Monday, 16 February 2015

MENGHILANGKAN PENAT MARI MEJENG DULU

MENGHILANGKAN PENAT MARI MEJENG DULU

     JALAN-jalan ke Yogyakarta, tak lengkap jika tidak mengunjungi Keraton Yobyakarta. Istana kesultanan ini selain menjadi obyek wisata, juga memberikan pengetahuan tentang sejarah bangsa. Jalan Malaiboro adalah kawasan wisata yang banyak dikunjungi wisatawan dosmetik maupun mancanegara. Jika sudah berada di kawasa ini, tidak sulit menuju Keraton Yogyakarta. sejurus pandang, diujung jalan Malaiboro kita bisa melihat alun-alun yang tepat berada di depan keraton.
     Mau jalan kaki boleh, maupun naik angkutan umum, misalnya becak juga silahkan. Pastinya dengan angkutan umum hanya dalam tempo paling lama sekitar 10 menit sudah sampai di keraton, tapi kalau berjalan kaki lebih dari itu waktu tempuhnya. apalagi jika jalan kaki bersama teman-teman, rasa capek tidak terasa. Kita bisa melihat berbagai bangunan tua yang masih difungsikan, melihat taman dan alun-alun serta pemandangan khas kota Gudeg yang juga disebut Kota Pelajar
     Setiap hari keraton banyak dikunjungi wisatawan. Setelah membayar karcis masuk, kita bisa minta panduan para guide keraton. Komplek bangunan keraton ini masih berfungsi sebagai tempat tinggal sultan dan rumah tangga istananya yang masih menjalankan tradisi kesultanan hingga saat ini. Namun yang kita masuki adalah komplek keraton, bukan keraton atau istana sultan. Di komplek keraton ini banyak bangunan antara lain pendopo, asrama, benda sejarah, museum yang menyimpan berbagai koleksi milik kesultanan, termasuk berbagai pemberian dari raja-raja Eropa, replika pusaka keraton, dan gamelan.
      Bangunan di komplek keraton ini merupakan salah satu contoh arsitektur istana jawa yang terbaik, memilki balairung-balairung mewah dan lapangan serta paviliun yang luas. Secara umum terdiri dari halaman yang ditutupi dengan pasir dari pantai selatan, bangunan utama serta pendamping, dan kadang ditanami pohon tertentu. komplek satu dengan yang lain dipisahkan oleh tembok yang cukup tinggi dan dihubungkan dengan regol yang bisanya bergaya Semar Tinandu.
     Meski bangungn-bangunan di komplek Keraton Yogyakarta lebih terlihat bergaya arsitektur Jawa tradisional, tapi di beberapa bagian tertentu tampak sentuhan dari budaya asing di antaranya Portugis, Belanda dan Cina. setiap bangunan memiliki kelas tergantung pada fungsinya termasuk kedekatannya dengan jabatan penggunanya. Berkeliling Keraton ternyata tidak cukup waktu satu jam. Ada beberapa museum yang menjadi daya tarik, sehingga membuat pengunjung betah berlama-lama mengamati benda peninggalan keraton.
     Tidak terasa hampir tiga jam keluar masuk beberapa museum, bangunan dan melihat-lihat berbagai penampilan di sana, antara lain permainan gamelan dan pertunjukkan wayang kulit. Keluar komplek baru terasa capek.
ayo ke keraton ngayogyakartaayo ke keraton ngayogyakarta

No comments:

Post a Comment