itu.

Hidup bukan tentang siapa yang terbaik, tapi tentang siapa yang mau berbuat baik. Jika didzalimi orang, jangan berpikir untuk membalas dendam tapi berpikirlah cara membalas dengan kebaikan.

Pemenang bukanlah kita yang memiliki Jiwa Pendendam..
Namun, kita yang mampu kuat berdiri gagah meskipun ada orang berusaha menghancurkan kita, ada orang yang menyepelekan kerja keras kita, bahkan ada orang yang berpikir buruk tentang diri kita.

Tanpa membalas sedikit pun.. Itulah Jiwa Pemenang 

MURID BANDEL

MURID BANDEL

Guru-guru di sekolah-sekolah favorit itu cara mendidiknya lembut-lembut, murid mereka manis-manis dan berprestasi. Itu bukan karena gurunya pada pinter. Tapi karena sejak penerimaan siswa pun, yang diterima sudah pinter-pinter, dari keluarga yang baik dan nggak pernah kekurangan. Jadi bahan dasarnya sudah bagus duluan.

Kualitas sekolah bukan hanya terkait kualitas guru, namun juga kualitas murid sejak masuk kelas satu. Walhasil, sistem penilaian sekolah pun ala-ala pasar bebas: titik start-nya tidak sama, tapi garis finish-nya sama.

Dulu, memukul anak itu barangkali oke-oke saja. Secara konstruksi sosial di zamannya, hal itu tidak mengapa. Dan karena ia lazim, efek psikologis bagi anak-anak pun tidak akan berlebihan. Anak akan takut dengan guru yang menghukumnya, lalu berdisiplin, tapi tidak tumbuh dendam dan trauma. Kenapa? Ya karena memang di masa itu si anak melihatnya sebagai hal normal belaka.

Kenapa murid-murid banyak yang melanggar peraturan, dan tidak berubah sedikit pun meski sudah diberi hukuman keras, bahkan fisik.Ternyata, anak-anak bengal yang kebanyakan laki-laki itu punya satu naluri: cari perhatian ke gadis-gadis! Jadi ketika mereka dihukum keras, lebih-lebih lagi fisik, mereka malah akan bangga dan merasa jadi hero di hadapan cewek-cewek cantik di sekolah mereka. Disuruh push up itu "gagah". Tapi, menuangkan tanah dalam pot bunga? Tentu amat jauh dari citra keperkasaan ala-ala Gundala. 

Metode mendidik yang paling pas bagi siswa di "lingkup sosiologis" masing-masing. Menghapus tumpukan tugas administratif para guru, niscaya kesempatan untuk membuat inovasi-inovasi demikian akan terbuka lebar.

Itu saja. Anggaplah itu kado ala kadarnya dari saya, di Hari Guru 25 November. Selamat.

JALANI SAJA

*JALANI SAJA*

Jalani hidup ini dengan penuh harapan, walau hidup tak selalu bahagia.
Berilah senyuman, walau hati tak lagi mampu untuk bertahan.
Belajarlah memaafkan, walau dirimu sudah sangat terluka…

Dalam hidup ini, kadang apa yang engkau rencanakan berjalan tidak seperti apa yang kau harapkan.
Kehidupan mengajarkan bagaimana engkau membuat semua kejadian menjadi kebaikan, bukan kesedihan.
Saat tekanan datang, katakan dalam hatimu, “setelah ini, aku bisa lebih baik lagi…”

Anggaplah Setiap masalah dalam hidup ini se-mata-mata untuk membentukmu menjadi lebih tangguh dan bijaksana…
Berani mati tidaklah luar biasa, namun berani tetap hidup pada saat menderita dan tidak memiliki apa-apa lagi, itu barulah luar biasa!.
Hidup itu indah, masih banyak lagi hal luar biasa yang belum engkau temukan…

Jangan memandang rendah dan remeh orang lain hanya karena ia tak lebih pintar, tak lebih kaya, tak lebih beruntung dan tak mempunyai kedudukan baik seperti engkau…
Kadangkala, batubara yang legam terlihat lebih berkilau dibanding dengan permata yang mahal.

IRI

IRI 

Rumput dihalaman tetangga lebih hijau. Ketika melihat orang sukses kita selalu berkata, betapa enaknya ya hidup mereka sekarang, punya banyak uang berlimpah, aset yang banyak, hidup yang serba kecukupan.

Kita mudah memakai hukum pembanding, akibatnya bukan rasa bersyukur yang diharap, tapi bisa jadi rasa iri yang menyelinap di hati.

Kerap kita hanya melihat saat orang ada di puncak, tapi tak pernah tau kapan mereka mulai merayap dan merangkak. Orang mudah melihat senyum yang lepas tanpa melihat air mata dan keringat yang diperas.

Kita menginginkan keberhasilan orang tapi kita tak berani bayar harganya “Jika Anda hanya ingin sukses tapi malas dan mudah menyerah. lebih baik jangan bermimpi ! ”

*So, BERMIMPILAH UNTUK SUKSES TERTINGGI & BANGUN !*

*KITA AKAN MENJADI SEPERTI APA YANG KITA MIMPIKAN*

Mari kita isi hidup ini berfungsi dan memfungsikan yg positif sekitar diri.
Libatkan Tuhan dalam segalanya, maka Tuhan akan memberikan terbaik di dunia dan akherat.

ANAK JALANAN

ANAK JALANAN

Biasanya minggu pagi bersama anak saya Ufa Olah raga jalan santai ngitari alun-alun Banjarnegara setelah capai dilanjut makan pagi di sekitaran wisata kuliner melihat kerumunan anak-anak umur sekitar belasan tahun, laki-laki dan perempuan yang biasa kita temukan nongkrong dan tidur di emper toko atau bangunan kosong bersama-sama dengan kehidupan bebas. Bermodalkan gitar kecil/gitar kencrung, satu gitar kencrung yang menemani bisa 3 sampai 5 anak untuk ngamen ke suatu tempat untuk menghasilkan beberapa koin uang. Hasilnya untuk makan dan lain-lain.

Anak jalanan memiliki konotasi yang negatif, namun pada dasarnya dapat juga diartikan sebagai anak-anak yang bekerja dijalanan yang bukan hanya sekedar bekerja di sela-sela waktu luang untuk mendapatkan penghasilan, melainkan anak yang karena pekerjaannya maka mereka tidak dapat tumbuh dan berkembang secara wajar baik secara jasmani, rohani dan intelektualnya, nilai pendidikan dan kasih sayang semakin menurun. Anak dimotivasi untuk bekerja dan menghasilkan uang.

Kemiskinan bukanlah satu-satunya factor penyebab timbulnya masalah anak jalanan. Dengan demikian, adanya sementara anggapan bahwa masalah anak jalanan akan hilang dengan sendirinya bila permasalahan kemiskinan ini telah dapat diatasi, merupakan pandangan keliru.

Masalah anak jalanan adalah masalah yang sangat kompleks yang menjadi masalah kita bersama. Masalah ini tidak dapat ditangani hanya oleh satu pihak saja melainkan harus ditangani bersama-sama oleh berbagai pihak yang perduli permasalahan ini juga dapat diatasi dengan suatu program yang komprehensi dan tidak akan dapat tertangani secara efektif bila dilaksanakan secara persial. Dengan demikian kerja sama antara berbagai pihak, pemerintah, LSM, masa media mutlak diperlukan.

TEMAN SEJATI

TEMAN SEJATI

Sahabat sejati itu adalah makhluk yang langka. Ketika kita suka dan jaya, banyak orang yang mau mendekati dan menemani, tetapi ketika kita jatuh dalam kehinaan, sangat sedikit bahkan tidak ada orang yang mau mengenal kita. Apalagi di dunia politik, kawan dan lawan itu tergantung kepentingan. Jangan terlalu berharap ada sahabat yang selalu setia dalam suka dan duka di dunia semacam itu.

Dalam keadaan demikian, pada umumnya orang akan kembali kepada lingkaran kecil dan dekat dalam hidupnya, yaitu keluarganya.

Ia perlu mendapat nasihat dari suami atau isterinya, saudara-saudaranya atau bahkan anak-anaknya. Jika hubungan dalam keluarga itu harmonis, nasihat mereka akan cenderung didengarkan. Bagaimanapun, ada kepercayaan yang lebih tinggi terhadap keluarga dibanding orang luar.

Namun, pada akhirnya, manusia perlu menasihati dirinya sendiri. Dia tak bisa hanya tergantung pada yang dituakan, guru, ulama, atasan, bawahan, yang muda, sahabat yang setara atau keluargannya.

Dia perlu menasihati dirinya sendiri dengan membaca buku-buku yang mengandung hikmat, mendengarkan ceramah atau menonton film. Dia perlu merenung, introspeksi, menghitung baik-buruk diri sendiri.

Alhasil, setiap kita perlu petunjuk dan peringatan dalam hidup. Kita perlu nasihat agar tidak tersesat. Nasihat yang paling diperlukan, kata kitab suci adalah tentang kesabaran dan kebenaran.

Kini kesabaran makin diperlukan untuk menghadapi budaya instan dan ujaran kebencian. Begitu pula, kebenaran sejati sangat penting untuk menghadapi serbuan pencitraan, berita bohong dan fitnah era pasca-kebenaran.