RUANG tunggu bandara, Syamsudin noor Banjarbaru Kalimantan Selatan, bulan kemarin Tiga orang pria setengah baya, menempati kursi yang kosong di depan saya. Setelah duduk, mereka mulai berbincang santai perihal cincin batu akik sebesar jempol, yang melilit di jari mereka. “Batu ini berasal dari Papua,” katanya.
“Kalau yang ini dari Kalimantan,” kata yang lain. “Beginilah kalau sudah demam batu akik,” kata yang lain sambil menatap saya. “Kalau batu yang berwarna hijau dan besar itu, apa khasiatnya?” tanya saya pada salah seorang. “Oh, kalau batu ini khasiatnya untuk menambah nafsu makan anak.” katanya “Kok bisa?” tanya saya. Lalu dia menggenggam tangannya seperti mau meninju dan cincin batu akik itu tampak menonjol. “Kan tinggal bilang ke anak, Habiskan!” katanya sambil menonjok dengan tinjunya. Kami pun tertawa semua.
Memang, kini demam batu akik tampak meningkat. Belum lama ini, media memberitakan penemuan batu giok di Kabupaten Nagan Raya, Aceh, seberat 20 ton. Di Banua, batu yang dinamai Red Borneo, ditemukan di Desa Tiwingan
Lama, Aranio, sebesar rumah. Ada juga yang ditemukan di Desa Kiram,
Karang Intan. Sementara yang ditemukan di Desa Martadah, Tanah Laut,
terbukti bukan batu giok.
Mungkin ada banyak sebab di balik demam ini. Salah satunya adalah
karena kekayaan alam Indonesia berupa hutan, batubara, emas, perak,
minyak dan gas, selain dikuasai oleh para pengusaha besar, juga sudah
hampir habis.
Akibatnya, masyarakat bawah berusaha mencari kekayaan alam lain yang
belum terjamah. Batu akik yang harganya tidak terlalu mahal, akhirnya
menjadi sasaran yang menggiurkan. Bagi orang Banjar, kegemaran mencari, mengolah dan memperdagangkan
permata bukan hal baru. Menurut Alfani Daud (1997:136), paling tidak,
pendulangan intan sudah dilakukan di zaman kerajaan Banjar.
Ketika itu, para pendulang diwajibkan menjual intan temuannya kepada
bangsawan, dan jika intannya besar, wajib dijual kepada sultan. Sultan
bahkan memiliki wilayah tambang intan sendiri. Sejak lama, Martapura dikenal sebagai wilayah penghasil intan.
Kawasan tambang intan terus meluas dari Cempaka ke Karang Intan, Simpang
Empat, Pengaron hingga Bati Bati. Di Cempaka, pada 1965, ditemukan intan ‘Trisakti’ sebesar 166,72
karat, dan pada 1966 ditemukan lagi intan ‘Galuh Cempaka’ sebesar 29,75
karat. Pada 1967, intan sebesar 26,5 karat juga ditemukan di Bati Bati
(Daud 1997:121).
Kini intan semakin sulit ditemukan, dan harganya sangat mahal,
apalagi yang sudah ‘dimasak’ menjadi berlian. Selain itu, pendulangan
intan berisiko tinggi, karena dilakukan secara tradisional. Lubang yang
digali bisa mencapai 15 hingga 20 meter.
Menurut penelitian Alfani Daud, dulu pernah ada usaha menggunakan
peralatan modern, tetapi tidak banyak mendatangkan hasil, sehingga
dihentikan. Karena itu, mungkin kini batu akik dan sejenisnya, adalah pilihan yang lebih praktis untuk ‘ditambang’ dengan resiko kerja yang tidak terlalu berbahaya. Jumlahnya pun relatif banyak sehingga dapat diolah menjadi aneka macam perhiasan dan dijual dengan harga terjangkau.
Bagi kalangan menengah ke bawah, hobi mengoleksi batu akik bisa dilakoni, karena tidak menuntut ongkos yang terlalu tinggi. Namun, apa yang akan kita lakukan kelak ketika batu akik pun telah habis? Apakah kita akan memburu batu-batu lain?
Apakah kita akan terus-menerus menggali kekayaan alam, meskipun
lingkungan kita rusak dan tercemar? Bukankah kerusakan hutan oleh
perusahaan kayu, dan penggalian bumi serta pemangkasan gunung oleh
tambang batubara, sudah mengancam hidup kita kini dan nanti?
Batu permata adalah wujud konkret dari nilai yang diberikan manusia.
Berlian, mutiara, zamrud, akik dan lain-lain tidaklah berbeda dengan
batu-batu cadas, andai berada di padang pasir yang sepi tanpa manusia. Batu menjadi bernilai karena manusia memberinya nilai. Manusia
memberi nilai karena ia adalah makhluk yang hidup dengan nilai-nilai
keindahan (estetis), kebaikan (etis) dan kebenaran (logis).
Intan dan mutiara, karena bernilai tinggi, akan dicari orang sekuat
tenaga, meskipun nyawa taruhannya. Begitu pula manusia yang bernilai
tinggi, akan terus dicari, di mana pun dia berada.
Karena itu, sudah saatnya kita berusaha agar pribadi-pribadi dalam masyarakat kita bernilai tinggi laksana permata. Kita perlu meningkatkan kualitas manusianya, agar tidak tergantung pada kekayaan alam belaka!

No comments:
Post a Comment