DUNIA ikut berduka dengan meninggalnya mantan Perdana Menteri Singapura, Lee Kuan Yew
(91). Ia telah membuktikan sebagai pemimpin yang berhasil mengangkat
negaranya, dari miskin menjadi negara kaya, bahkan berperan dalam
percaturan ekonomi dunia.
Lee telah menjadikan negerinya yang mungil (hanya seluas DKI Jakarta)
menjadi negara ‘besar’ di dunia perdagangan. Hampir tidak ada kelompok
dagang raksasa di dunia yang tidak punya perwakilan di Negeri Singa ini.
Bahkan perusahaan minyak Indonesia, Petral, juga bermarkas di
Singapura.
Singapura yang hanya terdiri atas pulau kecil di semenanjung Malaya
adalah bekas jajahan Inggris. Pada September 1963 bersama Serawak dan
Sabah oleh Inggris digabung ke Tanah Melayu yang kemudian bernama
Malaysia.
Tapi pada 9 Agustus 1965 dikeluarkan dari persekutuan Malaysia.
Malaysia yang dipimpin Perdana Menteri Tengku Abdul Rahman yakin
Singapura tak akan bisa hidup tanpa Malaysia. Singapura tidak punya
sumber daya alam.
Tapi Lee Kuan Yew
yang menjadi perdana menteri pertama sangat cerdas. Pelabuhan
peninggalan Inggris menjadi sumber penghidupan utama karena letaknya
sangat strategis. Tidak ada kapal yang tidak bersandar di Singapura. Ketiadaan sumber
daya alam menjadikan Singapura harus bekerja keras dengan menjadikan
dirinya sebagai pusat perdagangan dan industri. Kebutuhan minyak di
Indonesia pun diimpor dari Singapura yang tidak punya sumber minyak.
Lee Kuan Yew adalah contoh pemimpin yang datang dari bawah. Dia seperti Soekarno
atau tokoh dunia lain yang menjadi pemimpin dulu sebelum menjadi
penguasa. Karena mereka tahu anatomi bangsanya, isi perut negerinya
sampai hal paling kecil, sehingga tak takut mengambil keputusan.
Dengan bekal itu Lee memimpin Singapura dengan ‘tangan besi’ selama
32 tahun. Dia tidak sekadar tegas dan cerdas tapi juga berani dan punya
visi jauh untuk negaranya. Ini sesuai pula dengan lagu kebangsaannya,
Majulah Singapura.
Kultur kerja keras makin mempercepat kemajuan Singapura. Ini semua
bukan datang dengan sendirinya, tapi benar-benar ditanamkan. Kini Negeri
Singa ini bukan hanya maju di dunia perdagangan dan industri tapi juga
menjadi tujuan wisata.
Wisata tamasya, wisata belanja dan wisata berobat sampai wisata judi
kasino kelas dunia ada di Singapura. Tahun 2013 wisatawan yang datang ke
negeri itu sebanyak 15 juta orang. Sementara yang ke Indonesia yang
memiliki lebih banyak objek wisata hanya 9,5 juta orang.
Untuk menangkal korupsi, Lee membentuk badan antikorupsi semacam KPK
(Komisi Pemberantasan Korupsi) di Indonesia dan membersihkan polisi yang
korup. Kini Singapura menjadi salah satu negara terbersih di dunia.
Penduduknya taat pada aturan, disiplin tinggi dan rendah kriminalitas.
Kemakmuran Singapura tak diragukan lagi. Pendapatan per kapita 2012
saja 57.238 dolar AS, Indonesia hanya 4.380 dolar AS. Sebagai
perbandingan, Malaysia 14.603 dolar AS.
Kita bisa belajar dari kepemimpinan Lee Kuan Yew . Pemerintahan tangan besi saja tidak cukup. Kita pernah dipimpin secara otoriter oleh Soeharto selama 32 tahun tapi berakhir dengan kehancuran ekonomi akibat korupsi merajalela.
Kita juga memimpikan negara yang bersih bebas dari korupsi, untuk
itulah dibentuk KPK. Tapi KPK yang mulai menemukan bentuknya kini justru
terpuruk kalah oleh koruptor. Menteri Hukum dan HAM bahkan akan memperlonggar syarat remisi khusus
untuk koruptor. Persepsi tentang korupsi ternyata berbeda di kalangan
pemimpin. Ironis, pemberantasan korupsi loyo di era Presiden Joko Widodo
(Jokowi) yang menyatakan antikorupsi.
Pemimpin kita juga tidak tegas dalam satu kata dan perbuatan.
Misalnya Menteri Penertiban Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi
sepertinya belum kering ludahnya untuk melarang rapat dinas di hotel
untuk mencegah pemborosan. Ternyata kini diizinkan lagi. Padahal rapat
di hotel berpotensi menimbulkan korupsi.
Sebelumnya memang banyak keluhan dari hotel-hotel karena larangan itu
mengurangi pendapatan. Tampak sekali bahwa pengusaha di Indonesia hanya
bisa mengandalkan kucuran APBN, bukan dari keringat.
Presiden Jokowi juga menolak semua permohonan grasi para terhukum
mati kasus narkoba. Tiga orang sudah dieksekusi di depan regu tembak,
tiga lagi akan menyusul dan sudah dibawa ke Nusakambangan. Tapi setelah
ditekan Australia yang warganya akan dieksekusi, ‘mengambang’ lagi.
Kita butuh pemimpin yang berani, mandiri dan tegas seperti Lee Kuan Yew.
Semua kita punya, sumber daya alam, manusia, tambang, sinar matahari,
angin sampai petir yang bisa menghasilkan energi. Semuanya berlimpah.
Yang kurang hanya orang baik dan jujur.
No comments:
Post a Comment