Thursday, 27 August 2020

FACEAPP

FaceApp

Kemarin pas kumpul temen-temen bercerita tentang aplikasi baru. Males buka medsos, sekarang medsos sudah kayak panti jompo.

Sebagian dari Anda mungkin telah bermain atau masih menikmati hasil permainan dari sebuah aplikasi artificial intelligent  (AI/kecerdasan buatan) yang --disadari atau tidak-- mengambil foto dari data ponsel untuk diubah menjadi lebih tua. Aplikasi besutan Rusia yang diluncurkan dua tahun lalu itu menjadi trending hari-hari ini. Mulai dari orang biasa kebanyakan hingga artis dan tokoh publik terkenal ramai menyebarkan hasil olahan FaceApp.

Setahun lalu, FaceApp telah berada pada kontroversi ketika teknologi AI miliknya mampu memecahkan algoritma wajah laki-laki dan perempuan serta wajah antar-etnis. Selain dianggap memberikan jalan bagi transgender, FaceApp juga dianggap telah melanggar bata etis tentang ras. Sampai akhirnya pada Agustus 2017 filter etnis dihapus dari fitur FaceApp. 

Seperti aplikasi prediktif atau avatar sebelumnya, menggunakan FaceApp mungkin tampak seperti hiburan yang menyenangkan. Melihat wajah menua, semakin muda, atau bahkan membayangkan kita dalam peran gender lain mungkin juga salah satu hiburan bagi sebagian besar pengguna medsos hari ini. Namun pertanyaannya, benarkah kita sedang membayangkan dan bermain peran dalam usia tua, muda, atau jenis gender lain?

Manusia menyukai prediksi, terlebih terkait hal-hal yang berhubungan dengan dirinya. Apa yang terjadi jika saya berusia senja? Bagaimana pula rupa saya jika saya laki-laki/perempuan? Apa kemungkinan-kemungkinan yang belum saya miliki untuk menjadi tua, muda, atau jenis kelamin lain? Apa yang akan saya dapatkan lima tahun lagi? Profesi apa yang sebetulnya cocok untuk saya? Kesemuanya adalah pertanyaan prediktif yang berhubungan dengan diri.

Http://sigitharjonoufa.blogspot.com/

No comments:

Post a Comment