Sebuah kota bernama Banjarnegara diabadikan dalam tiga kata: rindu, pulang dan warung remang. Tetapi, suara-suara dari warung remang seringkali tidak bernada romantik seperti manisnya syair. Dari warung remang yang sempit dan tempias,rerasan tentang para pengutang yang pergi tanpa bayar lebih sering jadi objek pembicaraan.
"Yu Nah utang makan seminggu di sini 24 ribu tidak kutagih. Biar sajalah. Biar sadar sendiri."
Penjual warung remang Mak Par mengadu kepada seorang tukang becak yang juga ngutang "udud" di warungnya. Yang dimaksud Yu Nah itu konon seorang janda dengan penghasilan tak menentu yang berasal dari rupa-rupa pekerjaan seperti buruh laundry, memijat, dan lainnya. Yu Nah punya dua anak yang masih bersekolah.
Gerimis rapat. warung remang yang sempit tetap hangat bersama empat ceret berisi rebusan air yang sewaktu-waktu dituang untuk membuat teh hangat, jeruk hangat dan krampul hangat. Minuman jenis terakhir itu nikmat sekali, terbuat dari teh tubruk yang dicampur dengan perasan air jeruk. Orang kota biasa menyebut dengan lemon tea, tapi lemon tea sudah pasti hanya tersaji di kedai, kafe atau restauran, bukan pada sebuah gerobak dengan atap terpal di pinggir jalan atau di sudut jalanan kampung dengan penerangan lampu minyak ketika malam menjelang.
Ketika mengenang warung mak Par sewaktu saya masih sekolah SDN Krandegan VI yang sudah tergerus jaman Now karena dengan perluasan SDN IV barangkali sedang mengenang teman-temannya yang sering jajan makanan ke warung mak par yang bersebelahan dengan sekolah SD VI. Warung Mak Par sesungguhnya juga milik para sales yang kejar setoran, tukang ojek pangkalan, pegawai kantor dan pegawai pabrikan dengan upahan rendah, pekerja seks komersial (PSK) dan pencopet. Soal PSK, tentu bisa kau jumpai mereka di warung ini yang ada di sudut lokalisasi. Dari profesi terakhir itu, kau bisa dengan mudah mendengar rencana konspirasi mereka di warung remang-remang seputaran tempat wisata. Mereka sungguh berbicara dengan blaka suta, blak-blakan alias tanpa malu-malu ketika bercerita tentang pengalamannya terpeleset ketika mencuri uang hanya beberapa polohan rupiah saja di sebuah kosan atau berbagi cerita perihal keluar-masuk bui karena aktivitasnya.
Namun, yang ngangeni dari warung Mak Par sesungguhnya adalah sego kucing dan segala macam penganan pelengkapnya. Sego isi sambel bandeng, sambel teri, dan orek tempe adalah primadona, bersama tempe mendoan, tahu isi, sate telor sunduk, pisang goreng, dan kerupuk rantang. potret unik. Di kota ini, manusia di warung ini tidak bisa ditebak latar belakang sosialnya. Manusia dengan penghasilan 15 ribu rupiah per hari hingga mereka yang menghasilkan puluhan juta dalam hitungan jam, memiliki kualitas perut yang sama dalam mencerna hidangan yang murah meriah. Dari tenda yang suk-sukan ini, manusia disatukan dalam bahasa kesederhanaan.
Sementara itu, di televisi, narasi orang-orang kelas bawah disajikan dengan begitu memuakkan. Orang miskin di televisi adalah objek tayangan reality show dengan konsep pelunasan utang, pemberian hadiah atau tukar nasib. Untuk rating, mereka dijual dengan tayangan mengumbar kesedihan yang membangkitkan rasa emosional dan iba. Tak jarang, mereka juga dijual sebab wajah ndeso, keluguan, kelucuan dan kekonyolannya. Potret wajah orang miskin di televisi adalah kepedulian yang naif pada realitas ketimpangan ekonomi yang dihasilkan oleh tindak korupsi, penyalahgunaan wewenang dan hukum yang tidak berpihak.
Wajah orang miskin di warung adalah wajah nyata dan suara-suara tentang hidup yang berjuang. Perihal utang makan yang seminggu tak dibayar adalah kearifan khas masyarakat kita yang jiwanya teruji lapang dan besar. Dulu sekali, warung malah tidak tersaji pada gerobak. Hidangan Istimewa Kampung itu dipikul dengan angkring, semacam pikulan yang dikombinasikan dari bahan kayu, rotan dan bambu. Penjual yang berkeliling itu melahirkan tradisi mengobrol, melanggan, hingga persaudaraan.
Belakangan ini, kata angkringan mulai dikooptasi dalam wajah baru. Ia tak lagi dipikul angkring atau berupa gerobak beratap tenda terpal. Angkringan masa kini adalah angkringan yang bertempat pada kedai, kafe bahkan resto eksklusif. Sajiannya memang masih berupa ragam sego kucing, berbagai gorengan dan minuman wedangan. Akan tetapi, harganya tentu saja tidak dapat dijangkau oleh tukang becak, buruh pabrikan dan tukang copet. Beragam merek mobil mewah pun memadati halaman parkir angkringan wajah baru ini. Makanan kampung rupa-rupanya sudah naik kelas. Aplikasi makanan pesan-antar memungkinkan sajian dapat dipesan cukup lewat gawai, sehingga tradisi berbincang pun tereduksi dengan banal.
Di Jakarta, hidangan-hidangan kampung ini memang sering laris sebab mewakili sebuah rasa rindu pulang dibanding substansinya sebagai makanan sederhana. Sehingga kehadiran angkringan modern di Jakarta pun ramai dikunjungi pelanggan.
Tenda angkringan atai warung remang yang sempit dan tempias di sudut jalan kampung sesungguhnya adalah wajah sosial sebuah masyarakat. Betapa di sudut-sudut jalan kampung ada orang-orang kecil yang tak pernah merengek meminta keadilan meskipun hidup terhimpit kesulitan. Modal sosial mereka bukanlah kekayaan, tetapi kehangatan percakapan sepanjang hari dan kehangatan persaudaraan. Mereka hidup terhormat dengan cara menyenangkan, meskipun sejarah seringkali luput mendokumentasikan
No comments:
Post a Comment