JALAN-jalan
ke Yogyakarta, tak lengkap jika tidak mengunjungi Keraton Yobyakarta.
Istana kesultanan ini selain menjadi obyek wisata, juga memberikan
pengetahuan tentang sejarah bangsa. Jalan Malaiboro adalah kawasan
wisata yang banyak dikunjungi wisatawan dosmetik maupun mancanegara.
Jika sudah berada di kawasa ini, tidak sulit menuju Keraton Yogyakarta.
sejurus pandang, diujung jalan Malaiboro kita bisa melihat alun-alun
yang tepat berada di depan keraton.
Mau jalan kaki boleh,
maupun naik angkutan umum, misalnya becak juga silahkan. Pastinya dengan
angkutan umum hanya dalam tempo paling lama sekitar 10 menit sudah
sampai di keraton, tapi kalau berjalan kaki lebih dari itu waktu
tempuhnya. apalagi jika jalan kaki bersama teman-teman, rasa capek tidak
terasa. Kita bisa melihat berbagai bangunan tua yang masih difungsikan,
melihat taman dan alun-alun serta pemandangan khas kota Gudeg yang juga
disebut Kota Pelajar
Setiap hari keraton banyak dikunjungi wisatawan. Setelah membayar karcis masuk, kita bisa minta panduan para
guide
keraton. Komplek bangunan keraton ini masih berfungsi sebagai tempat
tinggal sultan dan rumah tangga istananya yang masih menjalankan tradisi
kesultanan hingga saat ini. Namun yang kita masuki adalah komplek
keraton, bukan keraton atau istana sultan. Di komplek keraton ini banyak
bangunan antara lain pendopo, asrama, benda sejarah, museum yang
menyimpan berbagai koleksi milik kesultanan, termasuk berbagai pemberian
dari raja-raja Eropa, replika pusaka keraton, dan gamelan.
Bangunan di komplek keraton ini merupakan salah satu contoh arsitektur
istana jawa yang terbaik, memilki balairung-balairung mewah dan lapangan
serta paviliun yang luas. Secara umum terdiri dari halaman yang
ditutupi dengan pasir dari pantai selatan, bangunan utama serta
pendamping, dan kadang ditanami pohon tertentu. komplek satu dengan yang
lain dipisahkan oleh tembok yang cukup tinggi dan dihubungkan dengan
regol yang bisanya bergaya Semar Tinandu.
Meski
bangungn-bangunan di komplek Keraton Yogyakarta lebih terlihat bergaya
arsitektur Jawa tradisional, tapi di beberapa bagian tertentu tampak
sentuhan dari budaya asing di antaranya Portugis, Belanda dan Cina.
setiap bangunan memiliki kelas tergantung pada fungsinya termasuk
kedekatannya dengan jabatan penggunanya. Berkeliling Keraton ternyata
tidak cukup waktu satu jam. Ada beberapa museum yang menjadi daya tarik,
sehingga membuat pengunjung betah berlama-lama mengamati benda
peninggalan keraton.
Tidak terasa hampir tiga jam keluar
masuk beberapa museum, bangunan dan melihat-lihat berbagai penampilan di
sana, antara lain permainan gamelan dan pertunjukkan wayang kulit.
Keluar komplek baru terasa capek.
ayo ke keraton ngayogyakarta