Tuesday, 16 October 2018

KOPI SUSU SAK SRUPUT

*KOPI SUSU SAK SRUPUT*

Saya melihat Teman menyruput kopi susu. nampak nikmat sekali, setelah puas ditutupnya kembali gelas besar kopi susu.
Saya mencoba untuk belajar, merenung peristiwa ini.
Ternyata  pada akhirnya semua rasa itu sama.
Segelas kopi susu itu hanyalah seharga  Rp  3.000 ,00 (tiga ribu rupiah). Namun temen itu begitu menikmatinya, tidak beda dengan  nikmatnya kopi susu yang dibeli  di cafe atau resto dengan tarif harga mahal.
Seberapa lama kopi susu itu nikmat...?
Hanyalah sepanjang perjalanan sampai di tenggorokan, setelah itu rasanya lenyap.
Tidak berbeda dengan minuman semahal apapun.
Begitu pula nikmat-nikmat  yang lainnya, ketika tidur di kasur yang empuk ataupun tikar, ketika mata terpejam, kita tak bisa membedakan saat ini tidur di mana, nikmatnya kasur empuk hanyalah terasa sampai mata ini terpejam.
Begitu pula tentang sebuah penderitaan. Sewaktu nglaju dari Jogja - Banjarnegara, saya sering tidak mendapat tempat duduk di bis, pegel2, deh kaki ini, apalagi bawa bawaan, dan baru dapat tempat duduk, 10 menit menjelang turun.
Rasanya penderitaan 5 jam sebelumnya tidak terasa lagi, nikmaaatt sekali, yang 10 menit ini. Namun senikmat apapun, saat kondektur bilang "Banjanegara terakhir Banjarnegara terakhir..." maka tanpa pikir panjang atau berat hati saya berdiri, kursi saya tinggalkan.
Tak terpikir untuk membawa kursi bis.
Entah esok akan dapat kursi lagi atau tidak, pokoknya kursi saya tinggalkan.
Begitu pula dengan kursi jabatan, saatnya selesai, tinggalkan kursi dengan senang hati.
Ternyata kehidupan itu hanyalah tentang rasa, dan segala rasa hanyalah sebentar dan akan berganti rasa yang lain.
Apapun rasa yang hadir pada Anda saat ini, nikmati sajalah. karena semua hanya sementara.
Teman, maturnuwun, sudah mengajarkan ilmu panguripan, mugi slamet lan sehat nggih, benjang maleh.

BELAJAR

BELAJAR

Dahulu ada istilah ‘sarjana siap pakai’. Sekarang, gagasan seperti itu semakin sulit diwujudkan jika yang dimaksud adalah, setelah tamat dari Perguruan Tinggi, alumni tanpa harus belajar lagi, sudah siap dan lihai untuk bekerja di bidangnya. Hal ini sulit karena kehidupan kita mengalami perubahan yang sangat cepat, yang disebut ‘disrupsi’, yakni perubahan yang membuat kita tidak bisa menjalani hidup seperti biasa.

Di sini disebutkan 10 kecakapan utama yang diperlukan dunia kerja pada 2020, yaitu mampu memecahkan masalah yang kompleks, mampu mengelola, berpikir kritis, kreatif, bekerjasama, cerdas emosi, memutuskan, melayani, bernegosiasi dan berpikir fleksibel.

Pada 2020, 52 persen lapangan kerja membutuhkan kecakapan berpikir yang fleksibel, kreatif, logis, sensitif dan visual. Pekerja harus mampu menggunakan berbagai hal dengan berbagai cara; mampu menemukan ide-ide cerdas dalam berkegiatan dan memecahkan masalah; mampu membaca kemungkinan masalah ke depan, dan membayangkan yang bakal terjadi ketika sesuatu diatur ulang.

Tuntutan akan kemauan dan kemampuan untuk terus-menerus belajar itu menunjukkan bahwa tugas lembaga pendidikan adalah menanamkan nilai-nilai itu kepada para peserta didik. Teori ‘kuno’ tentang pendidikan seumur hidup ternyata tak pernah usang. Sabda Nabi SAW, “Tuntutlah ilmu dari buaian hingga ke liang lahat” juga terus relevan. Ijazah, nilai, gelar, hanyalah perhentian sementara alias halte.

Alhasil, dunia kerja membutuhkan manusia yang tidak hanya siap pakai, tetapi juga siap belajar, yakni siap berkembang dan mengembangkan diri tiada henti. Kita perlu pekerja-pembelajar.

RUPI AH

RUPI AH

Rupiah terus merosot terhadap dolar Amerika Serikat (AS), dan kian tajam penurunannya hampir menyentuh angka psikologis Rp 15 ribu per dolar AS.

Indonesia sedang memasuki tahun politik. Tentu saja sasaran utamanya adalah Presiden yang sudah memastikan diri maju kembali sebagai calon presiden pada Pilpres 2019.

Di pihak pemerintah, mulai para menteri terkait maupun politisi, akademisi, pakar ekonomi, hingga tokoh yang pro-presiden memberikan berbagai argumen terkait pelemahan rupiah. Keterpurukan nilai tukar rupiah tidak semata-mata dan selalu dikaitkan dengan kebijakan ataupun dianggap sebagai ketidakberdayaan pemerintahan.

Tentu saja yang berseberangan dengan presiden, pengamat, pakar, ahli ekonomi menganalisa pelemahan rupiah dalam perspektif sebaliknya, yang intinya menilai pemerintahan tidak becus mengendalikan dan mengamankan rupiah.

Rupiah jatuh ke level terendah dalam kurun 20 tahun terakhir, yakni bertengger di angka Rp 14.940 hingga Rabu (5/9) siang. Angka tersebut melemah 2 poin atau 0,01 persen dibandingkan posisi pada pembukaan perdagangan, yakni Rp 14.925 per dolar AS.

Ternyata, rupiah tidak sendiri. Peso Argentina terjun bebas 16 persen dan sepanjang tahun ini telah merosotnya hampir 50 persen. Rupee India, tujuh hari berturut-turut dan kemarin menyentuh level 71,78 per dolar AS. Kemudian, lira Turki juga merosot. Afrika Selatan, rand, juga melorot tiga persen.

Tekanan ini sebagian diatribusikan dengan penguatan dolar AS dan kenaikan harga minyak, namun demikian isu sebenarnya adalah sentimen para trader.

Itu artinya, mestinya masih ada celah bagi pemerintah menemukan obat mujarab untuk mendongkrak rupiah. Terlebih tim ekonomi pemerintah saat ini diisi oleh orang-orang mumpuni bahkan kaliber internasional.

Saat ini, kita masih bisa sedikit lapang dada karena rupiah tidak sendiri. Tapi besok atau lusa, jangan sampai rupiah justru tertinggal sendirian. Pemerintah jangan lengah.

*SIAPA KITA" INDONESIA

"SIAPA KITA" INDONESIA

Dua minggu sudah perhelatan Asian Games meramaikan Tanah Air. Acara ditutup dengan rasa bangga menjadi bangsa Indonesia. Kita bukan jadi juara, tapi mengutip ucapan politisi, kita realistis. Target 16 medali emas sudah jauh kita lampaui. Kita menutup Asian Games dengan berdiri kokoh di posisi 4 dengan mengoleksi 31 emas, 24 perak, dan 43 perunggu.

Dahsyatnya Indonesia Kalau Bersatu. Laki-laki, perempuan, tua, muda, ada yang pribumi, yang Tionghoa, yang Muslim, yang Katolik, Kristen, Hindu, Buddha, yang bertato, yang berjilbab, yang blasteran, yang naturalisasi, yang anak pemulung, sampai konglomerat.

Para atlet tidak akan ditanya pilih Jokowi atau Prabowo. Mereka cuma ditanya, sanggupkah kamu memanjat paling tinggi, lompat paling jauh, berenang paling cepat, lari paling kencang dan memasukkan bola paling banyak.

Momen terbaik Asian Games 2018 untuk bangsa kita adalah Jokowi dan Prabowo berpelukan berbalut bendera Merah Putih. Pesilat Hanifan yang memeluk Jokowi dan Prabowo seperti mewakili seluruh rakyat Indonesia yang sudah bosan bertengkar dan rindu bersatu.

Media sosial kita pun berganti tema. Broadcast kebencian dari pendukung fanatik kedua kubu politik jauh berkurang bukan? Berganti dengan broadcast jadwal pertandingan dan update perolehan medali.

Ribut-ribut soal politik tak bikin kita jadi juara Asian Games! Kita cermati sajalah urusan dukung-mendukung politik ini dengan wajar, tanpa terjebak fanatisme buta terhadap Jokowi atau Prabowo.

Ayo kita bawa Energy of Asia ini menjadi Energy for Indonesia. Jadikan pengalaman di Asian Games sebagai kenangan indah bahwa Indonesia itu kuat karena bisa bersatu dalam perbedaan. Jangan sampai lupa! Kalau besok ada yang sebar-sebar broadcastkebencian lagi, Anda balas saja dengan foto Jokowi-Prabowo pelukan dan teriakan, "Siapa kitaaa? INDONESIA!"

ENERGY OF ASIA

ENERGY OF ASIA

56 tahun lamanya hingga akhirnya kesempatan menjadi tuan rumah Asian Games akhirnya datang. Kita pernah menjadi tuan rumah pertama kali pada 1962, saat usia Republik kita masih muda, 17 tahun. Pemerintah kita saat itu punya mimpi besar, agar Indonesia dilihat oleh dunia. Asian Games adalah pesta olahraga Asia yang dirintis ketika kekuatan ideologi imperialisme barat mulai runtuh dan bangsa-bangsa di Asia mulai mendapat kemerdekaannya. Artinya, Asian Games menjadi momentum bagi lahirnya nasionalisme dan solidaritas di antara bangsa-bangsa Asia.

Ditengah dahaga panjang kita akan prestasi dunia olahraga saat ini, kita ingin bangsa kita bisa merasakan kembali semangat dan mentalitas sebagai pemenang dan juara dari kemenangan yang lahir dari setiap arena pertandingan. Indonesia butuh pencapaian baru, sebuah tonggak, suatu milestone, yang dibangun oleh tangan dan kaki generasi terbaru.

Dalam keikusertaan Indonesia di Asian Games, selain menjadi tuan rumah untuk yang kedua kalinya setelah tahun 1962, Indonesia kali ini akan mengirimkan sebanyak 1.388 orang yang terdiri dari 938 atlet, 396 ofisial yang akan mengikuti 40 cabang olahraga yang dipertandingkan.

Asian Games ke-18 di Jakarta dan Palembang ini, dukungan 263 juta penduduk Indonesia berada di belakang para pahlawan olahraga, untuk berkumandangnya Indonesia Raya dan berkibarnya Bendera Merah Putih, dari setiap arena yang melahirkan kemenangan.

Slogan kita Energy of Asia. Sifat energi tidak dapat diciptakan dan juga tidak dapat dimusnahkan, dan hanya dapat berubah bentuknya, oleh karena itulah Energy of Asia yang sudah ada dalam semangat dan gelora bangsa ini dalam menyelenggarakan Asian Games 2018 akan berubah bentuk menjadi semangat yang menyatukan bangsa-bangsa di Asia.

Ini Asian Games kita, ini pertarungan di kandang kita. Ini adalah sejarah yang harus kita ukir dengan tinta emas. Semoga Allah meridai perjuangan kita semua, Ayo Indonesia, Indonesia Juara!

BENCANA

BENCANA

Entah mengapa, bencana alam di negeri ini hampir selalu dihubungkan --bahkan secara spontan-- dengan hukuman Tuhan. Sejak gempa dan tsunami Aceh pada 2004, sampai gempa NTB baru-baru ini, anggapan itu selalu saja mengemuka. Saya tak hendak membahas kebenarannya. Yang jauh lebih gawat adalah narasi-narasi kebencian dan yang menyertainya. Di hadapan sesama warga-negara yang tertimpa musibah, mengapa reaksi spontan justru mengutuk atau membenci, alih-alih membantu atau paling sedikit bersimpati?

Di mana pun dan kapan pun, mengutuk atau menyalahkan korban selalu memalukan. Apalagi korban bencana alam. Adalah hak masing-masing untuk menganggap bencana alam sebagai --untuk mengutip kicauan Tifatul Sembiring tentang gempa Mentawai 2010 silam-- "kutukan Tuhan karena kekafiran mereka." Pun kalau benar demikian, dan Anda sungguh meyakininya, cukup katakan dalam hati saja, kemudian singsingkan lengan baju untuk membantu, sebab bantuan Anda jauh lebih penting daripada pengetahuan apakah gempa itu azab atau karena pergeseran dan tubrukan lempeng bumi.

Semoga kita, yang cukup mengerti apa artinya bela rasa bagi sesama yang sedang menderita, memiliki hati seluas samudra untuk merangkulnya.

DETIK DETIK

DETIK DETIK

Kita nantikan saja detik-detik menegangkan ini dengan santai. Sesekali menonton tingkah polah politikus yang selalu dinamis –untuk tidak mengatakan tidak konsisten atau plin plan. Sebagai penonton, tentunya hanya komentar dan harapan yang bisa kita berikan. Harapan, mungkin tampaknya sangat absurd dalam kontestasi politik. Namun, doa atau harapan ini dalam konsepsi politik Islam sangat berperan penting. Dalam pilar negara.

Selain dua pilar ulama dan umara, ada dua pilar yang juga penting untuk diperhatikan. Pertama, aghniya', para hartawan-dermawan, kaum pemodal, pengusaha, atau bahasa ekstremnya para kapitalis. Mereka ini dalam kontestasi politik terbukti sangat menentukan. Tidak ada politisi yang tidak berkolaborasi dengan para pemodal, demikian pula para capres kita. Kedua, para fakir miskin (rakyat) seperti kita ini yang dalam redaksi hadis nabi tentang empat pilar ini disebutkan bi du'ai alfuqara' (doanya para fakir-miskin). 

Dalam teori negara demokrasi, rakyat adalah pemilik kedaulatan. Rakyat yang notabene hanya penonton ini akan mampu menentukan hasil akhir kontestasi. Betapapun hebat strategi politik, lincahnya manuver, lihainya akrobat yang dimainkan, rakyatlah yang akan menentukannya. Wahai para capres-cawapres, silakan beri kami pertunjukan yang menarik!