Sunday, 13 December 2015

JOGJA KOTA KENANGAN

K enangan atau memori adalah salah satu anugerah Allah dalam hidup manusia.
Paling tidak, itulah yang saya rasakan saat mendarat di Yogjakata, dulu sekitar tahun 1992 . Ada yang berubah, ada yang masih tetap seperti dulu. Itulah watak kehidupan fana ini.
Udara panas dingin seperti permen saja hehehe , terasa menggigit tetapi segar, sangat kontras dengan cuaca panas bercampur asap di Kalimantan dan Sumatera tapi hampir sama dengan Bamjarnegara tanah kelahiran saya.
Pemandangan sepanjang jalan menuju kota tampak seperti dulu. Terlihat hamparan hijau tanah pertanian, pepohonan dengan daun menguning , kanal, sungai dan rumah-rumah penduduk, yang tersusun rapi.
Kota ini, memang dikenal sangat teratur, lebih-lebih infrastrukturnya. Misalnya, jalan secara jelas dibagi tiga jalur: untuk mobil, sepeda dan pejalan kaki.
Tiba di kota, saya melihat hanya sedikit perubahan. Beberapa toko lama masih ada, tetapi sebagian diganti yang baru. Di tengah terminal baru ini, ada sejumlah meja dan bangku kayu untuk orang-orang duduk beristirahat.
Dulu, ruang tengah ini kosong. Masih seperti dulu, di samping terminal baru, ada parkir sepeda .
Karena membawa barang cukup berat, saya memutuskan naik taksi menuju rumah teman . Sopir taksi adalah orang asli jogj a. Kami hanya sedikit basa-basi, dan akhirnya sampai di tujuan.
Sambil minum teh dengan pemilik rumah tema n, saya masuk kamar dan berkemas. Rasanya sudah tak sabar lagi ingin melihat kampus . Setelah berjalan kaki kurang lebih 15 menit, saya akhirnya tiba di kampus. Gedung-gedung umumnya masih seperti dulu, tetapi interiornya sebagian berubah, terutama kantin mahasiswa yang kini tampak lebih elegan.
Saya terus melangkah . Di sana saya bertemu seorang senior yang kini sudah profesor. Wajahnya tampak lebih tua, dan rambutnya putih total.
Dia sudah menerbitkan hasil risetnya dalam beberapa buku dan artikel jurnal . Diam-diam, saya malu pada diri sendiri. Saya ini hanya penulis kacangan hanya tulisan di Facebook dan di blogger saja!
Kini tiba saatnya ke perpustakaan. Dengan dibantu seorang staf, saya mendaftar sebagai anggota perpustakaan. Kartu saya yang lama, saya tunjukkan. Kata pustakawannya, kartu itu sudah tidak bisa dipakai.
Dia kemudian memasukkan data saya, memfoto saya, lalu memprint kartu baru untuk saya. Kartunya seperti SIM. Saya juga diberitahu, koleksi dikelola perpustakaan pusat.
Melihat orang membaca dan lalu lalang tanpa bicara di perpustakaan ini, membuat gairah ilmiah menyala di dada. Kenangan suka-duka menuntut ilmu di kampus ini hadir dalam ingatan.
Empat tahun saya melewati masa itu. Membaca, mewawancarai orang dan menulis. Entah berapa ratus kali perpustakaan ini saya datangi, saya mampir ke sini.
saya ikut Salat Jumat di masjid kawasan kampus, Secara fisik, masjid ini tidak banyak berubah, dengan ruang salat du a tingkat.
Saya terus menelusuri kenangan. Tujuan pertama adalah pasar tradisional (open market) yang selalu ram ai. Pasar ini nyaris tak berubah, tetap seperti dulu. Pengunjung cukup padat. Ada pengamen yang duduk sopan. Ada penjual sayur, buah, bunga, roti, pakaian dan ikan. Saya pun membeli ikan goreng dan masakan padang kesukaan saya.
Meski agak jauh, saya terus melangkah menuju kost mahasiswa di kleben wirobrajan jogja. Dulu saya tinggal di sini. Ternyata, semua nyaris tak ada perubahan. Jalan yang sama, pohon yang sama, gedung yang sama, dan taman yang sama termasuk para bapak atau ibu kost masih mengenal saya terasa terharu masih terkenal.....hehehehe ( karena sering bikin masalah kompleks)
Saya seolah kembali ke 25 tahun silam, mendayung sepeda bersama teman kost. Saya pun tertegun melihat taman di mana dulu tempat faforit berpacaran hehehe.
Maafkan saya jika cerita ini terkesan narsis dan melankolis. Tetapi mungkin demikianlah hidup manusia.
Ia adalah kumpulan kisah, penggalan-penggalan cerita dalam ingatan dan kenangan.

PELARIAN SAJA


maafkan aku
membuatmu ga suka
bila kau ga suka
bukan maksudku


kau sebagai
pelarian saja
sebagai pembiasan
saat denganmu

aku bukan krnmu
tapi karena dia
maafkan aku
maafkanlah aku

bila kau tak suka
maafkanlah aku
membuatmu ga suka

KAU PERGI


Entah kemana
Kau mninggalknku
hati ini trsakiti

Ga semudah
melupakanmu
rasa ini tersakiti

Ku ingin bahagia
walau dgn dia
aku rela krnmu
ga terlupanmu

Kau slalu dlm hati
yang terdalam

Oh tuhan
tolong aku
hapuskan dia

ENTAHLAH


mungkinkah
tulisanku ini
di lupakan
atau di kenang


banyak yang
kita jalani
dimana saja
hanya berdua
kusebut namamu

di diriku ini
walaupun ku
ga melihat
tp ku rasakan
harimu

walaupun kutak
melihat paras mu
tapi ku bisa
merasakan harimu

janganlah mencoba pergi
percayalah aku tukmu

KEHIDUPAN


Setelah ksulitn
pasti ada kemudahan
pasti akan diberi jalan
& jalan itu pun terbentang
Dia -atas kuasanya-


Telah memberi keberanian
untuk membuat
sebuah keputusan
Putuskn pergi agar
perjumpaan itu
tak lg terjadi

Dan kini bayangn2
tak lagi merajam hati

Rasa itu sekarang
bukan sesuatu yg mnyakitkn

Bukan pula siksaan
yg membuat terkapar

Rasa itu tlh
menjadi kenangan
sekedar hiasan
bagi kehidupan

APA ADANYA


Dg dia/ikhlaskn dia
biarkn skenarioNya yg trjd
Krn meskipn kucinta
ttpi jk blm siap
kau mau apa

Tanda seorng yg mncintai
adalh ketika ku mncintaimu
ttpi blm mndptkn ksiapan
maka ku akn menjauh
Tak mengikatmu
tak mnyuruhmu
mnunggu
Suatu saat
dsaat yg tept
ku akn datang
untk mmprjuangknmu
Nmun jk kau sdh
milik orang lain
Mk ku akn belajar
untk benar2 ikhlas
untk mlepasknmu

Monday, 14 September 2015

ALAM TELAH MENGGUGAT

SAYA kira semua orang pasti merindukan surga, meskipun ada film berjudul Surga yang Tak Dirindukan.
Lain halnya dengan hujan. Hujan bisa dirindukan, bisa juga tidak.

Kemarau panjang di sejumlah wilayah telah menimbulkan banyak masalah. Banyak sawah kekeringan sehingga gagal panen. Air bersih makin sulit didapatkan, dan listrik juga sering padam karena air waduk pembangkit listrik mulai kurang.

Musibah kebakaran pun datang silih berganti. Asap dari lahan yang ter(di)bakar membuat jadwal penerbangan kacau, dan orang terkena gangguan saluran pernapasan.

Kerugian material akibat kemarau ini luar biasa. Mungkin jika dihitung mencapai ratusan miliar rupiah. Nilai bangunan yang kebakaran saja sudah berapa.

Biaya pemadaman sejumlah titik api dari udara menggunakan helikopter seharinya mencapai lebih dari Rp 500 juta. Kerugian akibat kekacauan jadwal penerbangan juga mencapai ratusan juta rupiah sehari. Belum lagi kerugian akibat listrik padam dan air macet.

Kerugian mental pun tak kalah besar. Betapa sedih menyaksikan padi yang ditanam kering tak berbuah, atau melihat puing-puing rumah dan harta benda yang terbakar.

Betapa tinggi tekanan yang dirasakan ketika jadwal penerbangan terus-menerus ditunda. Betapa kesal hati ketika harus berhenti bekerja akibat listrik padam tiba-tiba. Betapa miris rasanya harus membeli air bersih ke tempat yang jauh.

Karena itu, wajar jika banyak pihak yang prihatin. melaksanakan Salat Istisqâ, salat memohon hujan. Mereka memohon ampunan Tuhan dan memanjatkan doa penuh harap agar hujan segera datang membasuh tanah yang kerontang.

Esok harinya, Jumat, 11 September 2015, hujan belum juga tercurah. Namun, dunia dikejutkan oleh hujan lebat disertai badai dahsyat di Kota Makkah, Arab Saudi yang berujung musibah.

Alat berat (crane) yang terpancang di sekitar Masjidilharam roboh, menimpa jemaah calon haji yang sedang bersiap melaksanakan Salat Magrib. Dilaporkan, 308 terluka, 107 wafat dan tujuh di antaranya dari Indonesia.

Hujan dan panas adalah peristiwa alam. Bagi para ilmuwan, peristiwa alam terjadi sesuai hukum alam, tak lebih dan tak kurang. Jika si ilmuwan adalah seorang ateis atau agnostik, dia tidak akan peduli dengan makna di balik semua peristiwa.

Dia akan mencemooh orang-orang yang berdoa meminta hujan, dan menertawakan mereka yang menganggap kematian di tempat suci sebagai kemuliaan.


Sebaliknya, bagi kaum beriman, semua gerak dan peristiwa di alam ini mengandung makna atau pesan. Dalam bahasa Arab, kata ‘âlam seakar dengan kata ‘ilm (ilmu) dan ‘alâmah (alamat).

Jadi, alam adalah alamat atau tanda dari kehadiran Tuhan. Karena itulah, semua objek pengetahuan, yaitu alam semesta, diri manusia dan kitab suci, disebut âyât, tanda-tanda. Tanda adalah simbol untuk menghadirkan makna.

Alam diciptakan Tuhan dalam keseimbangan. Siang dan malam, panas dan hujan, lelaki dan perempuan dan seterusnya, merupakan tanda keseimbangan. Jika keseimbangan terganggu, akan terjadi kekacauan.

Keseimbangan alam dapat terganggu karena proses alamiah, tetapi umumnya karena perbuatan manusia. Bagi kaum beriman, ada hubungan erat antara manusia, alam dan Tuhan.

Karena itu, ketika keseimbangan goyah, saat itulah kita harus berbenah. Apakah selama ini kita memperlakukan alam dengan penuh cinta, atau penuh loba?

Apakah pembabatan hutan, pertambangan batubara, perkebunan kelapa sawit telah merusak atau menjaga keseimbangan lingkungan? Apakah musim panas dan hujan yang tak teratur hanyalah ‘kebetulan’ atau suatu ‘teguran’ agar kita sadar?

Begitu pula dengan robohnya alat berat di Makkah itu. Apakah itu sekadar akibat hujan deras yang tak diperhitungkan atau suatu peringatan agar megaproyek perluasan masjid suci itu harus diistirahatkan selama musim haji ini?
Apakah megaproyek yang konon akan membuat Masjidilharam dikelilingi hotel mewah dan mal megah itu tidak bertentangan dengan kesucian Kabah?

Entahlah. Saya hanya bertanya sebagai ajakan untuk menggali makna di balik peristiwa. Selebihnya adalah hak tiap orang untuk memaknai semua peristiwa sesuai pikiran dan hati nurani masing-masing.