Wednesday, 29 July 2015

LEBARAN PENUH UJIAN

      BAGI bangsa kita, lebaran tahun ini tampaknya bermakna ganda, suka sekaligus duka. Ormas-ormas besar Islam dapat bersepakat dengan pemerintah dalam penetapan jatuhnya Hari Raya Idulfitri.Tetapi letusan Gunung Raung di Jawa Timur dan Gunung Gamalama di Ternate, telah membuat ratusan penerbangan dibatalkan. Lebih sedih lagi, terjadi kekacauan saat Salat Id di Tolikara, Papua.
Tiga peristiwa tersebut memang berbeda. Penetapan 1 Syawal, sebagai Hari Raya Idulfitri, terkait dua hal, yaitu peristiwa alam dan penafsiran manusia terhadap kehendak Tuhan. Sedangkan letusan gunung berapi adalah murni peristiwa alam, tetapi ‘kebetulan’ terjadi menjelang lebaran. Sementara kekacauan dan pembakaran yang terjadi saat Salat Id di Tolikara adalah murni tindakan manusia.
Sudah maklum, ada dua metode yang berbeda dalam penentuan awal puasa dan hari raya bagi umat Islam.
       Pertama, metode hisab yang berpegang teguh pada penghitungan astronomi modern yang dianggap sangat akurat.Kedua, metode rukyah yang berpendapat, melihat dengan mata adalah wajib sesuai dengan makna lahiriah hadis Nabi, sementara hitungan astronomi hanya membantu. Meski kedua metode itu berbeda, hasil akhirnya bisa sama, bisa pula tidak. Yang menentukan kesamaan dan perbedaan hasil itu adalah ketinggian derajat bulan sabit (hilal) dan kecerahan cuaca.
Jika posisi hilal cukup tinggi derajatnya dan tidak tertutup awan, maka hilal bisa dilihat sehingga hasil akhir metode rukyah dan hisab akan sama (seperti tahun ini). Jika sebaliknya, maka hasilnya akan berbeda.
Berbeda dengan penetapan lebaran, letusan Gunung Raung dan Gunung Gamalama tidak melibatkan manusia secara langsung. Letusan itu adalah fenomena alam. Namun manusia bisa terkena dampaknya dan dapat memaknainya.
      Meminjam lirik Ebiet G Ade: Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita, yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa. Atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita. Tetapi, peristiwa pembakaran 6 rumah, 11 kios dan 1 masjid yang terjadi di Tolikara, Papua, tepat di Hari Raya Idul fitri kemarin, di sekitar kawasan kaum Muslim yang melaksanakan Salat Id, bukanlah peristiwa alam biasa, melainkan akibat ulah manusia. Manusia sebagai makhluk yang memiliki pilihan moral dalam bertindak, dan karena itu, setiap tindakannya harus dipertanggungjawabkan.
      Menurut Dorman Wandikmbo, Presiden Gereja Injili Di Indonesia (GIDI), yang dimuat di jawaban.com, semula GIDI meminta kaum Muslim tidak menggunakan pengeras suara ketika merayakan Idulfitri, agar tidak mengganggu seminar internasional GIDI yang letaknya berdekatan. Tetapi permintaan ini tidak diindahkan, sehingga terjadilah insiden pembakaran itu dan tembakan dari aparat keamanan. Yang mengejutkan lagi, telah beredar di media sosial sebuah surat GIDI bertanggal 11 Juli 2015, yang ditujukan kepada umat Islam se-Kabupaten Tolikara. Isinya antara lain, GIDI tidak mengizinkan pelaksanaan lebaran di kabupaten itu. Bahkan ada poin yang menyebutkan, kaum muslimat dilarang memakai jilbab. Agama lain dan gereja lain juga dilarang mendirikan tempat ibadah. Saya berharap surat tersebut palsu. Saya juga berharap, jika memang surat itu palsu, maka pemerintah harus dapat mengusut pembuatnya yang sengaja ingin mengadu domba antarumat beragama di Indonesia.
     Namun, jika surat itu asli, saya sungguh menyesal, mengapa mereka berani melakukan tindakan bodoh semacam itu? Mengapa GIDI tampak begitu arogan di surat itu? Kasus ini menunjukkan, betapa berat merawat kerukunan, dan betapa penting membangun komunikasi antar tokoh agama dan juga pemerintah.
Kasus ini juga menunjukkan, umat Kristen di Indonesia sangat beragam. GIDI hanya satu di antara banyak Gereja Protestan. Boleh jadi, di antara mereka, ada kelompok radikal dan agresif yang dapat mengganggu kerukunan umat beragama.
     Tiga peristiwa itu dapat dilihat sebagai hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan alam, dan manusia dengan sesama manusia. Jika manusia bersalah kepada Tuhan, maka dia bisa bertobat kepada-Nya.
Jika dia bersalah pada/merusak alam, maka dia harus kembali berusaha menjaga kelestarian alam. Jika manusia bersalah kepada sesama manusia, maka dia harus meminta maaf.

Tuesday, 7 July 2015

PUASA ATAU PUAS'A

PUASA ATAU PUAS'A

     Di suatu desa terpencil, Semua penduduknya beragama Islam, dan mereka bekerja sebagai petani atau nelayan. Orang-orang desa ini cukup terpelajar, tetapi umumnya tidak mendapat pekerjaan sesuai tingkat pendidikan mereka. Di sore hari Ramadan, setelah salat Asar, kawula muda desa itu bermain sepak bola, yang mendapat perhatian ratusan penonton. jangan kan saya temen saya Jaky sebagai orang luar dan non-Muslim, merasa takjub akan kekuatan fisik mereka. Dalam keadaan lapar dan haus, mereka sanggup bermain sepakbola yang sangat menguras tenaga. Rupanya, asyiknya permainan sepakbola dapat melupakan orang dari tekanan puasa.
     Uniknya, sepakbola ini hanya dilaksanakan di bulan Ramadan. Di luar Ramadan, tidak ada. Tampaknya sepakbola menjadi semacam pengganti dari berbagai hiburan yang berbau maksiat. Ramadan adalah bulan suci dan penyucian dari dosa. Meski demikian, paradoks tetap terjadi. Sementara puasa mengajarkan pengendalian nafsu, tingkat konsumsi masyarakat justru meroket. Setelah Ramadan usai, anak-anak muda itu kembali pada keseharian mereka. Sebagian berusaha keras agar tetap hidup dalam kesalehan, meski kadang gagal.
     Sebagian lagi kembali ke klub malam, menonton film porno, meminum bir dan menghisap hasyisy. Mereka seolah ditarik oleh dua kutub magnet yang sama-sama kuat: disiplin moral di satu sisi serta konsumerisme, cinta romantis dan status sosial, di sisi lain.
Pengalaman kawula muda Mesir itu tentu tidak asing bagi kita. Semakin mendekat akhir Ramadan, semakin terasa perubahan itu. Agama mengajarkan, sepuluh hari terakhir Ramadan adalah puncak penanjakan ruhani kaum beriman. Dalam kenyataan, kaum berduit makin gila berbelanja dan kaum miskin punya ambisi serupa, sehingga pencurian dan penjambretan cenderung meningkat.
     Semua ini menunjukkan, perjuangan moral adalah pergumulan manusia sepanjang hidupnya. Manusia sebagai makhluk yang diberi kebebasan memilih antara baik dan buruk, dosa dan pahala, akan terus-menerus berhadapan dengan pilihan-pilihan moral itu. Kaya atau miskin, tua atau muda, penguasa atau rakyat jelata, semua takkan bisa menghindar dari perjuangan ini sampai maut menjemput. Dengan demikian, ketimbang membayangkan suatu masyarakat suci bersih tanpa noda berkat ibadah Ramadan, akan lebih realistis kalau kita melihat Ramadan sebagai bulan pendidikan. Sudah maklum, didunia pendidikan, hasil akhir yang diperoleh peserta didik umumnya tidak sama. Ada yang mendapat nilai yang tinggi, sedang hingga rendah. Bahkan ada pula yang tidak lulus alias gagal total.
      Seberapa besar keberhasilan pendidikan Ramadan tersebut, pada gilirannya akan menentukan seberapa tinggi peradaban masyarakat Muslim.
Tidak ada peradaban yang dapat berdiri tegak tanpa pengendalian diri/hawa nafsu. Tak ada ilmu, seni dan teknologi yang lahir tanpa suatu perjuangan asketis. Tak ada masyarakat yang benar-benar adil dan makmur tanpa disiplin moral pemimpin dan rakyatnya. Dunia terus berputar, peradaban umat manusia terus beredar. Boleh boleh jadi, umat manusia di zaman tertentu lebih taat beragama dibanding zaman lainnya, lebih bermoral dibanding era lainnya.
     Boleh jadi pula, di era yang sama, masyarakat tertentu lebih berdisiplin dibanding masyakarat lainnya. Karena itu, ada bangsa dan peradaban yang akhirnya punah, ada pula yang terus bertahan hingga sekarang.
     Mungkin inilah maksud sabda Nabi SAW bahwa jihad terbesar adalah perjuangan melawan hawa nafsu. Inilah sesungguhnya inti daripuasa. Inilah pula fondasi peradaban Islam, bahkan peradaban umat manusia sepanjang sejarah.

Friday, 5 June 2015

KARENA DIANGGAP BIASA

KARENA DIANGGAP BIASA

     PERISTIWA mengenaskan sekaligus memprihatinkan menimpa moda trasportasi laut di Kotabaru Kalsel. Puluhan orang ditemukan tewas terjebak dalam kapal, sedang puluhan lainya dinyatakan hilang di perairan Tanjung Dewa, saat melakukan perjalanan dari Kotabaru ke desa Geronggang. Ekstremnya cuaca di laut menjadi kambing hitam penybab musibah tersebut. Betulkah alam sedemikian menjadi ancaman ? Jawabannya tidak serta merta harus menyalahkan alam yang memang sulit diprediksi. Tapi berdasarkan catatan manifes kapal, terlihat jelas kalau penyebab kecelakaan tidak hanya oleh cuaca ekstrem. Di manifes kapal dinnyatakan jumlah penumpang sebanyak 22 orang, tapi dari laporan sedikitnya 105 orang mengisi kapal yang penuh barang dagangan tersebut.
     Jumlah penumpang yang tidak sesui dengan manifes kapal tentu menjadi pertanyaan tersendiri. Bagaimana pengelola trasportasi di Pelabuhan Panjanf Kotabaru saat ini. Apa sebelum belayar pengelola pelabuhan sudah memeriksa kapal yang akan berangkat. Belum lagi peralatan keselamatan di kapal yang menjadi utama sebelum satu unit alat trasportasi dinyatakan layak untuk dipergunakan. Misalnya, apakah pelampung di kapal cukup bagi jumlah penumpang yang akan diangkut ?. Selain alat bantu keselamatan, faktor belum pernah terjadi musibah kapal barang dan penumpang di tanjung dewa, membuat nahkoda kapal, pengawas pelabuhan serta pihak terkait, menjadi lengah. Mereka menganggap biasa mengangkut barang dan penumpang melebihi kapasitas, Juga manifes kapal tidak sesuai yang dilaporkan, bisa jadi sudah berlangsung lama dan dianggap biasa, akibatnya, semua dibiarkan.
     Kalau musibah terjadi dan menelan korban, bisa dilihat masing-masing bakal saling menyalahkan. Lebih mudah mungkin menyalahkan kondisi alam yang tidak bersahabat. Padahal, cuaca ekstrem yang muncul malah membuat semua pihak terkait menjadi lebih waspada dan memperketat pengawasan. Kalau jumlah barang dan penumpang melebihi kapasitas semestinya dan harus menghadapai cuaca ekstrem, apa yang bisa menjamin musibah tidak menimbulkan kerugian yang lebih besar.
     Saat kondisi standar, jumlah barang dan penumpang sesuai kapasitas kapal, menghadapi cuaca ekstrem di laut sudah harus melalui pertimbangan matang sebelum memutuskan dilakukan pelayaran. Proses pembiaran dan menganggap proses pelanggaran tersebut sebuah hal rutin, memang saatnya dihentikan. Prosedur keselamatan angkutan standar di negeri ini jangan pernah dianggap remeh. Jangan sampai saat terjadi musibah baru masing-masing menyayangkan telah terjadi pelanggaran. Padahal kalau prosedur diterapkan sebagaimana mestinya, kerugian bisa ditekan seminimal mungkin.
     Tindakan pembiaran tidak hanya terjadi pada prosedur keselamatan. Hampir semua sisi kehidupan di Indonesia, khususnya di Kalsel, terjadi yang paling baru tentu saja antrean bahan bakar minyak di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). Saat keberadaan bahan bakar masih normal, orang biasa saja melihat pelangsir datang membawa jeriken dan ikut antre mengisi BBM. Padahal secara prosedural hal tersebut telah lama dilarang Pertamina. Tapi saat BBM mulai sulit diperoleh dan antrean panjang terjadi, baru pemilik kendaraan bermotor protes keberadaan pelangsir yang membawa jeriken. Padahal, kalau sejak awal pelangsir tersebut tidak dibiarkan, tentu mereka pun tak akan ikut mengantre. Kenapa sejak awal keberadaan mereka dianggap biasa ?
Kapa ЧªⁿG Tenggelam..Kapa ЧªⁿG Tenggelam..

BERKISAH RINDU

BERKISAH RINDU

Rinduku....
Pada anyaman tikar tengah malammu
pada gemelinting suara gelas kopimu
pada redup cahaya lampu minyakmu
pada gemericik air hujan di atap rumbiamu

Rinduku....
pada dindingmu yang sebagaian tak berpaku
pada senyum sayu kursi-kursi rotanmu
pada baju-bajumu yang bergantung lesu
pada selimutmu yang bermotif bunga sepatu

FAKULTAS PERTANIAN TETAP JADI PILIHAN

FAKULTAS PERTANIAN TETAP JADI PILIHAN

PERTANIAN, kenyataan bahwa terjadi penurunan minat lulusan SMA melanjutkan studi ke Fakultas Pertanian memang terasa dalam beberapa tahun ini. Padahal di era 80 an, Fakultas Pertanian menjadi idola. Kalau saat ini dikatakan memasuki kriteria kritis sepertinya sangatlah berlebihan.
Klarifikasi berdasarkan objektifitas yang ada dan bagaimana peran penting Pertanian masa kini dan masa yang akan datang perlu digambarkan kepada masyarakat agar Rakultas Pertanian tetap jadi pilihan.
Tidaklah keliru berita2 yang ada bahwa mahasiswa baru Fakultas Pertanian pada tahun2 ini hanya hitungan jari. walau tdk memenuhi standar ideal.
Mgkn dengan penggabungan beberapa program studi menjadi program studi baru bernama Agroekoteknologi bukanlah semata-mata untuk menyiasati kurangnya minat mahasiswa pada program studi lama, tetapi lebih pada menjawab tantangan masa depan. Sarjana Pertanian harus dibekali ilmu tentang petanian yang lebih umum secara menyeluruh agar bisa terjun langsung ke masyarakat.
Sedangkan untuk memperdalam pada aspek yang lebih khusus, dipersilahkan melanjutkan pada jenjang pendidikan S2 HPT, budidaya petanian, ilmu tanah atau yang lainnya.
Kurangnya berita yang tepat tentang Fakultas Pertanian tentungya tidak bisa dibiarkan karena akan berdampak luas terhadap makin berkurangnya minat orang tua dan siswa untuk memasuki Fakultas Pertanian. Padahal, tantangan kita sebagai negar agraris, dimana bertani adalah sebagai mata pencaharian utama masyarakat, perlu terus dikembangkan oleh tenaga terampil yang dicetak lewat pendidikan di perguruan tinggi (Fakultas Pertanian).
Menurunnya minat siswa memasuki Fakultas Pertanian tentunya berkaitan erat dengan makin berkurangnya perhatian pemerintah pada bidang pertanian. Hal itu berdampak langsung terhadap berkurangnya penyerapan alumni Fakultas Pertanian di berbagai bidang pengabdian, disamping sebagai PNS tetapi menjadi harapan besar setiap alumni dan orantua siswa.
Berkurangnya perhatian pada bidang pertanian, karena pemerintah terlena dengan kekayaan sumber daya alam berupa batu bara dan minyak bumi. Tapi sadarkah kita semua bahwa batu bara dan minyak bumi adalah sumber alam yang tidak dapat diperbaharui, sehingga suatu saat akan habis. apabila saat ini pertanian luput dari perhatian, maka suatu saat kita akan kelaparan.
Kedepan perlu dibuktikan bahwa alumni Fakultas Pertanian mampu mandiri, bukan hanya berharap pada lapangan kerja yang sudah ada sebagai PNS tapi mampu menciptakan lapangan kerja baru dengan bekal keahlian yang dimilikinya.
Coba bayangkan pada 10-20 tahun kedepan bila terjadi kelangkaan makanan. impor pangan saat ini masih memungkinkan, tapi nantinya akan sulit karena masing-masing untuk memenuhi kebutuhan negaranya.
Bisakah anda bayangkan bila kelaparan terjadi akibat makanan yang tak terbeli, maka kerusuhan akan terjadi. asumsi akan terjadi kerawanan pangan sudah didepan mata , pertumbuhan penduduk tidak diimbangi dengan peningkatan produksi pangan.
Sudah saatnya masalah pertanian bukan hanya jadi pembicaraan hangat menjelang pemilukada untuk menarik simpati masyarakat namun setelah terpilih melupakan begitu saja.
Yang lebih ironis, kabupaten yang bertekad jadi lumbung pangan nasional belum tampak juga perhatiannya untuk pengembangan pertanian masa depan.
Di sinilah perlunya kesadaran semua pihak bahwa pertanian menjadi pilihan utama untuk terus dikembangkan oleh tenaga terampil alumni Fakultas Pertanian agar kemandirian pangan tetap terjaga secara lestari. pangan masa depan sangat tergantung pada kepedulian dari generasi sekarang.............
pasar terapung Banjarmasin

Memaknai Hari Ibu

Memaknai Hari Ibu

     Hari ini, Kaum Hawa di Tanah Air mendapatkan perlakuan istimewa. Sebab, 22 Desember setiap tahun diperingati sebagai Hari Ibu. Sudahkah tertebus pengorbanan seorang ibu, ketika diberikan hari istimewa ? Bagaiman menempatkan dan menghormati 'guru pertama' bagi anak manusia tersebut ?
     Hari Ibu bermula dari Kongres Perempuan Indonesia (KPI) I pada 22-25 Desember 1928 di Yogyakarta. Kongres ini dihadiri sekitar 30 organisasi perempuan dari 12 kota jawa dan sumatera. satu dianta hasilnya, membentuk Kongres Perempuan yang kemudian dikenal sebagai Kongres Wanit Indonesia (Kowani).
     Pada tahun 1959, Presiden Republik Indonesia Soekarno menetapkan 22 Desember sebagai hari Ibu melalui Dekrit Presiden nomor 316 tahun 1959 . sejak itu, Hari ibu dirayakan setiap tahun. Namun berbeda dengan mother's day di negar barat, yang menitikberatkan penghargaan terhadap prestasi domestik kaum perempuan.
     Dengan demikian, Hari ibu ala barat yang diperu\ingati di negeri asalnya lebih dominan memanjakan ibu/istri selama sehari penuh. itu boleh-boleh saja dilakukan. tetapi bangsa indonesia patut juga menggali makna Hari Ibu, yang penuh perjuangan bagi kemerdekaan bangsa Indonesia.
     Bermula dari sejarah Kongres Pemuda 28 Oktober 1928, kaum perempuan terpanggil untuk ikut serta dalam perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia. di era tersebut, banyak perempuanmenjadi korban kawin paksa. Buruh perempuan diupah murah, perdagangan perempuan dan sedikit sekali perempuan yang berpendidikan.
     Hal itulah antara lain yang menjadi inspirasi, sehingga sebagian perempuan Indonesia terpanggil untuk memperjuangkan nasib kaum mereka. makna Hari Ibu sebenarnyasangat dalam. tidakcukup dengan menghormati prestasi dan peran domestikmereka, tapi yang diserukan prestasi mendidik generasi.
     Berdasarkan sejarah, sungguh menajubkan perjuabfab kaum perempuan. Merdeka berpikir untuk mengenyam pendidikan yang samadengan kaum lelaki. Merdeka berbuat agar tidak menjadi objek di rumah tangga. Merdeka berkarya sehingga bukan sebagai buruh yang diupah , dan ingin kemerdekaan lainnya.
     Di era perjuangan dan awal kemerdekaan, pendidikan dipandang sebagai sesuatu yang mahal dan mewah bagi perempuan. kini saatnya, kesempatan menimba ilmu terbuka lebar bagi kaum perempuan. sungguh ironi ketika jalan terbentang luas, perempuan di zaman sekarang enggan mengambil kesempaan tersebut.
     Sosok perempuan sekarang, dipandang tidak hanya dalam ruang lingkup kecil yakni rumah tangga. kini, mereka dipandang sebagai sosok yang mampu mengubah nasib bangsa. Itulah antara lain yang mendasai semangat Hari Ibu pada 22 Desember. bukan hanya menjadi Ibu bagi anak-anaknya, tapi menjadi ibu bagi bangsa ini.
     Semangat mewujudkan perempuan sebagai ibu bagi bangsa ini, juga muncul dari kumpulanperempuan yang tidak sama dengan perempuan zaman dulu sehingga bisa terbentuk kekuatan sebagai penentu perubahan bangsa. buktinya. kaum Ibu tidak mudah pasrah pada keadaan.
     Mereka selalu berusaha meninggalkan ketertinggalan dari kaum lelaki, baik di dunia pendidikan, tenaga kerja profesional, maupun wirausaha mandiri. juga bermitra dengan suami di rumah tangga dan sosialisasi terhadap sesama kaum Ibu. Minimal, mereka menjadi pahlawan bagi keluarganya.
     Dengan demikian, tidak ada alasan untuk tidak berkhidmat terhadap kaum Ibu setelah menelisik peran mereka yang demikian penting. Apalagi peran utama tadi, sebagai pengusaha dan guru pertama bagi semua anak manusia. maka, tidaklah cukup hanya memberi keistimewaan di Hari Ibu 22 Desember kepada mereka.
sory temen..............direbutkan ama perempuan ronde.........wkkkk..........sory temen..............direbutkan ama perempuan ronde.........wkkkk..........

Wednesday, 1 April 2015

SEMUA ORANG BISA MENGAKSES

SEMUA ORANG BISA MENGAKSES

     MEDIA sosial adalah sebuah media online dimana para penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi, berbagi, dan menciptakan isi meliputi blog, sosial network atau jejaringan sosial, wiki, forum dan dunia virtual. Blok, jejaringan sosial dan wiki mungkin merupakan bentuk media sosial yang paling umum digunakan oleh masyarakat di seluruh dunia.
     Sementara jejaringan sosial merupakan situs dimana setiap orang bisa membuat web page pribadi, kemudian terhubung dengan teman-teman untuk berbagi informasi dan komunikasi. Jejaringansosial terbesar antara lain Facebook, Myspace, dan Twitter. Jika media trasisional menggunakan media cetak dan media broadcast maka media sosial menggunakan internet.
     Media sosial mengajak siapa saja yang tertarik untuk berpartisipasi dengan memberi kontribusi dan feedback secara terbuka, memberi komentar, serta membagi informasi dalam waktu yang cepat dan tak terbatas. Tetapi dalam waktu yang sangat cepat ini bayak yang disalah gunakan dengan kepentingan pribadi dengan berbagai cara apappun ada juga dengan cara menjatuhkan orang lain walau harus mengorbankan persahabatan asal tercapai tujuannya.
     Saat teknologi internet dan mobile phone makin maju maka media sosial pun ikut tumbuh dengan pesat. Kini untuk mengakses facebook atau twitter bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja hanya dengan menggunkan sebuah handphone. Demikian cepatnya orang bisa mengakses media sosial mengakibatkan terjasinya fenomena besar terhadap arus informasi tidak hanya di negara-negara maju, tetapi juga Indonesia.
     Karena kecepatannya media sosial juga mualai tampak menggantikan peranan media massa konvensional dalam menyebarkan berita-berita. Pesatnya perkembangan media sosial kini dikarenakan semua orang seperti bisa memiliki media sendiri. Jika untukmemiliki media tradisional seperti televisi, radio, atau koran dibutuhkan modal yang besar dan tenaga kerja yang banyak, maka lain halnya dengan media.'
     Seorang pengguna media sosial bisa mengakses menggunakan social media dengan jaringan internet bahkan yang aksesnya lambat sekalipun, tanpa biaya besar, tanpa alat mahal dan dilakukan sendiri tanpa karyawan. Kita sebagai pengguna social media dengan bebas bisa mengedit, menambah, memodifikasi baik tulisan, gambar, video, grafis, dan berbagai model content lainya.
bersama duta wisata Kotabarubersama duta wisata Kotabaru