Friday, 26 February 2016

TERTAWALAH SEBELUM DILARANG


Lelucon yang menertawakan diri sendiri sudah barang biasa. Saya kadangkala juga melakukan hal tersebut. “Terima kasih telah mengundang orangutan (orang yang berasal dari hutan Kalimantan) seperti saya untuk acara ini,” kata saya di beberapa acara perkumpulan pengusaha.
Prasangka atau stereotip antarsuku, etnis, agama dan identitas lainnya adalah wajar. Sebagian dari prasangka itu tercipta melalui pengalaman atau (salah) informasi. Stereotip tidak sepenuhnya benar, tidak pula sepenuhnya salah. Karena itu, stereotip hanya akan berbahaya ketika ia dianggap sebagai ciri-ciri budaya yang hakiki, tetap dan berlaku untuk semua orang dalam kelompok identitas tertentu.
Reaksi orang Kalimantan terhadap stereotip orang luar itu beragam. Ada yang menerima, menolak atau tidak peduli. Sejauh pengamatan saya, saat ini ada dua sikap yang menonjol, khususnya di kalangan orang-orang terpelajar. Pertama, mereka yang berusaha menunjukkan bahwa orang Kalimantan itu setara dengan suku lain di tingkat nasional. Kedua, mereka yang berusaha menggali khazanah budaya lokal.
Kita tentu turut berbangga jika ada warga Kalimantan yang berhasil menjadi ‘tokoh’ di tingkat nasional. Sayangnya, ketokohan kadang diartikan secara sempit, yaitu menjadi pejabat, artis atau pengamat di media nasional. Kalau sudah ada yang diangkat jadi menteri, tampil jadi peserta kontes dangdut atau sesekali diwawancarai televisi nasional, seolah ‘orang kita’ sudah berhasil menjadi tokoh nasional.
Di sisi lain, usaha-usaha para budayawan menggali khazanah kearifan lokal patut sekali diapresiasi. Banyak nilai-nilai moral dan spiritual yang amat berharga, yang terkandung dalam tradisi lokal, yang perlu dipelihara dan dikenalkan kepada generasi muda. Begitu pula, aneka produk budaya seperti sasirangan, musik panting, ragam kue dan makanan, hingga kesenian Islam lokal, perlu dilestarikan.
Tetapi jika tidak berhati-hati, menggali tradisi lokal bisa berubah menjadi memuja masa lampau atau mendewakan suku sendiri. Padahal, masa lalu suatu masyarakat tentu tidak semuanya putih bersih tanpa noda. Sikap kritis dan objektif sangat penting dalam melihat sejarah. Begitu pula, rasa terikat kepada identitas suku atau identitas apa pun, jika berlebihan, akan gampang mencederai keadilan.
Karena itu, kritik terhadap budaya lokal perlu dilanjutkan. Misalnya, sebagian orang Kalimantan kurang tertib berlalu lintas, konon karena nenek moyang mereka terbiasa dengan jukung (sampan) yang tak ada remnya. Budaya politik Kalimantan lebih dekat kepada budaya dagang yang cenderung pragmatis. Karena itu, konon politik transaksional dan kesepekatan diam-diam di belakang publik sering terjadi.
Kritik budaya tentu tidak hanya perlu di tingkat lokal, tetapi juga di level nasional. Namun bagi Emha Ainun Nadjib, orang Indonesia itu sebenarnya rendah hati, laksana padi berisi yang merunduk. Kita kirim TKI ke luar negeri agar kita dikira miskin. Padahal, kita hanya ingin membantu pembangunan bangsa lain. Kita pura-pura krisis ekonomi, padahal mal, hotel dan restoran kita tetap ramai. Dalam kompetisi olahraga melawan bangsa lain, kita juga suka mengalah. Mengalah itu mulia.
Kata Emha, bangsa Indonesia ini sudah maju sehingga mereka tidak perlu lagi mengejar kemajuan. Saking makmurnya Indonesia, pemimpin yang buruk pun bisa membuat rakyatnya tenang. Bangsa kita adalah bangsa yang paling suka tertawa meskipun hidupnya penuh derita. Bangsa kita pandai melantunkan cengkok lagu apa pun, dan bisa menikmati lagu patah hati dengan tetap bergoyang.
Saya terpingkal-pingkal membaca tulisan Emha. Saya tertawa sebagai orangutan sekaligus orang Indonesia. Saya menertawakan diri sendiri.

No comments:

Post a Comment