Sunday, 3 January 2016
BARU STOK LAMA, 2016
Pagi-pagi itu, udara dingin terasa menggigit. Aku menemuinya di bandara Samsuddinnor Banjarbaru Kalimantan Selatan. Tak sulit baginya mengenaliku di antara kerumunan penumpang yang keluar Bandara. Ia melambaikan tangan sambil memanggilku. Aku pun segera mengenalinya. Kami bersalaman dan berpelukan.
Sudah 15 tahun kami tak bersua, sejak aku di Yogyakarta di 2000 silam. Pria asal anak Jogja ini adalah kawan seperjuangan saat kuliah dulu. Perjuangannya untuk bisa membawa anak-istri dan menjadi warga Kalimantan Selatan sungguh berat. Tetapi dia sabar dan berhasil. Kini hidupnya sudah mapan dan nyaman. Istri jadi dokter, dan anak-anaknya sudah besar.
“Apakah kamu masih Marxis seperti dulu?” tanyaku bercanda. “Git, hidup itu berubah, dan kita pun berubah,” katanya bijak. Aku sendiri sudah berusia 42 tahun, dan dia bahkan sudah 46 tahun. Uban di kepala kami juga semakin nampak. Ini sudah hukum alam. Bumi, bulan dan matahari terus berputar, menandai pergantian hari, minggu, bulan dan tahun, dan bersama mereka kita berubah.
Namun, setiap kali aku berjumpa kawan lama, seringkali pula aku menemukan sesuatu yang tidak banyak berubah, yaitu pandangannya tentang apa, mengapa dan bagaimana hidup ini harus dijalani. Inilah pandangan hidup yang diperoleh manusia melalui proses belajar dalam ‘sekolah kehidupan’. Tampaknya pandangan hidup mulai mantap di usia kuliah, dan semakin matang setelah itu.
Apakah kiranya yang dikejar dalam hidup ini? Banyak orang mungkin akan menjawab, secara terbuka ataupun malu-malu, yang dikejar itu jelas: kekayaan, kekuasaan, ketenaran dan kenikmatan. Namun, ada pula yang dengan yakin menjawab, yang dicarinya adalah hati yang tenang dalam sabar dan syukur, serta berilmu dan bermanfaat. Tak berkuasa, tak kaya raya, tak terkenal, tak mengapa.
Menjadi penguasa, kaya, terkenal dan hidup penuh nikmat ragawi dapat disingkat dalam satu kata: sukses. Tampaknya, kini sukses adalah impian hampir semua orang. Karena itu, orang yang mengaku tak ingin menumpuk harta benda, tak berminat terhadap jabatan, tak peduli dengan ketenaran dan tak mabuk dengan kenikmatan, akan ditertawakan orang. Ia akan dianggap abnormal atau munafik!
Di sisi lain, tak bijak pula kiranya menganggap orang yang berambisi ingin menjadi kaya, berkuasa, dan tenar dipastikan telah terjerumus ke lembah nista dunia yang berbahaya. Boleh jadi, dia ingin menggunakan kekayaan, kekuasaan dan ketenarannya untuk bisa lebih banyak berbuat baik. Orang miskin, tak punya kuasa dan tak dikenal, tentu sangat terbatas kemampuaannya dalam berbuat baik.
Karena itu, masalah paling utama adalah tujuan dan cara. Apakah sukses semata-mata sebagai tujuan hidup, atau sekadar cara atau alat untuk mencapai tujuan yang lebih agung? Apakah orang yang menahan diri dari memburu kekayaan, kekuasaan dan ketenaran memang karena dia khawatir akan sisi gelap hidup sukses, atau justru hanya karena dia lemah dan putus asa untuk meraihnya?
Yang pasti, kesamaan pandangan hidup akan mempertemukan hati manusia. Mereka akan cepat bersahabat dan saling menyukai. “Ketika aku bertemu denganmu, seolah aku telah mengenalmu ribuan tahun yang lalu,” kata seorang pria. Ini mungkin sekadar rayuan gombal, tetapi mungkin juga tidak. Ia merasa telah mengenal lawan bicaranya karena menemukan kesamaan pandangan hidup.
Mungkin itulah yang sering kurasakan saat bertemu sahabat-sahabat lama. Meski rambut kami kian memutih, dan usia merangkak tua, tetapi pandangan tentang bagaimana hidup ini seharusnya dijalani pada dasarnya tidak berubah, bahkan semakin mantap dan matang. Aku bahagia sekali jika bertemu sahabat yang demikian. Kami bertukar cerita yang berbeda, tetapi garis besarnya serupa.
Hari-hari terus berganti. Pengusaha dan penguasa jatuh bangun. Perubahan adalah watak alamiah kehidupan. Tetapi di balik semua perubahan itu selalu ada yang tetap. Langit tetap langit, dan bumi tetap bumi. Air, api, tanah dan udara hakikatnya tetap sama. Semua ini mungkin baru hancur binasa, kala kiamat sudah tiba, ketika bumi dan langit diganti dengan sesuatu yang benar-benar berbeda.
Demikianpula pandangan hidup. Ketika manusia sudah dewasa, pandangan hidup itu semakin sulit, meskipun tidak mustahil, untuk berubah. Perubahan pandangan hidup kala dewasa menuntut perjuangan yang berat dan keberanian yang tinggi. Tahun Baru mungkin adalah hidup baru, tetapi bagi kebanyakan orang dewasa, tidak berarti pandangan hidup baru.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment