Saturday, 31 October 2020

BEBAS KEBABLASAN

BEBAS KEBABLASAN

Era kebebasan mengutarakan ekspresi, imajinasi, atau pendapat, boleh saja tapi ada batasnya karena kita bukan sendiri ada orang lain, salah berpendapat akan fatal melibatkan banyak orang.

Saat ini siapa saja tanpa dibatasi latar belakang pendidikan, wanita atau pun pria, usia, status sosial dan apa saja kategori lainnya bebas untuk mengutarakan pendapat terutama di sosial media.

Semakin berkembangnya teknologi membuat batas antara waktu dan jarak sudah tidak menjadi halangan. Sebagai contoh saya yang ada di belahan bumi Eropa, bisa mengutarakan pendapat saya dengan pembaca di Indonesia, hanya dengan menulis disatu situs media dan kemudian menekan tombol Publish langsung detik itu juga semua orang bisa membaca.

Disaat menulis, mengajar atau mengutarakan pendapat sering lupa kepada siapa ia akan menyampaikan, apakah tujuan pendapat, apa hanya sekedar penyaluran keinginan untuk berkespresi dengan tidak memperdulikan akibat dari ekspresi itu kepada para pendengar, pembaca, melihat dan kepada pihak yang mungkin menjadi tokoh.

Sering terlihat mengungkapkan dengan seenaknya membuat ekspresi, yang dilihat umum. Jika mengungkapkan itu hanya untuk memancing amarah seseorang tidak perlu dijadikan kebebasan karena merusak ruang publik yang seharusnya dipakai untuk sesuatu yang positif. Bisa jadi wacana dibuat sedemikian untuk memancing publik, tetapi tidak dengan kata-kata yang negatif. Kebebasan adalah cerminan dari penyelenggaranya, maaf mungkin dari Anda ada yang tidak setuju tetapi begitulah kenyatannya.

Perhatikan siapa yang akan menjadi target kebebasan.
Situs apa yang menjadi tempat pendapat.
Apa tujuan dengan kebebesan berpendapat.
Sifatnya apa opini atau reportase.
(menambah ilmu, menyerang seseorang atau kelompok atau alasan lain).

Jadi di era kebebasan menyampaikan  pendapat gunakanlah dengan positif kesempatan ini, untuk menjadi yang profesional.

http://sigitharjonoufa.blogspot.com/

Thursday, 27 August 2020

KUMPUL

KUMPUL

Asas kehidupan kelompok adalah solidaritas dan kepedulian pada sesama. Kelompok melindungi anggota-anggotanya dari gangguan pihak luar. Kelompok juga membangun kepentingan bersama untuk kesejahteraan bersama. Keluarga sebagai ikatan terkuat, akhirnya membangun dinasti. Pada masa modern, orang menyebutnya ‘nepotisme’.

Namun, bukan berarti masyarakat modern tidak berkelompok. Mereka berorganisasi bukan berdasarkan ikatan darah, melainkan berdasarkan kesamaan cita-cita atau profesi. Mereka mendirikan partai politik, yang anggotanya boleh siapa saja, dari keluarga mana saja, asal cocok dengan ideologi partai tersebut. Mereka mendirikan organisasi sosial dan profesi untuk semua orang yang bercita-cita sama.

Fanatisme pada gilirannya melahirkan konflik, terutama disebabkan oleh perebutan kekuasaan dan kepentingan ekonomi. Demi jabatan dan uang, tidak sedikit orang yang mau melakukan apa saja, termasuk mengatasnamakan organisasi dan kelompok. Mereka ini juga tidak segan-segan menebar dan menanamkan kebencian pada kelompok lain yang menjadi pesaing dalam merebut harta dan kuasa itu.

Di era digital dan teknologi ponsel pintar ini, ikatan kelompok itu dapat dibangun secara massif melalui dunia maya. Media sosial merupakan sarana bagi individu untuk masuk dalam jaringan kelompok tertentu. Ketika muncul kepentingan politik dan ekonomi, media sosial itupun berubah menjadi sarana penggalangan kekuatan pihak tertentu, atau medan pertempuran antar pihak-pihak yang bersaing.

Alhasil, kebersamaan manusia itu berwajah ganda. Ketika nafsu kuasa dan harta merajalela, maka kebersamaan itu menyempit dan menghancurkan yang lain. Sebaliknya, ketika kebersamaan itu berlandaskan keadilan dan kebaikan, maka ia menjadi meluas dan merangkul. Nah, bagaimanakah kebersamaan kita ini: Sempit atau luas, tulus atau palsu?

Http://sigitharjonoufa.blogspot.com/

AGAMA

AGAMA

Saya ingat, dalam sebuah pelajaran tematik, anak saya UFA yang waktu masih kelas tempat SD itu pernah berpraktik menanam bibit pohon. Ketika belakangan saya tanya apa saja yang ia pelajari dari aktivitas itu, ia cuma menjawab dengan hal-hal yang terkait ilmu alam, juga tentang semangat hidup bersama. Hidup bersama yang ia maksudkan adalah bagaimana kita manusia hidup berdampingan dengan alam sekitar.

Saat saya tanya apakah dalam aktivitas itu juga dipaparkan hal-hal yang terkait pelajaran Agama, dia seketika tampak bingung. "Lho, apa hubungannya menanam pohon dengan agama, yah?"

Ini memang membutuhkan sinergi antara berbagai mata pelajaran,  antara berbagai sudut pandang. Bahkan praktik menanam pohon pun sangat bisa dijalankan dalam spirit pelaksanaan ajaran agama.

Saya ambil contoh. Dalam poin pelajaran membiasakan diri bersyukur, menanam pohon adalah bentuk syukur kepada Allah karena sudah dikaruniai bumi yang subur. Menanam pohon juga bisa menjadi cara umat manusia untuk mencegah kerusakan di darat dan di laut (nah, soal ini ada ayatnya).

Bahkan, dapat pula diajarkan bahwa menanam pohon merupakan bentuk konkret amal sedekah. Pohon memproduksi oksigen, kalau ia tumbuh besar orang-orang yang lewat di bawahnya akan menghirup oksigen darinya, dan karenanya si penanam telah bersedekah oksigen. Menarik, bukan?

Gambaran bersedekah pun tak pernah keluar dari konsep uang, yaitu dengan cara memberikan uang bagi fakir miskin dan anak yatim. Belum pernah saya mendengar sinergi pelajaran ilmu alam dan agama, sehingga nyaris tak ada yang sadar bahwa oksigen yang sangat mahal itu pun sangat bisa disedekahkan

Silakan saja bila Anda lebih suka membahas isu-isu pemikiran radikal. Tapi saya sendiri lebih ingin membayangkan bahwa pendidikan agama dapat dijalankan secara kolaboratif antar-agama.

Http://sigitharjonoufa.blogspot.com/

BEGITULAH

BEGITULAH

Banyak orang yang hidup dengan gaya hidup barat.. tapi ingin mati seperti matinya para sahabat Nabi _Shalallahu Alaihi Wasallam_ . 

Banyak orang yang hidupnya tidak ingin dengan Islam, meski hanya penampilan lahirnya.. tapi kalau mati, ingin dengan Islam lahir batin. 

Banyak orang melihat bahwa mati di jalan Allah adalah sesuatu yang hebat dan mulia.. Tapi mengapa jika ada orang yang hidup di jalan Allah, dilihat ekstrim, sok suci, sok kearab-araban, ini bukan negara arab dan sok-sok yang lainnya. 

Mari berbenah diri.. semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita semuanya, Aamiin.

Http://sigitharjonoufa.blogspot.com/

SI MAYA

SI MAYA

Mungkin saya ini orang kolot. Dalam budaya tradisional kita, salah satu bentuk penghormatan pada orang lain adalah memperhatikan dan mendengarkan lawan bicara kita dengan baik. Kawan kita yang modern ini mungkin mengatakan, dia pun memperhatikan lawan bicaranya juga sambil memperhatikan lawan bicara lain di dunia maya. Keduanya dilayani setara. Dia sibuk melayani sini dan sana-mana.

Namun, alasan di atas masih sulit saya terima. Bagi saya, dunia nyata dan dunia maya itu tetap berbeda. Yang satu dekat dan konkret, yang satu lagi jauh dan citra. Karena itu, kita harus mengutamakan yang hadir di depan mata. Jika pun terpaksa, akan lebih sopan jika kita meminta izin kepada lawan bicara di dunia nyata. “Maaf, saya harus balas pesan penting ini dulu,” atau “Maaf, saya angkat telepon ini dulu.”

Mungkin, bagi sebagian kita, adab dan sopan santun menggunakan ponsel di atas kita laksanakan ketika berhadapan dengan orang penting, tetapi tidak kepada teman atau keluarga dekat. Ini masih lumayan. Tetapi dalam jangka panjang mungkin tetap berbahaya. Saya khawatir, rasa empati dalam diri kita mulai terkikis. Kita perlahan tidak bisa lagi memahami perasaan dan pikiran orang lain. Kita menjadi robot!

Lebih dari masalah empati, karena terbiasa dengan multitasking, orang sekarang makin sulit konsentrasi, apalagi dalam waktu yang lama. Kita tidak bisa fokus karena semua ingin kita raih. Kita menjadi serakah dan tidak sabaran, ingin serba cepat dan instan. Akibatnya, hasil yang diperoleh tidak maksimal. Kita lupa bahwa diri kita ini terbatas, dan keterbatasan itu hanya akan maksimal jika dipusatkan/difokuskan.
Di era ponsel pintar ini, multitasking makin membudaya. Empati dan konsentrasi makin tergerus. Yang maya dan citra perlahan mengalahkan yang nyata. Saya khawatir, kita pun makin jauh dari bahagia jika kita tidak waspada!

Http://sigitharjonoufa.blogspot.com/

SIAP BOS

SIAP BOS

Sebenarnya, berambisi untuk menduduki suatu jabatan itu boleh-boleh saja. Mendapatkan kehormatan, fasilitas dan uang karena jabatan, selama sesuai antara hak dan kewajiban, juga tidak masalah.

Semua ini lumrah dan wajar. Yang dikhawatirkan adalah, orang hanya melihat enaknya, tetapi lupa beban dan tanggungjawabnya. Padahal, seringkali beban jabatan jauh lebih berat dibanding fasilitas yang diterima.

Karena itu, seseorang baru layak diangkat menjadi pejabat jika dia memiliki kemampuan melaksanakan tugas yang akan diembannya. Kemampuan itu dinilai oleh orang yang memilih/mengangkatnya.

Namun, kita juga bisa menilai diri sendiri. Apakah aku layak dan mampu untuk jabatan itu? Jangan- jangan, nafsu besar, tenaga kurang. Penilaian terhadap diri sendiri ini dapat meredakan ambisi yang menggebu-gebu.

Selain mampu, idealnya seorang pejabat harus jujur. Orang yang mampu, pintar dan cakap, tentu bisa diandalkan untuk melaksanakan tugas. Tetapi jika dia tidak memiliki kejujuran, dia akan menggunakan kepintaran dan kecakapannya itu untuk kejahatan.

Sebaliknya, orang yang jujur tetapi tidak cakap, tidak akan bisa bekerja dengan baik dan efektif. Dia shâlih (baik) tetapi tidak mushlih (memperbaiki).

Tuntutan lain terhadap pejabat adalah kesediaan bekerjasama dengan atasan, sesama dan bawahan.

Bagaimanapun, seorang pemimpin akan mengutamakan orang yang mau bekerjasama dengannya. Jangan sampai ibarat ungkapan : diajak naik sampan sama-sama malah menggoyang, tetapi ketika ditinggal melempari. Orang begini berbahaya.

Http://sigitharjonoufa.blogspot.com/

POL ITIK

POL ITIK

Politik itu sederhana. Ketika kau mengulek cabai menjadi sambel kesukaanmu, ingatlah bahwa itu semua urusan politik. Apa kau lupa, pernah marah karena harga cabai melambung tinggi? Kemarin, belum lama, harga daging ayam di pasaran anjlok, masyarakat konsumen girang, tetapi peternak dan penjual ayam naik pitam hingga protes dengan cara membagi-bagikan ayam mereka secara gratis. Kejadian serupa pernah menimpa petani tomat, ketika mereka membuang hasil panennya ke jalanan sebagai protes karena harga tomat rendah sekali. 

Begitulah, bahkan untuk urusan jumlah uang yang harus kita keluarkan dari kantong untuk membeli barang-barang pun, ada keputusan politik di belakangnya, yang kadang rumit, sampai bisa membuat seorang menteri jadi kurang tidur. Kalau kau buruh, atau guru honorer, atau karyawan kontrak, dan merasa upahmu rendah, tenang, politik bisa memperjuangkan tuntutanmu. 

Politik adalah jawaban bagi setiap persoalan kita. 

Seorang pakar akan berkata begini: politik adalah upaya untuk membuka celah kemungkinan bahwa sesuatu yang tidak dihitung menjadi dihitung dalam tatanan sosial serta memiliki kesinambungan yang kontingen pada beberapa subjek-subjek lainnya. Terdengar agak memusingkan? 

Lupakan, dan bayangkan saja ini: dengan politik, kita memilih pemimpin-pemimpin yang kita dukung, kita percaya, kita cintai, lewat sebuah hajatan besar pesta demokrasi yang gegap gempita --bahkan pada hari itu kita diberi libur (terima kasih, politik!) khusus untuk mencoblos, memberikan suara kita dengan bebas. Alangkah indahnya demokrasi. Lalu, setelah suara kita dihitung, dan pemimpin yang kita pilih kalah, kita masih bisa menggugatnya dan membawanya ke sidang perselisihan hasil pemilu ke sebuah mahkamah yang nantinya akan memberikan keputusannya. 

inilah politik. Apalagi yang kamu harapkan? Apakah terlalu sulit untuk memahaminya? Jadi, apakah politik itu? Apakah masih perlu penjelasan?

Http://sigitharjonoufa.blogspot.com/

FACEAPP

FaceApp

Kemarin pas kumpul temen-temen bercerita tentang aplikasi baru. Males buka medsos, sekarang medsos sudah kayak panti jompo.

Sebagian dari Anda mungkin telah bermain atau masih menikmati hasil permainan dari sebuah aplikasi artificial intelligent  (AI/kecerdasan buatan) yang --disadari atau tidak-- mengambil foto dari data ponsel untuk diubah menjadi lebih tua. Aplikasi besutan Rusia yang diluncurkan dua tahun lalu itu menjadi trending hari-hari ini. Mulai dari orang biasa kebanyakan hingga artis dan tokoh publik terkenal ramai menyebarkan hasil olahan FaceApp.

Setahun lalu, FaceApp telah berada pada kontroversi ketika teknologi AI miliknya mampu memecahkan algoritma wajah laki-laki dan perempuan serta wajah antar-etnis. Selain dianggap memberikan jalan bagi transgender, FaceApp juga dianggap telah melanggar bata etis tentang ras. Sampai akhirnya pada Agustus 2017 filter etnis dihapus dari fitur FaceApp. 

Seperti aplikasi prediktif atau avatar sebelumnya, menggunakan FaceApp mungkin tampak seperti hiburan yang menyenangkan. Melihat wajah menua, semakin muda, atau bahkan membayangkan kita dalam peran gender lain mungkin juga salah satu hiburan bagi sebagian besar pengguna medsos hari ini. Namun pertanyaannya, benarkah kita sedang membayangkan dan bermain peran dalam usia tua, muda, atau jenis gender lain?

Manusia menyukai prediksi, terlebih terkait hal-hal yang berhubungan dengan dirinya. Apa yang terjadi jika saya berusia senja? Bagaimana pula rupa saya jika saya laki-laki/perempuan? Apa kemungkinan-kemungkinan yang belum saya miliki untuk menjadi tua, muda, atau jenis kelamin lain? Apa yang akan saya dapatkan lima tahun lagi? Profesi apa yang sebetulnya cocok untuk saya? Kesemuanya adalah pertanyaan prediktif yang berhubungan dengan diri.

Http://sigitharjonoufa.blogspot.com/

HARI ANAK

HARI ANAK

Mewujudkan Indonesia Layak Anak (Idola) yang ditarget pada 2030 mendatang, rasanya masih jauh dari realisasi. Namun jika tidak dikejar, negeri ini makin jauh dari impian anak-anak yang mendamba jadi surganya.

Kabupaten/kota harus lebih dulu menjadi kabupaten/kota layak anak (KLA). Kabupaten berlomba mengejar status layak anak. Kabupaten Banjarnegara apakah sudah layak anak, kelihatnya tidak ada tempat khusus anak, semoga bisa dipikirkan, untuk adanya fasilitas khusus anak.

Semoga saja, daerah tidak hanya mengejar status KLA dan atau semata prestise, pencitraan kepala daerah atau apapun semacamnya tapi pada benar-benar berorientasi pada kenyataan melayani dan menyayangi anak.

Sebab, untuk benar-benar menjadi KLA yang benar-benar ideal tidaklah gampang, Harus terpenuhi setidaknya 24 indikator utama pemenuhan hak dan perlindungan anak yang terhimpun dalam enam cluster KLA mencakup; Kelembagaan; Kesehatan dasar dan kesejahteraan; Pendidikan, pemanfaaatan waktu luang dan kegiatan budaya; Perlindungan khusus; Hak sipil kebebasan; Lingkungan keluarga dan pengasuhan alternatif.

Dari sisi kelembagaan, indikator yang diukur diantaranya adanya perda KLA, keterlibatan masyarakat, dunia usaha dan media. Indikator kesehatan dasar dan kesejahteraan mencakup persalinan di faskes, prevalensi gizi, faskes dengan pelayanan ramah anak, air minum dan sanitasi hingga kawasan tanpa rokok. Terpenting dari sisi lingkungan keluarga yang memegang pengaruh besar bagi tumbuh kembang anak. Keluarga menjadi lingkungan terdekat yang pertama kali dikenal oleh anak.

Anak memang sangat layak mendapatkan surganya curahan perhatian dan kasih sayang. Sebab itu tak berlebihan jika John F. Kennedy, Politikus dan Presiden ke-35 Amerika Serikat mengatakan,”Anak adalah sumber daya paling bernilai di dunia dan dia adalah harapan terbaik untuk masa depan.” Selamat Hari Anak Nasional!

Http://sigitharjonoufa.blogspot.com/

PROSES

PROSES

Sudah saatnya menjalani proses, bukan masalah umur baik muda apa lagi sudah tua, bukan masalah banyaknya perbuatan yang bermasalah, tapi titik kejenuhan ketidak kenyamanan, resah gelisah.

Proses harus dinikmati saja. Mencuri, menipu, memakan bukan haknya, menghujat, lagu-lagu melalaikan, perkataan tak manfaat, hubungan tak halal, dan lain-lan. aku ingin hijrah, jangan dekati aku lagi ya.

Aku berhijrah tak lagi mengidolakan seseorang yang aku idolakan dulu. karena apa? karena Rasululloh shallallahu alaihi wa sallam adalah idola dunia dan akhiratku.

Berhijrah memang tak mudah tapi, ketika selangkah saja kau berani melakukannya, sungguh Alloh Ta’ala akan memelukku dalam agamaNya, seyakin yakinnya.

Ya Alloh, jagalah dalam proses berhijrah ini, mudahkan hijrah, luruskan niat, kuatkan tekad, lapangkan dada dari hinaan, pro-kontra itu biasa. Mereka yang kontra mungkin belum tau manisnya hijrah, tenang saja, Alloh Ta’ala dan salafush shalih ada dipihak.

Akupun pernah tak baik, sampai Alloh Ta’ala mengirim hambaNya untuk menegur imanku dan menampar ketakwaanku. aku paham, Ia terlalu sayang padaku. Husnudzan, ia yang menasehati bukan merasa sok benar, sok suci, ia hanya ingin aku menjadi lebih baik.
Petunjuk dari Alloh Ta’ala jangan diabaikan. Anggap saja hijrah ini jihad fisabilillah. memerangi hawa nafsu dan nikmat dunia, aku bisa, aku punya Alloh, percayalah!

Semoga kita semua diberikan keselamatan, kesehatan, kekuataan, kesabaran dan rezeki yang melimpah

Semoga kita menjadi lebih baik dan lebih bermanfaat di sisa hidup ini.
Robbana Taqobbal Minna
Ya Alloh terimalah dari kami (amalan kami), aamiin......

Http://sigitharjonoufa.blogspot.com/

SARJANA

SARJANA

Ketika seorang sarjana memutuskan untuk jualan, dimata orang yang awam ini akan keliatan sangat amat bodoh, mereka akan berkoar dengan bangga "Uda Sarjana Koq Malah Jualan, Bego". Lain halnya ketika seorang yang cuma pedagang kecil bisa mengenyam bangku kuliah, justru dia akan mendapat pujian dari orang awam yang melihatnya, "Wih Hebat Pedagang Bisa Kuliah".

Saya ga tau apa yang ada difikiran mereka, apa iya kalo kita uda sarjana harus jadi pekerja? dan yang ga sarjana aja yang pantas jadi pedagang?. 

Apa tujuan setelah sarjana nanti, dan dengan tegas saya jawab akan tatap jadi pedagang, tapi pedagang yang banyak macam dagangan ato istilah lebih bekennya Pengusaha,, toh apapun jenis usahanya ga bisa jauh dari kalimat dagang, Rasul juga dulu seorang pedagang koq. hehehe

Tapi entah setan merek apa yang rasuki gigi mereka semua, mereka malah dengan bangga meremehkan keputusan yang saya ambil, rata-rata dengan ganteng dan bangga mereka berkata "Ngapain kuliah tinggi" kalo ujung-ujungnya jadi pedagang juga".. ganteng banget yag mereka itu,, ai lop yu lah pakde,, hehee

Selama ini yang ngetrend adalah, kuliah tinggi" sampe sarjana, habis itu cari kerjaan diinstansi pemerintahan dengan uang pelicin agar jalan mulus ntar dapat gaji tinggi dan hidup enak dan itu yang menyebabkan sarjana banyak yang nganggur kalo sarjananya ga banyak duit.

Karena menurut mereka seorang sarjana itu harus berseragam, dan pakaiannya waktu kerja harus rapih dan bekerja diruangan yang pake ac dan ngumpulnya sama komunitas borjuis. Banyak yang rela jual segalanya dan melakukan bahkan menghalalkan segala cara demi jalan hidup yang bermotto "Saya kerja ngga kerja akan tetap dibiayai dan digaji oleh negara".

Sekian dan terima kasih,, wassalam,,

Http://sigitharjonoufa.blogspot.com/

KHILAFAH

KHILAFAH

Berjenggot, celana tidak isbal, berjidat hitam, bercadar, rajin shalat lima waktu di masjid, hingga menuliskan bisarah atau janji Rasul jika pada waktunya, dunia akan dipimpin seorang khalifah, akan dituding dan dicap sebagai seorang teroris. Bahkan lebih sadis lagi sebagai orang atau kelompok anti-Pancasila dan ingin merusak NKRI.

Pancasila sebagai ideologi NKRI menurut saya memang sudah final. Tidak boleh ada satu pun orang atau kelompok yang selama masih bernaung di bawah bendera merah putih, menentang Pancasila sebagai ideologi bangsa.

Namun jangan juga kita sampai alergi dengan khilafah. Sebab, kehadiran setiap manusia di muka bumi karena mengemban misi sebagai khalifah (baca QS. Al-Baqarah:30). Hemat saya, jika Pancasila adalah ideologi, Khilafah adalah gagasan paling dasar dari qadla dan qadar-Nya.

Kritik saya juga sampai kepada kelompok-kelompok yang menyatakan memerangi pemerintah, pejabat, hingga aparat karena dinilai berlaku zalim dan tidak berpihak kepada umat Islam. Bukankah Islam tidak mengajarkan memupuk kebencian, apalagi dendam.

Bukankah kita akrab dengan untaian doa, "... Ya Allah, ampunilah dosa kami, dosa para pemimpin kami..." Lalu mengapa kita kini sangat mudah mendoakan yang jelek kepada para pemimpin bangsa ini. Mudah diadu domba, atau karena kita tidak sadar sedang dibenturkan satu sama lain.

Firman Allah dalam Surah Annisa ayat 59 yang artinya, "Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), dan ulil amri di antara kamu.”

Kesimpulanya, tidak dibenarkan mendoakan yang jelek kepada para pemimpin. Apalagi melakukan tindakan kriminal. Kita sebagai warga negara bisa mengingatkan pemerintah jika memang keluar dari jalur dengan cara yang dibenarkan hukum. Seperti menggelar unjuk rasa.

Http://sigitharjonoufa.blogspot.com/

ILMU

ILMU

"Ilmu itu ada tiga tahapan. Jika seseorang memasuki tahapan pertama, ia akan sombong. Jika ia memasuki tahapan kedua ia akan tawadhu’. Dan jika ia memasuki tahapan ketiga, ia akan merasa dirinya tidak ada apa-apanya”.

Banyak orang mencari ilmu di berbagai tempat tapi hanya untuk kesombongan dan bisa cerita kepada orang lain bahwa sudah ngambil ilmu dari berbagai tempat padahal belum punya ilmu sama sekali. Maka terjadi Godaan untuk menganggap semua ketinggalan ilmunya, kuno dan tak tahu perkembangan terkini.

Sombong yang mewujud ini barangkali pada awalnya tak terasa benihnya. Ia tumbuh perlahan dan membakar kesadaran bahwa semua orang pada dasarnya tak boleh direndahkan, apalagi diremehkan.

“Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia”. terkena kembali kepada kita sendiri. Apa pun yang dilakukan untuk menutupi diri agar tampak tinggi dan mulia dari orang lain akhirnya justru bisa berakhir dengan sesuatu perbuatan yang memalukan nama baik sendiri. 

Ketawadhu'an ini tumbuh berkebalikan dengan sifat sombong. Bila sombong menjadi dominan dalam hati seseorang, maka rasa tawadhu' mengecil proporsinya. Sebaliknya, bila rasa tawadhu ini semakin besar, maka sikap sombong perlahan menyusut.

Menuntut ilmu ternyata semakin merasa tidak ada apa-apanya. Ia semakin merasa kecil. Hal ini terjadi karena di tahap ini dia merasa ilmu itu seperti lautan yang begitu luas. Ketika dia mendapat satu ilmu, maka di dalam dirinya akan merasa kurang, dia haus akan ilmu, dan bahkan mengabdikan seluruh hidupnya untuk terus belajar dan belajar meraih ilmu sebanyak-banyaknya.

Ilmu yang terus dibagi tak akan pernah habis. Ibarat mata air, justru bila terus menerus digunakan akan memperlancar alirannya dan membuang sisa-sisa genangan yang mungkin justru bisa membusuk.

Http://sigitharjonoufa.blogspot.com/

POL ITIK 2

POL ITIK 2

Kata-kata elite politik itu semanis madu, belum tentu keinginan mereka sama dengan keinginan rakyat. Kita tidak pernah tahu apa sebenarnya yang mereka bicarakan dan rundingkan di balik layar. Kita paling hanya bisa menebak-nebak kepentingan masing-masing pihak dan tawar-menawar yang diajukan.

Banyak yang menduga, pertemuan elite politik itu adalah langkah awal untuk bagi-bagi kursi. Memang, mendapatkan kekuasaan melalui jabatan adalah salah satu misi politisi. Kita hanya bisa berharap agar jabatan-jabatan itu diisi oleh orang-orang yang kompeten dan berintegritas, mampu dan jujur. Dengan begitu, janji-janji pemilu akan lebih mudah diwujudkan.

Ada pula yang mengatakan, usai Pemilu ini, para elite politik itu sudah mulai berpikir tentang calon presiden 2024 kelak. Jika benar, berarti mereka itu politisi tulen dan bukan negawaran. Politisi berpikir tentang pemilu yang akan datang, sedangkan negarawan berpikir tentang generasi yang akan datang.

Orang yang fanatik pada kelompok tertentu hanya akan bisa menjadi pemimpin di kelompok itu. Pemimpin untuk semua adalah yang mampu merangkul semua. Yang eksklusif paling-paling hanya diperalat saat pertarungan terjadi dan setelah itu gampang ditinggalkan.

Di sisi lain, sikap lentur dan merangkul bukan berarti semua menjadi serba-boleh dan dikompromikan. Kelenturan dalam bersikap harus diimbangi keteguhan dalam prinsip.

Seorang politisi yang ulung harus mampu mengarahkan semua aspirasi dan kebutuhan orang lain di sekitarnya, termasuk lawan-lawannya, untuk kepentingan yang digariskannya sendiri,

Menjadi politisi itu berat, apa lagi jadi negarawan.

Http://sigitharjonoufa.blogspot.com/

DIENG CULTURE FESTIVAL

DIENG CULTURE FESTIVAL

Agenda pariwisata di dataran tinggi Dieng, Banjarnegara, Jawa Tengah (Jateng), bertajuk Dieng Culture Festival (DCF) telah dimulai Jumat (2/8/2019). Agenda tahunan yang menampilkan berbagai atraksi kesenian dan pariwisata itu digelar selama tiga hari hingga Minggu (4/8/2019).

Acara digelar untuk kali ke-10 itu akan menampilkan sederet acara, acara budaya, pertunjukan seni berbalut konser musik jaz di dataran tinggi Dieng juga ditampilkan dengan tajuk Jazz Atas Awan. Beberapa acara yang baru seperti Java Coffee Festival dan pergelaran kesenian tradisional. Ada 23 kesenian tradisional tampil.

Acara dimulai dengan aksi bersih-bersih di kawasan kompleks Candi Arjuna, yang menjadi lokasi utama digelarnya DCF 2019. Setelah bersih-bersih, acara DCF kemudian dilanjutkan dengan Kongkow Budaya yang dihadiri Bupati Banjarnegara Budhi Sarwono.

Puncak acara DCF, berupa ritual pemotongan rambut gembel digelar Minggu. Pencukuran anak berambut gembel merupakan roh dari event DCF. Rambut gembel akan bisa dicukur dan tumbuh normal sebagaimana pada umumnya, jika permintaan si anak telah dikabulkan. Anak berambut gembel dipercaya sebagai titisan Ki Kolodete dan Nyai Ronce Kala Prenye, yang merupakan tokoh penjaga Dieng.

Http://sigitharjonoufa.blogspot.com/

MENGERIKAN

MENGERIKAN

Ada semacam rasa malas keluar rumah, jenis rasa yang dulu-dulu jarang ada pada diri saya. Penyebabnya akhirnya ketemu pula: saya belum punya paket data internet di ponsel saya. Bukankah itu sangat mengerikan? Bayangkan, manusia keluar rumah tanpa paket internet! Manusia macam apa itu?

Tanpa paket internet, saya tidak akan bisa googling untuk mencari toilet umum terdekat, saya tidak akan bisa mencari warung makan yang enak. Dan yang lebih menyeramkan, tanpa paket internet, saya akan rentan kesasar, tidak dapat dengan mudah pulang ke rumah saya saat malam tiba, lebay amat sih.....wkkkkkk.

Dengan paket internet, saya tinggal buka Google Maps, pencet alamat, klik direction, klik start, lalu suara lembut mbak-mbak penunggu Google Maps dengan penuh ketelatenan akan mengarahkan langkah kaki saya belok kiri belok kanan, hingga akhirnya dia berkata dengan riang: "You have arrived!"

19 tahun hampir rongjinah (20) silam, saya datang ke Banjarmasin prop kalsel pertama kali. Itu masa ketika saya belum berkenalan dengan mbak-mbak Google Maps, bahkan sama sekali tidak ada jaman membeli paket internet. Namun, jelas saya ingat, di hotel Banjarmasin waktu itu terbaik, termahal dan menguras dompetku....wkkkk. Petugas hotel memberikan denah manual yang digambar dengan bolpoin ala kadarnya, lalu saya membacanya, mengingat-ingatnya, tujuan utama denah menuju Kabupaten Kotabaru dengan jarak 350 km ditempuh hampir seharian busyet.

Sekarang, situasinya beda. Saya tak lagi punya kemampuan mengingat. Bukan karena terlalu banyak kenangan pedih di masa lalu yang tak layak diingat, bukan itu. Melainkan karena sepertinya saya telanjur terbiasa meletakkan segala isi otak di luar tempurung kepala.

Ini sesungguhnya pola kemajuan zaman yang terus berjalan. Setiap progres "kemampuan" manusia ditandai dengan pengurangan demi pengurangan isi kepala, dititipkan kepada perangkat-perangkat di luar kepala.

DIET

DIET

Tradisi kita, nasi dimakan banyak, tapi kita malas bergerak. Keluar pintu rumah langsung naik motor sampai parkiran kantor, dari parkiran kantor cuma jalan beberapa meter sudah naik lift, keluar lift langsung tiba di pintu masuk ruangan kerja.

Tak heran, kata "mager" alias "malas gerak" pun menjadi istilah generik yang disambar dengan sigap sebagai senjata pemasaran oleh perusahaan ojek merangkap penyedia layanan beli makanan.

Yang terjadi pada kita sekarang ini hanyalah kehidupan yang tidak seimbang. Kalau toh banyak orang menggemuk atau men-diabetes karena overdosiskarbo, rasanya itu terjadi bukan gara-gara nasi, melainkan karena ketidakseimbangan hidup itu tadi.

Lha memangnya dulu-dulu kakek-nenek kita sudah pada diet karbo? Enggak, kan? Lalu kenapa tidak terjadi ketakutan massal kepada karbo seperti halnya menimpa banyak orang.

Anda tahu, jawabannya klasik saja. Yakni karena kakek-nenek kita masih banyak gerak, belum naik motor, dan belum punya aplikasi Go dan Grab Food.

Mereka ke surau untuk salat lima waktu. Dan mereka ke surau itu jalan kaki, Sekarang hitung saja, kalau sekali jalan ke surau lima menit saja, bolak-balik sudah sepuluh menit. Lima kali sehari, berarti total lima puluh menit. Dan itu setiap hari, seumur hidup!"

Kekeliruan umum kita, kita ini selalu menjalankan sesuatu setengah-setengah, sambil lupa dengan paket lengkapnya. Makan nasi banyak, tapi lupa olah raga. Makan nasi padang, tapi lupa teh Bendera. Makan daging kambing, tapi menyingkirkan acar timunnya. Padahal tradisi makan kambing itu datang dari Timur Tengah, sementara kebiasaan makan kambing diiringi pula dengan kebiasaan makan acar di tempat asalnya sana.

Sikap mental semacam itu menyebar hingga ke mana-mana. Mau negerinya maju, tapi ogah belajarnya, bahkan buku-buku malah dirazia. Ngotot menuntut fasilitas publik ini-itu, tapi ogah sama pajaknya. Mau sama PLN, tapi ogah sama mati lampunya. Eh, enggak ding. Maaf kelepasan.

Http://sigitharjonoufa.blogspot.com/

PENSIUN

PENSIUN

Ketika kita berhenti bekerja, berbagai hubungan yang selama ini kita miliki, perlahan terputus dan meninggalkan kita. Orang-orang yang dulu menghormati kita, kini tidak lagi mendekat. Teman-teman sekantor atau mitra kerja di lembaga lain, yang dulu selalu ingin bertemu, sekarang seolah tidak melihat kita lagi. Kita jadi sepi sendirian di rumah. Jadi tahanan!.

Setiap peralihan biasanya menimbulkan gejolak. Tetapi jika kita berhasil melewatinya, kita akan menemukan sesuatu yang lebih baik. Syaratnya, kita harus siap untuk berubah dan mengubah diri. Harus move on

Galau pensiun mungkin tidak jauh berbeda dengan resah turun jabatan. Saat menjabat, tentulah banyak orang mendekat dan mengelu-elukan. Undangan dari berbagai pihak datang bertubi-tubi. Permintaan sambutan hampir tiap hari. Para bawahan seringkali meminta arahan. Fasilitas dan layanan siap-sedia. Namun, ketika jabatan hilang, semua ikut terbang. Semua penghormatan kini tinggal kenangan.

Jika saat menjabat, dia sangat angkuh dan menindas. Pejabat seperti ini biasanya dikelilingi manusia-manusia munafik dan penjilat. Kelak setelah tidak menjabat lagi, mereka pasti akan meninggalkan dan mengabaikannya. Mereka akan berpaling kepada pejabat baru untuk dijilat dan dipuja. Semua itu tak lebih dari sandiwara.

Pensiun dari pekerjaan, pensiun dari jabatan juga merupakan masa transisi yang bisa mudah, bisa pula sulit dilewati. Orang harus sadar sejak dini bahwa jabatan itu sementara. Orang yang siap berhenti dari jabatan adalah orang yang meletakkan nilai dirinya pada dirinya sendiri, bukan pada sesuatu di luar dirinya. Jika mobil saya keren, bukan berarti saya keren. Saya adalah diri saya sendiri.

Hidup tentu tidak sekadar bergerak dan bernapas. Hidup yang bernilai adalah hidup yang bermanfaat. Hidup yang bermanfaat adalah hidup yang membahagiakan. 
Alhasil, sebenarnya tidak ada masa pensiun dalam hidup ini. Yang ada hanyalah masa transisi.

Http://sigitharjonoufa.blogspot.com/

BOS

BOS

Pejabat, Pemimpin, Ketua atau Bos. idealnya seorang pejabat harus jujur. Orang yang mampu, pintar dan cakap, tentu bisa diandalkan untuk melaksanakan tugas. Tetapi jika dia tidak memiliki kejujuran, dia akan menggunakan kepintaran dan kecakapannya itu untuk kejahatan.

Sebaliknya, orang yang jujur tetapi tidak cakap, tidak akan bisa bekerja dengan baik dan efektif. Dia baik tetapi tidak memperbaiki.

Tuntutan lain terhadap pejabat adalah kesediaan bekerjasama dengan atasan, sesama dan bawahan.

Bagaimanapun, seorang pemimpin akan mengutamakan orang yang mau bekerjasama dengannya. Jangan sampai ibarat ungkapan : diajak naik sampan sama-sama malah menggoyang, tetapi ketika ditinggal melempari. Orang begini berbahaya.

Di satu sisi, mungkin budaya kita yang cenderung ‘memuja’ pejabat patut ditinjau. Perhatikanlah ormas-ormas yang seringkali ribut pada saat pemilihan ketua, tetapi setelah itu tidak banyak kegiatan.

Begitu pula para aktivis mahasiswa yang kadangkala berseteru keras dengan sesama teman gara-gara rebutan jabatan ketua. Kampus pun tak jarang berubah dari civitas-akademika menjadi civitas-politika.

Di sisi lain, ada pula orang baik dan mapan, yang enggan menduduki jabatan karena ingin hidup damai untuk dirinya sendiri dan keluarganya. Dia tidak mau berkorban atau berbuat baik untuk orang banyak. Namun, ketika mengetahui dan merasakan ketidakberesan di lembaganya bekerja atau masyarakat di sekitarnya, dia seringkali mengeluh. Padahal, tanpa kekuasaan, dia tidak akan bisa berbuat banyak.

Alhasil, jabatan tidak hanya perlu ditentukan untuk orang yang tepat pada posisi yang tepat, tetapi juga dilihat fungsi dan kedudukannya secara tepat.

Mungkin Anda berkata, “Ah, itu terlalu ideal!” Anda benar sekali. Kita memang perlu terus-menerus diingatkan tentang yang ideal agar kita tidak pernah berhenti berjuang mewujudkannya dalam kenyataan! 

KORBAN

KORBAN

Dalam hidup, kita mencintai banyak hal, mungkin harta, isteri, suami, anak, jabatan, ketenaran, kesenangan dan lain-lain. Tak jarang, karena cinta yang buta, kita akhirnya mengalah tunduk kepada yang dicinta, meskipun harus melawan perintah Allah atau melanggar larangan-Nya.

Allah tentu tidak memerlukan ketaatan manusia. Dia memerintah dan melarang untuk kebaikan dan kebahagiaan manusia itu sendiri. Perintah dan larangan adalah kerangka hukum moral, yakni baik dan buruk, pahala dan dosa. Nilai-nilai moral itu tidak terlihat, tetapi akibat yang ditimbulkannya atas hidup manusia sangat jelas. Kebaikan akan berbuah kebahagiaan, dan keburukan akan berbuah penderitaan.

Tak jarang dalam hidup ini, kita ditimpa musibah yang tak diduga-duga. Seringkali pula kita menyaksikan orang baik dan jujur yang difitnah, ditipu dan disingkirkan oleh para penjilat. Namun akhirnya, kemenangan akan diraih oleh yang sabar dan setia pada kebenaran.

Tidak sedikit warga kita yang masih jarang memakan daging karena harganya yang cukup mahal. Karena itu, daging kurban dibagikan kepada fakir miskin dan orang-orang yang memerlukan. Dalam berbagi, kita mempererat kebersamaan dan kepedulian. Di situlah kita menemukan kasih Tuhan.

Saya kembali teringat masa kecil, saat kami ramai-ramai menonton penyembelihan hewan kurbandi kampung. Kini justru saya yang ditonton anak-anak, karena berperan menguliti dan memotong-motong daging setelah disembelih. Rupanya hidup memang pengulangan-pengulangan, tetapi bukan pengulangan yang persis sama. Kisah Ibrahim dan Ismail tetap sama, tetapi cara kita memaknainya dan melakoninya tidak selalu sama.

Http://sigitharjonoufa.blogspot.com/