Monday, 13 March 2017

TUKANG HUJAT


Tangis pemain timnas Indonesia pecah saat wasit Mohd Abdullah Hassan meniup peluit panjang tanda pertandingan final Piala AFF 2016 melawan Thailand di Stadion Rajamangala, Bangkok, Thailand, Sabtu atau tadi malam, usai.
Indonesia pada pertandingan penentuan ini harus mengakui keunggulan tim tuan Thailand dengan skor 0-2. Dengan hasil ini, anak asuh Alfred Riedl ini kalah dengan agregat 2-3 setelah dipertandingan pertama di Stadion Pakansari, Bogor, Rabu, menang dengan skor 2-1.
Nampak di lapangan Lerby Eliandru, Fachruddin Aryanto hingga Boaz Solossa terlihat berkaca-kaca. Kondisi ini membuat official Indonesia harus turun ke lapangan untuk menenangkan pemain.
Tidak ketinggalan Andik Vermansah yang mengalami cedera saat dipertandingan final pertama melawan Thailand juga langsung bergabung dengan teman-temannya yang bertahan di tengah lapangan. Pemain Selangor FA ini terlihat menenangkan pemain Indonesia. dengan permainan sudah maksimal timnas garuda selayaknya mendapat penghargaan karena sudah dititik maksimal pencapaian final walau dapat juara ke 2 kita tetap menghapriasi kemenangannya tersebut apa lagi Indonesia barusan lepas dari kena sangsi dari FIFA. Jangan sampai kita dijuluki sebagai tukang hujat tapi menjadi tukang legowo.

ABABIL


Sungguh wajar jika banyak orang kecewa dengan kekalahan timnas sepak bola Indonesia melawan Thailand pada Final AFF akhir pekan lalu, 17 Desember 2016. Apalagi, harapan akan kemenangan begitu besar karena Indonesia sudah unggul dalam pertandingan sebelumnya di Indonesia . Kali ini, bukan hanya para penggemar bola, orang yang bukan penggemar bola pun bersemangat ingin menyaksikan.
Kebetulan pula pertandingan ini terjadi di bulan Maulid. Ada yang bilang, cerita kemenangan burung ababil menghancurkan gajah Abrahah di tahun kelahiran Nabi diharapkan menjelma menjadi ‘garuda’ yang mengalahkan ‘gajah’ Thailand. Di sebuah langgar di Banjarmasin, peringatan maulid yang semula dijadwalkan setelah Isya, dimajukan setelah Magrib agar jemaah bisa menyaksikan pertandingan itu!
Mengapa orang sangat bersemangat ingin menang? Karena kemenangan memberikan kepuasan dan harga diri. Setiap peserta yang ikut pertandingan tentu ingin menang. Menang itu memuaskan karena tujuan tercapai. Menang itu menaikkan harga diri karena pemenang akan mendapatkan penghargaan, dan penghargaan akan membuahkan kebanggaan. Orang hidup perlu memiliki kebanggaan.
Kemenangan pada dasarnya tidak bersifat pribadi. Kemenangan seorang anak juga menjadi bagian dari kemenangan orangtuanya, keluarganya, orang sekampungnya, sekolahnya, dan seterusnya. Apalagi jika kemenangan itu menyangkut sebuah tim yang mewakili bangsa seperti timnas sepak bola. Kemenangan semacam ini memberikan kepuasan dan kebanggaan bersama yang jauh lebih besar dan luas.
Karena itulah, setiap pertandingan melahirkan para pendukung. Para pendukung makin terbelah ketika pertandingan berhadap-hadapan antara dua pihak. Di sini muncul ‘kami’melawan ‘kamu’. Rasa bersatu sebagai pendukung satu tim semakin kuat karena adanya lawan bersama yang ingin dikalahkan. Kebersamaan itu dihadirkan melalui simbol-simbol berupa warna kaus, bendera, yel-yel dan lain-lain.
Dalam suasana demikian, emosi dapat menggebu-gebu. Jika tidak terkendali, bisa berbahaya. Agar terkendali, setiap pertandingan memerlukan aturan yang harus ditaati oleh semua pihak yang terlibat. Menang atau kalah ditentukan berdasarkan aturan itu. Pertandingan dipimpin oleh wasit, dari kata Arab ‘wâsith’ artinya orang yang menengahi, yang diharapkan berlaku adil dan tidak berat sebelah.
Masalahnya adalah, karena masing-masing pihak ingin menang, maka kadangkala ada pihak yang tak segan menabrak aturan dan menghalalkan segala cara. Yang penting menang, dengan cara apapun. Semua kekuatan dikerahkan, baik tenaga, pikiran, uang, hingga kekuatan gaib berupa doa hingga mantra dan sihir. Bagi orang seperti ini, menang-kalah seolah urusan hidup atau mati, to be or not to be.
Jika soal menang-kalah ini hanya menyangkut olahraga seperti sepak bola, tampaknya tidak terlalu bermasalah. Usai pertandingan, beberapa hari kemudian orang akan melupakan. Tetapi bagaimana dengan pertandingan politik seperti pilkada? Tampaknya lebih sulit. Pihak yang menang cenderung melakukan ‘balas dendam’ dan ‘balas jasa’. Pihak yang kalah cenderung tidak menerima kekalahan.
Lebih mengkhawatirkan lagi adalah, budaya menang-kalah itu sudah menyatu dalam hidup kita sehari-hari. Seolah mengikuti teori evolusi Darwin, hanya yang kuat yang akan bertahan. Yang lemah akan tersingkir dan punah. Di era pasar bebas, pengusaha besar memangsa pengusaha kecil. Begitu pula, pendidikan yang baik cenderung mahal, dan anak yang tidak juara kelas, kurang dihargai.
Padahal, salah satu nilai yang dianggap mulia dalam budaya kita adalah mengalah. Mengalah berarti memberikan hak sendiri kepada orang lain yang lebih membutuhkan. Mengalah lahir dari solidaritas atau rasa kebersamaan. Mengalah tumbuh dari semangat ingin berbagi. Mengalah adalah bukti kemampuan berempati, yakni membayangkan diri dalam posisi orang lain yang kurang beruntung.
Alhasil, di luar arena pertandingan, sebenarnya mengalah bukanlah kalah, tetapi memperbanyak pihak yang turut serta menikmati kemenangan
SukaTunjukkan lebih banyak tanggapan
Komentari

IBU


Pertanyaan yang bermain di kepala saya menggulirkan rasa penasaran yang mendorong saya mencari tahu arti ibu lebih jauh. Jemari akhirnya mengetikkan kata "definisi ibu" dalam mbah google sebuah mesin pencari di internet.
Awalnya keluar definisi umum dari kamus-kamus, Ibu (kata benda): wanita yang telah melahirkan seseorang.
Untuk pengertian demikian saya jelas seorang ibu, begitu juga ibu-ibu lain yang melahirkan anak-anak mereka.
Tapi uniknya pencarian kemudian memunculkan penuturan yang lebih menarik dari ragam individu yang membuat definisi mereka tentang ibu.
Ibu (kata benda); Seorang yang memberikan waktu 24 jam sehari tanpa meminta bayaran.
Pada definisi lain: Ibu (kata benda); seseorang yang mencintai tanpa syarat, orang yang membangun karakter dan menyembuhkan hati yang luka, orang yang membuat dan menjaga memori indah, orang yang dicintai dengan penuh kasih dan kekaguman.
Bahkan ada satu definisi yang menyebut ibu sebagai kata kerja.
Ibu (kata kerja) mencintai, mengayomi, melindungi, mendidik, membimbing, memberi kenyamanan, memelihara, mendukung, merangkul, menghargai, menyemangati, dll.
Pandangan saya terus melompat dari satu kata kerja ke kata kerja lain yang terpampang di monitor, sambil diam-diam mulai bertanya pada diri sendiri.
Apakah anda sudah menjadi seorang ibu yang demikian? Sudahkah anda menjalankan tugas ibu sebagaimana mestinya?
Seorang bijak berkata,"You educate a man; you educate a man. You educate a woman; you educate a generation.”
Jika engkau mendidik seorang lelaki maka engkau mendidik seorang lelaki. Ketika kamu mendidik seorang perempuan, maka kamu mendidik satu generasi.
Kelihatan utopia, akan tetapi hal ini nyata dalam sejarah.
Presiden Amerika pertama, George Washington, menyatakan, "Ibu saya adalah orang yang paling indah. Apapun yang saya capai saat ini saya berhutang padanya. Segala kemampuan, intelektual, dan peran yang saya curahkan, semua berasal darinya."
Washington kini dikenal sebagai peletak dasar Amerika dan cikal bakal perubahan dunia, salah satu pemimpin paling bijak dalam sejarah, menolak kesempatan menjadi pemimpin seumur hidup, berperan mengubah generasi. Dan semua bermula dari ibunya.
Selanjutnya saya mulai mencari arti ibu yang lebih luas melalui banyak kutipan menarik tentang ibu.
"Ibu adalah seseorang yang bisa mengambil tempat siapapun tetapi tempatnya tidak bisa tergantikan siapapun."
"Saya percaya cinta pada pandangan pertama, karena saya jatuh cinta pada ibu saat mata pertama kali melihat."
"Ketika engkau melihat ibu, engkau melihat cinta paling murni yang pernah ada."
"Rumah adalah tempat di mana ibu berada."
"Seorang ibu bisa mengerti sesuatu yang tidak dikatakan anaknya."
"Tidak ada kata yang mampu menggambarkan kecintaan, kekuatan, kepahlawanan, dan kekayaan cinta seorang ibu."
"Ibu adalah cinta yang tak terbatas dan tak pernah pudar."
Luar biasa.
Semakin mencari, semakin membaca, semakin timbul banyak pertanyaan untuk diri sendiri, seberapa pantaskah anda menyandang predikat ibu. Tak hanya itu, kini yang terbayang bukan lagi diri sendiri. Melainkan potret perempuan berusia lebih dari setengah abad yang telah bersusah payah menjaga, mencintai, menemani, mendidik, dan membesarkan saya hingga meraih apa yang kini saya capai.
Seorang ibu. Saya memanggilnya ibu, Mami kadang simbok tergantung mut, sekarang sudah di surga, dari tahun 2006, doa selalu kupanjatkan,
Perempuan terkasih yang menjadi penyejuk, curahan jiwa, dan cinta.
Saya mencintainya sepenuh hati, mensyukuri keberadaannya setiap hari, mengingat peran dan pesannya seumur hidup. Terus berdoa agar Allah memberi saya kemampuan menyempurnakan bakti dan cinta pada perempuan yang saya muliakan.
Pertanyaan terakhir yang kemudian tersisa adalah: apakah anak saya yang ada akan merasakan hal serupa, sebagaimana kuat perasaan saya terhadap ibunda?
Saya bukan ayah yang sempurna sebagai ganti peran sebagai ibu , betapa pun keras ikhtiar untuk mempersembahkan bentuk cinta terbaik bagi ananda saya. Berharap buah hati yang dihadirkan sanggup merasakan kasih, cinta dan sayang teramat besar dari seorang ayah juga ibu yang setiap waktu memeluk dalam doa-doa, terlebih saat bayangan mereka tak tersapa mata.
Hal yang saya yakin menggayuti benak begitu banyak perempuan -dalam definisi seluas-luasnya- di seluruh dunia ini.
Ibu adalah puisi yang tak terkatakan.
Selamat hari ibu. Selamat berjuang menghadirkan generasi mulia, dan menjemput kemuliaan yang Allah siapkan, sebagai balasan atas cinta dan ketulusan tanpa pamrih.

OM TOLOLET OM


SAAT ini tengah marak dan menjadi viral di media sosial anak-anak yang meminta dibunyikan klakson kepada sopir bus dengan frasa “om telolet om”.
Awalnya, kegiatan sederhana tapi membahagiakan anak-anak itu dilakukan anak-anak di Jepara, Jawa Tengah. Bunyi yang seakan menyebut kata “telolet” sendiri tak lain adalah bunyi klakson bus antarkota. Anak-anak meminta si sopir bus mengeluarkan bunyi “telolet” ketika melintas.
Maka dari itu, ujung-ujungnya fenomena ini disebut “om telolet om”, mencontohkan permintaan anak-anak ke sopir. Bahkan seolah tak ingin kalah, di Banjarmasin pun juga muncul fenomena serupa. Tak hanya anak-anak, pelajar dan mahasiswa juga ikut meneriakan “om telolet om.”
Fenomena “om telolet om” semakin mewabah pascadibicarakan selebritas dunia di Twitter. Mulanya, DJ Snake dan Zedd yang mengicaukannya, lalu disusul rekan-rekan sesama DJ seperti Hardwell dan Martin Garrix.
Karena dari fenomena ini pula selain menjadi trending topic dunia, nama Indonesia pun juga dikenal ke mancanegara. Lihat saja video yang menyentil “om telolet om”, milik DJ Zedd. Di dalam video yang dibuatnya juga merekam keindahan alam Indonesia. Tentu ini menjadi promosi gratis bagi pariwisata Indonesia. Ribuan follower Zedd telah menyaksikan video yang diunggahnya.
Fenomena ini menjadi hiburan murah, buah kreativitas masyarakat. Tak hanya anak-anak, bahkan orangtua ternyata haus akan hiburan yang gratis di pinggir jalan ini.
Namun, ada juga yang kemudian mengkhawatirkan. Bahkan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengimbau semua operator bus tidak mempermainkan klakson. Dia melihat kegiatan itu sesuatu yang menyenangkan, tetapi membahayakan.
Budi menyampaikan hal ini menyusul isu pelarangan dari kementeriannya yang juga ikut menjadi viral.
Sementara berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 55 Tahun 2012 tentang Kendaraan, disebutkan suara klakson pada kendaraan paling rendah 83 desibel atau dB (A) dan paling tinggi 118 desibel atau dB (A). Untuk kasus telolet belum ada kajian dari sisi PP tersebut.
Terlepas dari adanya pro dan kontra “om telolet om” yang menjadi viral ini, paling tidak bisa menurunkan tensi kegaduhan di sosial media, setelah berminggu-minggu memanas karena isu-isu SARA dan berbagai ujaran kebencian.
Kalaupun kemudian muncul ketakutan-ketakutan berlebihan terhadap tren ini, harap dilihat sebagai sebuah fenomena saja. Sebagaimana heboh Pokemon beberapa waktu lalu. Tidak perlu terlalu reaktif dan membuat aturan atau larangan yang kontraproduktif.
Tentu saja ada juga catatan bagi, mereka para pemburu bunyi klason unik ini juga harus sadar bahwa jangan sampai aksi mereka membahayakan atau menganggu lalu lintas. Karena sebagimana terekam di Youtube, ada juga masyarakat yang sampai turun ke jalan sehingga membuat macet jalan antarprovinsi. Tentunya bila sudah sampai pada aksi semacam ini, jelas membahayakan dan menganggu arus lalu lintas

SILUMAN BBM


PREMIUM dalam beberapa hari terakhir, kembali sulit diperoleh di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di beberapa daerah diluar jawa . Kalau pun ada, biasanya hanya pagi hingga menjelang siang, setelahnya pelang bertulisan “Premium Habis” dan sejenisnya yang dipampang.
Kondisi ini, menyebabkan SPBU kerap dijejali antrean kendaraan bermotor. Tidak terkecuali para pelangsir bahan bakar minyak (BBM). Bahkan terkadang, tak cuma bensin yang habis, pertalite juga ikut diinformasikan habis.
Sementara itu pihak Pertamina mengklaim, jumlah stok BBM cukup. Kendala yang terjadi adalah pada proses distribusi yang terhambat cuaca. memanggil instansi atau lembaga terkait perihal kelangkaan BBM ini. jika dibarengi tindak lanjutnya, tentu sangat kita nantikan agar hal serupa tidak terulang di masa mendatang. Dengan kondisi saat ini, untuk tetap bisa berkendara.
Saat ini, di SPBU harga premium Rp 6.550 per liter. Sedangkan pertalite harganya Rp 6.900 dan pertamax harganya mencapai Rp 7.350 per liter. Gerundelan masyarakat tak terelakkan, termasuk muncul tudingan terhadap pemerintah--dalam hal ini Pertamina--telah berlaku tidak fair. Mereka menuding seretnya bensin akhir-akhir ini, karena jumlah distribusi premium contohnya ke Banjarnegara memang dikurangi. Pengurangan ini akal-akalan Pertamina untuk meningkatkan konsumsi pertalite dan pertamax.
Berdasar data Pertamina, hingga November 2016 distribusi BBM jenis premium terus mengalami penurunan. Pada Januari distribusi ptemium sebanyak 44.603 kiloliter, bulan berikutnya Februari turun sebanyak 3.696 kiloliter menjadi 40.907 kiloliter. Pada November hanya didistribusikan 32.426 kiloliter yang berarti turun hingga 12.177 kiloliter atau sebanyak 27 persen sejak Januari.
Jumlah ini berbanding terbalik dengan distribusi pertalite dan pertamax yang pada rentang bulan yang sama mengalami lonjakan kenaikan jumlah distribusi hingga ratusan persen. Rinciannya, pertalite 261 persen dari 3.446 kiloliter (Januari) menjadi 12.433 kiloliter pada November dan pertamax 174 persen dari 1.704 kiloliter menjadi 4.667 kiloliter.
Kondisi seperti di Banjarnegara ini, sudah terjadi sejak Agustus lalu di sejumlah kabupaten dan kota di Jawa Barat (Jabar). Sejumlah SPBU di Ciamis dan Kota Banjar mulai tidak menyediakan premium. Sebaliknya, pertalite ketersediaannya mulai menggantikan premium.
Solusi mengendalikan konsumsi BBM subsidi yang terus meroket, tidak dengan menyunat jumlah yang seharusnya menjadi hak rakyat. Pemerintah sesungguhnya bisa mengeluarkan kebijakan kembali melarang mobil mewah atau kendaraan di atas 2.000 cc menggunakan premium.
Saatnya kementerian terkait untuk membuat dan mematangkan payung hukum terkait aturan itu. Bila ini dijalankan efektif, kita yakin tidak hanya mendorong kemajuan perekonomian masyarakat, tapi juga bakal bisa menghemat subsidi triliunan rupiah uang negara.

2017


Kemarin, minggu 1 Januari 2017 semua umat merayakan tahun baru .tahun baru adalah perayaan rutin yang berulang setiap tahun. Ia adalah tanda dari gerak waktu yang berputar melingkar, seiring perputaran bumi dan matahari.
Gerak melingkar itu unik. Ia tetap sekaligus berubah, sama sekaligus berbeda. Tetap karena dimulai dari satu titik dan akan kembali ke titik itu lagi. Tahun ini, tahun depan tahun baru lagi. Tetapi untuk sampai kembali ke titik awal, ada garis perjalanan yang dilewati oleh lingkaran itu. Perjalanan itu cukup panjang: satu tahun. Karena itu, mungkin bagi tiap orang, tahun baru dimaknai berbeda di tahun yang berbeda.
Sudah tentu, menemukan makna tahun baru itu sebagai wujud dari kepercayaan. Kita berdoa dan mengikuti perjalanan waktu .kita juga berkumpul bersama keluarga dan handai taulan. Mereka mengadakan perjamuan, saling mengunjungi dan mengucapkan selamat. Anak-anak pun turut bersuka cita, pesta kembang api, berdoa di tempat-tempat ibadah atau berdiam diri merenungi apa yang sudah dilakukan ditahun kemarin berharap akan lebih baik.
Namun, mereka yang tidak percaya pada tahun baru juga turut memaknai dari sudut yang berbeda. Di luar sudut pandang berbeda.tahun baru dapat dimaknai secara pragmatis. Ada yang memaknainya sebagai hari libur biasa untuk istirahat dan berkumpul bersama keluarga. Ada pula yang memanfaatkannya untuk meraih keuntungan ekonomi dengan menjual aneka barang dan jasa.
Selain itu, juga dapat dimaknai dari sudut pandang keagamaan oleh para penganut agama lain. Sebagai sesama penganut agama, mereka tentu akan berpikir tentang yang sama dan yang berbeda. Sebenarnya kesamaan dan perbedaan itu gampang sekali ditemukan. Yang sama adalah setiap agama memiliki hari raya. Yang berbeda.
Kesadaran akan persamaan dan perbedaan itulah yang membuat orang dapat saling menghormati dan menghargai. Ada kekhawatiran akan terjadi serangan bom bunuh diri atau gangguan lainnya. para sosiolog cenderung melihat konflik agama itu bukan terutama karena perbedaan kepercayaan, melainkan karena alasan sosial politik. Sudah maklum, sejak era perang salib, penjajahan hingga krisis politik dunia abad ke-21, sentimen ‘perang’ antara agama ini seolah tak mau berhenti. Logika politik memang menang-kalah, dan agama ikut terbawa-bawa.
Ketika arus utama yang melanda dunia adalah gonjang-ganjing politik berbumbu agama, maka tak ayal lagi, sisi perbedaan semakin dipertajam. Batas antara ‘kita’ dan ‘mereka’ bukan hanya makin jelas tetapi makin jauh. Di sisi lain, orang-orang yang berusaha mengingatkan adanya titik temu dan membangun jembatan persaudaraan dengan gampang dituduh pengkhianat, perusak iman dan sesat.
Dalam keadaan demikian, para petualang politik yang tujuan utamanya adalah kekuasaan dan kekayaan, akan dengan mudah bermain. Jika kedua belah pihak ditunggangi oleh para petualang dengan modal besar, maka dampaknya akan besar pula. Yang menjadi korban justru rakyatnya. Seperti kata pepatah: dua gajah bertarung, pelanduk mati di tengah atau menang jadi abu, kalah jadi arang.
Kita tentu tidak ingin hal itu terjadi. Contohnya agama Islam seakar kata dengan salâm yang artinya selamat dan damai?
Salâm atau damai itulah kiranya titik temu dari lingkaran waktu tahun baru yang kita harapkan. Semoga di tahun 2017 akan lebih baik dari tahun sebelumnya.

GAGAL PAHAM


Dunia ada di tangan kita, mau kemana aja dan ingin tau apa saja juga bisa, tinggal klik mbah google, begitu mudahnya mengakses apa saja, karena kita dimanjakan menjadikan otak kita kurang kerja keras ini mengakibatkan kita malas mikir.atau sering lupa, dengan ketergantungan untuk menyimpan di otak baik penting atau biasa, ga mau repot. “Git, kita sudah puluhan tahun sekelas, padahal sudah diuploud foto teman-teman. Saya lupa nama semuanya?, tolong sebutin semua ya...he....he....” tanya seorang kawan. Faktor U. “Alhamdulillah, masih lupa. Lupa itu juga nikmat Allah. Kalau tak pernah lupa, mungkin kita tak bisa tidur,” jawabku. Kami pun tertawa.
Tahun 2016 telah berlalu. Banyak sekali peristiwa yang kita alami di tahun itu, tetapi tidak semuanya dapat kita ingat secara rinci. Semakin jauh jarak waktu suatu peristiwa, semakin kabur pula ingatan kita terhadapnya. Informasi yang melimpah ruah bagai air bah di era teknologi komunikasi canggih ini, justru membuat orang makin mudah lupa karena kapasitas ingatan tak sanggup lagi menampungnya.
Namun, tentu ada sejumlah peristiwa yang mengesankan, baik yang bersifat pribadi ataupun publik, yang cukup kuat tertancap dalam ingatan. Peristiwa itu mudah diingat, karena memberikan pengaruh yang besar dalam pergumulan hidup kita sebagai pribadi ataupun masyarakat. Karena itulah, satu peristiwa penting tidak hanya akan berlalu bersama angin ke masa lalu, tetapi juga bertiup ke masa depan.
Di sisi lain, ada berbagai kejadian dalam hidup ini yang jika terus diingat akan membuat orang sakit hati dan dendam. Semakin diingat, semakin menyakitkan. Masa lalu semacam itu tentu lebih baik dilupakan. Caranya sederhana: maafkan, lalu lupakan. Cara ini terdengar gampang, tetapi sebenarnya tidak mudah diwujudkan. Berbeda dengan lupa yang bersifat alamiah, melupakan adalah suatu perjuangan batin.
Karena itu, selain melupakan, manusia juga perlu diingatkan. Manusia perlu ‘saling menasihati tentang kebenaran dan kesabaran’ (QS 103:3). Kebenaran adalah sesuatu yang sesuai dengan kenyataan. Kadang orang gagal melihat kenyataan yang sebenarnya, sehingga dia perlu diingatkan oleh yang lain. Apalagi di zaman sekarang, ketika kabar palsu dan fitnah berhamburan di dunia maya dan dunia nyata.
Kata ‘kabar’ berasal dari kata Arab ‘khabar’ yang artinya pernyataan yang mungkin benar, mungkin pula salah. Karena itu, untuk mendapatkan kebenaran, orang harus sabar. Dia harus mau mendengarkan dengan dua telinganya, dan memandang dengan dua matanya. Jika dia hanya menggunakan satu mata dan satu telinga, maka yang ditangkapnya mungkin hanya separuh dari kenyataan, bukan kebenaran.
Selain itu, karena ingatan manusia terbatas, dan kemampuannya memahami kenyataan/kebenaran juga terbatas, maka dia harus rendah hati. Kesediaan untuk mendengarkan suara-suara yang berbeda dan kesabaran mendengarkan nasihat dan pendapat orang lain adalah wujud dari kerendahan hati. Kerendahan hati juga ditunjukkan oleh kesediaan untuk meminta maaf, dan kerelaan untuk memaafkan.
Melupakan, mengingatkan dan memaafkan, tidak hanya berarti berdamai dengan masa lalu, tetapi juga bersikap positif terhadap masa kini dan masa depan. Sikap positif itu penting karena manusia dengan segala keterbatasannya, memiliki ruang untuk menciptakan hidupnya sendiri. Setiap peristiwa di dunia ini pada dasarnya netral. Sikap manusialah yang membuat peristiwa itu menjadi bermakna.
Sikap manusia terhadap satu peristiwa tentu tidak muncul begitu saja. Sikap itu lahir dari pandangan hidup. Pandangan hidup adalah seperangkat keyakinan tentang hakikat manusia dan alam semesta, dari mana dia berasal, apa yang harus dilakukan di dunia ini dan ke mana kelak dia akan kembali. Pandangan hidup ibarat kompas yang menuntun manusia dalam mengisi dan memaknai hidupnya.
Agama adalah sumber pandangan hidup paling dalam. Agama mengajarkan, hidup harus didasari iman dan diisi dengan amal saleh, yakni perbuatan baik. Perbuatan baik itu tertuju kepada Allah, kepada sesama manusia dan kepada lingkungan. Saling menasihati tentang kebenaran dan kesabaran adalah cara untuk mengawasi dan mengawal hidup ini agar tetap dalam iman dan perbuatan baik.
Baik itu bahagia. Bahagia itu sederhana, tetapi orang harus berjuang meraihnya!