DIMANAKAH WAHAI ENGKAU MAHASISWA
Sejak bergulirnya reformasi mahasiswa mendapat ruang yang sangat
luas untuk menyampaikan pendapatnya, satu hal yang sangat terlarang pada
rezim sebelumnya. Bukan hanya mahasiswa, masyarakat umum pun bisa
menyampaikan keinginan lewat farum terbuka. Demo tak pernah berhenti,
dengan beragam tuntutan. Tetapi demo yang dilakukan mahasiswa selama ini
tak pernah 'menggigit', encer, tak menyentuh persoalanan sehingga
malahan sebal melihatnya.
Apalagi ditambah dengan perilaku mahasiswa yang sering bertentangan dengan tuntutan sebagai calon intelektual. Misalnya saja tawuran antar fakultas seperti yang terjadi di Makasar dan terakhir di ambon, tak beda dengan tawuran warga di kampung kumuh Jakarta. Bandingkan dengan aktivitas demo mahasiswa tahun 1960 an yang berhasil menumbangkan Presiden Soekarno. Saat itu mahasiswa ikut memberikan tekanan. Kebetulan ada tokoh yang tampil untuk memegang kendali kekuasaan, yaitu Jenderal Soeharto. Soeharto naik menjadi presiden setelah sebelumnya mendapat Surat Perintah Sebelas Maret atau Supersemar. Terlepas itu halal atau haram, tapi kenyaannya Pak Harto bisa memimpin Indonesia untuk jangka yang cukup lama.
Sayang sifat penguasa itu sama, mereka lupa daratan setelah duduk di dinggasana kekuasaan. Begitu pula dengan Pak Harto, dia membuat 'perlindungan' bagi dirinya agar terus berkuasa. Salah satunya dengan membungkam mahasiswa yang kritis terhadap kepemimpinannya. Lahirlah NKK (Normalisasi Kehidupan Kampus) yang melarang politik praktik di kampus. Ibarat bendungan yang tersumbat akhirnya mahasiswa juga yang menumbangkan Pak Harto lewat demo bersejarah bulan Mei 1998 dengan mengumandangkan tekad reformasi.
Mereka nekad turun kejalan setelah sekian lama dibelenggu. Sayang saat itu tidak muncul pemimpin baru yang bisa membawa amanat rakyat. Orang hanya berpikir, asal bukan Soeharto. Ternyata benar, menumbangkan penguasa tanpa menyiapkan pengganti hanya akan menimbulkan persoalan baru. Sekarang inilah buktinya. Habibie, KH Abdurrahman Wahid dan Megawat belum cukup waktu untuk bekerja sudah harus ganti sesuai tuntutan demokrasi.
Tapi Susilo Bambang Yudhoyono yang menjabat presiden sampai dua kali juga tertatih-tatih dalam melaksanakan amanah rakyat, kalau tidak boleh dibilang gagal. Dalam pemilihan presiden menang mutlak dan Partainya yang mengusungnya menang besar, tapi ia tak bisa menguasai permainan para politikus dan ia terjerembab dalam lumpur politik yang kotor. Lantas bagaimana peran mahasiswa ? Disinilah masalahnya, perjuangan mahasiswa kurang terkoordinasi, semua jalan sendiri. Akibatnya tidak menyentuh pada persoalan.....
Baksos di kaliurang
Apalagi ditambah dengan perilaku mahasiswa yang sering bertentangan dengan tuntutan sebagai calon intelektual. Misalnya saja tawuran antar fakultas seperti yang terjadi di Makasar dan terakhir di ambon, tak beda dengan tawuran warga di kampung kumuh Jakarta. Bandingkan dengan aktivitas demo mahasiswa tahun 1960 an yang berhasil menumbangkan Presiden Soekarno. Saat itu mahasiswa ikut memberikan tekanan. Kebetulan ada tokoh yang tampil untuk memegang kendali kekuasaan, yaitu Jenderal Soeharto. Soeharto naik menjadi presiden setelah sebelumnya mendapat Surat Perintah Sebelas Maret atau Supersemar. Terlepas itu halal atau haram, tapi kenyaannya Pak Harto bisa memimpin Indonesia untuk jangka yang cukup lama.
Sayang sifat penguasa itu sama, mereka lupa daratan setelah duduk di dinggasana kekuasaan. Begitu pula dengan Pak Harto, dia membuat 'perlindungan' bagi dirinya agar terus berkuasa. Salah satunya dengan membungkam mahasiswa yang kritis terhadap kepemimpinannya. Lahirlah NKK (Normalisasi Kehidupan Kampus) yang melarang politik praktik di kampus. Ibarat bendungan yang tersumbat akhirnya mahasiswa juga yang menumbangkan Pak Harto lewat demo bersejarah bulan Mei 1998 dengan mengumandangkan tekad reformasi.
Mereka nekad turun kejalan setelah sekian lama dibelenggu. Sayang saat itu tidak muncul pemimpin baru yang bisa membawa amanat rakyat. Orang hanya berpikir, asal bukan Soeharto. Ternyata benar, menumbangkan penguasa tanpa menyiapkan pengganti hanya akan menimbulkan persoalan baru. Sekarang inilah buktinya. Habibie, KH Abdurrahman Wahid dan Megawat belum cukup waktu untuk bekerja sudah harus ganti sesuai tuntutan demokrasi.
Tapi Susilo Bambang Yudhoyono yang menjabat presiden sampai dua kali juga tertatih-tatih dalam melaksanakan amanah rakyat, kalau tidak boleh dibilang gagal. Dalam pemilihan presiden menang mutlak dan Partainya yang mengusungnya menang besar, tapi ia tak bisa menguasai permainan para politikus dan ia terjerembab dalam lumpur politik yang kotor. Lantas bagaimana peran mahasiswa ? Disinilah masalahnya, perjuangan mahasiswa kurang terkoordinasi, semua jalan sendiri. Akibatnya tidak menyentuh pada persoalan.....
Baksos di kaliurang
No comments:
Post a Comment