Friday, 20 July 2018

SONTOLOYO



Siang itu cuaca terik. Saya meluncur ke Pasar kota Banjarnegara karena ingin membuktikan informasi seorang teman, katanya, ada penjual pecel plus combrang, buntil dan dawet ayu yang enak Khas Banjarnegara Jawa Tengah Indonesia raya .....he...he.... Saya memesan masing-masing empat bungkus untuk dibawa pulang.
Teman saya tidak berbohong. pecel plus combrang pedas segar, buntil yang nylekamin dan dawet ayu rasa durennya mantap. Cocok dinikmati di tengah udara panas.
Namun, menyaksikan sampah plastik belanjaan tersebut, saya diganduli perasaan bersalah.
Tiap porsi pecel diwadahi mangkuk plastik pengganti daun pisang yang semakin langka, tiap porsi dawet diwadahi gelas plastik, belum lagi sendok-sendok plastik, dan sepasang tas kresek untuk membawanya. Betul-betul tidak ramah lingkungan.
Beberapa hari sebelumnya saya menemukan infografis tentang berapa lama waktu yang diperlukan untuk proses penguraian beberapa jenis sampah. Tas kresek perlu 10-20 tahun. Sendok plastik perlu 100-100 tahun. Beberapa jenis sampah --diwakili gambar botol plastik-- diperkirakan tak bakal terurai. Kecuali kalau kena bom nuklir barangkali. Ngeri.
Bukan cuma susah terurai, menurut sebuah artikel di Time, sampah plastik juga merusak perairan, membuatnya kebak bibit penyakit. Salah satu dampaknya, kerusakan terumbu karang.
Itu baru satu jenis sampah. Kalikan dengan beragam sampah yang mencemari alam. Lipat gandakan dengan gaya hidup yang tidak ramah lingkungan dari kebanyakan orang. Bayangkan dampaknya jika berbagai sampah itu terus terakumulasi bertahun-tahun. Ngeri kuadrat!
Bagaimana kita bisa sedia payung sebelum hujan --mencegah jauh-jauh hari biar bumi tak rusak kian parah gara-gara kesembronoan dan ketidakpedulian manusia?
Suku Indian Amerika punya ucapan bijak, "Kita bukan mewarisi Bumi ini dari nenek moyang kita; kita meminjamnya dari anak-cucu kita." Kalimat ini kerap digunakan para aktivis lingkungan untuk menyerukan pentingnya pelestarian alam.
Dalam konteks negara kita, yang Pancasilais dan ber-Ketuhanan yang Mahaesa, kalimat itu dapat diselaraskan: "Bumi ini adalah pinjaman atau titipan Tuhan --suatu amanah-- untuk kita gunakan dan kita pelihara, untuk kita daya gunakan bukan hanya bagi generasi saat ini, melainkan juga generasi-generasi yang akan datang sampai akhir zaman."
Yang jelas, kedua hal tersebut --warisan dan pinjaman-- mengandung perbedaan yang halus, tetapi sangat tajam. Berlainan beban moralnya.
Warisan menyiratkan bahwa kitalah sang pemilik. Kita boleh berbuat semaunya atas Bumi ini. Mau kita keruk mineralnya sambil tandas, mau kita sedot air dan minyaknya sampai kerontang, mau kita babat hutan pohonnya menjadi hutan beton, mau kita cemari air, tanah, dan udaranya, siapa peduli?
Bagaimana dengan generasi berikutnya? Ya, kita tinggalkan dan kita sisakan bagi mereka dalam keadaan seadanya. Kalau masih baik dan berlimpah, ya syukurlah. Kalau sudah rusak dan tercemar, ya merekalah yang mesti berusaha memperbaikinya. Memangnya ada makan siang gratisan?
Sikap yang betul-betul jahanam. Kita tentu akan memaki jika ada orangtua yang sesontoloyo itu. Nyatanya, entah dalam dosis rendah entah dosis tinggi, kita sering memperlakukan Bumi ini dengan sesuka hati tanpa memikirkan dampak masa depannya, bukan?
Pinjaman atau titipan mengingatkan bahwa kita ini hanya petugas atau penjaga sementara. Kita mengelola, merawat, dan memanfaatkan Bumi seperlunya. Pada waktunya kita mesti mengembalikan bumi ini kepada Sang Pemilik, dan bagi generasi penerus --dalam keadaan seperti semula, bahkan jika mungkin dalam kondisi lebih baik.
Lain kali kepingin menikmati pecel, buntil dan dawet ayu lagi, tampaknya saya perlu berpikir ulang. Mungkin cukup makan di tempat saja. Atau, membawa wadah dari rumah. Atau, kalau terpaksa membawa pulang wadah plastik, perlulah saya memikirkan bagaimana bisa mendaur ulang sampahnya.
Ribet ya? Siapa bilang bertanggung jawab atas barang pinjaman itu tidak repot. Kalau tidak mau repot ya jangan pinjam.
Perbedaan antara warisan atau pinjaman ini bukan hanya menyangkut masalah sampah dan lingkungan. Hal itu juga bisa meluas ke soal sikap hidup dalam berhubungan dengan sesama.
Ketika kita hidup dalam pertengkaran dan kebencian, misalnya, kita merusak kehidupan yang dipinjamkan pada kita, dan merampas kesempatan generasi berikutnya untuk menikmati kebaikan hidup, kesempatan untuk menjalani kehidupan dalam persaudaraan dan perdamaian. Sebaliknya, ketika kita mengembangkan kebajikan, kita memelihara kehidupan ini bagi generasi yang akan datang.
Jadi, rupanya saya bukan hanya perlu mengontrol sampah dan polutan lainnya, tetapi juga sikap dan gaya hidup yang berpotensi mencemari dan mencekik kesejahteraan lintas generasi. 

GILA


Aparat keamanan segera mencari tahu dan menangkap siapa para pelaku penganiayaan ustadz, tokoh agama, dan persekusi kepada berbagai tempat ibadan lainnya. Mereka harus segera memperjelas keadaan sehingga pertanyaan umat Islam dan berbagai pihak lainnya segera dapat dijelaskan.
‘’Jadi buatlah semua kasus kekerasan kepada para agamawan dan tempat ibadah menjadi jelas. Rakyat kini penasaran dan ingin tahu. Petugas keamanan yang memang bertugas untuk itu menjelaskannya,
Beberapa hari lalu misalnya ada ustadz yang digebuki seseorang. Setelah pelakunya ditangkap kata Polisi dia adalah orang gila. Di Yogyakarta ada orang dari Banyuwangi atau di luar jamaah memukuli pastur. Sedangkan kemarin ada warga menangkap ada orang yang ditangkap karena dianggap sebagai orang gila yang akan melakukan kekerasan kepada seorang tokoh agama.
‘’Semua ini harus jelas karena seperti dilakukan secara masif dan terencana. Apakah benar pelakunya adalah orang gila atau orang yang jahat. Jadi ini yang harus dibuka ke publik,’’.
Umat Islam dan Ormas Islam punya pengalaman yang cukup terkait segala kasus kekerasan yang menimpa tokoh atau ulamanya. Dan ini terjadi sepanjang kurun waktu yang lama. Bukan hanya zaman Orde Baru, tapi sudah menyintas ke era Orde Lama bahkan era zaman kolonial.
‘’Jadi sudah kenyang terhadap apa yang telah terjadi. Maka butuh penjelasan yang seterang-terangnya dari pihak keamanan serta pihak lain di negera ini yang memang sudah diembani tugas untuk itu,’’.
Seperti ramai beritakan, penyerangan terhadap ulama beberapa hari lalu kembali terjadi. Kali ini, percobaan penyerangan terjadi terhadap KH Hakam Mubarok, yang merupakan Pimpinan Pondok Pesantren Muhammadiyah Karangasem Paciran, Lamongan, Jawa Timur.
Menurut informasi dapatkan, kejadian itu langsung dari warga setempat. terdapat seorang laki-laki muda diduga gila duduk di pendopo rumah Yai Man. Kemudian, Kiai Hakam menyuruh orang gila tersebut untuk pindah. Akan tetapi, orang gila tersebut tidak mau dan akhirnya justru mengejar dan melawan Kiai Hakam hingga ia terjatuh.
"Alhamdulillah ada orang yang mengamankan atau memisahkan. Pelaku kemudian diringkus dan kemudian diserahkan kepada pihak yang berwajib. Kendati demikian, orang gila tersebut tidak tampak seperti gila dari tanda fisiknya. Karena rambut dan giginya juga bersih.
Dengan rentetan peristiwa tersebut sebagai Pr buat kita semua dan selalu waspada, semoga bisa terungkap motifnya dan masyarakat bisa tenang kembali,

SEKS


Kapan sebaiknya anak dikenalkan dengan materi seks? Ini pertanyaan yang sering diajukan. Menariknya, pertanyaan ini sering pula diajukan orangtua mengenai banyak hal, bukan hanya soal seks. Jawaban saya adalah, tidak ada standar. Anak-anak itu unik. Perkembangan mereka pun unik. Maka, untuk memulai sesuatu soal anak, kita tidak bertanya tapi mencari jawabnya dari anak kita sendiri. Jangan pernah menjadikan anak orang lain sebagai acuan. Kalau kita biasa berkomunikasi dengan anak, kita akan tahu kapan saat yang tepat untuk melakukan atau mengajarkan sesuatu.
Kalau kita memandang seks sebagai soal yang bukan melulu soal senggama, maka sebenarnya soal pendidikan seks bukan hal yang sangat spesifik. Ini hanya soal informasi biasa, sesederhana memperkenalkan bahwa ayah adalah laki-laki, dan ibu perempuan. Selanjutnya, secara alami kita jelaskan apa beda laki-laki dan perempuan. Dari situ kita bisa mulai menjelaskan soal perbedaan anatomi.
Menjelaskan soal kelamin memang sering jadi hambatan bagi banyak orang. Banyak orang merasa rikuh atau sungkan. Apa masalahnya? Masalahnya bukan pada topik yang dibahas, tapi soal persepsi yang ada di benak orang tentangnya. Kita semua dibesarkan dengan memandang seks sebagai tabu. Maka, kita enggan membicarakannya.
Untuk menyederhanakannya, ingatlah bahwa alat kelamin hanyalah salah satu bagian dari tubuh. Dalam pelajaran biologi, anak-anak belajar soal sistem kerangka tubuh, otot, peredaran darah, saraf, dan sebagainya. Kelamin adalah bagian dari sistem reproduksi. Tidak ada yang istimewa soal itu dari sudut pandang anatomi. Maka, tidak perlu pula pembahasannya dilakukan secara istimewa.
Maka jelaskanlah bagian-bagian tubuh secara apa adanya. Dengan cara itu anak-anak akan memandang soal seksualitas secara alami. Rasa malu atau sungkan kita justru akan membuat topik ini menjadi misterius, dan sulit dijelaskan.
Anak-anak di usia dini biasanya tidak bertanya soal senggama. Mereka lebih sering bertanya soal dari mana aku berasal, atau adik bayi berasal. Ketika pertanyaan itu muncul, jawaban yang harus kita berikan adalah jawaban yang benar, dalam bahasa yang mudah dicerna anak.
Cepat atau lambat, kita memang harus menjelaskan soal senggama. Dalam soal ini, tembok kejengahan orangtua jadi menjulang tinggi. Apakah senggama demikian istimewa? Sama seperti penjelasan soal organ, senggama juga bukan sesuatu yang istimewa. Anak-anak harus belajar soal makhluk hidup yang berkembang biak. Salah satu cara berkembang biak adalah melalui perkawinan. Dalam hal manusia, itu disebut senggama.
Dari sudut pandang lain, manusia melakukan berbagai hal untuk memenuhi kebutuhannya, seperti makan, tidur, dan bergaul. Berhubungan seks hanyalah salah satu bagian dari kebutuhan itu. Anak-anak harus diajarkan untuk memahami senggama dengan cara itu.
Tapi, bukankah senggama hal yang tidak sepatutnya dilakukan secara terbuka? Ya. Ada tata krama untuk setiap tindakan. Makan ada tata kramanya. Ada makanan yang boleh dimakan, ada yang tidak. Saat makan pun ada tata krama yang harus dipatuhi. Demikian pula soal hubungan seks. Ini pun bagian dari pendidikan seks yang harus kita lakukan terhadap anak.
Ringkasnya, tidak ada hal khusus yang membuat seks itu jadi sulit untuk diajarkan. Yang membuatnya sulit hanyalah cara berpikir kita. Untuk membuatnya mudah, ubahlah persepsi kita tentang seks.

MAK PAR



Sebuah kota bernama Banjarnegara diabadikan dalam tiga kata: rindu, pulang dan warung remang. Tetapi, suara-suara dari warung remang seringkali tidak bernada romantik seperti manisnya syair. Dari warung remang yang sempit dan tempias,rerasan tentang para pengutang yang pergi tanpa bayar lebih sering jadi objek pembicaraan.
"Yu Nah utang makan seminggu di sini 24 ribu tidak kutagih. Biar sajalah. Biar sadar sendiri."
Penjual warung remang Mak Par mengadu kepada seorang tukang becak yang juga ngutang "udud" di warungnya. Yang dimaksud Yu Nah itu konon seorang janda dengan penghasilan tak menentu yang berasal dari rupa-rupa pekerjaan seperti buruh laundry, memijat, dan lainnya. Yu Nah punya dua anak yang masih bersekolah.
Gerimis rapat. warung remang yang sempit tetap hangat bersama empat ceret berisi rebusan air yang sewaktu-waktu dituang untuk membuat teh hangat, jeruk hangat dan krampul hangat. Minuman jenis terakhir itu nikmat sekali, terbuat dari teh tubruk yang dicampur dengan perasan air jeruk. Orang kota biasa menyebut dengan lemon tea, tapi lemon tea sudah pasti hanya tersaji di kedai, kafe atau restauran, bukan pada sebuah gerobak dengan atap terpal di pinggir jalan atau di sudut jalanan kampung dengan penerangan lampu minyak ketika malam menjelang.
Ketika mengenang warung mak Par sewaktu saya masih sekolah SDN Krandegan VI yang sudah tergerus jaman Now karena dengan perluasan SDN IV barangkali sedang mengenang teman-temannya yang sering jajan makanan ke warung mak par yang bersebelahan dengan sekolah SD VI. Warung Mak Par sesungguhnya juga milik para sales yang kejar setoran, tukang ojek pangkalan, pegawai kantor dan pegawai pabrikan dengan upahan rendah, pekerja seks komersial (PSK) dan pencopet. Soal PSK, tentu bisa kau jumpai mereka di warung ini yang ada di sudut lokalisasi. Dari profesi terakhir itu, kau bisa dengan mudah mendengar rencana konspirasi mereka di warung remang-remang seputaran tempat wisata. Mereka sungguh berbicara dengan blaka suta, blak-blakan alias tanpa malu-malu ketika bercerita tentang pengalamannya terpeleset ketika mencuri uang hanya beberapa polohan rupiah saja di sebuah kosan atau berbagi cerita perihal keluar-masuk bui karena aktivitasnya.
Namun, yang ngangeni dari warung Mak Par sesungguhnya adalah sego kucing dan segala macam penganan pelengkapnya. Sego isi sambel bandeng, sambel teri, dan orek tempe adalah primadona, bersama tempe mendoan, tahu isi, sate telor sunduk, pisang goreng, dan kerupuk rantang. potret unik. Di kota ini, manusia di warung ini tidak bisa ditebak latar belakang sosialnya. Manusia dengan penghasilan 15 ribu rupiah per hari hingga mereka yang menghasilkan puluhan juta dalam hitungan jam, memiliki kualitas perut yang sama dalam mencerna hidangan yang murah meriah. Dari tenda yang suk-sukan ini, manusia disatukan dalam bahasa kesederhanaan.
Sementara itu, di televisi, narasi orang-orang kelas bawah disajikan dengan begitu memuakkan. Orang miskin di televisi adalah objek tayangan reality show dengan konsep pelunasan utang, pemberian hadiah atau tukar nasib. Untuk rating, mereka dijual dengan tayangan mengumbar kesedihan yang membangkitkan rasa emosional dan iba. Tak jarang, mereka juga dijual sebab wajah ndeso, keluguan, kelucuan dan kekonyolannya. Potret wajah orang miskin di televisi adalah kepedulian yang naif pada realitas ketimpangan ekonomi yang dihasilkan oleh tindak korupsi, penyalahgunaan wewenang dan hukum yang tidak berpihak.
Wajah orang miskin di warung adalah wajah nyata dan suara-suara tentang hidup yang berjuang. Perihal utang makan yang seminggu tak dibayar adalah kearifan khas masyarakat kita yang jiwanya teruji lapang dan besar. Dulu sekali, warung malah tidak tersaji pada gerobak. Hidangan Istimewa Kampung itu dipikul dengan angkring, semacam pikulan yang dikombinasikan dari bahan kayu, rotan dan bambu. Penjual yang berkeliling itu melahirkan tradisi mengobrol, melanggan, hingga persaudaraan.
Belakangan ini, kata angkringan mulai dikooptasi dalam wajah baru. Ia tak lagi dipikul angkring atau berupa gerobak beratap tenda terpal. Angkringan masa kini adalah angkringan yang bertempat pada kedai, kafe bahkan resto eksklusif. Sajiannya memang masih berupa ragam sego kucing, berbagai gorengan dan minuman wedangan. Akan tetapi, harganya tentu saja tidak dapat dijangkau oleh tukang becak, buruh pabrikan dan tukang copet. Beragam merek mobil mewah pun memadati halaman parkir angkringan wajah baru ini. Makanan kampung rupa-rupanya sudah naik kelas. Aplikasi makanan pesan-antar memungkinkan sajian dapat dipesan cukup lewat gawai, sehingga tradisi berbincang pun tereduksi dengan banal.
Di Jakarta, hidangan-hidangan kampung ini memang sering laris sebab mewakili sebuah rasa rindu pulang dibanding substansinya sebagai makanan sederhana. Sehingga kehadiran angkringan modern di Jakarta pun ramai dikunjungi pelanggan.
Tenda angkringan atai warung remang yang sempit dan tempias di sudut jalan kampung sesungguhnya adalah wajah sosial sebuah masyarakat. Betapa di sudut-sudut jalan kampung ada orang-orang kecil yang tak pernah merengek meminta keadilan meskipun hidup terhimpit kesulitan. Modal sosial mereka bukanlah kekayaan, tetapi kehangatan percakapan sepanjang hari dan kehangatan persaudaraan. Mereka hidup terhormat dengan cara menyenangkan, meskipun sejarah seringkali luput mendokumentasikan 

HUBUNGAN GURU-MURID


Saya jadi ingat, suatu hari, seorang akademisi di disuatu daerah, meminta saya mengirim riwayat hidup atau CV (Curriculum Vitae). Saya pun segera mengirimkannya melalui email. Yang mengejutkan, esok harinya, dia membalas dan meminta saya untuk melengkapi CV itu dengan menyebutkan nama dua pembimbing skripsi saya. Saya baru sadar, dalam tradisi perusahaan Eropa, siapa yang menjadi guru kita sangatlah penting.
Hubungan guru-murid dalam tradisi akademik di Eropa memang dekat. Di ijazah Sarjana saya, yang tanda tangan selain dekan adalah dua pembimbing saya, dosen senior UGM yg susah banget ditemui karena jam terbangnya ngajar di Eropa. Selama kuliah saya merasakan hubungan saya dengan mereka, laksana hubungan anak dengan orangtua dan laksana musuh, pernah juga mau berkelahi karena suatu pegang prinsip tapi akhir cerita jadi baikan karena salah paham dengan di lerai pihak ketiga.....wkkkkkkk......jadi ingin malu. Hubungan ini terus berlanjut hingga sekarang, meski saya sudah lama selesai Kuliah.
Hubungan yang baik dan hangat antara dosen dan Mahasiswa itu terutama terjalin karena adanya kesamaan minat akademik dan gairah ilmiah. Dalam hubungan itu, keduanya belajar satu sama lain. Guru belajar dari hasil penelitian murid. Murid belajar dari kritik dan saran guru. Di sini, standar akademik tidak boleh dicederai. Jika memang jelek, dibilang jelek. Baik, dibilang baik. Dekat, tetapi tetap profesional.
Menurut George Makdisi (1970) di abad pertengahan Eropa, otoritas universitas umumnya dipegang oleh kerajaan bersama gereja, sehingga yang memberikan gelar dan otoritas  mengajar adalah kedua lembaga itu. Sebaliknya, di dunia Islam, yang berwenang memberikan otoritas atau ijâzah adalah guru. Karena itu, setiap murid bisa mendapatkan beberapa ijâzah dari guru yang sama atau berbeda.
Karena itulah, hubungan guru-murid di abad pertengahan di dunia Islam sangat dekat. Dari kalangan filosof, Ibnu Rusyd adalah murid Ibnu Thufail. Ketika Ibnu Thufail sudah merasa tua, dia meminta kepada sultan agar Ibnu Rusyd yang menggantikannya. Di bidang fiqh, Syafi’i adalah guru dari Ahmad Ibn Hanbal. Keduanya dekat, meski kelak masing-masing menjadi imam mazhab hukum yang berbeda.
Tetapi kini, ketika pendidikan tinggi semakin terlembaga, hubungan guru-murid menjadi semakin formal. Dosen mengajar, memeriksa makalah, membimbing karya ilmiah, kemudian selesai. Rektor dan dekan menandatangani ijazah. Yang mewisuda adalah dekan atau rektor, meskipun bisa jadi keduanya tidak pernah mengajar si mahasiswa. Setelah sarjana, seolah semua sudah usai. Hubungan pun putus.
Di sisi lain, di pesantren, hubungan guru-murid, kiai-santri, tetap berkesinambungan. Kapan pun dan di mana pun bertemu, santri akan tetap mencium tangan kiainya. Di pesantren tradisional, otoritas memberikan ijazah, juga masih dipegang guru, meskipun sertifikat formal tetap diberikan lembaga. Hal ini antara lain karena Islam tradisional masih menjaga tradisi lisan di balik teks-teks keagamaan, yang berasal dari pengarang hingga murid-murid yang mempelajari teks-teks itu di zaman sekarang.
Dengan demikian, tampaknya hubungan guru-murid model Islam abad pertengahan, yang masih bertahan di banyak pesantren, dengan sedikit perbedaan, justru diterapkan oleh dosen-dosen di Eropa. Sebaliknya, pola hubungan yang serbaformal, dan sangat bersifat kelembagaan yang dulu diterapkan di universitas-universitas di Eropa abad pertengahan, justru yang kita lakukan sekarang ini.
Ironisnya lagi, hubungan formal itu kemudian malah berubah menjadi sangat informal dalam bentuk skandal. Guru yang seharusnya menjadi teladan bagi muridnya, justru mengajak si murid ke lembah nista. Tapi, bagaimanakah jika si mahasiswi bukan muridnya? Tentu tak ada beda. Dalam pandangan sosial, guru adalah guru, pendidik yang digugu dan ditiru, meskipun ia tidak mengajar semua orang.

JAMAN NOW



Sebelum memetakan psikologi anak generasi milenial. Mereka dibesarkan oleh internet, khususnya media sosial. Medsos mengaburkan batas-batas hierarki, dan melahirkan karakter komunikasi yang lebih terbebas dari sekat-sekat kecanggungan. Karakter komunikasi itu melekat dalam karakter pribadi-pribadi mereka, terbawa ke pembawaan keseharian. Saya rasa sudah banyak orang yang membahas itu, jadi tak perlu saya perpanjang.
Dalam iklim seperti itu, anak-anak muda cuma menjalani, barangkali, 30% aktivitas tulis-menulis dalam bahasa Indonesia ragam resmi untuk tugas-tugas sekolah dan kampus. Selebihnya, 70% apa yang ia tuliskan dalam hidup sehari-harinya adalah pesan pendek, pesan panjang, unggahan medsos, berikut komentar-komentar serta perdebatan di dalamnya. Bukan mustahil jika teks Whatsapp, Telegram, Line, dan segala unggahan mereka di medsos selama satu semester dibukukan, tebalnya tak akan kalah dengan novel Arus Balik. Eh, mereka baca Arus Balik tidak ya?
Ini beda jauh dengan generasi sebelumnya yang bisa jadi hampir keseluruhan aktivitas menulisnya hanya terkait urusan bangku sekolah, sehingga bahasa tulis yang paling mereka akrabi adalah ragam formal.
Maka, alih-alih hanya menonjolkan keprihatinan perkara tata krama dan ujung-ujungnya nyerempet ke moralitas, selayaknya kita juga menengok pendidikan bahasa, khususnya materi bahasa tertulis. Sudahkah pendidikan bahasa di sekolah menyikapi perkembangan situasi mutakhir dengan medan kebahasaan yang sudah sama sekali berubah ini?
Sebagaimana kita sudah hafal luar kepala, jargon dalam berbahasa Indonesia adalah berbahasa dengan baik dan benar. Poin "baik" di situ dijelaskan sebagai berbahasa yang sesuai dengan situasi dan kondisi. Orang beli cilok tidak perlu memakai bahasa sebagaimana Gubernur DKI berpidato. Seorang pembina upacara tidak pas memberikan amanat dengan gaya bahasa stand up comedy. Dan sebagainya.
Rumus itu tetap selalu bisa diterapkan. Namun, mestinya di masa ini aktivitas menulis sebagai sarana berkomunikasi via gawai oleh anak-anak milenial itu mendapat penekanan khusus untuk mewujudkan kemampuan "berbahasa yang baik", sebanding dengan porsi kebutuhannya dalam realitas yang mereka hadapi sehari-hari. Bukan mustahil nantinya akan muncul pengakuan atas "bahasa tulis ragam pesan pendek", misalnya. Kenapa tidak?
Dengan jalan demikian, pendidikan bahasa menemukan relevansi sosialnya. Ia tidak berhenti sekadar sebagai pengetahuan, melainkan juga sebagai life skill yang konkret, life skill yang sungguh-sungguh menjawab kebutuhan riil anak didik dalam berbahasa. Manfaat utama dari life skill tersebut tentu saja adalah mengoptimalkan lancarnya komunikasi tertulis dengan gawai mereka, dan mengurangi potensi konflik yang sangat mungkin terjadi karenanya.
Ada satu hal yang kerap tidak kita sadari, yakni kemampuan verbal seseorang tidak selalu berbanding lurus dengan kemampuan literernya. Ini berlaku di segala generasi. Berkali-kali saya berjumpa para penulis dengan buku-buku yang begitu memukau, namun dalam forum diskusi kemampuan oral mereka tidak setara dengan kedahsyatan tulisan-tulisan yang melambungkan nama mereka. Demikian pula sebaliknya, orang yang memesona di panggung dengan ceramah mereka tak jarang amburadul tulisannya.
Kemampuan verbal tidak selalu sebanding dengan kemampuan menulis, kemampuan menulis tidak selalu bisa menjadi cerminan kemampuan lisan, dan satu lagi: kemampuan menulis tidak selalu bisa kita jadikan acuan untuk mengukur keterampilan seseorang dalam urusan kesopanan.
Di zaman SMS, saya pun tidak cuma satu-dua kali menjumpai kasus yang kira-kira menunjukkan gejala pola serupa.
Pernah suatu ketika saya menjadi panitia sebuah seminar. Lalu seorang aktivis pers mahasiswa berkirim pesan pendek ke ponsel pisang saya. Bunyinya: "Mas tolong sampaikan tujuan dari acara seminar tadi!!! Apa yang melatarbelakangi Anda memilih tema tersebut!!! Saya tunggu jawabannya!!!"
Pesan-pesan pendek itu sebenarnya hanya bermasalah pada penggunaan tanda seru yang berlebihan. Secara naluriah, kesan yang muncul seketika di kepala saya adalah anak itu berambut cepak, berdiri tegak, dan membentak-bentak saya. Padahal dari maksud mereka—yang sesungguhnya mudah saja kita pahami, mereka berada pada posisi yang sangat membutuhkan saya. Artinya, betulkah mereka mengetik seperti itu karena minimnya tata krama?
Saya yakin bukan itu yang terjadi. Andai saya berjumpa langsung dengan mereka pun (sayangnya tidak), saya percaya mereka tidak melotot di depan muka saya, apalagi sampai menyuruh saya push up 50 kali atau lari keliling lapangan. Mereka akan datang sebagaimana seorang mahasiswa wartawan kampus yang malu-malu, juga seorang pelamar kerja yang berwajah memelas. Mereka tahu tata krama, mereka bisa menerapkan etiket saat berjumpa langsung dengan orang lain. Malangnya, mereka kurang cukup terampil mengaplikasikan konsep unggah-ungguh itu secara tertulis. Itu saja masalahnya.
Rasanya, itu juga yang terjadi pada masa kejayaan Whatsapp ini. Belum tentu mahasiswa yang mengetik pesan pendek ke dosen-dosen mereka itu dari jenis yang sama dengan anak sekolah pencekik guru di Sampang kemarin itu. Jika bertemu langsung, sangat mungkin para pengirim Whatsapp itu sebenarnya baik-baik saja. Cuma, bisa jadi mereka membutuhkan sentuhan lebih dari guru bahasa Indonesia mereka tentang betapa pentingnya menuliskan titik dan koma yang benar pada percakapan semi-verbal di pesan pendek, apa makna tersirat dari hujan lebat tanda seru, bagaimana mengucapkan maaf dan terima kasih yang cocok untuk ragam tertulis nonformal, dan sebagainya.
Oh, ya. Di zaman pra-ponsel, saya sendiri merasa cukup terampil berbahasa tulis. Saya pernah menulis sebuah pesan di balik kertas ujian saya, saya tujukan kepada dosen mata kuliah Kewiraan yang seorang purnawirawan Letnan Kolonel itu.
"Pak, dua tahun yang lalu saya mengambil mata kuliah ini, dan dapat C. Tahun lalu saya mengambilnya lagi, dan dapat D. Semester pendek berikutnya saya kembali mengambilnya, dan dapat C lagi. Sekarang, saya mohon kebijaksanaan Bapak. Terima kasih."
Pesan tertulis itu cukup sopan. Untuk ukuran dosen-dosen jaman now pun, saya rasa bahasa pesan saya itu sudah memenuhi aturan tata krama. Tidak ada kalimat kurang ajar dengan nada memerintah, tidak ada tanda seru banyak, dan tidak ada singkatan-singkatan kata yang asal-asalan.
Meskipun begitu, toh terbukti bahasa tertulis yang halus dan lembut tidak selalu dianggap sebagai jaminan sopan santun dan tata krama. Buktinya jelas sekali: nilai Kewiraan saya akhirnya malah tidak keluar. Wkkkkkkkk.............jadi ingin malu.............

MUSMET


Beberapa hari belakangan ini—atau malah sudah beberapa minggu—telinga saya berdengung. kanan. Rasanya ada selaput tipis di dalam sana, membuat saya tidak bisa mendengar secara optimal. Sudah begitu kepala terasa hangat, terutama saat bangun tidur. Meriang, tapi hanya di bagian kepala.
Kondisi fisik telinga saya terhitung masih bagus, bersih, tidak infeksi karena jamannya di kotabaru Kaliamntan sebagai Penyiar dengan tiap hari memakai headphone. kemasukan air atau penyebab lain. Jadi, saya leluasa melanjutkan kesukaan mendengarkan lagu dengan headphone. Dokter juga menyarankan tidak perlu membersihkan telinga dengan cotton bud. Telinga punya mekanisme sendiri untuk membersihkan dirinya. Itu kabar baiknya.
Kabar buruknya, masalahnya ternyata pada saraf pendengaran saya yang memburuk. Saat diuji dengan garpu tala, telinga kiri saya relatif masih normal, tetapi telinga kanan saya nyaris sudah tidak bisa menangkap getaran penala.
Sekitar satu-dua tahun yang lalu, telinga saya pernah diuji dengan audiometer, dan memang daya pendengaran telinga kanan saya sudah menurun tajam. Hanya, saat itu tidak disertai dengan dengungan dan demam. Kali ini tampaknya saraf telinga saya kian melemah.
Dokter terdahulu mengatakan, ada terapi, tetapi rumah sakit terdekat yang memiliki alatnya, kalau saya tidak salah dengar, ada di Purwokerto dan Semarang. Lumayan jauh dari Banjarnegara. Itu pun tanpa jaminan bakal memulihkan daya pendengaran saya. Saya pun memilih membiarkannya saja. Walaupun tidak optimal, toh masih bisa mendengar.
Dokter yang sekarang kembali meneguhkan hal itu. Kerusakan saraf pendengaran kecil kemungkinannya untuk pulih—kecuali kalau terjadi mukjizat. Yang bisa dilakukan paling banter adalah periksa rutin tiga bulan sekali, mengkonsumsi obat untuk menstabilkan saraf, dengan harapan proses kerusakan bisa diperlambat. Juga untuk meredakan efek berupa dengungan dan demam lokal tadi. Selain itu, saya dianjurkan menghindari kebisingan. Kalau memang perlu benar, bisa pula saya mengenakan alat bantu dengar pada telinga kanan.
Saya manggut-manggut. Beginilah hidup. Beginilah tubuh. Mau apa lagi? Ada hal-hal yang masih bisa diperbaiki dan diperbarui. Namun, ada pula hal-hal yang mesti kita ikhlaskan karena meluruh, berkurang, tanggal, lepas. Meski kita sudah berupaya merawat tubuh, mengatur pola makan, rajin berolahraga, dan sebagainya, toh waktu tak bisa terus-menerus diakali. Kita pasti menua.
Rambut helai demi helai memutih, daya pendengaran dan penglihatan menurun, kulit tidak sekencang dulu lagi, ereksi tidak sekeras dan setahan lama dulu lagi, gigi berlubang kian besar dan satu per satu copot, sering merasa sudah melakukan sesuatu tapi nyatanya belum atau belum melakukan sesuatu tapi rasanya sudah, kalau malam ini begadang biasanya besok meriang, dan seterusnya dan sebagainya. Penyakit-penyakit kecil ini bisa jadi membersiapkan kita: untuk ikhlas juga ketika penyakit besar siapa tahu melawat. Siapa yang bisa menduga?
Di sisi lain, meskipun waktu terus menggelinding, sekalipun tubuh jasmani kita kian rentan dan rontok, ada pula hal-hal yang bisa terus bertumbuh, berkembang, malah semakin kuat. Ada hal-hal lain yang terus bisa dinikmati dan dirayakan. Toh hidup bukan melulu terdiri atas perkara jasmani, melainkan juga apa yang berlangsung di dalam jeroan batin, di relung hati kita.
Daya pendengaran saya memang pelan-pelan luruh. Namun, kiranya daya menyimak saya tidak ikut-ikutan rusak, bahkan mudah-mudahan saya tergerak untuk lebih cermat dalam mendengarkan dan memperhatikan. Karena, kesediaan untuk mendengarkan dan memperhatikan adalah suatu ungkapan cinta yang paling mendasar. "Don't you think they are the same thing? Love and attention? (Tidakkah menurutmu keduanya adalah hal yang sama? Cinta dan perhatian?)" kata kepala sekolah dalam Lady Bird (Greta Gerwig, 2017).
Telinga kanan yang nyaris budek bukanlah kecelakaan fatal atau vonis hukuman mati. Toh saya masih bisa menikmati kegenitan suara Vina Panduwinata dan Waljinah, Dangdut koplo jaman sekarang seperti jaran goyang, bidadari gesot dan lain-lain atau keelokan lagu-lagu soundtrack The Greatest Showman. Saya masih bisa mendengar desau angin, kicau burung, dan kecipak air di kolam renang. Yang terpenting, saya masih bisa menanggapi percakapan dengan orang-orang yang saya cintai—sekali lagi, semogalah dengan daya perhatian yang justru kian kuat.
Saya ingin terus menikmati dan merayakan hari-hari yang masih dikaruniakan oleh Tuhan. Sekalipun dengan telinga mendengung dan kepala meriang