Thursday, 19 July 2018
SILUMAN BBM
PREMIUM dalam beberapa hari terakhir, kembali sulit diperoleh di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di beberapa daerah diluar jawa . Kalau pun ada, biasanya hanya pagi hingga menjelang siang, setelahnya pelang bertulisan “Premium Habis” dan sejenisnya yang dipampang.
Kondisi ini, menyebabkan SPBU kerap dijejali antrean kendaraan bermotor. Tidak terkecuali para pelangsir bahan bakar minyak (BBM). Bahkan terkadang, tak cuma bensin yang habis, pertalite juga ikut diinformasikan habis.
Sementara itu pihak Pertamina mengklaim, jumlah stok BBM cukup. Kendala yang terjadi adalah pada proses distribusi yang terhambat cuaca. memanggil instansi atau lembaga terkait perihal kelangkaan BBM ini. jika dibarengi tindak lanjutnya, tentu sangat kita nantikan agar hal serupa tidak terulang di masa mendatang. Dengan kondisi saat ini, untuk tetap bisa berkendara.
Saat ini, di SPBU harga premium Rp 6.550 per liter. Sedangkan pertalite harganya Rp 6.900 dan pertamax harganya mencapai Rp 7.350 per liter. Gerundelan masyarakat tak terelakkan, termasuk muncul tudingan terhadap pemerintah--dalam hal ini Pertamina--telah berlaku tidak fair. Mereka menuding seretnya bensin akhir-akhir ini, karena jumlah distribusi premium contohnya ke Banjarnegara memang dikurangi. Pengurangan ini akal-akalan Pertamina untuk meningkatkan konsumsi pertalite dan pertamax.
Berdasar data Pertamina, hingga November 2016 distribusi BBM jenis premium terus mengalami penurunan. Pada Januari distribusi ptemium sebanyak 44.603 kiloliter, bulan berikutnya Februari turun sebanyak 3.696 kiloliter menjadi 40.907 kiloliter. Pada November hanya didistribusikan 32.426 kiloliter yang berarti turun hingga 12.177 kiloliter atau sebanyak 27 persen sejak Januari.
Jumlah ini berbanding terbalik dengan distribusi pertalite dan pertamax yang pada rentang bulan yang sama mengalami lonjakan kenaikan jumlah distribusi hingga ratusan persen. Rinciannya, pertalite 261 persen dari 3.446 kiloliter (Januari) menjadi 12.433 kiloliter pada November dan pertamax 174 persen dari 1.704 kiloliter menjadi 4.667 kiloliter.
Kondisi seperti di Banjarnegara ini, sudah terjadi sejak Agustus lalu di sejumlah kabupaten dan kota di Jawa Barat (Jabar). Sejumlah SPBU di Ciamis dan Kota Banjar mulai tidak menyediakan premium. Sebaliknya, pertalite ketersediaannya mulai menggantikan premium.
Solusi mengendalikan konsumsi BBM subsidi yang terus meroket, tidak dengan menyunat jumlah yang seharusnya menjadi hak rakyat. Pemerintah sesungguhnya bisa mengeluarkan kebijakan kembali melarang mobil mewah atau kendaraan di atas 2.000 cc menggunakan premium.
Saatnya kementerian terkait untuk membuat dan mematangkan payung hukum terkait aturan itu. Bila ini dijalankan efektif, kita yakin tidak hanya mendorong kemajuan perekonomian masyarakat, tapi juga bakal bisa menghemat subsidi triliunan rupiah uang negara.
OM TOLOLET OM
SAAT ini tengah marak dan menjadi viral di media sosial anak-anak yang meminta dibunyikan klakson kepada sopir bus dengan frasa “om telolet om”.
Awalnya, kegiatan sederhana tapi membahagiakan anak-anak itu dilakukan anak-anak di Jepara, Jawa Tengah. Bunyi yang seakan menyebut kata “telolet” sendiri tak lain adalah bunyi klakson bus antarkota. Anak-anak meminta si sopir bus mengeluarkan bunyi “telolet” ketika melintas.
Maka dari itu, ujung-ujungnya fenomena ini disebut “om telolet om”, mencontohkan permintaan anak-anak ke sopir. Bahkan seolah tak ingin kalah, di Banjarmasin pun juga muncul fenomena serupa. Tak hanya anak-anak, pelajar dan mahasiswa juga ikut meneriakan “om telolet om.”
Fenomena “om telolet om” semakin mewabah pascadibicarakan selebritas dunia di Twitter. Mulanya, DJ Snake dan Zedd yang mengicaukannya, lalu disusul rekan-rekan sesama DJ seperti Hardwell dan Martin Garrix.
Karena dari fenomena ini pula selain menjadi trending topic dunia, nama
Indonesia pun juga dikenal ke mancanegara. Lihat saja video yang
menyentil “om telolet om”, milik DJ Zedd. Di dalam video yang dibuatnya
juga merekam keindahan alam Indonesia. Tentu ini menjadi promosi gratis
bagi pariwisata Indonesia. Ribuan follower Zedd telah menyaksikan video
yang diunggahnya.
Fenomena ini menjadi hiburan murah, buah kreativitas masyarakat. Tak hanya anak-anak, bahkan orangtua ternyata haus akan hiburan yang gratis di pinggir jalan ini.
Namun, ada juga yang kemudian mengkhawatirkan. Bahkan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengimbau semua operator bus tidak mempermainkan klakson. Dia melihat kegiatan itu sesuatu yang menyenangkan, tetapi membahayakan.
Budi menyampaikan hal ini menyusul isu pelarangan dari kementeriannya yang juga ikut menjadi viral.
Sementara berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 55 Tahun 2012 tentang Kendaraan, disebutkan suara klakson pada kendaraan paling rendah 83 desibel atau dB (A) dan paling tinggi 118 desibel atau dB (A). Untuk kasus telolet belum ada kajian dari sisi PP tersebut.
Terlepas dari adanya pro dan kontra “om telolet om” yang menjadi viral ini, paling tidak bisa menurunkan tensi kegaduhan di sosial media, setelah berminggu-minggu memanas karena isu-isu SARA dan berbagai ujaran kebencian.
Kalaupun kemudian muncul ketakutan-ketakutan berlebihan terhadap tren ini, harap dilihat sebagai sebuah fenomena saja. Sebagaimana heboh Pokemon beberapa waktu lalu. Tidak perlu terlalu reaktif dan membuat aturan atau larangan yang kontraproduktif.
Tentu saja ada juga catatan bagi, mereka para pemburu bunyi klason unik ini juga harus sadar bahwa jangan sampai aksi mereka membahayakan atau menganggu lalu lintas. Karena sebagimana terekam di Youtube, ada juga masyarakat yang sampai turun ke jalan sehingga membuat macet jalan antarprovinsi. Tentunya bila sudah sampai pada aksi semacam ini, jelas membahayakan dan menganggu arus lalu lintas
Fenomena ini menjadi hiburan murah, buah kreativitas masyarakat. Tak hanya anak-anak, bahkan orangtua ternyata haus akan hiburan yang gratis di pinggir jalan ini.
Namun, ada juga yang kemudian mengkhawatirkan. Bahkan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengimbau semua operator bus tidak mempermainkan klakson. Dia melihat kegiatan itu sesuatu yang menyenangkan, tetapi membahayakan.
Budi menyampaikan hal ini menyusul isu pelarangan dari kementeriannya yang juga ikut menjadi viral.
Sementara berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 55 Tahun 2012 tentang Kendaraan, disebutkan suara klakson pada kendaraan paling rendah 83 desibel atau dB (A) dan paling tinggi 118 desibel atau dB (A). Untuk kasus telolet belum ada kajian dari sisi PP tersebut.
Terlepas dari adanya pro dan kontra “om telolet om” yang menjadi viral ini, paling tidak bisa menurunkan tensi kegaduhan di sosial media, setelah berminggu-minggu memanas karena isu-isu SARA dan berbagai ujaran kebencian.
Kalaupun kemudian muncul ketakutan-ketakutan berlebihan terhadap tren ini, harap dilihat sebagai sebuah fenomena saja. Sebagaimana heboh Pokemon beberapa waktu lalu. Tidak perlu terlalu reaktif dan membuat aturan atau larangan yang kontraproduktif.
Tentu saja ada juga catatan bagi, mereka para pemburu bunyi klason unik ini juga harus sadar bahwa jangan sampai aksi mereka membahayakan atau menganggu lalu lintas. Karena sebagimana terekam di Youtube, ada juga masyarakat yang sampai turun ke jalan sehingga membuat macet jalan antarprovinsi. Tentunya bila sudah sampai pada aksi semacam ini, jelas membahayakan dan menganggu arus lalu lintas
IBU
Pertanyaan yang bermain di kepala saya menggulirkan rasa penasaran yang mendorong saya mencari tahu arti ibu lebih jauh. Jemari akhirnya mengetikkan kata "definisi ibu" dalam mbah google sebuah mesin pencari di internet.
Awalnya keluar definisi umum dari kamus-kamus, Ibu (kata benda): wanita yang telah melahirkan seseorang.
Untuk pengertian demikian saya jelas seorang ibu, begitu juga ibu-ibu lain yang melahirkan anak-anak mereka.
Tapi uniknya pencarian kemudian memunculkan penuturan yang lebih menarik dari ragam individu yang membuat definisi mereka tentang ibu.
Ibu (kata benda); Seorang yang memberikan waktu 24 jam sehari tanpa meminta bayaran.
Pada definisi lain: Ibu (kata benda); seseorang yang mencintai tanpa syarat, orang yang membangun karakter dan menyembuhkan hati yang luka, orang yang membuat dan menjaga memori indah, orang yang dicintai dengan penuh kasih dan kekaguman.
Bahkan ada satu definisi yang menyebut ibu sebagai kata kerja.
Ibu (kata kerja) mencintai, mengayomi, melindungi, mendidik, membimbing, memberi kenyamanan, memelihara, mendukung, merangkul, menghargai, menyemangati, dll.
Pandangan saya terus melompat dari satu kata kerja ke kata kerja lain yang terpampang di monitor, sambil diam-diam mulai bertanya pada diri sendiri.
Apakah anda sudah menjadi seorang ibu yang demikian? Sudahkah anda menjalankan tugas ibu sebagaimana mestinya?
Seorang bijak berkata,"You educate a man; you educate a man. You educate a woman; you educate a generation.”
Jika engkau mendidik seorang lelaki maka engkau mendidik seorang lelaki. Ketika kamu mendidik seorang perempuan, maka kamu mendidik satu generasi.
Kelihatan utopia, akan tetapi hal ini nyata dalam sejarah.
Presiden Amerika pertama, George Washington, menyatakan, "Ibu saya adalah orang yang paling indah. Apapun yang saya capai saat ini saya berhutang padanya. Segala kemampuan, intelektual, dan peran yang saya curahkan, semua berasal darinya."
Washington kini dikenal sebagai peletak dasar Amerika dan cikal bakal perubahan dunia, salah satu pemimpin paling bijak dalam sejarah, menolak kesempatan menjadi pemimpin seumur hidup, berperan mengubah generasi. Dan semua bermula dari ibunya.
Selanjutnya saya mulai mencari arti ibu yang lebih luas melalui banyak kutipan menarik tentang ibu.
"Ibu adalah seseorang yang bisa mengambil tempat siapapun tetapi tempatnya tidak bisa tergantikan siapapun."
"Saya percaya cinta pada pandangan pertama, karena saya jatuh cinta pada ibu saat mata pertama kali melihat."
"Ketika engkau melihat ibu, engkau melihat cinta paling murni yang pernah ada."
"Rumah adalah tempat di mana ibu berada."
"Seorang ibu bisa mengerti sesuatu yang tidak dikatakan anaknya."
"Tidak ada kata yang mampu menggambarkan kecintaan, kekuatan, kepahlawanan, dan kekayaan cinta seorang ibu."
"Ibu adalah cinta yang tak terbatas dan tak pernah pudar."
Luar biasa.
Semakin mencari, semakin membaca, semakin timbul banyak pertanyaan untuk diri sendiri, seberapa pantaskah anda menyandang predikat ibu. Tak hanya itu, kini yang terbayang bukan lagi diri sendiri. Melainkan potret perempuan berusia lebih dari setengah abad yang telah bersusah payah menjaga, mencintai, menemani, mendidik, dan membesarkan saya hingga meraih apa yang kini saya capai.
Seorang ibu. Saya memanggilnya ibu, Mami kadang simbok tergantung mut, sekarang sudah di surga, dari tahun 2006, doa selalu kupanjatkan,
Perempuan terkasih yang menjadi penyejuk, curahan jiwa, dan cinta.
Saya mencintainya sepenuh hati, mensyukuri keberadaannya setiap hari, mengingat peran dan pesannya seumur hidup. Terus berdoa agar Allah memberi saya kemampuan menyempurnakan bakti dan cinta pada perempuan yang saya muliakan.
Pertanyaan terakhir yang kemudian tersisa adalah: apakah anak saya yang ada akan merasakan hal serupa, sebagaimana kuat perasaan saya terhadap ibunda?
Saya bukan ayah yang sempurna sebagai ganti peran sebagai ibu , betapa pun keras ikhtiar untuk mempersembahkan bentuk cinta terbaik bagi ananda saya. Berharap buah hati yang dihadirkan sanggup merasakan kasih, cinta dan sayang teramat besar dari seorang ayah juga ibu yang setiap waktu memeluk dalam doa-doa, terlebih saat bayangan mereka tak tersapa mata.
Hal yang saya yakin menggayuti benak begitu banyak perempuan -dalam definisi seluas-luasnya- di seluruh dunia ini.
Ibu adalah puisi yang tak terkatakan.
Selamat hari ibu. Selamat berjuang menghadirkan generasi mulia, dan menjemput kemuliaan yang Allah siapkan, sebagai balasan atas cinta dan ketulusan tanpa pamrih.
ABABIL
Sungguh wajar jika banyak orang kecewa dengan kekalahan timnas sepak bola Indonesia melawan Thailand pada Final AFF akhir pekan lalu, 17 Desember 2016. Apalagi, harapan akan kemenangan begitu besar karena Indonesia sudah unggul dalam pertandingan sebelumnya di Indonesia . Kali ini, bukan hanya para penggemar bola, orang yang bukan penggemar bola pun bersemangat ingin menyaksikan.
Kebetulan pula pertandingan ini terjadi di bulan Maulid. Ada yang bilang, cerita kemenangan burung ababil menghancurkan gajah Abrahah di tahun kelahiran Nabi diharapkan menjelma menjadi ‘garuda’ yang mengalahkan ‘gajah’ Thailand. Di sebuah langgar di Banjarmasin, peringatan maulid yang semula dijadwalkan setelah Isya, dimajukan setelah Magrib agar jemaah bisa menyaksikan pertandingan itu!
Mengapa orang sangat bersemangat ingin menang? Karena kemenangan memberikan kepuasan dan harga diri. Setiap peserta yang ikut pertandingan tentu ingin menang. Menang itu memuaskan karena tujuan tercapai. Menang itu menaikkan harga diri karena pemenang akan mendapatkan penghargaan, dan penghargaan akan membuahkan kebanggaan. Orang hidup perlu memiliki kebanggaan.
Kemenangan pada dasarnya tidak bersifat pribadi. Kemenangan seorang anak juga menjadi bagian dari kemenangan orangtuanya, keluarganya, orang sekampungnya, sekolahnya, dan seterusnya. Apalagi jika kemenangan itu menyangkut sebuah tim yang mewakili bangsa seperti timnas sepak bola. Kemenangan semacam ini memberikan kepuasan dan kebanggaan bersama yang jauh lebih besar dan luas.
Karena itulah, setiap pertandingan melahirkan para pendukung. Para pendukung makin terbelah ketika pertandingan berhadap-hadapan antara dua pihak. Di sini muncul ‘kami’melawan ‘kamu’. Rasa bersatu sebagai pendukung satu tim semakin kuat karena adanya lawan bersama yang ingin dikalahkan. Kebersamaan itu dihadirkan melalui simbol-simbol berupa warna kaus, bendera, yel-yel dan lain-lain.
Dalam suasana demikian, emosi dapat menggebu-gebu. Jika tidak terkendali, bisa berbahaya. Agar terkendali, setiap pertandingan memerlukan aturan yang harus ditaati oleh semua pihak yang terlibat. Menang atau kalah ditentukan berdasarkan aturan itu. Pertandingan dipimpin oleh wasit, dari kata Arab ‘wâsith’ artinya orang yang menengahi, yang diharapkan berlaku adil dan tidak berat sebelah.
Masalahnya adalah, karena masing-masing pihak ingin menang, maka kadangkala ada pihak yang tak segan menabrak aturan dan menghalalkan segala cara. Yang penting menang, dengan cara apapun. Semua kekuatan dikerahkan, baik tenaga, pikiran, uang, hingga kekuatan gaib berupa doa hingga mantra dan sihir. Bagi orang seperti ini, menang-kalah seolah urusan hidup atau mati, to be or not to be.
Jika soal menang-kalah ini hanya menyangkut olahraga seperti sepak bola, tampaknya tidak terlalu bermasalah. Usai pertandingan, beberapa hari kemudian orang akan melupakan. Tetapi bagaimana dengan pertandingan politik seperti pilkada? Tampaknya lebih sulit. Pihak yang menang cenderung melakukan ‘balas dendam’ dan ‘balas jasa’. Pihak yang kalah cenderung tidak menerima kekalahan.
Lebih mengkhawatirkan lagi adalah, budaya menang-kalah itu sudah menyatu dalam hidup kita sehari-hari. Seolah mengikuti teori evolusi Darwin, hanya yang kuat yang akan bertahan. Yang lemah akan tersingkir dan punah. Di era pasar bebas, pengusaha besar memangsa pengusaha kecil. Begitu pula, pendidikan yang baik cenderung mahal, dan anak yang tidak juara kelas, kurang dihargai.
Padahal, salah satu nilai yang dianggap mulia dalam budaya kita adalah mengalah. Mengalah berarti memberikan hak sendiri kepada orang lain yang lebih membutuhkan. Mengalah lahir dari solidaritas atau rasa kebersamaan. Mengalah tumbuh dari semangat ingin berbagi. Mengalah adalah bukti kemampuan berempati, yakni membayangkan diri dalam posisi orang lain yang kurang beruntung.
Alhasil, di luar arena pertandingan, sebenarnya mengalah bukanlah kalah, tetapi memperbanyak pihak yang turut serta menikmati kemenangan
TUKANG HUJAT
TUKANG HUJAT
Tangis pemain timnas Indonesia pecah saat wasit Mohd Abdullah Hassan meniup peluit panjang tanda pertandingan final Piala AFF 2016 melawan Thailand di Stadion Rajamangala, Bangkok, Thailand, Sabtu atau tadi malam, usai.
Indonesia pada pertandingan penentuan ini harus mengakui keunggulan tim tuan Thailand dengan skor 0-2. Dengan hasil ini, anak asuh Alfred Riedl ini kalah dengan agregat 2-3 setelah dipertandingan pertama di Stadion Pakansari, Bogor, Rabu, menang dengan skor 2-1.
Nampak di lapangan Lerby Eliandru, Fachruddin Aryanto hingga Boaz Solossa terlihat berkaca-kaca. Kondisi ini membuat official Indonesia harus turun ke lapangan untuk menenangkan pemain.
Tidak ketinggalan Andik Vermansah yang mengalami cedera saat dipertandingan final pertama melawan Thailand juga langsung bergabung dengan teman-temannya yang bertahan di tengah lapangan. Pemain Selangor FA ini terlihat menenangkan pemain Indonesia. dengan permainan sudah maksimal timnas garuda selayaknya mendapat penghargaan karena sudah dititik maksimal pencapaian final walau dapat juara ke 2 kita tetap menghapriasi kemenangannya tersebut apa lagi Indonesia barusan lepas dari kena sangsi dari FIFA. Jangan sampai kita dijuluki sebagai tukang hujat tapi menjadi tukang legowo.
Tangis pemain timnas Indonesia pecah saat wasit Mohd Abdullah Hassan meniup peluit panjang tanda pertandingan final Piala AFF 2016 melawan Thailand di Stadion Rajamangala, Bangkok, Thailand, Sabtu atau tadi malam, usai.
Indonesia pada pertandingan penentuan ini harus mengakui keunggulan tim tuan Thailand dengan skor 0-2. Dengan hasil ini, anak asuh Alfred Riedl ini kalah dengan agregat 2-3 setelah dipertandingan pertama di Stadion Pakansari, Bogor, Rabu, menang dengan skor 2-1.
Nampak di lapangan Lerby Eliandru, Fachruddin Aryanto hingga Boaz Solossa terlihat berkaca-kaca. Kondisi ini membuat official Indonesia harus turun ke lapangan untuk menenangkan pemain.
Tidak ketinggalan Andik Vermansah yang mengalami cedera saat dipertandingan final pertama melawan Thailand juga langsung bergabung dengan teman-temannya yang bertahan di tengah lapangan. Pemain Selangor FA ini terlihat menenangkan pemain Indonesia. dengan permainan sudah maksimal timnas garuda selayaknya mendapat penghargaan karena sudah dititik maksimal pencapaian final walau dapat juara ke 2 kita tetap menghapriasi kemenangannya tersebut apa lagi Indonesia barusan lepas dari kena sangsi dari FIFA. Jangan sampai kita dijuluki sebagai tukang hujat tapi menjadi tukang legowo.
ADA APA
ADA APA
Jaman saya dulu sekolah, kenakalan remaja hal biasa dan tidak sampai tragis, tapi jaman sekarang remaja membahayakan diri sendiri bahkan orang lain mungkin terispirasi tontonan di televisi baik berita atau sebuah film. Seperti peristiwa mengenaskan baru-baru ini menimpa Indonesia. Bukan hanya satu, melainkan tiga kasus tragis dalam waktu berdekatan. Tidak ada kaitan satu dan lainnya, namun terdapat persamaan. Semua pelaku tidak mempunyai motivasi yang jelas.
Di Nusa Tenggara Timur, seorang pria dengan tenang melangkah masuk langsung menuju kursi belakang sebuah ruang kelas sekolah dasar. Mendadak, tanpa alasan jelas, menyayat leher siswa yang duduk di bangku belakang.
Semua siswa menjerit dan berhamburan keluar akan tetapi tujuh pelajar sudah telanjur terluka. Tidak ada korban meninggal tapi gelombang kemarahan orang tua tak terbendung. Sang pelaku dilempari batu beramai-ramai hingga tewas.
Di Bandung pada hari yang sama seorang pria tiba-tiba mengamuk dan menikam para pejalan yang melintas di jembatan penyeberangan Tol Purbaleunyi. Delapan orang terluka dan satu korban tewas akibat tertusuk dibagian dada.
Di Yogyakarta, sekelompok remaja dengan penutup wajah, menyerang remaja lain yang baru pulang tamasya, saat berpapasan di tengah jalan. Satu tewas sementara enam lainnya terluka. Tidak ada alasan jelas kenapa pelaku yang kemudian diketahui pelajar sekolah swasta melakukan perbuatan keji tersebut.
Allah, kemana menguapnya rasa kemanusiaan?
Sebegitu mudahkan anak-anak pelajar melakukan kekerasan yang tak terbayangkan ini?
Di sekolah kekerasan tidak pernah diajarkan. Akan tetapi perpeloncoan masih membudaya, mungkin kah ini menjadi akar kekerasan?
Di rumah sebagian besar orang tua pun tidak mengajarkan kekerasan.
Namun tidak semua anak beruntung memiliki orang tua yang memberikan tuntunan dan bimbingan yang baik. Termasuk mengarahkan anak-anak mereka menonton film, tayangan atau hiburan yang mendidik dan menginspirasi.
Padahal manusia adalah mahluk visual. Karenanya pengaruh media visual sangat besar bagi jiwa anak. Ini salah satu titik penting yang menggerakkan kesadaran banyak insan kreatif untuk mempersembahkan film atau tayangan yang menginspirasi keluarga dan bisa dinikmati anak-anak, seperti film Cinta Laki Laki Biasa atau Bulan Terbelah di Langit Amerika, yang berjuang untuk generasi yang lebih terjaga. Semoga ke depan lebih banyak dukungan diberikan para orang tua.
Secara umum, masyarakat membenci kekerasan. Kenyataan bercokolnya para preman di berbagai ruang publik, atau perilaku dominan pejabat dan aparat yang menggunakan kekuasaan untuk memaksakan kehendak, justru berbalik menjadi bentuk kampanye kekerasan dan paksaan sebagai kekuatan yang harus ditakuti.
Akhirnya kita tidak hanya bisa menghakimi tapi juga harus melakukan muhasabah diri.
Seberapa jauh telah menyiapkan anak-anak, adik, murid dan semua yang peduli untuk menjadi manusia yang -- seiring berangsurnya usia -- makin menghargai dan bukan justru membuang rasa kemanusiaan
Jaman saya dulu sekolah, kenakalan remaja hal biasa dan tidak sampai tragis, tapi jaman sekarang remaja membahayakan diri sendiri bahkan orang lain mungkin terispirasi tontonan di televisi baik berita atau sebuah film. Seperti peristiwa mengenaskan baru-baru ini menimpa Indonesia. Bukan hanya satu, melainkan tiga kasus tragis dalam waktu berdekatan. Tidak ada kaitan satu dan lainnya, namun terdapat persamaan. Semua pelaku tidak mempunyai motivasi yang jelas.
Di Nusa Tenggara Timur, seorang pria dengan tenang melangkah masuk langsung menuju kursi belakang sebuah ruang kelas sekolah dasar. Mendadak, tanpa alasan jelas, menyayat leher siswa yang duduk di bangku belakang.
Semua siswa menjerit dan berhamburan keluar akan tetapi tujuh pelajar sudah telanjur terluka. Tidak ada korban meninggal tapi gelombang kemarahan orang tua tak terbendung. Sang pelaku dilempari batu beramai-ramai hingga tewas.
Di Bandung pada hari yang sama seorang pria tiba-tiba mengamuk dan menikam para pejalan yang melintas di jembatan penyeberangan Tol Purbaleunyi. Delapan orang terluka dan satu korban tewas akibat tertusuk dibagian dada.
Di Yogyakarta, sekelompok remaja dengan penutup wajah, menyerang remaja lain yang baru pulang tamasya, saat berpapasan di tengah jalan. Satu tewas sementara enam lainnya terluka. Tidak ada alasan jelas kenapa pelaku yang kemudian diketahui pelajar sekolah swasta melakukan perbuatan keji tersebut.
Allah, kemana menguapnya rasa kemanusiaan?
Sebegitu mudahkan anak-anak pelajar melakukan kekerasan yang tak terbayangkan ini?
Di sekolah kekerasan tidak pernah diajarkan. Akan tetapi perpeloncoan masih membudaya, mungkin kah ini menjadi akar kekerasan?
Di rumah sebagian besar orang tua pun tidak mengajarkan kekerasan.
Namun tidak semua anak beruntung memiliki orang tua yang memberikan tuntunan dan bimbingan yang baik. Termasuk mengarahkan anak-anak mereka menonton film, tayangan atau hiburan yang mendidik dan menginspirasi.
Padahal manusia adalah mahluk visual. Karenanya pengaruh media visual sangat besar bagi jiwa anak. Ini salah satu titik penting yang menggerakkan kesadaran banyak insan kreatif untuk mempersembahkan film atau tayangan yang menginspirasi keluarga dan bisa dinikmati anak-anak, seperti film Cinta Laki Laki Biasa atau Bulan Terbelah di Langit Amerika, yang berjuang untuk generasi yang lebih terjaga. Semoga ke depan lebih banyak dukungan diberikan para orang tua.
Secara umum, masyarakat membenci kekerasan. Kenyataan bercokolnya para preman di berbagai ruang publik, atau perilaku dominan pejabat dan aparat yang menggunakan kekuasaan untuk memaksakan kehendak, justru berbalik menjadi bentuk kampanye kekerasan dan paksaan sebagai kekuatan yang harus ditakuti.
Akhirnya kita tidak hanya bisa menghakimi tapi juga harus melakukan muhasabah diri.
Seberapa jauh telah menyiapkan anak-anak, adik, murid dan semua yang peduli untuk menjadi manusia yang -- seiring berangsurnya usia -- makin menghargai dan bukan justru membuang rasa kemanusiaan
Thursday, 28 September 2017
TAKUT ISTRI
TAKUT ISTRI
Liku-liku dalam dunia pertemanan komunitas, ada-ada saja ada pasang surutnya mungkin ada titik jenuhnya ada kalanya naik lagi ini biasanya kalau ada maunya, he.....he...mun gkin iya mungkin tidak tergantung persepsi perorangnya. Dalam waktu yang sama, saya pun lebih suka mencerna perbincangan-pe rbincangan besar di luar pertemanan komunitas. Bagaimana medan geopolitik di konflik Rohingya, misalnya. Padahal, apa yang bisa saya jalankan setelah sedikit banyak saya memahaminya? Paling-paling saya akan menulis status Facebook, mengajak teman-teman di friendlist saya untuk mencermati duduk perkara konflik itu dalam porsi yang semestinya.
Lah, memang apa pengaruhnya? Apakah kalau saya tidak menuliskan status itu, konflik Rohingya jadi tambah parah? Dan apakah kalau saya menuliskannya, maka pembunuhan dan entah apalah segala hal buruk di sana akan berkurang dengan sendirinya?
Saya tahu jawabannya sangat menyedihkan: tidak. Suara saya tidak berpengaruh apa-apa.
Dalam waktu yang sama pula, bahkan saya lebih suka turut berkerut mencermati data-data sejarah, untuk menemukan fakta historis yang paling meyakinkan, tentang satu pertanyaan mahapenting dalam historiografi Indonesia: "Apakah Aidit merokok?"
Padahal, setelah saya berlelah-lelah mencermati versi Ilham Aidit dan versi wawancara media, juga mencermati foto Aidit dengan rokok di tangannya, paling-paling saya cuma akan manggut-manggut . Kemudian saya menawarkan sebuah hipotesis mengejutkan kepada publik:
"Ilham tidak bohong. Media juga tidak bohong. Aidit tidak pernah merokok di rumah. Namun ia selalu merokok di rapat-rapat PKI, sembari merahasiakan perilaku merokoknya itu dari keluarganya. Jadi saya mengajukan tesis, bahwa selain sebagai Ketua CC PKI, Aidit pun aktif sebagai Sekjen IMTI. Yakni Ikatan Marxis Takut Istri."
Sudah, cuma itu saja. Sebuah kesimpulan yang sangat ilmiah namun tidak berguna bagi masa depan peradaban.
Dan itu semua sungguh merupakan kebermanfaatan yang nyata, jauh lebih nyata ketimbang rokok Aidit atau 5000 pucuk senjata yang disebut-sebut Sang Panglima.
Subscribe to:
Posts (Atom)