Putriku Aurora Rishanaov Alfatiha (UFA) bukan si juara umum (di sekolah dulu waktu di kalimantan bisa juara 2 disekolahnya nilai tertinggi tapi di jawa juara terbawah), bukan bintang utama di pengajian, juga bukan pemain inti di lapangan badminton, dan tidak juga juara melukis ataupun pemenang lomba beladiri.
Dia adalah anak-anak tiga belas tahun , kelas Enam SD, yang senang bermain tiada henti, menikmati keciprak air hujan, mengayuh sepeda menantang angin, dan tak terlalu suka belajar sejak di jawa(belajar dalam pengertian umum orang Indonesia, yaitu membaca buku pelajaran sampai hafal titik koma nya).
Ini menyebabkan rumah eyangnya tak punya piala, kecuali punya saya dulu juara 2 basket dan penghargaan lainya.
Terkadang, sebongkah kecewa bergayut di hati, kecewa pada nilai matematikanya yg tak sempurna padahal soalnya gampang, kecewa pada hafalan surat pendek al quran yang masih salah, kecewa pada kegagalan menggambar yang masih belum stabil, tidak seperti saya yang pernah dapat penghargaan.
Mana pialamu , duhai kesayanganku?
“Kamu adalah ayah yang sangaaaaaaaaat jauh dari sempurna, dan putrimu tak pernah menuntut lebih, dia ikhlas, tak melayangkan protes atas segala kekuranganmu, lalu kenapa kamu tak membalasnya dengan cara serupa? Kamu sedemikian banyak menuntut dari putrimu,” aku terkesiap.
Kau mencuci piring, dan mencuci pakainnya, sebelum kusuruh. mengaji yang sudah mengenal sejak umur setahun dan sudah mulai mengenal alquran, sudah berpuasa penuh sejak TK.
Aku tertidur pulas, terbangun dengan sentuhan jemarimu di badanku yang sedang lelah dengan pijatan lembut, terasa lepas lelahku dengan pijatanmu, semua tanpa kuminta.
Memasak hanya telur mata sapimu membuat rasa lahap makan malamku.
Mataku menghangat, kuterima dengan seksama, seperti pak presiden menerima bendera pusaka.
Terimakasih putriku, engkau telah memberi piala juaramu, dan ini adalah sebenar-benarnya piala, piala yang sesungguhnya untukku.
Nak, ijinkan aku mencium tanganmu, sebagai wujud permohonan maaf atas segala tuntutanku...
Putriku yang shalihah... juara yg sesungguhnya
No comments:
Post a Comment