MENGHITUNG HIDUP
"
Tinggal 28
hari lagi, kita akan merayajan lebaran," kata seseorang melalui
pelantang suara sebuah mushola di hari kedua puasa. Suatu ungkapan yang
mengundang tawa. Ia tampak naif sekaligus optimistis. naif karena bulan
puasa baru dimulai, tapi optimistis karena ia yakin bahwa perjuangan
puasa akan diakhiri dengan perayaan lebaran. Masalah awal dan akhir
puasa memang selalu penting bagi umat Islam. Ada perbedaan metode dalam
menentukannya. Ada yang menggunakan metode melihat bulan langsung dengan
mata kepala (
ru'yah), dan ada pula yang cukup berpegangan pada kecanggihan perhitungan astronomis (
hisab). hasil akhirnya kadangkala sama, kadangkala berbeda.
Di negeri ini, sudah beberapa terjadi perbedaan awal puasa dan
lebaran dikalangan umat islam, atau antara kelompok Islam tertentu
dengan ketetapan pemerintah. Hal ini antara lain karena perbedaan metode
diatas. Selain itu, ada pula kelompik islam yang mengacu pada penetapan
di Arab Saudi, atau penetatapan seorang pemimpin tarekat. Banyak orang
yang gerah dengan perbedaan ini, Mereka menyalahkan para ulama yang
dianggap tidak mau mempersatukan umat Islam.
Mereka
mengatakan, puasa yang tidak dimulai dan diakhiri secara bersama-sama
akan menciptakan perpecahan. Apalagi bagi kelompok yang selalu berpikir
politis. Perbedaan itu dianggap melemahkan politik Islam. Tapi ada pula
yang berpendapat sebaliknya. bagi mereka, perbedaan adalah kenyataan
dalam kehidupan. Manusia diciptakan Tuhan berbeda-beda, baik sebagai
pribadi atau kelompok. Karena itu, perbedaan harus diterima apa adanya.
Perbedaan harus disyukuri dan bahkan dirayakan. Kita tidak boleh memaksa
siapa pun mengikuti pendapat kita.
Saya kira, kedua pendapat
di atas masing-masing memiliki kebenaran dan kekurangan. Tak dapat
disangkal bahwa persamaan amat penting bagi terciptanya persatuan. Di
sisi lain, memaksa orang lain agar sama dengan kita juga tidak baik,
karena akan melahirkan persatuan yang palsu; lahirnya tampak satu, tapi
batinnya saling beradu. Kareana itu, umat Islam harus dapat bersatu
dalam perbedaan. Mereka bersatu dalam hal-hal pokok, dan menerima
perbedaandalam hal-hal cabang. Mereka bersatu bahwa puasa Ramadan itu
wajib hukumnya bagi setiap muslim dewasa (
baligh) dan berakal, tetapi mereka dapat menghirmati perbedaan dalam menentukan awal dan akhir Ramadan.
Ini tidak berarti bahwa penentuan awal dan akhir Ramadan tidak
penting. Namun nilai penting menentuan tersebut bukan terletak pada
hasil akhirnya (yakni kapan jatuhnya awal puasa dan lebaran), melainkan
pada kesungguhan kita dalam proses penetapan itu. Kesungguhan itu
menunjukkan bahwa kita tidak main-main dalam beribadah. Selain itu, yang
lebih penting lagi adalah kesungguhan umat Islam dalam mengisi bulan
Ramadan itu sendiri. Ini adalah kesempatan emas yang amat berharga.
Bukankah tidak sedikit keluarga dan teman-teman kita yang sudah
dipanggil Tuhan sebelum Ramadan tiba, dan kita tidak tahu apakah umur
kita sampai ke Ramadan tahun depan ?
Karena itu, menghitung
dan mengisi sisa-sisa usia mungkin jauh lebih penting. "Kita usia saya
mendejkati 65 tahun, dan kurang lebih 38 tahun tahun bekerja di lembaga
ini. Tapi rasanya semua itu berlalu begitu cepat, seolah baru tadi pagi
atau kemarin sore," kata dosen yang memasuki masa pensiun.
Saya sungguh tersentuh dengan kata-kata dosen senior itu. Usia manusia
memang singkat. Hanya karya-karya kebaikan yang dapat membuatnya lebih
panjang dan abadi.