Thursday, 19 July 2018

ADA APA

ADA APA
Jaman saya dulu sekolah, kenakalan remaja hal biasa dan tidak sampai tragis, tapi jaman sekarang remaja membahayakan diri sendiri bahkan orang lain mungkin terispirasi tontonan di televisi baik berita atau sebuah film. Seperti peristiwa mengenaskan baru-baru ini menimpa Indonesia. Bukan hanya satu, melainkan tiga kasus tragis dalam waktu berdekatan. Tidak ada kaitan satu dan lainnya, namun terdapat persamaan. Semua pelaku tidak mempunyai motivasi yang jelas.
Di Nusa Tenggara Timur, seorang pria dengan tenang melangkah masuk langsung menuju kursi belakang sebuah ruang kelas sekolah dasar. Mendadak, tanpa alasan jelas, menyayat leher siswa yang duduk di bangku belakang.
Semua siswa menjerit dan berhamburan keluar akan tetapi tujuh pelajar sudah telanjur terluka. Tidak ada korban meninggal tapi gelombang kemarahan orang tua tak terbendung. Sang pelaku dilempari batu beramai-ramai hingga tewas.
Di Bandung pada hari yang sama seorang pria tiba-tiba mengamuk dan menikam para pejalan yang melintas di jembatan penyeberangan Tol Purbaleunyi. Delapan orang terluka dan satu korban tewas akibat tertusuk dibagian dada.
Di Yogyakarta, sekelompok remaja dengan penutup wajah, menyerang remaja lain yang baru pulang tamasya, saat berpapasan di tengah jalan. Satu tewas sementara enam lainnya terluka. Tidak ada alasan jelas kenapa pelaku yang kemudian diketahui pelajar sekolah swasta melakukan perbuatan keji tersebut.
Allah, kemana menguapnya rasa kemanusiaan?
Sebegitu mudahkan anak-anak pelajar melakukan kekerasan yang tak terbayangkan ini?
Di sekolah kekerasan tidak pernah diajarkan. Akan tetapi perpeloncoan masih membudaya, mungkin kah ini menjadi akar kekerasan?
Di rumah sebagian besar orang tua pun tidak mengajarkan kekerasan.
Namun tidak semua anak beruntung memiliki orang tua yang memberikan tuntunan dan bimbingan yang baik. Termasuk mengarahkan anak-anak mereka menonton film, tayangan atau hiburan yang mendidik dan menginspirasi.
Padahal manusia adalah mahluk visual. Karenanya pengaruh media visual sangat besar bagi jiwa anak. Ini salah satu titik penting yang menggerakkan kesadaran banyak insan kreatif untuk mempersembahkan film atau tayangan yang menginspirasi keluarga dan bisa dinikmati anak-anak, seperti film Cinta Laki Laki Biasa atau Bulan Terbelah di Langit Amerika, yang berjuang untuk generasi yang lebih terjaga. Semoga ke depan lebih banyak dukungan diberikan para orang tua.
Secara umum, masyarakat membenci kekerasan. Kenyataan bercokolnya para preman di berbagai ruang publik, atau perilaku dominan pejabat dan aparat yang menggunakan kekuasaan untuk memaksakan kehendak, justru berbalik menjadi bentuk kampanye kekerasan dan paksaan sebagai kekuatan yang harus ditakuti.
Akhirnya kita tidak hanya bisa menghakimi tapi juga harus melakukan muhasabah diri.
Seberapa jauh telah menyiapkan anak-anak, adik, murid dan semua yang peduli untuk menjadi manusia yang -- seiring berangsurnya usia -- makin menghargai dan bukan justru membuang rasa kemanusiaan

No comments:

Post a Comment