Garam sangat dibutuhkan, selain digunakan untuk rumah tangga sebagai garam dapur juga banyak digunakan oleh berbagai macam industri, seperti industri pangan dan kuliner, industri obat-obatan, industri kosmetik, industri kertas, industri tekstil, dan sebagainya. Artinya, garam memang sangat dibutuhkan manusia dalam siklus hidupnya. Makanan tanpa garam, yang berfungsi mengikat bumbu, akan terasa hambar. Zat warna tekstil tidak akan melekat dengan baik di kain tanpa dilarutkan dengan NaCl atau garam, dan sebagainya.
Jenis garam memang dibagi dua, yaitu garam untuk rumah tangga/konsumsi dan garam untuk industri. Kedua jenis garam ini mempunyai spesifikasi dan kualitas yang berbeda. Garam industri dapat dipakai di rumah tangga sebagai garam dapur tetapi garam rumah tangga tidak dapat dipakai sebagai garam industri. Petambak atau petani atau pembudidaya garam di Indonesia dan PT Garam (Persero) umumnya memproduksi garam dapur, bukan garam industri yang memerlukan proses lanjut.
Garam produksi petani masih dibuat dengan cara primitif, yaitu mengeringkan air laut di kolam/tambak yang sudah disiapkan di tepi pantai. Produksinya sangat tergantung pada cuaca, terutama panas matahari. Tanpa panas matahari yang cukup, produksi garam pasti jeblok. Petani garam di Indonesia dan PT Garam belum tersentuh teknologi, akibatnya hampir seluruh produksi garam rakyat tidak dapat digunakan sebagai garam industri. Kalaupun dapat, proses pembuatannya mahal, kualitas tidak konstan, dan jumlahnya terbatas. Sementara garam impor (misalnya dari Australia) berasal dari tambang garam yang tidak tergantung pada cuaca.
Jadi jangan heran jika petani garam di Indonesia tidak pernah hidup sejahtera. Bahkan PT Garam pun "senin-kamis" nasibnya. Selain cara produksinya primitif, mereka juga tergantung hidupnya pada makelar atau tengkulak yang pada umumnya hidup sejahtera. Makelar ini berdasi dan punya power, jadi bisa menguasai media dengan baik, Pemerintah pun kewalahan. Kasus garam sama dengan kasus gula. Lalu, apa yang harus dilakukan oleh pemerintah supaya krisis garam tidak terus berulang?Dengan kondisi industri garam rakyat yang "senin-kamis" karena nir teknologi dan meningkatnya kebutuhan garam industri, maka pemerintah dalam jangka waktu pendek tidak mungkin bergantung pada produksi garam rakyat karena untuk diolah menjadi garam industri selain membutuhkan teknologi yang mahal juga perlu waktu, sementara kebutuhan sudah mendesak. Impor garam merupakan satu-satunya cara yang lebih murah karena berasal dari tambang garam yang kualitasnya memenuhi kriteria atau standar industri, misalnya dari Australia dan India.
Di sisi lain pemerintah dalam hal ini Kementerian Negara BUMN harus memberdayakan PT Garam melalui penggunaan teknologi at any cost supaya dapat menghasilkan garam dengan standar industri, murah, dan suplainya berkelanjutan. Masalahnya, bagaimana kita mau sombong dengan mempertahankan produksi lokal yang mahal dan tidak bisa berkelanjutan, sementara ada produk impor yang jauh lebih murah, berkualitas prima. Garam industri impor bisa jadi mahal karena makelarisasi berdasi yang selama ini berkeliaran. Kita tunggu apa rencana ke depan pemerintah untuk memenuhi kebutuhan garam industri yang terus meningkat.
Jadi, yang penting memang pemerintah harus melakukan pengawasan dan penegakan hukum secara baik, benar, dan tegas. Tanpa itu sudah pasti garam industri impor akan berceceran sebagai garam konsumsi di pasar-pasar, persis sama dengan kasus gula industri impor. Salam!
No comments:
Post a Comment