Tuesday, 16 October 2018

RUPI AH

RUPI AH

Rupiah terus merosot terhadap dolar Amerika Serikat (AS), dan kian tajam penurunannya hampir menyentuh angka psikologis Rp 15 ribu per dolar AS.

Indonesia sedang memasuki tahun politik. Tentu saja sasaran utamanya adalah Presiden yang sudah memastikan diri maju kembali sebagai calon presiden pada Pilpres 2019.

Di pihak pemerintah, mulai para menteri terkait maupun politisi, akademisi, pakar ekonomi, hingga tokoh yang pro-presiden memberikan berbagai argumen terkait pelemahan rupiah. Keterpurukan nilai tukar rupiah tidak semata-mata dan selalu dikaitkan dengan kebijakan ataupun dianggap sebagai ketidakberdayaan pemerintahan.

Tentu saja yang berseberangan dengan presiden, pengamat, pakar, ahli ekonomi menganalisa pelemahan rupiah dalam perspektif sebaliknya, yang intinya menilai pemerintahan tidak becus mengendalikan dan mengamankan rupiah.

Rupiah jatuh ke level terendah dalam kurun 20 tahun terakhir, yakni bertengger di angka Rp 14.940 hingga Rabu (5/9) siang. Angka tersebut melemah 2 poin atau 0,01 persen dibandingkan posisi pada pembukaan perdagangan, yakni Rp 14.925 per dolar AS.

Ternyata, rupiah tidak sendiri. Peso Argentina terjun bebas 16 persen dan sepanjang tahun ini telah merosotnya hampir 50 persen. Rupee India, tujuh hari berturut-turut dan kemarin menyentuh level 71,78 per dolar AS. Kemudian, lira Turki juga merosot. Afrika Selatan, rand, juga melorot tiga persen.

Tekanan ini sebagian diatribusikan dengan penguatan dolar AS dan kenaikan harga minyak, namun demikian isu sebenarnya adalah sentimen para trader.

Itu artinya, mestinya masih ada celah bagi pemerintah menemukan obat mujarab untuk mendongkrak rupiah. Terlebih tim ekonomi pemerintah saat ini diisi oleh orang-orang mumpuni bahkan kaliber internasional.

Saat ini, kita masih bisa sedikit lapang dada karena rupiah tidak sendiri. Tapi besok atau lusa, jangan sampai rupiah justru tertinggal sendirian. Pemerintah jangan lengah.

No comments:

Post a Comment