BUAT ANAKKU DAN ANAK DUNIA
NEGARA memberi penghargaan pada anak dengan menetapkan 23 Juli sebagai Hari Anak Nasional. Sayang, tahun ini seperti kurang gaungnya. Padahal, penetapan ini berdasar Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 1984 pada tanggal 19 Juli 1984.
Sebenarnya peringatan hari anak berbeda-beda di seluruh dunia. Hari Anak Internasional diperingati tiap 1 Juni. Sedangkan Hari Anak Universal diperingati setiap 20 November. Namun, pada intinya semua peringatan Hari Anak adalah sama, yakni menghormati hak-hak anak di mana pun dia berada.
Lebih tiga dasawarsa berlalu sejak Indonesia menetapkan 23 Juli sebagai Hari Anak Nasional. Lantas, apakah anak Indonesia benar-benar telah terjamin haknya? Berdasarkan Konvensi Hak Anak Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) Tahun 1989, sedikitnya ada 10 hak yang harus diberikan untuk anak.
Hak untuk anak tersebut meliputi hak untuk bermain, hak mendapatkan pendidikan, hak mendapatkan nama (identitas), hak mendapat status kebangsaan, hak mendapat makanan, hak mengakses kesehatan, hak untuk mendapatkan rekreasi, hak meperoleh kesamaan dan hak memiliki peran dalam pembangunan.
Jika mengacu pada 10 dasar hak anak berdasar Konvensi PBB Tahun 1989, masih banyak yang perlu dibenahi agar semuanya terpenuhi. Upaya untuk memenuhinya ada dan telah dilakukan oleh pemerintah. Namun, implementasinya tak semudah mengucap kata. Kadang, hal-hal yang sederhana menjadi rumit ketika persona-personanya sendiri yang mempersulit.
Dilihat dari sisi produk hukum, sejumlah aturan yang dibuat sudah cukup memadai. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak kemudian direvisi menjadi Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 yang diterbitkan pada 17 Oktober 2014. Negara dalam UUD 1945 juga memberi porsi lebih dalam pemberian hak-hak kepada anak, terutama yang telantar. Seperti termaktub pada Pasal 34 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 yang menyebutkan fakir miskin dan anak-anak telantar dipelihara oleh negara.
Kemudian, berdasar Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 serta Keputusan Presiden Nomor 36/1990, 77/2003 dan 95/M/2004 , dibentuklah Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) yakni sebuah lembaga independen yang dibentuk untuk meningkatkan efektivitas penyelenggaraan perlindungan anak.Ketika perangkat hukum sudah memadai demikian pula ada lembaga yang dibentuk khusus untuk perlindungan anak, maka cukup mengherankan jika masih banyak terjadi kriminalisasi pada anak, pengerahan tenaga anak, pelecehan seksual pada anak hingga kekerasan lain yang dialami oleh anak. Bahkan, akhir-akhir ini, seakan mengemuka banyak kasus kekerasan pada anak dibuktikan dengan maraknya pemberitaan.
Jika mengacu pada pernyataan Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Asrorun Niam, kondisi anak Indonesia masih memprihatinkan. Banyak anak di jalan mencari uang dengan meminta-minta, mengamen, dan lain-lain. Mereka sangat rentan menjadi korban kekerasan fisik maupun seksual. Bahkan, tren pengaduan kasus anak yang dilaporkan ke KPAI dari tahun ke tahun terus meningkat baik jumlah maupun jenis pengaduannya. Ini menunjukkan belum optimalnya negara hadir menjamin perlindungan anak.
Di sisi lain, keluarga sebagai benteng terakhir perlindungan pada anak malah tidak mampu melakukannya. Bahkan pada beberapa kasus, keluarga menjadi sumber anak mengalami ketidaknyamanan, seperti perceraian orangtua hingga pelaku kejahatan seksual pada anak yang masih dalam lingkungan keluarga.
Bagi anak-anak, keinginan mereka adalah sesederhana pemikirannya. Bukan hal yang muluk-muluk atau sekadar janji manis di mulut tapi tidak ada implementasinya. Anak-anak adalah pewaris pertiwi. Jaga dan buatlah mereka gembira. Sanggupkah kita membikin anak-anak gembira.
Monday, 3 August 2015
Wednesday, 29 July 2015
LEBARAN PENUH UJIAN
BAGI bangsa kita, lebaran tahun ini tampaknya
bermakna ganda, suka sekaligus duka. Ormas-ormas besar Islam dapat
bersepakat dengan pemerintah dalam penetapan jatuhnya Hari Raya
Idulfitri.Tetapi letusan Gunung Raung di Jawa Timur dan Gunung Gamalama di Ternate, telah membuat ratusan penerbangan dibatalkan. Lebih sedih lagi, terjadi kekacauan saat Salat Id di Tolikara, Papua.
Tiga peristiwa tersebut memang berbeda. Penetapan 1 Syawal, sebagai Hari Raya Idulfitri, terkait dua hal, yaitu peristiwa alam dan penafsiran manusia terhadap kehendak Tuhan. Sedangkan letusan gunung berapi adalah murni peristiwa alam, tetapi ‘kebetulan’ terjadi menjelang lebaran. Sementara kekacauan dan pembakaran yang terjadi saat Salat Id di Tolikara adalah murni tindakan manusia.
Sudah maklum, ada dua metode yang berbeda dalam penentuan awal puasa dan hari raya bagi umat Islam.
Pertama, metode hisab yang berpegang teguh pada penghitungan astronomi modern yang dianggap sangat akurat.Kedua, metode rukyah yang berpendapat, melihat dengan mata adalah wajib sesuai dengan makna lahiriah hadis Nabi, sementara hitungan astronomi hanya membantu. Meski kedua metode itu berbeda, hasil akhirnya bisa sama, bisa pula tidak. Yang menentukan kesamaan dan perbedaan hasil itu adalah ketinggian derajat bulan sabit (hilal) dan kecerahan cuaca.
Tiga peristiwa tersebut memang berbeda. Penetapan 1 Syawal, sebagai Hari Raya Idulfitri, terkait dua hal, yaitu peristiwa alam dan penafsiran manusia terhadap kehendak Tuhan. Sedangkan letusan gunung berapi adalah murni peristiwa alam, tetapi ‘kebetulan’ terjadi menjelang lebaran. Sementara kekacauan dan pembakaran yang terjadi saat Salat Id di Tolikara adalah murni tindakan manusia.
Sudah maklum, ada dua metode yang berbeda dalam penentuan awal puasa dan hari raya bagi umat Islam.
Pertama, metode hisab yang berpegang teguh pada penghitungan astronomi modern yang dianggap sangat akurat.Kedua, metode rukyah yang berpendapat, melihat dengan mata adalah wajib sesuai dengan makna lahiriah hadis Nabi, sementara hitungan astronomi hanya membantu. Meski kedua metode itu berbeda, hasil akhirnya bisa sama, bisa pula tidak. Yang menentukan kesamaan dan perbedaan hasil itu adalah ketinggian derajat bulan sabit (hilal) dan kecerahan cuaca.
Jika posisi hilal cukup tinggi derajatnya dan tidak tertutup awan,
maka hilal bisa dilihat sehingga hasil akhir metode rukyah dan hisab
akan sama (seperti tahun ini). Jika sebaliknya, maka hasilnya akan
berbeda.
Berbeda dengan penetapan lebaran, letusan Gunung Raung dan Gunung Gamalama tidak melibatkan manusia secara langsung. Letusan itu adalah fenomena alam. Namun manusia bisa terkena dampaknya dan dapat memaknainya.
Meminjam lirik Ebiet G Ade: Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita, yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa. Atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita. Tetapi, peristiwa pembakaran 6 rumah, 11 kios dan 1 masjid yang terjadi di Tolikara, Papua, tepat di Hari Raya Idul fitri kemarin, di sekitar kawasan kaum Muslim yang melaksanakan Salat Id, bukanlah peristiwa alam biasa, melainkan akibat ulah manusia. Manusia sebagai makhluk yang memiliki pilihan moral dalam bertindak, dan karena itu, setiap tindakannya harus dipertanggungjawabkan.
Berbeda dengan penetapan lebaran, letusan Gunung Raung dan Gunung Gamalama tidak melibatkan manusia secara langsung. Letusan itu adalah fenomena alam. Namun manusia bisa terkena dampaknya dan dapat memaknainya.
Meminjam lirik Ebiet G Ade: Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita, yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa. Atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita. Tetapi, peristiwa pembakaran 6 rumah, 11 kios dan 1 masjid yang terjadi di Tolikara, Papua, tepat di Hari Raya Idul fitri kemarin, di sekitar kawasan kaum Muslim yang melaksanakan Salat Id, bukanlah peristiwa alam biasa, melainkan akibat ulah manusia. Manusia sebagai makhluk yang memiliki pilihan moral dalam bertindak, dan karena itu, setiap tindakannya harus dipertanggungjawabkan.
Menurut Dorman Wandikmbo, Presiden Gereja Injili Di Indonesia
(GIDI), yang dimuat di jawaban.com, semula GIDI meminta kaum Muslim
tidak menggunakan pengeras suara ketika merayakan Idulfitri, agar tidak
mengganggu seminar internasional GIDI yang letaknya berdekatan. Tetapi permintaan ini tidak diindahkan, sehingga terjadilah insiden pembakaran itu dan tembakan dari aparat keamanan. Yang mengejutkan lagi, telah beredar di media sosial sebuah surat
GIDI bertanggal 11 Juli 2015, yang ditujukan kepada umat Islam
se-Kabupaten Tolikara. Isinya antara lain, GIDI tidak mengizinkan pelaksanaan lebaran di
kabupaten itu. Bahkan ada poin yang menyebutkan, kaum muslimat dilarang
memakai jilbab. Agama lain dan gereja lain juga dilarang mendirikan
tempat ibadah. Saya berharap surat tersebut palsu. Saya juga berharap, jika memang
surat itu palsu, maka pemerintah harus dapat mengusut pembuatnya yang
sengaja ingin mengadu domba antarumat beragama di Indonesia.
Namun, jika surat itu asli, saya sungguh menyesal, mengapa mereka berani melakukan tindakan bodoh semacam itu? Mengapa GIDI tampak begitu arogan di surat itu? Kasus ini menunjukkan, betapa berat merawat kerukunan, dan betapa penting membangun komunikasi antar tokoh agama dan juga pemerintah.
Kasus ini juga menunjukkan, umat Kristen di Indonesia sangat beragam. GIDI hanya satu di antara banyak Gereja Protestan. Boleh jadi, di antara mereka, ada kelompok radikal dan agresif yang dapat mengganggu kerukunan umat beragama.
Tiga peristiwa itu dapat dilihat sebagai hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan alam, dan manusia dengan sesama manusia. Jika manusia bersalah kepada Tuhan, maka dia bisa bertobat kepada-Nya.
Jika dia bersalah pada/merusak alam, maka dia harus kembali berusaha menjaga kelestarian alam. Jika manusia bersalah kepada sesama manusia, maka dia harus meminta maaf.
Namun, jika surat itu asli, saya sungguh menyesal, mengapa mereka berani melakukan tindakan bodoh semacam itu? Mengapa GIDI tampak begitu arogan di surat itu? Kasus ini menunjukkan, betapa berat merawat kerukunan, dan betapa penting membangun komunikasi antar tokoh agama dan juga pemerintah.
Kasus ini juga menunjukkan, umat Kristen di Indonesia sangat beragam. GIDI hanya satu di antara banyak Gereja Protestan. Boleh jadi, di antara mereka, ada kelompok radikal dan agresif yang dapat mengganggu kerukunan umat beragama.
Tiga peristiwa itu dapat dilihat sebagai hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan alam, dan manusia dengan sesama manusia. Jika manusia bersalah kepada Tuhan, maka dia bisa bertobat kepada-Nya.
Jika dia bersalah pada/merusak alam, maka dia harus kembali berusaha menjaga kelestarian alam. Jika manusia bersalah kepada sesama manusia, maka dia harus meminta maaf.
Tuesday, 7 July 2015
PUASA ATAU PUAS'A
PUASA ATAU PUAS'A
Di suatu desa terpencil, Semua penduduknya beragama Islam, dan mereka
bekerja sebagai petani atau nelayan. Orang-orang desa ini cukup
terpelajar, tetapi umumnya tidak mendapat pekerjaan sesuai tingkat
pendidikan mereka. Di sore hari Ramadan, setelah salat Asar, kawula muda
desa itu bermain sepak bola, yang mendapat perhatian ratusan penonton.
jangan kan saya temen saya Jaky sebagai orang luar dan non-Muslim,
merasa takjub akan kekuatan fisik mereka. Dalam keadaan lapar dan haus,
mereka sanggup bermain sepakbola yang sangat menguras tenaga. Rupanya,
asyiknya permainan sepakbola dapat melupakan orang dari tekanan puasa.

Uniknya, sepakbola ini hanya dilaksanakan di bulan Ramadan. Di luar
Ramadan, tidak ada. Tampaknya sepakbola menjadi semacam pengganti dari
berbagai hiburan yang berbau maksiat. Ramadan adalah bulan suci dan
penyucian dari dosa. Meski demikian, paradoks tetap terjadi. Sementara
puasa mengajarkan pengendalian nafsu, tingkat konsumsi masyarakat justru
meroket. Setelah Ramadan usai, anak-anak muda itu kembali pada
keseharian mereka. Sebagian berusaha keras agar tetap hidup dalam
kesalehan, meski kadang gagal.
Sebagian lagi kembali ke klub malam, menonton film porno, meminum bir dan menghisap hasyisy. Mereka seolah ditarik oleh dua kutub magnet yang sama-sama kuat: disiplin moral di satu sisi serta konsumerisme, cinta romantis dan status sosial, di sisi lain.
Pengalaman kawula muda Mesir itu tentu tidak asing bagi kita. Semakin mendekat akhir Ramadan, semakin terasa perubahan itu. Agama mengajarkan, sepuluh hari terakhir Ramadan adalah puncak penanjakan ruhani kaum beriman. Dalam kenyataan, kaum berduit makin gila berbelanja dan kaum miskin punya ambisi serupa, sehingga pencurian dan penjambretan cenderung meningkat.
Semua ini menunjukkan, perjuangan moral adalah pergumulan manusia sepanjang hidupnya. Manusia sebagai makhluk yang diberi kebebasan memilih antara baik dan buruk, dosa dan pahala, akan terus-menerus berhadapan dengan pilihan-pilihan moral itu. Kaya atau miskin, tua atau muda, penguasa atau rakyat jelata, semua takkan bisa menghindar dari perjuangan ini sampai maut menjemput. Dengan demikian, ketimbang membayangkan suatu masyarakat suci bersih tanpa noda berkat ibadah Ramadan, akan lebih realistis kalau kita melihat Ramadan sebagai bulan pendidikan. Sudah maklum, didunia pendidikan, hasil akhir yang diperoleh peserta didik umumnya tidak sama. Ada yang mendapat nilai yang tinggi, sedang hingga rendah. Bahkan ada pula yang tidak lulus alias gagal total.
Seberapa besar keberhasilan pendidikan Ramadan tersebut, pada gilirannya akan menentukan seberapa tinggi peradaban masyarakat Muslim.
Tidak ada peradaban yang dapat berdiri tegak tanpa pengendalian diri/hawa nafsu. Tak ada ilmu, seni dan teknologi yang lahir tanpa suatu perjuangan asketis. Tak ada masyarakat yang benar-benar adil dan makmur tanpa disiplin moral pemimpin dan rakyatnya. Dunia terus berputar, peradaban umat manusia terus beredar. Boleh boleh jadi, umat manusia di zaman tertentu lebih taat beragama dibanding zaman lainnya, lebih bermoral dibanding era lainnya.
Boleh jadi pula, di era yang sama, masyarakat tertentu lebih berdisiplin dibanding masyakarat lainnya. Karena itu, ada bangsa dan peradaban yang akhirnya punah, ada pula yang terus bertahan hingga sekarang.
Mungkin inilah maksud sabda Nabi SAW bahwa jihad terbesar adalah perjuangan melawan hawa nafsu. Inilah sesungguhnya inti daripuasa. Inilah pula fondasi peradaban Islam, bahkan peradaban umat manusia sepanjang sejarah.
Sebagian lagi kembali ke klub malam, menonton film porno, meminum bir dan menghisap hasyisy. Mereka seolah ditarik oleh dua kutub magnet yang sama-sama kuat: disiplin moral di satu sisi serta konsumerisme, cinta romantis dan status sosial, di sisi lain.
Pengalaman kawula muda Mesir itu tentu tidak asing bagi kita. Semakin mendekat akhir Ramadan, semakin terasa perubahan itu. Agama mengajarkan, sepuluh hari terakhir Ramadan adalah puncak penanjakan ruhani kaum beriman. Dalam kenyataan, kaum berduit makin gila berbelanja dan kaum miskin punya ambisi serupa, sehingga pencurian dan penjambretan cenderung meningkat.
Semua ini menunjukkan, perjuangan moral adalah pergumulan manusia sepanjang hidupnya. Manusia sebagai makhluk yang diberi kebebasan memilih antara baik dan buruk, dosa dan pahala, akan terus-menerus berhadapan dengan pilihan-pilihan moral itu. Kaya atau miskin, tua atau muda, penguasa atau rakyat jelata, semua takkan bisa menghindar dari perjuangan ini sampai maut menjemput. Dengan demikian, ketimbang membayangkan suatu masyarakat suci bersih tanpa noda berkat ibadah Ramadan, akan lebih realistis kalau kita melihat Ramadan sebagai bulan pendidikan. Sudah maklum, didunia pendidikan, hasil akhir yang diperoleh peserta didik umumnya tidak sama. Ada yang mendapat nilai yang tinggi, sedang hingga rendah. Bahkan ada pula yang tidak lulus alias gagal total.
Seberapa besar keberhasilan pendidikan Ramadan tersebut, pada gilirannya akan menentukan seberapa tinggi peradaban masyarakat Muslim.
Tidak ada peradaban yang dapat berdiri tegak tanpa pengendalian diri/hawa nafsu. Tak ada ilmu, seni dan teknologi yang lahir tanpa suatu perjuangan asketis. Tak ada masyarakat yang benar-benar adil dan makmur tanpa disiplin moral pemimpin dan rakyatnya. Dunia terus berputar, peradaban umat manusia terus beredar. Boleh boleh jadi, umat manusia di zaman tertentu lebih taat beragama dibanding zaman lainnya, lebih bermoral dibanding era lainnya.
Boleh jadi pula, di era yang sama, masyarakat tertentu lebih berdisiplin dibanding masyakarat lainnya. Karena itu, ada bangsa dan peradaban yang akhirnya punah, ada pula yang terus bertahan hingga sekarang.
Mungkin inilah maksud sabda Nabi SAW bahwa jihad terbesar adalah perjuangan melawan hawa nafsu. Inilah sesungguhnya inti daripuasa. Inilah pula fondasi peradaban Islam, bahkan peradaban umat manusia sepanjang sejarah.

Friday, 5 June 2015
KARENA DIANGGAP BIASA
KARENA DIANGGAP BIASA
PERISTIWA mengenaskan sekaligus memprihatinkan menimpa moda trasportasi
laut di Kotabaru Kalsel. Puluhan orang ditemukan tewas terjebak dalam
kapal, sedang puluhan lainya dinyatakan hilang di perairan Tanjung Dewa,
saat melakukan perjalanan dari Kotabaru ke desa Geronggang. Ekstremnya
cuaca di laut menjadi kambing hitam penybab musibah tersebut. Betulkah
alam sedemikian menjadi ancaman ? Jawabannya tidak serta merta harus
menyalahkan alam yang memang sulit diprediksi. Tapi berdasarkan catatan
manifes kapal, terlihat jelas kalau penyebab kecelakaan tidak hanya oleh
cuaca ekstrem. Di manifes kapal dinnyatakan jumlah penumpang sebanyak
22 orang, tapi dari laporan sedikitnya 105 orang mengisi kapal yang
penuh barang dagangan tersebut.
Jumlah penumpang yang tidak sesui dengan manifes kapal tentu menjadi pertanyaan tersendiri. Bagaimana pengelola trasportasi di Pelabuhan Panjanf Kotabaru saat ini. Apa sebelum belayar pengelola pelabuhan sudah memeriksa kapal yang akan berangkat. Belum lagi peralatan keselamatan di kapal yang menjadi utama sebelum satu unit alat trasportasi dinyatakan layak untuk dipergunakan. Misalnya, apakah pelampung di kapal cukup bagi jumlah penumpang yang akan diangkut ?. Selain alat bantu keselamatan, faktor belum pernah terjadi musibah kapal barang dan penumpang di tanjung dewa, membuat nahkoda kapal, pengawas pelabuhan serta pihak terkait, menjadi lengah. Mereka menganggap biasa mengangkut barang dan penumpang melebihi kapasitas, Juga manifes kapal tidak sesuai yang dilaporkan, bisa jadi sudah berlangsung lama dan dianggap biasa, akibatnya, semua dibiarkan.
Kalau musibah terjadi dan menelan korban, bisa dilihat masing-masing bakal saling menyalahkan. Lebih mudah mungkin menyalahkan kondisi alam yang tidak bersahabat. Padahal, cuaca ekstrem yang muncul malah membuat semua pihak terkait menjadi lebih waspada dan memperketat pengawasan. Kalau jumlah barang dan penumpang melebihi kapasitas semestinya dan harus menghadapai cuaca ekstrem, apa yang bisa menjamin musibah tidak menimbulkan kerugian yang lebih besar.
Saat kondisi standar, jumlah barang dan penumpang sesuai kapasitas kapal, menghadapi cuaca ekstrem di laut sudah harus melalui pertimbangan matang sebelum memutuskan dilakukan pelayaran. Proses pembiaran dan menganggap proses pelanggaran tersebut sebuah hal rutin, memang saatnya dihentikan. Prosedur keselamatan angkutan standar di negeri ini jangan pernah dianggap remeh. Jangan sampai saat terjadi musibah baru masing-masing menyayangkan telah terjadi pelanggaran. Padahal kalau prosedur diterapkan sebagaimana mestinya, kerugian bisa ditekan seminimal mungkin.
Tindakan pembiaran tidak hanya terjadi pada prosedur keselamatan. Hampir semua sisi kehidupan di Indonesia, khususnya di Kalsel, terjadi yang paling baru tentu saja antrean bahan bakar minyak di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). Saat keberadaan bahan bakar masih normal, orang biasa saja melihat pelangsir datang membawa jeriken dan ikut antre mengisi BBM. Padahal secara prosedural hal tersebut telah lama dilarang Pertamina. Tapi saat BBM mulai sulit diperoleh dan antrean panjang terjadi, baru pemilik kendaraan bermotor protes keberadaan pelangsir yang membawa jeriken. Padahal, kalau sejak awal pelangsir tersebut tidak dibiarkan, tentu mereka pun tak akan ikut mengantre. Kenapa sejak awal keberadaan mereka dianggap biasa ?
Kapa ЧªⁿG Tenggelam..

Jumlah penumpang yang tidak sesui dengan manifes kapal tentu menjadi pertanyaan tersendiri. Bagaimana pengelola trasportasi di Pelabuhan Panjanf Kotabaru saat ini. Apa sebelum belayar pengelola pelabuhan sudah memeriksa kapal yang akan berangkat. Belum lagi peralatan keselamatan di kapal yang menjadi utama sebelum satu unit alat trasportasi dinyatakan layak untuk dipergunakan. Misalnya, apakah pelampung di kapal cukup bagi jumlah penumpang yang akan diangkut ?. Selain alat bantu keselamatan, faktor belum pernah terjadi musibah kapal barang dan penumpang di tanjung dewa, membuat nahkoda kapal, pengawas pelabuhan serta pihak terkait, menjadi lengah. Mereka menganggap biasa mengangkut barang dan penumpang melebihi kapasitas, Juga manifes kapal tidak sesuai yang dilaporkan, bisa jadi sudah berlangsung lama dan dianggap biasa, akibatnya, semua dibiarkan.
Kalau musibah terjadi dan menelan korban, bisa dilihat masing-masing bakal saling menyalahkan. Lebih mudah mungkin menyalahkan kondisi alam yang tidak bersahabat. Padahal, cuaca ekstrem yang muncul malah membuat semua pihak terkait menjadi lebih waspada dan memperketat pengawasan. Kalau jumlah barang dan penumpang melebihi kapasitas semestinya dan harus menghadapai cuaca ekstrem, apa yang bisa menjamin musibah tidak menimbulkan kerugian yang lebih besar.
Saat kondisi standar, jumlah barang dan penumpang sesuai kapasitas kapal, menghadapi cuaca ekstrem di laut sudah harus melalui pertimbangan matang sebelum memutuskan dilakukan pelayaran. Proses pembiaran dan menganggap proses pelanggaran tersebut sebuah hal rutin, memang saatnya dihentikan. Prosedur keselamatan angkutan standar di negeri ini jangan pernah dianggap remeh. Jangan sampai saat terjadi musibah baru masing-masing menyayangkan telah terjadi pelanggaran. Padahal kalau prosedur diterapkan sebagaimana mestinya, kerugian bisa ditekan seminimal mungkin.
Tindakan pembiaran tidak hanya terjadi pada prosedur keselamatan. Hampir semua sisi kehidupan di Indonesia, khususnya di Kalsel, terjadi yang paling baru tentu saja antrean bahan bakar minyak di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). Saat keberadaan bahan bakar masih normal, orang biasa saja melihat pelangsir datang membawa jeriken dan ikut antre mengisi BBM. Padahal secara prosedural hal tersebut telah lama dilarang Pertamina. Tapi saat BBM mulai sulit diperoleh dan antrean panjang terjadi, baru pemilik kendaraan bermotor protes keberadaan pelangsir yang membawa jeriken. Padahal, kalau sejak awal pelangsir tersebut tidak dibiarkan, tentu mereka pun tak akan ikut mengantre. Kenapa sejak awal keberadaan mereka dianggap biasa ?
Kapa ЧªⁿG Tenggelam..
BERKISAH RINDU
BERKISAH RINDU
Rinduku....
Pada anyaman tikar tengah malammu
pada gemelinting suara gelas kopimu
pada redup cahaya lampu minyakmu
pada gemericik air hujan di atap rumbiamu
Rinduku....
pada dindingmu yang sebagaian tak berpaku
pada senyum sayu kursi-kursi rotanmu
pada baju-bajumu yang bergantung lesu
pada selimutmu yang bermotif bunga sepatu
Pada anyaman tikar tengah malammu
pada gemelinting suara gelas kopimu
pada redup cahaya lampu minyakmu
pada gemericik air hujan di atap rumbiamu
Rinduku....
pada dindingmu yang sebagaian tak berpaku
pada senyum sayu kursi-kursi rotanmu
pada baju-bajumu yang bergantung lesu
pada selimutmu yang bermotif bunga sepatu
FAKULTAS PERTANIAN TETAP JADI PILIHAN
FAKULTAS PERTANIAN TETAP JADI PILIHAN
PERTANIAN,
kenyataan bahwa terjadi penurunan minat lulusan SMA melanjutkan studi
ke Fakultas Pertanian memang terasa dalam beberapa tahun ini. Padahal di
era 80 an, Fakultas Pertanian menjadi idola. Kalau saat ini dikatakan
memasuki kriteria kritis sepertinya sangatlah berlebihan.
Klarifikasi berdasarkan objektifitas yang ada dan bagaimana peran penting Pertanian masa kini dan masa yang akan datang perlu digambarkan kepada masyarakat agar Rakultas Pertanian tetap jadi pilihan.
Tidaklah keliru berita2 yang ada bahwa mahasiswa baru Fakultas Pertanian pada tahun2 ini hanya hitungan jari. walau tdk memenuhi standar ideal.
Mgkn dengan penggabungan beberapa program studi menjadi program studi baru bernama Agroekoteknologi bukanlah semata-mata untuk menyiasati kurangnya minat mahasiswa pada program studi lama, tetapi lebih pada menjawab tantangan masa depan. Sarjana Pertanian harus dibekali ilmu tentang petanian yang lebih umum secara menyeluruh agar bisa terjun langsung ke masyarakat.
Sedangkan untuk memperdalam pada aspek yang lebih khusus, dipersilahkan melanjutkan pada jenjang pendidikan S2 HPT, budidaya petanian, ilmu tanah atau yang lainnya.
Kurangnya berita yang tepat tentang Fakultas Pertanian tentungya tidak bisa dibiarkan karena akan berdampak luas terhadap makin berkurangnya minat orang tua dan siswa untuk memasuki Fakultas Pertanian. Padahal, tantangan kita sebagai negar agraris, dimana bertani adalah sebagai mata pencaharian utama masyarakat, perlu terus dikembangkan oleh tenaga terampil yang dicetak lewat pendidikan di perguruan tinggi (Fakultas Pertanian).
Menurunnya minat siswa memasuki Fakultas Pertanian tentunya berkaitan erat dengan makin berkurangnya perhatian pemerintah pada bidang pertanian. Hal itu berdampak langsung terhadap berkurangnya penyerapan alumni Fakultas Pertanian di berbagai bidang pengabdian, disamping sebagai PNS tetapi menjadi harapan besar setiap alumni dan orantua siswa.
Berkurangnya perhatian pada bidang pertanian, karena pemerintah terlena dengan kekayaan sumber daya alam berupa batu bara dan minyak bumi. Tapi sadarkah kita semua bahwa batu bara dan minyak bumi adalah sumber alam yang tidak dapat diperbaharui, sehingga suatu saat akan habis. apabila saat ini pertanian luput dari perhatian, maka suatu saat kita akan kelaparan.
Kedepan perlu dibuktikan bahwa alumni Fakultas Pertanian mampu mandiri, bukan hanya berharap pada lapangan kerja yang sudah ada sebagai PNS tapi mampu menciptakan lapangan kerja baru dengan bekal keahlian yang dimilikinya.
Coba bayangkan pada 10-20 tahun kedepan bila terjadi kelangkaan makanan. impor pangan saat ini masih memungkinkan, tapi nantinya akan sulit karena masing-masing untuk memenuhi kebutuhan negaranya.
Bisakah anda bayangkan bila kelaparan terjadi akibat makanan yang tak terbeli, maka kerusuhan akan terjadi. asumsi akan terjadi kerawanan pangan sudah didepan mata , pertumbuhan penduduk tidak diimbangi dengan peningkatan produksi pangan.
Sudah saatnya masalah pertanian bukan hanya jadi pembicaraan hangat menjelang pemilukada untuk menarik simpati masyarakat namun setelah terpilih melupakan begitu saja.
Yang lebih ironis, kabupaten yang bertekad jadi lumbung pangan nasional belum tampak juga perhatiannya untuk pengembangan pertanian masa depan.
Di sinilah perlunya kesadaran semua pihak bahwa pertanian menjadi pilihan utama untuk terus dikembangkan oleh tenaga terampil alumni Fakultas Pertanian agar kemandirian pangan tetap terjaga secara lestari. pangan masa depan sangat tergantung pada kepedulian dari generasi sekarang.............
pasar terapung Banjarmasin
Klarifikasi berdasarkan objektifitas yang ada dan bagaimana peran penting Pertanian masa kini dan masa yang akan datang perlu digambarkan kepada masyarakat agar Rakultas Pertanian tetap jadi pilihan.
Tidaklah keliru berita2 yang ada bahwa mahasiswa baru Fakultas Pertanian pada tahun2 ini hanya hitungan jari. walau tdk memenuhi standar ideal.
Mgkn dengan penggabungan beberapa program studi menjadi program studi baru bernama Agroekoteknologi bukanlah semata-mata untuk menyiasati kurangnya minat mahasiswa pada program studi lama, tetapi lebih pada menjawab tantangan masa depan. Sarjana Pertanian harus dibekali ilmu tentang petanian yang lebih umum secara menyeluruh agar bisa terjun langsung ke masyarakat.
Sedangkan untuk memperdalam pada aspek yang lebih khusus, dipersilahkan melanjutkan pada jenjang pendidikan S2 HPT, budidaya petanian, ilmu tanah atau yang lainnya.
Kurangnya berita yang tepat tentang Fakultas Pertanian tentungya tidak bisa dibiarkan karena akan berdampak luas terhadap makin berkurangnya minat orang tua dan siswa untuk memasuki Fakultas Pertanian. Padahal, tantangan kita sebagai negar agraris, dimana bertani adalah sebagai mata pencaharian utama masyarakat, perlu terus dikembangkan oleh tenaga terampil yang dicetak lewat pendidikan di perguruan tinggi (Fakultas Pertanian).
Menurunnya minat siswa memasuki Fakultas Pertanian tentunya berkaitan erat dengan makin berkurangnya perhatian pemerintah pada bidang pertanian. Hal itu berdampak langsung terhadap berkurangnya penyerapan alumni Fakultas Pertanian di berbagai bidang pengabdian, disamping sebagai PNS tetapi menjadi harapan besar setiap alumni dan orantua siswa.
Berkurangnya perhatian pada bidang pertanian, karena pemerintah terlena dengan kekayaan sumber daya alam berupa batu bara dan minyak bumi. Tapi sadarkah kita semua bahwa batu bara dan minyak bumi adalah sumber alam yang tidak dapat diperbaharui, sehingga suatu saat akan habis. apabila saat ini pertanian luput dari perhatian, maka suatu saat kita akan kelaparan.
Kedepan perlu dibuktikan bahwa alumni Fakultas Pertanian mampu mandiri, bukan hanya berharap pada lapangan kerja yang sudah ada sebagai PNS tapi mampu menciptakan lapangan kerja baru dengan bekal keahlian yang dimilikinya.
Coba bayangkan pada 10-20 tahun kedepan bila terjadi kelangkaan makanan. impor pangan saat ini masih memungkinkan, tapi nantinya akan sulit karena masing-masing untuk memenuhi kebutuhan negaranya.
Bisakah anda bayangkan bila kelaparan terjadi akibat makanan yang tak terbeli, maka kerusuhan akan terjadi. asumsi akan terjadi kerawanan pangan sudah didepan mata , pertumbuhan penduduk tidak diimbangi dengan peningkatan produksi pangan.
Sudah saatnya masalah pertanian bukan hanya jadi pembicaraan hangat menjelang pemilukada untuk menarik simpati masyarakat namun setelah terpilih melupakan begitu saja.
Yang lebih ironis, kabupaten yang bertekad jadi lumbung pangan nasional belum tampak juga perhatiannya untuk pengembangan pertanian masa depan.
Di sinilah perlunya kesadaran semua pihak bahwa pertanian menjadi pilihan utama untuk terus dikembangkan oleh tenaga terampil alumni Fakultas Pertanian agar kemandirian pangan tetap terjaga secara lestari. pangan masa depan sangat tergantung pada kepedulian dari generasi sekarang.............
pasar terapung Banjarmasin
Memaknai Hari Ibu
Memaknai Hari Ibu
Hari ini, Kaum Hawa di Tanah Air mendapatkan perlakuan istimewa. Sebab,
22 Desember setiap tahun diperingati sebagai Hari Ibu. Sudahkah
tertebus pengorbanan seorang ibu, ketika diberikan hari istimewa ?
Bagaiman menempatkan dan menghormati 'guru pertama' bagi anak manusia
tersebut ?
Hari Ibu bermula dari Kongres Perempuan Indonesia (KPI) I pada 22-25 Desember 1928 di Yogyakarta. Kongres ini dihadiri sekitar 30 organisasi perempuan dari 12 kota jawa dan sumatera. satu dianta hasilnya, membentuk Kongres Perempuan yang kemudian dikenal sebagai Kongres Wanit Indonesia (Kowani).
Pada tahun 1959, Presiden Republik Indonesia Soekarno menetapkan 22 Desember sebagai hari Ibu melalui Dekrit Presiden nomor 316 tahun 1959 . sejak itu, Hari ibu dirayakan setiap tahun. Namun berbeda dengan mother's day di negar barat, yang menitikberatkan penghargaan terhadap prestasi domestik kaum perempuan.
Dengan demikian, Hari ibu ala barat yang diperu\ingati di negeri asalnya lebih dominan memanjakan ibu/istri selama sehari penuh. itu boleh-boleh saja dilakukan. tetapi bangsa indonesia patut juga menggali makna Hari Ibu, yang penuh perjuangan bagi kemerdekaan bangsa Indonesia.
Bermula dari sejarah Kongres Pemuda 28 Oktober 1928, kaum perempuan terpanggil untuk ikut serta dalam perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia. di era tersebut, banyak perempuanmenjadi korban kawin paksa. Buruh perempuan diupah murah, perdagangan perempuan dan sedikit sekali perempuan yang berpendidikan.
Hal itulah antara lain yang menjadi inspirasi, sehingga sebagian perempuan Indonesia terpanggil untuk memperjuangkan nasib kaum mereka. makna Hari Ibu sebenarnyasangat dalam. tidakcukup dengan menghormati prestasi dan peran domestikmereka, tapi yang diserukan prestasi mendidik generasi.
Berdasarkan sejarah, sungguh menajubkan perjuabfab kaum perempuan. Merdeka berpikir untuk mengenyam pendidikan yang samadengan kaum lelaki. Merdeka berbuat agar tidak menjadi objek di rumah tangga. Merdeka berkarya sehingga bukan sebagai buruh yang diupah , dan ingin kemerdekaan lainnya.
Di era perjuangan dan awal kemerdekaan, pendidikan dipandang sebagai sesuatu yang mahal dan mewah bagi perempuan. kini saatnya, kesempatan menimba ilmu terbuka lebar bagi kaum perempuan. sungguh ironi ketika jalan terbentang luas, perempuan di zaman sekarang enggan mengambil kesempaan tersebut.
Sosok perempuan sekarang, dipandang tidak hanya dalam ruang lingkup kecil yakni rumah tangga. kini, mereka dipandang sebagai sosok yang mampu mengubah nasib bangsa. Itulah antara lain yang mendasai semangat Hari Ibu pada 22 Desember. bukan hanya menjadi Ibu bagi anak-anaknya, tapi menjadi ibu bagi bangsa ini.
Semangat mewujudkan perempuan sebagai ibu bagi bangsa ini, juga muncul dari kumpulanperempuan yang tidak sama dengan perempuan zaman dulu sehingga bisa terbentuk kekuatan sebagai penentu perubahan bangsa. buktinya. kaum Ibu tidak mudah pasrah pada keadaan.
Mereka selalu berusaha meninggalkan ketertinggalan dari kaum lelaki, baik di dunia pendidikan, tenaga kerja profesional, maupun wirausaha mandiri. juga bermitra dengan suami di rumah tangga dan sosialisasi terhadap sesama kaum Ibu. Minimal, mereka menjadi pahlawan bagi keluarganya.
Dengan demikian, tidak ada alasan untuk tidak berkhidmat terhadap kaum Ibu setelah menelisik peran mereka yang demikian penting. Apalagi peran utama tadi, sebagai pengusaha dan guru pertama bagi semua anak manusia. maka, tidaklah cukup hanya memberi keistimewaan di Hari Ibu 22 Desember kepada mereka.
sory temen..............direbutkan ama perempuan ronde.........wkkkk..........
Hari Ibu bermula dari Kongres Perempuan Indonesia (KPI) I pada 22-25 Desember 1928 di Yogyakarta. Kongres ini dihadiri sekitar 30 organisasi perempuan dari 12 kota jawa dan sumatera. satu dianta hasilnya, membentuk Kongres Perempuan yang kemudian dikenal sebagai Kongres Wanit Indonesia (Kowani).
Pada tahun 1959, Presiden Republik Indonesia Soekarno menetapkan 22 Desember sebagai hari Ibu melalui Dekrit Presiden nomor 316 tahun 1959 . sejak itu, Hari ibu dirayakan setiap tahun. Namun berbeda dengan mother's day di negar barat, yang menitikberatkan penghargaan terhadap prestasi domestik kaum perempuan.
Dengan demikian, Hari ibu ala barat yang diperu\ingati di negeri asalnya lebih dominan memanjakan ibu/istri selama sehari penuh. itu boleh-boleh saja dilakukan. tetapi bangsa indonesia patut juga menggali makna Hari Ibu, yang penuh perjuangan bagi kemerdekaan bangsa Indonesia.
Bermula dari sejarah Kongres Pemuda 28 Oktober 1928, kaum perempuan terpanggil untuk ikut serta dalam perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia. di era tersebut, banyak perempuanmenjadi korban kawin paksa. Buruh perempuan diupah murah, perdagangan perempuan dan sedikit sekali perempuan yang berpendidikan.
Hal itulah antara lain yang menjadi inspirasi, sehingga sebagian perempuan Indonesia terpanggil untuk memperjuangkan nasib kaum mereka. makna Hari Ibu sebenarnyasangat dalam. tidakcukup dengan menghormati prestasi dan peran domestikmereka, tapi yang diserukan prestasi mendidik generasi.
Berdasarkan sejarah, sungguh menajubkan perjuabfab kaum perempuan. Merdeka berpikir untuk mengenyam pendidikan yang samadengan kaum lelaki. Merdeka berbuat agar tidak menjadi objek di rumah tangga. Merdeka berkarya sehingga bukan sebagai buruh yang diupah , dan ingin kemerdekaan lainnya.
Di era perjuangan dan awal kemerdekaan, pendidikan dipandang sebagai sesuatu yang mahal dan mewah bagi perempuan. kini saatnya, kesempatan menimba ilmu terbuka lebar bagi kaum perempuan. sungguh ironi ketika jalan terbentang luas, perempuan di zaman sekarang enggan mengambil kesempaan tersebut.
Sosok perempuan sekarang, dipandang tidak hanya dalam ruang lingkup kecil yakni rumah tangga. kini, mereka dipandang sebagai sosok yang mampu mengubah nasib bangsa. Itulah antara lain yang mendasai semangat Hari Ibu pada 22 Desember. bukan hanya menjadi Ibu bagi anak-anaknya, tapi menjadi ibu bagi bangsa ini.
Semangat mewujudkan perempuan sebagai ibu bagi bangsa ini, juga muncul dari kumpulanperempuan yang tidak sama dengan perempuan zaman dulu sehingga bisa terbentuk kekuatan sebagai penentu perubahan bangsa. buktinya. kaum Ibu tidak mudah pasrah pada keadaan.
Mereka selalu berusaha meninggalkan ketertinggalan dari kaum lelaki, baik di dunia pendidikan, tenaga kerja profesional, maupun wirausaha mandiri. juga bermitra dengan suami di rumah tangga dan sosialisasi terhadap sesama kaum Ibu. Minimal, mereka menjadi pahlawan bagi keluarganya.
Dengan demikian, tidak ada alasan untuk tidak berkhidmat terhadap kaum Ibu setelah menelisik peran mereka yang demikian penting. Apalagi peran utama tadi, sebagai pengusaha dan guru pertama bagi semua anak manusia. maka, tidaklah cukup hanya memberi keistimewaan di Hari Ibu 22 Desember kepada mereka.
sory temen..............direbutkan ama perempuan ronde.........wkkkk..........
Subscribe to:
Posts (Atom)
