Thursday, 27 August 2020

PENSIUN

PENSIUN

Ketika kita berhenti bekerja, berbagai hubungan yang selama ini kita miliki, perlahan terputus dan meninggalkan kita. Orang-orang yang dulu menghormati kita, kini tidak lagi mendekat. Teman-teman sekantor atau mitra kerja di lembaga lain, yang dulu selalu ingin bertemu, sekarang seolah tidak melihat kita lagi. Kita jadi sepi sendirian di rumah. Jadi tahanan!.

Setiap peralihan biasanya menimbulkan gejolak. Tetapi jika kita berhasil melewatinya, kita akan menemukan sesuatu yang lebih baik. Syaratnya, kita harus siap untuk berubah dan mengubah diri. Harus move on

Galau pensiun mungkin tidak jauh berbeda dengan resah turun jabatan. Saat menjabat, tentulah banyak orang mendekat dan mengelu-elukan. Undangan dari berbagai pihak datang bertubi-tubi. Permintaan sambutan hampir tiap hari. Para bawahan seringkali meminta arahan. Fasilitas dan layanan siap-sedia. Namun, ketika jabatan hilang, semua ikut terbang. Semua penghormatan kini tinggal kenangan.

Jika saat menjabat, dia sangat angkuh dan menindas. Pejabat seperti ini biasanya dikelilingi manusia-manusia munafik dan penjilat. Kelak setelah tidak menjabat lagi, mereka pasti akan meninggalkan dan mengabaikannya. Mereka akan berpaling kepada pejabat baru untuk dijilat dan dipuja. Semua itu tak lebih dari sandiwara.

Pensiun dari pekerjaan, pensiun dari jabatan juga merupakan masa transisi yang bisa mudah, bisa pula sulit dilewati. Orang harus sadar sejak dini bahwa jabatan itu sementara. Orang yang siap berhenti dari jabatan adalah orang yang meletakkan nilai dirinya pada dirinya sendiri, bukan pada sesuatu di luar dirinya. Jika mobil saya keren, bukan berarti saya keren. Saya adalah diri saya sendiri.

Hidup tentu tidak sekadar bergerak dan bernapas. Hidup yang bernilai adalah hidup yang bermanfaat. Hidup yang bermanfaat adalah hidup yang membahagiakan. 
Alhasil, sebenarnya tidak ada masa pensiun dalam hidup ini. Yang ada hanyalah masa transisi.

Http://sigitharjonoufa.blogspot.com/

No comments:

Post a Comment