Tuesday, 10 March 2015

MENGHITUNG HIDUP

MENGHITUNG HIDUP

     "Tinggal 28 hari lagi, kita akan merayajan lebaran," kata seseorang melalui pelantang suara sebuah mushola di hari kedua puasa. Suatu ungkapan yang mengundang tawa. Ia tampak naif sekaligus optimistis. naif karena bulan puasa baru dimulai, tapi optimistis karena ia yakin bahwa perjuangan puasa akan diakhiri dengan perayaan lebaran. Masalah awal dan akhir puasa memang selalu penting bagi umat Islam. Ada perbedaan metode dalam menentukannya. Ada yang menggunakan metode melihat bulan langsung dengan mata kepala (ru'yah), dan ada pula yang  cukup berpegangan pada kecanggihan perhitungan astronomis (hisab). hasil akhirnya kadangkala sama, kadangkala berbeda.
      Di negeri ini, sudah beberapa terjadi perbedaan awal puasa dan lebaran dikalangan umat islam, atau antara kelompok Islam tertentu dengan ketetapan pemerintah. Hal ini antara lain karena perbedaan metode diatas. Selain itu, ada pula kelompik islam yang mengacu pada penetapan di Arab Saudi, atau penetatapan seorang pemimpin tarekat. Banyak orang yang gerah dengan perbedaan ini, Mereka menyalahkan para ulama yang dianggap tidak mau mempersatukan umat Islam.
     Mereka mengatakan, puasa yang tidak dimulai dan diakhiri secara bersama-sama akan menciptakan perpecahan. Apalagi bagi kelompok yang selalu berpikir politis. Perbedaan itu dianggap melemahkan politik Islam. Tapi ada pula yang berpendapat sebaliknya. bagi mereka, perbedaan adalah kenyataan dalam kehidupan. Manusia diciptakan Tuhan berbeda-beda, baik sebagai pribadi atau kelompok. Karena itu, perbedaan harus diterima apa adanya. Perbedaan harus disyukuri dan bahkan dirayakan. Kita tidak boleh memaksa siapa pun mengikuti pendapat kita.
     Saya kira, kedua pendapat di atas masing-masing memiliki kebenaran dan kekurangan. Tak dapat disangkal bahwa persamaan amat penting bagi terciptanya persatuan. Di sisi lain, memaksa orang lain agar sama dengan kita juga tidak baik, karena akan melahirkan persatuan yang palsu; lahirnya tampak satu, tapi batinnya saling beradu. Kareana itu, umat Islam harus dapat bersatu dalam perbedaan. Mereka bersatu dalam hal-hal pokok, dan menerima perbedaandalam hal-hal cabang. Mereka bersatu bahwa puasa Ramadan itu wajib hukumnya bagi setiap muslim dewasa (baligh) dan berakal, tetapi mereka dapat menghirmati perbedaan dalam menentukan awal dan akhir Ramadan.
     Ini tidak berarti bahwa  penentuan awal dan akhir Ramadan tidak penting. Namun nilai penting menentuan tersebut bukan terletak pada hasil akhirnya (yakni kapan jatuhnya awal puasa dan lebaran), melainkan pada kesungguhan kita dalam proses penetapan itu. Kesungguhan itu menunjukkan bahwa kita tidak main-main dalam beribadah. Selain itu, yang lebih penting lagi adalah kesungguhan umat Islam dalam mengisi bulan Ramadan itu sendiri. Ini adalah kesempatan emas yang amat berharga.
     Bukankah tidak sedikit keluarga dan teman-teman kita yang sudah dipanggil Tuhan sebelum Ramadan tiba, dan kita tidak tahu apakah umur kita sampai ke Ramadan tahun depan ?
     Karena itu, menghitung dan mengisi sisa-sisa usia mungkin jauh lebih penting. "Kita usia saya mendejkati 65 tahun, dan kurang lebih 38 tahun tahun bekerja di lembaga ini. Tapi rasanya semua itu berlalu begitu cepat, seolah baru tadi pagi atau kemarin sore," kata dosen yang memasuki masa pensiun.
     Saya sungguh tersentuh dengan kata-kata dosen senior itu. Usia manusia memang singkat. Hanya karya-karya kebaikan yang dapat membuatnya lebih panjang dan abadi.


No comments:

Post a Comment