Friday, 20 July 2018

JUARA


Putriku Aurora Rishanaov Alfatiha (UFA) bukan si juara umum (di sekolah dulu waktu di kalimantan bisa juara 2 disekolahnya nilai tertinggi tapi di jawa juara terbawah), bukan bintang utama di pengajian, juga bukan pemain inti di lapangan badminton, dan tidak juga juara melukis ataupun pemenang lomba beladiri.
Dia adalah anak-anak tiga belas tahun , kelas Enam SD, yang senang bermain tiada henti, menikmati keciprak air hujan, mengayuh sepeda menantang angin, dan tak terlalu suka belajar sejak di jawa(belajar dalam pengertian umum orang Indonesia, yaitu membaca buku pelajaran sampai hafal titik koma nya).
Ini menyebabkan rumah eyangnya tak punya piala, kecuali punya saya dulu juara 2 basket dan penghargaan lainya.
Terkadang, sebongkah kecewa bergayut di hati, kecewa pada nilai matematikanya yg tak sempurna padahal soalnya gampang, kecewa pada hafalan surat pendek al quran yang masih salah, kecewa pada kegagalan menggambar yang masih belum stabil, tidak seperti saya yang pernah dapat penghargaan.
Mana pialamu , duhai kesayanganku?
“Kamu adalah ayah yang sangaaaaaaaaat jauh dari sempurna, dan putrimu tak pernah menuntut lebih, dia ikhlas, tak melayangkan protes atas segala kekuranganmu, lalu kenapa kamu tak membalasnya dengan cara serupa? Kamu sedemikian banyak menuntut dari putrimu,” aku terkesiap.
Kau mencuci piring, dan mencuci pakainnya, sebelum kusuruh. mengaji yang sudah mengenal sejak umur setahun dan sudah mulai mengenal alquran, sudah berpuasa penuh sejak TK.
Aku tertidur pulas, terbangun dengan sentuhan jemarimu di badanku yang sedang lelah dengan pijatan lembut, terasa lepas lelahku dengan pijatanmu, semua tanpa kuminta.
Memasak hanya telur mata sapimu membuat rasa lahap makan malamku.
Mataku menghangat, kuterima dengan seksama, seperti pak presiden menerima bendera pusaka.
Terimakasih putriku, engkau telah memberi piala juaramu, dan ini adalah sebenar-benarnya piala, piala yang sesungguhnya untukku.
Nak, ijinkan aku mencium tanganmu, sebagai wujud permohonan maaf atas segala tuntutanku...
Putriku yang shalihah... juara yg sesungguhnya

OH GARAM KU


Garam sangat dibutuhkan, selain digunakan untuk rumah tangga sebagai garam dapur juga banyak digunakan oleh berbagai macam industri, seperti industri pangan dan kuliner, industri obat-obatan, industri kosmetik, industri kertas, industri tekstil, dan sebagainya. Artinya, garam memang sangat dibutuhkan manusia dalam siklus hidupnya. Makanan tanpa garam, yang berfungsi mengikat bumbu, akan terasa hambar. Zat warna tekstil tidak akan melekat dengan baik di kain tanpa dilarutkan dengan NaCl atau garam, dan sebagainya.
Jenis garam memang dibagi dua, yaitu garam untuk rumah tangga/konsumsi dan garam untuk industri. Kedua jenis garam ini mempunyai spesifikasi dan kualitas yang berbeda. Garam industri dapat dipakai di rumah tangga sebagai garam dapur tetapi garam rumah tangga tidak dapat dipakai sebagai garam industri. Petambak atau petani atau pembudidaya garam di Indonesia dan PT Garam (Persero) umumnya memproduksi garam dapur, bukan garam industri yang memerlukan proses lanjut.
Garam produksi petani masih dibuat dengan cara primitif, yaitu mengeringkan air laut di kolam/tambak yang sudah disiapkan di tepi pantai. Produksinya sangat tergantung pada cuaca, terutama panas matahari. Tanpa panas matahari yang cukup, produksi garam pasti jeblok. Petani garam di Indonesia dan PT Garam belum tersentuh teknologi, akibatnya hampir seluruh produksi garam rakyat tidak dapat digunakan sebagai garam industri. Kalaupun dapat, proses pembuatannya mahal, kualitas tidak konstan, dan jumlahnya terbatas. Sementara garam impor (misalnya dari Australia) berasal dari tambang garam yang tidak tergantung pada cuaca.
Jadi jangan heran jika petani garam di Indonesia tidak pernah hidup sejahtera. Bahkan PT Garam pun "senin-kamis" nasibnya. Selain cara produksinya primitif, mereka juga tergantung hidupnya pada makelar atau tengkulak yang pada umumnya hidup sejahtera. Makelar ini berdasi dan punya power, jadi bisa menguasai media dengan baik, Pemerintah pun kewalahan. Kasus garam sama dengan kasus gula. Lalu, apa yang harus dilakukan oleh pemerintah supaya krisis garam tidak terus berulang?Dengan kondisi industri garam rakyat yang "senin-kamis" karena nir teknologi dan meningkatnya kebutuhan garam industri, maka pemerintah dalam jangka waktu pendek tidak mungkin bergantung pada produksi garam rakyat karena untuk diolah menjadi garam industri selain membutuhkan teknologi yang mahal juga perlu waktu, sementara kebutuhan sudah mendesak. Impor garam merupakan satu-satunya cara yang lebih murah karena berasal dari tambang garam yang kualitasnya memenuhi kriteria atau standar industri, misalnya dari Australia dan India.
Di sisi lain pemerintah dalam hal ini Kementerian Negara BUMN harus memberdayakan PT Garam melalui penggunaan teknologi at any cost supaya dapat menghasilkan garam dengan standar industri, murah, dan suplainya berkelanjutan. Masalahnya, bagaimana kita mau sombong dengan mempertahankan produksi lokal yang mahal dan tidak bisa berkelanjutan, sementara ada produk impor yang jauh lebih murah, berkualitas prima. Garam industri impor bisa jadi mahal karena makelarisasi berdasi yang selama ini berkeliaran. Kita tunggu apa rencana ke depan pemerintah untuk memenuhi kebutuhan garam industri yang terus meningkat.
Jadi, yang penting memang pemerintah harus melakukan pengawasan dan penegakan hukum secara baik, benar, dan tegas. Tanpa itu sudah pasti garam industri impor akan berceceran sebagai garam konsumsi di pasar-pasar, persis sama dengan kasus gula industri impor. Salam!

Bermedia Sosial dengan Waras


Sudah berapa kali ya saya nulis tentang bermedsos dengan bijak, ah banyak mungkin, sampai lupa. berapa kali, banyak apa lupa ya...hahahaaaa masih muda kali jadi lupa,,,,,
sudah mualai ajalah kali ini sedikit aja biar ga mbosanin,
Media sosial hanyalah alat yang membantu manusia supaya lebih mudah dalam proses bersosialisasi di dunia nyata. Namun karena pemahaman yang tumpul akan fungsi dan peran tersebut, banyak pengguna media sosial yang akhirnya terperangkap dalam sikap antisosial. Oleh karena itu, untuk menghindari dampak tersebut, maka perlu ada edukasi khusus untuk para pengguna media sosial.
Edukasi tersebut bisa dilakukan secara nyata di rumah, di sekolah, dan di tempat ibadah. Edukasi itu pun dapat dilakukan di dunia maya, dengan cara mendiskusikan topik-topik seperti ini, baik di dalam grup diskusi ataupun secara perseorangan. Selain itu, menulis di media sosial juga menjadi cara terbaik untuk mendidik penggunanya. Tulisan yang dibaca oleh pengguna media sosial akan berpengaruh dalam cara ia menggunakan media sosial.
Jika tulisan yang dibaca bersifat konstruktif dan dapat membangun kesadaran akan pentingnya keseimbangan sosialisasi di dunia maya dan di dunia nyata, maka pengguna akan semakin bijak dalam memanfaatkan media sosial. Sebaliknya, jika tulisan yang sering dibaca oleh pengguna media sosial bersifat destruktif dan tidak membangun kesadaran dalam penggunaan media sosial, maka sudah pasti efek buruk dari media sosial lebih mungkin untuk terjadi. Oleh karena itu, di era media sosial ini, setiap kita ditantang agar bisa menjadi waras dalam bermedia sosial.

BERHALA JAMAN NOW


Banyak orang yang kecanduan ponsel. Dari bangun tidur hingga tidur lagi, yang disentuh dan dielus tiada lain daripada ponsel. Ponsel seolah berhala, yakni ciptaan manusia yang membuat manusia tunduk kepadanya. Sekali lagi, kecanduan ini memang sengaja direkayasa oleh pembuat aplikasi medsos dengan menyediakan tombol suka dan komentar sehingga emosi dan rasa ingin tahu orang terbakar.
Demikialah, jika ditinjau secara ilmiah, selain teknologi, para pembuat aplikasi itu menerapkan psikologi dan antropologi untuk mengikat pengguna. Misalnya, aplikasi itu lebih menyentuh emosi ketimbang nalar. Mungkin ini sebabnya, dalam bermedsos orang cenderung emosional dan faksional. Debat yang berapi-api tanpa berkesudahan seringkali terjadi. Diskusi di medsos jarangkali menghasilkan solusi.
Selain itu, media sosial yang dapat menghubungkan manusia satu sama lain justru menggerus kualitas hubungan itu. Tak jarang, orang sibuk berhubungan melalui ponsel dengan teman yang jauh, sementara teman bahkan keluarga yang di depan mata tidak dipedulikan. Padahal, hubungan melalui alat itu tidak sepenuhnya nyata. Dia hadir sekaligus absen. Hubungan semacam itu bisa mereduksi kemanusiaan kita.
Kita tentu maklum bahwa manusia adalah makhluk sosial. Dia hidup bermasyarakat (dari kata Arab: musyârakah artinya bersekutu). Namun, kata Sherry Turkle, manusia perlu sesekali menyendiri jika dia ingin memahami dirinya dan orang lain. Orang yang terkoneksi terus-menerus dengan orang lain tanpa ada kesempatan untuk merenung sendirian akan kehilangan kemampuan untuk memahami orang lain.
Karena itu, Sherry Turkle menyarankan agar kita secara sadar mengendalikan diri dalam menggunakan ponsel. Batasi waktu penggunaannya. Jangan berlebihan. Utamakan percakapan berhadap-hadapan ketimbang melalui media. Tinggalkan ponsel saat berbincang dengan tamu, sahabat atau saat makan bersama keluarga. Cari kegiatan yang lebih menarik dan bermanfaat dibanding bermedsos belaka.
Akhirnya, saya sungguh terkesan dengan anjuran Turkle agar kita sesekali dalam sehari menyendiri dan merenung. Kita perlu menembus irisan tipis antara diri pribadi kita dan orang lain. Kita sama sekaligus berbeda. Bagi kaum beriman, manusia juga perlu sendiri bersama Yang Maha Sendiri (alone with Alone). Hanya dengan cara itulah kiranya, keseimbangan antara kesendirian dan kebersamaan dapat tercipta!

CLURIT



Ceritanya, pada waktu itu sedang nge-hits sebuah alat pijat. Bentuknya seperti tanda tanya. Tangkai pegangannya panjang, ujungnya ada bola kayunya, sehingga bisa digunakan untuk self-massage punggung oleh penggunanya.
Karena banyak orang merasa terbantu, apalagi buat mereka yang kesepian sehingga tak punya siapa pun sebagai tempat mengadu di kala punggungnya pegal-pegal, alat itu pun laris manis. Banyak warung memajang dan menjajakannya, banyak orang membelinya.
Namun tiba-tiba bapak-bapak dari Kodim melakukan razia. Alat pijat enak itu disita dari warung-warung. Ia tak boleh diperjualbelikan lagi, dan untuk membawanya ke luar rumah pun orang-orang yang kadung membelinya tak mungkin bakal berani. Dasar pemikiran pelarangan itu ternyata sangat ilmiah: yaitu karena bentuk alat pijat tersebut diianggap mirip dengan lambang partai terlarang! Dhuerrr!
Imajinasi yang maut, bukan? Karena alat pijat itu bentuknya melengkung, pak tentara jadi ingat bentuk arit. Karena teringat bentuk arit, terbayanglah di kepala mereka simbol komunis. Canggihnya, aritnya sendiri malah tidak dilarang. Tidak terdengar satu kali pun razia digelar di sawah-sawah, untuk menyita arit-arit dan membebaskan para petani dari paparan bahaya laten komunis. Tidak terdengar juga aparat negara mengambil paksa palu-palu dari tangan para tukang batu, juga dari lapak-lapak toko besi.
Kebiasaan berimajinasi seperti itu terus mentradisi, menjadi skillkebanggaan manusia Indonesia. Kalau mau dikorek, masih banyak sekali contoh kasus lainnya. Namun yang paling cespleng memang semua yang terkait dengan bahaya laten komunis. Kenapa? Sebab negeri ini memang punya trauma komunal mendalam terkait potongan sejarah kelam 50 tahun lalu. Trauma itu terus menjadi kebun subur bagi tersemainya ketakutan, dan ketakutan adalah alat pemasaran yang sangat menjanjikan peluang-peluang.
Jadi jangan heran-heran amat, kalau tiap kali musim politik tiba, isu kebangkitan komunis selalu dijadikan bahan dagangan. Dengan berjualan isu kebangkitan komunis, imajinasi publik bisa merebak dengan liarnya. Celakanya, sangat sedikit tokoh politik yang berani membantahnya, atau menetralisasinya. Sebab para praktisi imajinasi tetap mengikuti alur logika yang konsisten imajinatif: siapa pun yang membantah isu kebangkitan komunis, otomatis dia pro-komunis.
Nah, politisi mana yang mau dituduh pro-komunis, coba? Bisa-bisa habis karier politiknya, padahal belum lunas utang-utang biaya kampanyenya.
Lebih sial lagi, para aktivis muda yang sepertinya kepingin menjalankan edukasi publik agar kita tidak terus-menerus terpasung dalam trauma massal 50 tahun silam, justru kadangkala melakukan tindakan-tindakan yang norak, caper, dan kekanak-kanakan. Misalnya dengan memakai kaos palu-arit di ruang publik, dalam ajang demonstrasi buruh pula.
Hasilnya, alih-alih menetralisasi imajinasi umat agar tak lagi mudah diaduk-aduk emosinya dengan isu kebangkitan komunis, yang terjadi malah sebaliknya: bumerang tajam! Orang kebanyakan justru semakin percaya bahwa kebangkitan komunis itu nyata. "Tuh lihat, nyata sekali mereka semakin terang-terangan menampakkan diri! Rapatkan barisan! Siagakan kekuatan umat!"
Padahal yang sebenarnya terjadi tak lebih dari kebangkitan seorang anak muda labil dan krisis eksistensi, yang mau pamer kaos oleh-oleh dari temannya, sepulangnya si teman dari Vietnam untuk misi darmawisata. Healah....
***
Hari-hari ini, imajinasi atas bangkitnya komunis sudah mulai dikitik-kitik lagi. Maklum, tahun politik. Sisa panas 2014 terus membara, dinyalakan lagi oleh Pilkada dan Dua-Satu-Dua. Sekarang musim Pilkada di mana-mana, dan tahun ini Pemilu dan Pilpres akan kembali memanaskan ruang-ruang kasak-kusuk kita. Sempurna sudah, Sodara.
Menu pertama untuk merebus isu kebangkitan komunis, kita tahu, adalah serangan orang-orang gila. Karena yang diserang adalah para ulama, dan karena di masa lalu kaum ulama pernah berkonflik dengan orang komunis, maka imajinasi yang paling gampang diracik adalah: PKI bangkit lagi dan menyerang para ulama. Apa bukti dugaan itu? Tidak ada. Ya, tidak ada.
Lihat, lagi-lagi imajinasi menjalankan perannya.
Lalu apakah semua ini kebetulan semata? Bisa ya, bisa tidak. Meski sampai detik ini saya belum percaya, tapi kemungkinan bahwa aksi-aksi orang gila itu by design bukan lantas tertutup. Kemungkinan itu selalu ada, negeri ini pernah mengalami pola-pola serupa, dan saya sangat mendukung aparat yang punya wewenang untuk secara serius mengusutnya. Namun, kalau boleh saya berpesan, ada satu hal yang ingin saya sampaikan.
Begini. Jika memang kemunculan orang-orang gila itu ada sutradaranya, secara logis tujuannya jelas, yakni untuk menciptakan keresahan dan instabilitas. Maka semakin kita reaktif, semakin kita emosi dan gagal mengendalikan diri, semakin kita berteriak memanaskan situasi dan bukan malah meredamnya, maka sesungguhnya dengan konyol kita sudah jatuh ke dalam perangkap yang dipasang Si Sutradara. Gotcha

MASIGIT


MASIGIT ini bukan nama saya aja apa lagi menyanjung nama saya ha....ha...ha...., tapi bahasa dan tulisannya di kalimantan adalah Masigit kalau di tempat kita Masjid sebagai tempat ibadah, tapi dulu saya waktu kecil lebih didokrin bahwa Masigit atau Masjid hanya khusus ibadah bukan yang lain titik, nah lho. tapi sekarang saya lebih sering senang tiduran dan bersantai di masjid Annur Banjarnegara yang adem dan tenang, eh tapi ibadah juga lho....ha...ha.....
lain dengan anak saya Ufa, dulu masih dikandungan sudah kami dengarkan pengajian lagu religi mengenalkan masjid dan sudah lahir pun tetap kami biasakan dengan suara pengajian, lagu religi dan ibadah sudah mulai kami kenalkan, belum genap satu tahun kami kenalkan untuk beribadah jamaah yang lama yaitu sholat tarawih, waktu pertama kali masih susah dan kami masih kawatir karena tempat pria dan wanita dipisahkan dan ufa masih harus bolak balik mencari orang tua dan rewel, yang lebih khawatir kami masjid dengan kondisi tangga yang masuk ke ruang masjid tinggi sekitar dua meter karena di kalimantan pemanfaatan lahan semaksimal mungkin dengan dibawah tempat sekolah SD dan ruang TK di atasnya sebagai masjid, selain kotanya padat dan tanah rawa sudah menjadi hunian. dengan beberapa kali coba coba dan coba, ufa sudah mulai bisa melakukan ibadah di masjid inshallah seterusnya.
Kenapa pemuda sekarang ogah main-main ke Masjid ? -karena sejak kecil didoktrin "Masjid bukan tempat main" maka mainlah mereka di tempat PS -karena yang di pikiran mereka Masjid itu cuma tempat ibadah ritual, tobat, inget dosa, sama inget mati -karena Masjidnya tidak menyediakan tempat mencari jati diri maka mereka carinya di Mall -karena penjaga di Masjidnya galak, gak kayak penjaga Warnet Padahal Rasulullah sangat memanjakan anak-anak di Masjid -"Pelit, tiduran aja gak boleh !" Padahal Ibnu umar waktu bujang numpang tidur siang malam di Masjid (dah kayak hotel) -"Gimana mau nongkrong, jam 8 tutup" Padahal Masjid jaman Nabi buka 24 jam (kalah minimarket) -karena mereka tidak melihat Masjidnya sebagai sentral kemakmuran umat. yang ada minta dimakmurin mulu -"Emang ada apaan ? paling orang Sholat sama baca Qur'an" Padahal di zaman Nabi Masjid bisa jadi tempat latihan Beladiri -Karena doktrin "di Masjid gak boleh ngomongin Politik" Maka mereka mencari ideologi lain di luar -Doktrin "Masjid bukan tempat nyari jodoh, luruskan niat !" Padahal, Nabi pernah "dilamar" seorang wanita di Masjid yang sedang mencari jodoh "Kalau orang ke Masjid niatnya untuk nongkrong/nyari jodoh/berpolitik/tidur/wifi-an/, apa jadinya ?"
Jawabannya : lho memang ada larangannya ? justru ketika Masjid dijadikan sentral kegiatan positif, maka masjid akan makmur seperti di zaman Nabi
Tugas kita para da'i, jangan cuma neriakin anak muda tuk datang ke Masjid, tapi datangi mereka untuk membuat mereka tertarik ke Masjid
Dulu ketika puasa diakui enak sambil istirahat atau tidur di masjid atau musalah. Apalagi ketika niat i’tikaf.
Tetapi sekarang ini kebanyakan masjid memajang tulisan: "Dilarang Tidur di Masjid." ini mengusik kenyamanan, bukan?
Padahal i'tikaf dianjurkan oleh Islam ketika berpuasa, yakni beri’tikaf di masjid.
Kalau sudah niat, i’tikaf bisa diisi dengan aneka ibadah, minimal zikiran sambil rebahan atau tidur.
Syekh M Nawawi bin Umar Al-Bantani dalam Syarah Kasyifatus Saja ala Matni Safinatin Naja mengatakan,
Tidak masalah tidur di masjid bagi orang yang tidak junub meskipun dia menjomblo, belum berkeluarga.
Sejarah mencatat bahwa Ash-Habus Shuffah –mereka adalah para sahabat yang zuhud, fakir dan perantau– tidur (bahkan tinggal) di masjid pada zaman Rasulullah SAW.
Semoga pemrintah memberikan perhatian khusus terhadap permasalahan ini. -------------------------------------------------------------------------------------------------- Banyak Pertanyaan-Pertanyaan untuk kita.
Kalo bawa anak, takut ribut dan mengganggu kekhusuan. > Saudaraku... Apakah sahabat lupa, Rasulullah dengan Para Sahabat nya tetap melaksanakan shalat berjamaah di medan perang? Bagaimana dengan Shalahuddin Al Ayyubi dan Muhammad Al-Fatih. penakluk kota Konstatinopel.
Dan Apa yg di katakan sang penakluk kota Konstatinopel ini ?? " Jika suatu saat masa kelak kamu TIDAK lagi mendengar bunyi bising dan gelak tertawa anak-anak riang di antara shaf-shaf Shalat di masjid-masjid, maka sesungguhnya takutlah kalian akan kejatuhan Generasi muda kalian di masa itu " dan ini BAHAYA saudaraku..
Masa kita hanya karena anak kecil saja sudah begitu enggan membawa anak ke masjid atau kita melarang nya. Biarkanlah anak-anak bermain dan bercanda di lingkungan masjid-masjid dan suraw-suraw. agar ia mencintai dan terbiasa di lingkungan2 masjid. Apakah sahabat akan malah senang ia di biarkan bermain HP, android, Gadget, Game, Warnet?? Biarkan ia hidup terbiasa senang dan bermain di masjid, biarkan ia mencintai masjid.
ada pertanyaan, Anak kecil merusak Microphone kadang suka berebutan untuk shalawatan, ya Alloh bang beli lagi. Mendingan Mic Rusak karena di Pake shalawatan dari pada rusak karena gak di pakai. Betul?
Pada Akhirnya kita berharap, Keamanan dan Kebersihan tetap terjaga. dan Jama'ah dan Musyafir pulak merasa nyaman di masjid dan suraw-suraw. mendapat palayanan yang santun dan baik dari Penjaga Masjid. Kita saling menjaga keamanan,Kebersihan dan Kenyamanan Masjid-Masjid kita. dan terus memakmurkan masjid-masjid kita. Aamiin
Satu Lagi : Semoga Pemerintah Memberikan Gaji atau Tunjungan Khusus untuk para Pengelola, Penjaga, dan Pengurus Masjid. karena ini bagian dari tugas yang berat dan di uji keikhlasan.

DARAH BIRU



" kalo lihat orang Jawa miskin kok nggak kasihan-kasihan amat? Begitu orang kulit putih yang miskin, kok jadi kasihan banget? Hahaha!"
Tentu saja, kesan yang muncul di benak emak saya itu lazim saja bagi masyarakat awam pascakolonial. Kita pernah dijajah orang Eropa selama ratusan tahun. Citra orang kulit putih selalu kuat dan hebat, juga kaya raya. Kita inferior di depan mereka. Apalagi pada masa selepas perang pun hegemoni budaya kulit putih terus meneguhkan superioritas mereka. Lewat film, lewat foto-foto, lewat produk-produk teknologi, dan entah lewat apa lagi.
Maka, para turis bule yang datang ke tempat kita pun selalu kita anggap orang-orang kaya. Jadi jangan kaget kalau teman Anda yang berpenampilan Kaukasoid diminta membayar dua atau tiga kali lipat dari harga biasa, saat makan-minum di angkringan dekat rumah saya. Dia di-thuthuk, kalau istilah Jawanya. Lha semua orang bule kan pasti kaya! Hehehe.
Hari ini, setelah media jenis apa pun dengan gampang kita akses, setelah jangkauan pergaulan meluas dengan aneka kemudahan untuk melawan sindrom kurang piknik, kita tahu bahwa teori sosial "semua orang kulit putih pasti kaya" itu mitos belaka. Kita paham bahwa banyak wisatawan di bilangan Prawirotaman, Jogja adalah para buruh rendahan di negaranya. Kita mengerti bahwa tak sedikit turis Australia yang mabuk-mabukan di Legian adalah pengangguran di negeri mereka, mendapat santunan dari negara, lalu dengan uang santunan itu mereka ke Bali menghabiskan dolar untuk bertamasya.
Sebagaimana tidak semua orang kulit putih itu kaya, tidak semua juga orang kulit berwarna itu miskin. Kaya dan miskin toh bukan takdir yang melekat pada warna kulit dan ciri fisik. Orang bisa kaya karena banyak kemungkinan. Karena kerja keras dipadu kemampuan berhemat, karena cerdik campur licik, karena hidupnya beruntung terus, karena punya akses ke banyak sumber ekonomi, karena licin dan lincah dalam bergaul, karena berkah doa orangtua, dan lain-lain. Tapi kita semua pasti mencibir kalau ada orang mengaku mak-cling otomatis jadi kaya hanya karena sejak lahir sudah membawa warna kulit tertentu sesuai warna kulit bapak-ibunya.
Iya, kan? Setuju, kan? Kayak gitu aja kok masih pakai dibahas....
Saya paham, memang banyak warga keturunan sukses dalam perjuangan ekonominya. Mereka kaya-kaya. Namun asal muasalnya tidak terletak pada etnisitas mereka. Mereka kaya karena bekal mentalitas perantau yang berjibaku melakukan apa saja untuk memenangkan hidup. Mereka kaya karena di masa Orba tidak boleh menjadi ABRI maupun pegawai negeri, sehingga mayoritas di antara mereka menempuh satu-satunya jalan yakni berdagang. Tidak ada tentara dan polisi yang kaya raya kecuali korupsi, dan tidak ada pegawai negeri yang makmur sejahtera kecuali punya sabetan rupa-rupa.
Sementara, pedagang yang kaya ya banyak. Kalau mau kaya ya jadilah pedagang. Jangan jadi karyawan, apalagi jadi penulis.
Saya juga paham, pada awal masa Orba banyak keluarga keturunan difasilitasi negara untuk membangun kerajaan bisnis mereka. Mereka memang sengaja dibesarkan Orba, sehingga kemudian para konglomerat Indonesia didominasi oleh keturunan. Langkah itu ditempuh rezim Suharto karena blue print yang cerdik. "Meski kelompok minoritas kuat secara ekonomi, mereka tetap tidak akan melawan kekuasaan karena jumlahnya sedikit. Tapi kalau yang dibesarkan Soeharto adalah kelompok mayoritas, misalnya umat Islam, ada kemungkinan suatu saat mereka akan melawan. Dan, itu ancaman." Begitu lebih kurang yang disampaikan Prof. Vedi Hadiz dalam sebuah kuliahnya. Cari saja di Youtube kalau nggak percaya.
Nah, meski memang ada keluarga-keluarga keturunan yang dibesarkan Orba, apa iya keberuntungan mereka itu otomatis jatuh kepada semua orang keturunan di Indonesia? Keluarga Salim mungkin masih eksis dan perkasa, tapi apa ada efeknya ke bapak berkulit kuning bermata sipit yang jualan bolang-baling di sudut Jalan Bantul, yang tiap kali saya lewat selalu saya lirik warungnya yang sepi itu? Keluarga Hartono mungkin masih menikmati kejayaan mereka, tapi toh seseorang keturunan nggak lantas bisa hidup ongkang-ongkang, masih dibelain mengedit naskah tiap hari dan cari proyek penulisan di sana dan sini.
Selebihnya, meski saya punya banyak teman beretnis keturunan, justru orang-orang paling tajir yang saya kenal, yang aset ekonominya berjibun dan tanahnya ada di mana-mana, justru mereka yang so called"pribumi".
Lha 'mereka' yang berkhianat itu siapa? Kalau kakeknya nenek saya alias simbah canggah saya menjilat Belanda sehingga kemudian diangkat jadi pemuka desa dalam struktur pemerintahan kolonial, apa sampeyan mau menyebut saya sebagai anti-republik? Kalau punya kakek buyut yang turun dari sebuah kapal Inggris lalu membantai orang-orang Aborigin, apakah saya harus menyebut itu sebagai pelanggar HAM? Siapa yang bisa memilih orangtua? Siapa yang bisa memilih terlahir sebagai orang Jawa, orang Bali, atau orang Dayak? Siapa yang bisa menentukan nasib untuk terlahir dalam keluarga Kraton, atau dari keluarga jelata? Anda bisa? Hebat dong.
Kadang saya merenung-renung, bisa jadi alam pikiran semacam itu tetap masuk akal juga pada masanya. Tapi, hmm, semua tentu ada masa berlakunya.
Dulu, di Amerika Serikat bagian selatan pada masa Jim Crow, orang pun meyakini bahwa struktur otak manusia berkulit hitam memang menakdirkan mereka untuk selalu patuh dan cocok disuruh-suruh. Jadi orang kulit hitam memang harus menjadi budak. Namun kemudian sains dan naluri kemanusiaan menemukan bahwa itu semua hoax belaka.
Dulu, banyak orang Jawa meyakini bahwa orang Eropa memang ditakdirkan berkuasa, dan kaum pribumi ditakdirkan sebagai kawula. Namun belakangan muncul gagasan kebangsaan, gagasan kesetaraan, dan perjuangan harkat kemanusiaan yang menolak penjajahan. Akhirnya keyakinan lama itu runtuh porak poranda.
Sebagaimana teknologi, barangkali beberapa sistem logika pun mengalami masa kadaluarsa. Namun tidak semua orang mau mengakuinya