Tuesday, 25 August 2020

ISIS

ISIS 

Kalau dalam bahasa jawa isis adalah cari angin sejuk beda dengan ISIS dari Propaganda Abu Bakar Al Baghdadi teroris internasional yang berhasil mempengaruhi simpatisan dari berbagai penjuru dunia. Dari Eropa mencapai angka 5.000, negara eks Uni Soviet mencapai 4700, Amerika Utara 280, Afrika Utara 8,000, Timur Tengah 8,240, dan Asia Tenggara 900 orang, untuk Indonesia 660 orang.

Pemerintah Indonesia sendiri kelihatannya dalam posisi dilematis karena di satu sisi mereka yang bergabung ISIS merupakan yang mengingkari kesetiaan kepada negara --bergabung dengan ISIS untuk terlibat sebagai tentara dan pengikut adalah pelanggaran konstitusi Indonesia. Sementara di sisi lain pemerintah Indonesia merasa memiliki tanggung jawab moral untuk mengembalikan mereka ke Tanah Air.

Respons masyarakat Indonesia terbelah; sebagian mendukung, sebagian lainnya menolak. Terkait mekanisme repatriasi mantan pejuang yang sebagian besar merupakan wanita dan anak-anak itu. 

kita contohkan Nada Fedulla ikut dihukum karena dosa-dosa sang ayah yang menjadi mantan kombatan ISIS di Suriah. Ayah Nada membawa keluarganya termasuk sang nenek ke tempat konflik di Suriah pada tahun 2015 silam.

Saat itu dirinya masih duduk di bangku Pendidikan dan memiliki cita-cita untuk menjadi seorang dokter. Namun impiannya sirna, saat tiba-tiba sang ayah memintanya untuk berhenti bersekolah dan mengikuti sang ayah ke tempat yang jauh, sekalinya terjerumus di oraganisasi terlarang. Masih banyak Nada Fedulla yang senasib semoga sebagai pertimbangan.

Indonesia perlu mempelajari pengalaman Jerman, Inggris, dan Australia yang baru-baru ini memulangkan warga mereka dari Timur Tengah. Indonesia membutuhkan pengalaman negara-negara tersebut dalam upaya deradikalisasi jangka pendek dan jangka panjang untuk warga yang pernah bergabung dengan organisasi teror paling berbahaya dalam sepuluh tahun terakhir itu.

No comments:

Post a Comment