Saturday, 23 September 2017

ISLAM X BUDHA

Orang awam melihat orang Islam, citra yang mereka tangkap mula-mula adalah ciri-ciri yang tertangkap mata. Yang perempuan berjilbab atau berburqa. Yang lelaki berjubah, bersurban, berkopiah, dan berjenggot.

Semua itu mulai menjadi masalah ketika apa yang mereka identifikasi tersebut berkali-kali hadir bersama hal-hal buruk yang muncul dengan efek psikologis tertentu. Dalam hal ini, hal buruk itu adalah aksi-aksi teror yang keji.

Para pelaku teror yang mengatasnamakan Islam seringkali berjubah dan berjenggot, walhasil orang berjubah dan berjenggot yang bukan pelaku teror pun akan direspons sebagai teroris.

Jadi, pola "menyikapi semua orang berjubah dan berjenggot setara dengan menyikapi teroris". Atau biar tidak dikira umpatan kasar, pola identifikasi dangkal semacam itu adalah identifikasi level hewani. Manusia memang wajar pula melakukannya, namun level hewani tersebut merupakan tingkat intelegensi paling rendah..

Maka, jika ingin menjadi manusia pembelajar yang baik, pelan-pelan kita mesti memahami bahwa orang yang berjubah dan berjenggot belum tentu teroris. Bahkan kita akan tahu bahwa sebagian besar orang berjubah dan berjenggot memang bukan teroris.
Pemelihara jenggot panjang itu tidak semuanya pendukung khilafah. Atau tidak semua mereka gemar menyesat-nyesatkan orang di luar kelompoknya. Atau tidak semua mereka merupakan fans Kerajaan Arab Saudi. Dan sebagainya.

Salah satu contoh yang relevan dengan rasisme berbekal identifikasi kepercayaan adalah yang sedang hangat-hangatnya kita bicarakan saat ini. Ya, ini tentang tragedi kemanusiaan di Rohingya.

Melihat betapa mengerikannya kejahatan sistematis yang terjadi di sana, dengan level kecerdasan paling rendah kita akan mengidentifikasi. "Oh, korbannya Muslim. Oh, pelakunya orang Burma anggota etnis mayoritas. Oh, mayoritas orang Burma adalah penganut agama Budha. Berarti ini adalah pembantaian orang Islam oleh orang Budha."

Identifikasi yang paling sederhana itu menemukan gong-nya, ketika salah satu sosok yang muncul sebagai penggerak pembunuhan adalah Aksin Wirathu, seorang pemuka agama Budha di sana. Walhasil, dengan mekanisme pikiran paling primitif kita akan melihat bahwa pembantaian itu "direstui" oleh ajaran Budha.

Banyak orang beranjak menuju level identifikasi yang lebih spesifik lagi. Misalnya dengan membaca informasi bahwa masjid-masjid di kota Yangoon tetap aman-aman saja. Artinya, tidak semua muslim di Burma dimusuhi. Lalu informasi lain yang lebih rumit, misalnya bahwa Aksin Wirathu hanyalah pion yang dijalankan oleh rezim militer untuk propaganda penghantaman atas etnis Rohingya, dengan amunisi legitimasi agama. Dan sebagainya.

Di Indonesia, bahan untuk identifikasi sudah mulai berlimpah. Pimpinan Wihara Mendut, Bante Sri Pannyavaro, mengecam keras pembantaian muslim Rohingya. Bahkan sampai-sampai dia menolak Aung San Suu Kyi yang berencana datang ke Candi Borobudur dan Mendut. Disusul kemudian oleh Bhiksu Suhu Dutavira Mahastavira, yang menyatakan bahwa para bhiksu di kelompok Aksin Wirathu telah kehilangan kebhiksuannya.

Beragam aksi dan pernyataan pun bermunculan dari umat Budha. Di Surabaya, di Karanganyar, di Kebumen, dan entah di mana lagi. Pendek kata, tampak jelas sikap umat Budha Indonesia, bahwa mereka ingin menegaskan: "Kami umat Budha, tapi kami tidak sama dengan Wirathu!"

Sialnya, orang-orang yang berhasil menjalankan identifikasi tingkat lanjut untuk memahami bahwa "tidak semua umat Budha sama dengan Wirathu" hanyalah mereka yang memang berusaha menjaga harkat kemanusiaan. Mereka sadar sepenuhnya bahwa aksi kemanusiaan bukanlah sekadar mengampanyekan belas kasihan, melainkan aksi untuk mengutuhkan kualitas "ke + manusia + an". Mereka serius untuk menjadi manusia.

Kadang saya berkhayal, bagaimana jika umat Islam menjadi minoritas di Indonesia. Apakah selepas peristiwa pembantaian dan penculikan oleh Boko Haram, misalnya, ribuan orang akan berbondong-bondong berdemonstrasi di depan kantor PP Muhammadiyah, atau kantor PBNU,?

Ah, khayalan itu terlalu mengerikan. Meskipun sesungguhnya rencana pengepungan tempat ibadah untuk mengecam geng kepercayaan pun benar-benar tidak kalah mengerikan.

No comments:

Post a Comment