K enangan atau memori adalah salah satu anugerah Allah dalam hidup manusia.
Paling tidak, itulah yang saya rasakan saat mendarat di Yogjakata, dulu sekitar tahun 1992 . Ada yang berubah, ada yang masih tetap seperti dulu. Itulah watak kehidupan fana ini.
Udara panas dingin seperti permen saja hehehe , terasa menggigit tetapi segar, sangat kontras dengan cuaca panas bercampur asap di Kalimantan dan Sumatera tapi hampir sama dengan Bamjarnegara tanah kelahiran saya.
Pemandangan sepanjang jalan menuju kota tampak seperti dulu. Terlihat hamparan hijau tanah pertanian, pepohonan dengan daun menguning , kanal, sungai dan rumah-rumah penduduk, yang tersusun rapi.
Kota ini, memang dikenal sangat teratur, lebih-lebih infrastrukturnya. Misalnya, jalan secara jelas dibagi tiga jalur: untuk mobil, sepeda dan pejalan kaki.
Tiba di kota, saya melihat hanya sedikit perubahan. Beberapa toko lama masih ada, tetapi sebagian diganti yang baru. Di tengah terminal baru ini, ada sejumlah meja dan bangku kayu untuk orang-orang duduk beristirahat.
Dulu, ruang tengah ini kosong. Masih seperti dulu, di samping terminal baru, ada parkir sepeda .
Karena membawa barang cukup berat, saya memutuskan naik taksi menuju rumah teman . Sopir taksi adalah orang asli jogj a. Kami hanya sedikit basa-basi, dan akhirnya sampai di tujuan.
Sambil minum teh dengan pemilik rumah tema n, saya masuk kamar dan berkemas. Rasanya sudah tak sabar lagi ingin melihat kampus . Setelah berjalan kaki kurang lebih 15 menit, saya akhirnya tiba di kampus. Gedung-gedung umumnya masih seperti dulu, tetapi interiornya sebagian berubah, terutama kantin mahasiswa yang kini tampak lebih elegan.
Saya terus melangkah . Di sana saya bertemu seorang senior yang kini sudah profesor. Wajahnya tampak lebih tua, dan rambutnya putih total.
Dia sudah menerbitkan hasil risetnya dalam beberapa buku dan artikel jurnal . Diam-diam, saya malu pada diri sendiri. Saya ini hanya penulis kacangan hanya tulisan di Facebook dan di blogger saja!
Kini tiba saatnya ke perpustakaan. Dengan dibantu seorang staf, saya mendaftar sebagai anggota perpustakaan. Kartu saya yang lama, saya tunjukkan. Kata pustakawannya, kartu itu sudah tidak bisa dipakai.
Dia kemudian memasukkan data saya, memfoto saya, lalu memprint kartu baru untuk saya. Kartunya seperti SIM. Saya juga diberitahu, koleksi dikelola perpustakaan pusat.
Melihat orang membaca dan lalu lalang tanpa bicara di perpustakaan ini, membuat gairah ilmiah menyala di dada. Kenangan suka-duka menuntut ilmu di kampus ini hadir dalam ingatan.
Empat tahun saya melewati masa itu. Membaca, mewawancarai orang dan menulis. Entah berapa ratus kali perpustakaan ini saya datangi, saya mampir ke sini.
saya ikut Salat Jumat di masjid kawasan kampus, Secara fisik, masjid ini tidak banyak berubah, dengan ruang salat du a tingkat.
Saya terus menelusuri kenangan. Tujuan pertama adalah pasar tradisional (open market) yang selalu ram ai. Pasar ini nyaris tak berubah, tetap seperti dulu. Pengunjung cukup padat. Ada pengamen yang duduk sopan. Ada penjual sayur, buah, bunga, roti, pakaian dan ikan. Saya pun membeli ikan goreng dan masakan padang kesukaan saya.
Meski agak jauh, saya terus melangkah menuju kost mahasiswa di kleben wirobrajan jogja. Dulu saya tinggal di sini. Ternyata, semua nyaris tak ada perubahan. Jalan yang sama, pohon yang sama, gedung yang sama, dan taman yang sama termasuk para bapak atau ibu kost masih mengenal saya terasa terharu masih terkenal.....hehehehe ( karena sering bikin masalah kompleks)
Saya seolah kembali ke 25 tahun silam, mendayung sepeda bersama teman kost. Saya pun tertegun melihat taman di mana dulu tempat faforit berpacaran hehehe.
Maafkan saya jika cerita ini terkesan narsis dan melankolis. Tetapi mungkin demikianlah hidup manusia.
Ia adalah kumpulan kisah, penggalan-penggalan cerita dalam ingatan dan kenangan.
No comments:
Post a Comment