Wednesday, 26 August 2020

ORANG KANTORAN

ORANG KANTORAN

"Yah, Ayah tuh kerjanya di mana sih? Ayah punya kantor enggak?" Dulu jamannya masih di Kotabaru Kalimantan Selatan, sambil rebahan santai, anak saya Ufa bertanya yang waktu itu masih umur 5 tahun masih TK. Tawa saya meledak keras. Tapi sejurus kemudian saya terdiam, dan kembali merasa diingatkan tentang "contoh yang bisa diimitasi" itu tadi.

Aktivitas utama saya Siaran Radio, cari berita, EO (Even Organizer), ngurusin mahasiswa ULAM  dan proyek pemerintah PNPM. Biasa berangkat pagi sambil nganter anak sekolah siangnya njemput anak, atau malam hari saat semua sudah tidur saya masih dijalanan. Itu pun tidak setiap hari saya menulis. Kalau sedang di luar, tak jarang saya menulis hanya dengan HP.

Saya merasa semua ini baik-baik saja. Toh beberapa kali anak saya juga saya pameri foto-foto saat saya sedang mengisi materi di seminar dan pelatihan, juga beberapa lainnya. Namun ternyata masih saja muncul pertanyaan itu. "Bapak kerjanya di mana? Punya kantor enggak?"

Sangat mungkin dia mendapat referensi dari teman-temannya. Barangkali ada teman sekolahnya bercerita bahwa ayahnya bekerja di kantor yang gede, atau ketemu cuma seminggu sekali karena si ayah berkantor di luar kota. Adapun anak saya bingung saat harus bercerita tentang bapaknya. Maka, "Bapak punya kantor enggak?"

Anak saya butuh contoh untuk diimitasi. Meski tidak secara langsung melihat bagaimana saya bekerja, setidaknya mereka akan bisa bercerita kepada teman-teman mereka, "Bapakku kantornya kadang-kadang di luar kota. Dan dia kalau pergi lama."

Adapun tentang kenyataan bahwa di tiap kota bapak mereka hanya bekerja dua hari, sedangkan lima hari sisanya cuma untuk jalan-jalan, ah, tolong soal itu janganlah terlalu dibesar-besarkan.

Tuesday, 25 August 2020

NIKEL INDONESIA

NIKEL INDONESIA MENDUNIAMatahari, angin dan air adalah sumber energi yang tidak pernah akan habis.Namun energi matahari kurang efektif karena nongolnya siang doang. Demikian juga dengan angin dan air yang tetap tergantung bagaimana alam bekerja.Kata kuncinya ada pada baterai. Benda ajaib penyimpan sekaligus penyalur energi.Baterai adalah tentang lithium. Lithium adalah tentang nikel. Dan nikel adalah tentang masa depan umat manusia. Dan kita, Indonesia adalah pemilik deposit terbesar.Morowali Sulawesi adalah tempat dimana pabrik baterai mobil terbesar akan dibangun saat itu. disana langkah pertama bangsa Indonesia berjuang menguasai kemampuan menyimpan energi dimulai.Siapa mampu menguasai energi, dan memiliki tehnologi menyimpannya kemudian memiliki bahan baku utama penyimpanan energi tersebut, sudah pasti akan menguasai dunia.Nikel bukan penghasil energi. Nikel adalah komponen utama pembuatan baterai lithium yang dibuat untuk menyimpan energi.Tenaga itu kelak didapatkan dari matahari, air dan angin dengan jumlah sangat melimpah dan yang pasti, tidak terbatas.Dari sini dapat kita lihat, bahwa Tesla, Hyundai bahkan Mercedes Benz bukan tidak mungkin bahwa suatu saat nanti akan menempatkan Indonesia sebagai basis produksi mobil listriknya.Bangsa ini harus dan pasti menjadi negara besar bila mampu melewati ini dengan baik dan bijak. Bangsa ini tidak boleh lagi menyiakan momen emas seperti era 70an saat booming minyak.Kita adalah bangsa yang besar. Bangsa yang diberi anugerah kekayaan alam melimpah. Kekeyaan itu harus menjadi milik bangsa dan dipergunakan sebesar besarnya bagi kemakmuran rakyat.Tidak ada salahnya kita bermimpi menjadi negara paling maju didunia. Sumber alam kita berlimpah. Jumlah rakyat sangat mencukupi. Luas wilayah dan kesuburan tanah kita sangat mendukung itu semua.

PAWANG BANJIR BERMUNCULAN

PAWANG BANJIR BERMUNCULAN

Persoalan banjir di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya, Kalimantan, Sumatera dan pulau lain yang belum terdeteksi, tidak akan selesai begitu saja bila masing-masing pihak sibuk saling menyalahkan dan merasa paling benar.

Perlu adanya kerja sama antara pemerintah pusat, pemerintah daerah dan masyarakat untuk mengatasi persoalan ini sebaik mungkin.

Banjir yang terjadi sejak Rabu (1/1/2020) hingga Jumat (3/1/2020) diduga disebabkan karena banyak faktor.

Mulai dari intensitas curah hujan yang tinggi baik di hilir maupun hulu, adanya banjir kiriman dari wilayah hulu, hingga perilaku masyarakat yang tidak tertib dalam membuang sampah.

Hingga kini, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat banjir masih menggenang di 108 kecamatan yang meliputi 303 kelurahan di wilayah DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat.

Ada pun jumlah pengungsi mencapai 397.171 orang.

Titik banjir dan pengungsi terbanyak berada di Kota Bekasi yaitu 58 titik banjir dengan 366.274 orang pengungsi.

Sedangkan, jumlah korban meninggal dunia mencapai 53 orang.

Di tengah proses penanganan dan evakuasi korban terdampak banjir, lini masa medsos justru diramaikan dengan saling menyalahkan bak ahli pawang banjir mendadak, bahkan yang tidak tinggal di tempat banjir atau luar daerah bahkan ada saudara kita yang diluar negri kritiknya lebih pedas, titik kunci karena beda pilihan politik, ini sangat disayangkan seakan sebagai bahan balas dendam, bukanya simpati dengan para korban bencana.

Coba apa yang sudah kamu berikan, jangan apa yang sudah kamu dapat, ada baiknya berikan sesuatu yang sedang dibutuhkan para korban, dengan materi, kalau memang belum mampu bisa memberi secara tenaga, bila tidak mampu bisa dengan doa, semoga bisa meringankan saudara-saudara kita yang sedang mengalami musibah.

BAGAIMANA

BAGAIMANA

Bagaimana saya selanjutnya bagaimana anak saya nanti, ada narkoba, ada LGBT, Free sex, dan lain-lainnya?
Bagaimana anak saya setelah lulus
Bagaimana anak saya kurang komunikasi dengan orang lain, karena hampir tiap saat pegang HP? Dan berjuta pertanyaan yang lainnya

Jika burung-burung saja dipelihara oleh Sang Pencipta setiap hari tanpa harus ada manusia yang memeliharanya, mengapa kita harus khawatir akan hidup ini? Bukankah manusia adalah makhluk dengan derajat tertinggi sehingga pasti akan dipelihara oleh Sang Pencipta.

Kekhawatiran kita sebenarnya merupakan wujud keserakahan yang ingin mendapatkan lebih terus-menerus serta didorong oleh rasa kurang puas setiap kali menemukan dan memperoleh sesuatu.

Kita tidak akan mampu mengubah nasibnya sendiri kecuali kita sendiri memiliki niat untuk mengubahnya.

Dengan memilih untuk berpikir positif, semangat optimisme dan cara pandang yang positif akan mengalir dalam menghadapi kehidupan yang semakin hari semakin sulit.

Daripada terus menerus menggerutu akan apa yang kita alami saat ini, ada baiknya kita mensyukuri bahwa kita masih diberi kesempatan untuk hidup hingga memungkinkan kita masih tetap berjuang.

Bersama Tuhan semuanya akan terselesaikan dengan sangat luar biasa, percayalah dan buktikan.
Dengan niat yg lurus mengharap Tuhan, buktikan dengan Usaha keras, tuntas, cerdas dan ikhlas, dorong dengan Do’a dan bertawakallah kepada Tuhan, karena kita hanya hamba Tuhan.

“Have a nice day” semoga harimu menyenangkan.
Semoga kita senantiasa mensyukuri nikmatNya, menjadi lebih baik dan lebih bermanfaat.

ISIS

ISIS 

Kalau dalam bahasa jawa isis adalah cari angin sejuk beda dengan ISIS dari Propaganda Abu Bakar Al Baghdadi teroris internasional yang berhasil mempengaruhi simpatisan dari berbagai penjuru dunia. Dari Eropa mencapai angka 5.000, negara eks Uni Soviet mencapai 4700, Amerika Utara 280, Afrika Utara 8,000, Timur Tengah 8,240, dan Asia Tenggara 900 orang, untuk Indonesia 660 orang.

Pemerintah Indonesia sendiri kelihatannya dalam posisi dilematis karena di satu sisi mereka yang bergabung ISIS merupakan yang mengingkari kesetiaan kepada negara --bergabung dengan ISIS untuk terlibat sebagai tentara dan pengikut adalah pelanggaran konstitusi Indonesia. Sementara di sisi lain pemerintah Indonesia merasa memiliki tanggung jawab moral untuk mengembalikan mereka ke Tanah Air.

Respons masyarakat Indonesia terbelah; sebagian mendukung, sebagian lainnya menolak. Terkait mekanisme repatriasi mantan pejuang yang sebagian besar merupakan wanita dan anak-anak itu. 

kita contohkan Nada Fedulla ikut dihukum karena dosa-dosa sang ayah yang menjadi mantan kombatan ISIS di Suriah. Ayah Nada membawa keluarganya termasuk sang nenek ke tempat konflik di Suriah pada tahun 2015 silam.

Saat itu dirinya masih duduk di bangku Pendidikan dan memiliki cita-cita untuk menjadi seorang dokter. Namun impiannya sirna, saat tiba-tiba sang ayah memintanya untuk berhenti bersekolah dan mengikuti sang ayah ke tempat yang jauh, sekalinya terjerumus di oraganisasi terlarang. Masih banyak Nada Fedulla yang senasib semoga sebagai pertimbangan.

Indonesia perlu mempelajari pengalaman Jerman, Inggris, dan Australia yang baru-baru ini memulangkan warga mereka dari Timur Tengah. Indonesia membutuhkan pengalaman negara-negara tersebut dalam upaya deradikalisasi jangka pendek dan jangka panjang untuk warga yang pernah bergabung dengan organisasi teror paling berbahaya dalam sepuluh tahun terakhir itu.

CORONA 1

CORONA 1

Dunia memang sudah tua mengalami beberapa wabah penyakit yang mengerikan. Ebola, MERS, SARS dan kini, corona. Mengakibatkan korban jiwa hingga puluhan ribuan orang. Sejak terdeteksi di Wuhan, Cina, sekitar dua bulan lalu, wabah virus corona tetaplah mengerikan.

Setidaknya 603 orang dikabarkan tewas akibat virus tersebut, dan sangat mungkin bertambah. Sekitar 30.000an orang lainnya terkonfirmasi terinfeksi. Selain itu, corona juga berdampak pada penutupan atau pengisolasian sebanyak 14 kota di Cina. Akibatnya sekitar 238 warga negara Indonesia (WNI) di Wuhan, di jemput diobservasi di natuna. Sepertinya kondisi ini belum pernah terjadi di negara manapun. Bahkan, kabarnya virus corona menjangkau pula sejumlah negara lain di Asia, seperti Korsel, Taiwan, Thailand dan Jepang, Amerika, Australia, Thailand, malaysia dan Singapure.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) juga menyebut virus corona berasal dari famili yang sama dengan SARS dan MERS yang dulu pernah menjadi momok yang menakutkan di Asia. Jadi besar kemungkinan penyebaran virus corona memiliki pola dan kecepatan yang sama dengan SARS serta MERS. Ingat, betapa cepatnya virus SARS menyebar sejak ditemukan kasus pertama pada 2002 silam. Cuma dalam waktu setahun, ada 8.069 kasus dengan korban tewas sebanyak 775 orang. Penyebarannya cepat, luas, dan mematikan.

Kita harus belajar dari Cina. Bukan hanya soal bencana tapi juga dalam bernegara. Puluhan tahun dikucilkan dunia kini sudah menjelma menjadi raksasa yang tangguh di segala bidang, ekonomi, perdagangan, teknologi, kedokteran, militer dll. Sayang dia lengah, tak berdaya menghadapi virus. Kecuali corona, virus SARS dan flu burung yang terkenal di Indonesia juga berasal dari Cina. Bagi yang percaya dengan kebesaran Ilahi, datangnya virus itu harus dimaknai sebagai “pesan” yang maha penting. Jangan arogan dengan keunggulan duniawi.

Virus corona ini seharusnya menjadi perekat persatuan, untuk dihadapi bersama, bukan sebaliknya.

CORONA

CORONA

Virus Corona (Covid-19) terus merajalela. Ia memangsa siapa saja, dari orang biasa, pemain sepakbola, hingga pejabat tinggi negara. Seluruh dunia waspada dan berjaga-jaga, meningkatkan pertahanan dan menghindari serangan dari musuh yang sakti mandraguna. Orang takut pada Corona karena ia laksana hantu yang melihat kita, tetapi kita tak dapat melihatnya dengan mata kepala.

Berawal dari Wuhan, Tiongkok, kini 136 negara sudah terkena sehingga pada 11 Maret 2020 lalu WHO (Organisasi Kesehatan Dunia) menyatakan Covid-19 sebagai pandemik, yakni wabah yang tersebar ke hampir seluruh wilayah dunia.

Covid-19 telah menimbulkan rentetan akibat yang berlipat-lipat dari sudut ekonomi, sosial, politik, budaya hingga agama.

Kini Covid-19 memaksa kita untuk keluar dari berbagai kebiasaan. Kita biasa bersalaman ketika bertemu teman, tamu, orangtua, sesama jemaah di tempat ibadah dan seterusnya. Kita terbiasa kumpul-kumpul dalam jumlah banyak di berbagai kegiatan seperti olahraga, hiburan, seminar, konferensi hingga ibadah. Kita terbiasa belajar di kelas, bertatap muka dengan guru/dosen. Kita jarang mencuci tangan dengan sabun.

Demikianlah, Corona mengingatkan sesuatu dengan membangkitkan lawannya. Corona mengajarkan kebersamaan dengan memaksa kita sendirian. Corona memaksa kita menghargai kesehatan dengan menghadirkan penyakit. Corona menyadarkan kita akan nilai kehidupan dengan menebar kematian. Corona, virus kecil yang menyadarkan manusia akan kelemahan dirinya yang sering merasa kuat.

Boleh jadi, Corona adalah sarana pendidikan karakter kita?