Monday, 13 March 2017

PARANOID


Jaman terlengser di orde baru menuju era Reformasi. Mahasiswa dan elemen masyarakat melakukan demo besar-besaran, mungkin terispirasi tersebut aparat keamanan di Tanah Air bertidak cepat. Sejumlah tokoh aktivis di Jakarta langsung diciduk di berbagai tempat berbeda. Ada yang ditangkap di sebuah hotel, yang letaknya tidak jauh dari aksi demo damai 212 di Monas, ada pula yang diciduk dari rumahnya pada Jumat (2/12) dinihari itu.
Mereka pun diboyong ke Mako Brimob Depok, Jabar. Mereka adalah aktivis sosial dan seniman, Ratna Sarumpaet, musisi Ahmad Dhani, pensiunan tentara Mayjen TNI Kivlan Zen dan Brigjen TNI Adityawarman Thaha, politisi Rachmawati Soekarnoputri, aktivis demokrasi Sri Bintang Pamungkas, Firza Husein dan Eko Suryo.
Pasal makar, menjadi salah satu dasar aparat kepolisian menciduk para tokoh tersebut. Meski status tersangka (makar) resmi dilekatkan terhadap mereka, tapi polisi melepas sebagian besar dari para tokoh tersebut. Kita bisa memahami langkah sigap aparat kepolisian ‘membungkam’ para tokoh tersebut. Bukan apa-apa, polisi mengindikasikan para tokoh itu bakal memanfaatkan momentum demo 212 untuk melakukan tindakan inkonstitusional menggulingkan pemerintahan yang sah saat ini.
Artinya memang, polisi tidak sembarangan melakukan langkah pengamanan terhadap tokoh-tokoh tersebut. Hanya memang kemudian menjadi pertanyaan kita yang awam; benarkah mereka itu akan melakukan makar, kudeta atau apakah sebutannya itu? Dan, mengapa begitu reaktifnya aparat kepolisian dalam melakukan tindakan. Tidak sedikit yang kemudian menyebut pemerintah terkesan begitu paranoid.
Bagaimanapun mereka amat menyadari tidaklah mudah untuk menggulingkan begitu saja pemerintah. Ada tahapan ataupun proses yang prosedural sesuai konstitusi. Pendek kata, jalannya terlalu panjang untuk bisa mencapai ke arah itu. Kalau kemudian dikatakan para tokoh itu berusaha melakukan jalan pintas melakukan gerakan, tentu bisa dikatakan inskonstitusional.
Kita jangan pernah berpikir seperti runtuhnya Orde Lama dan Orde Baru. Kita saat ini hidup dalam iklim baru; Demokrasi –yang semuanya bisa dilakukan dengan cara-cara demokratis dan konstitusional. Jujur harus kita katakan, rasanya tidak ada yang salah dari pemerintahan saat ini. Kalaupun ada persoalan, yakni penegakan hukum, tentu tidak bisa serta merta menjadi alasan pembenar pihak-pihak di luar untuk kemudian bertindak inskonstitusional.
Menyatakan pendapat atau berdemonstrasi adalah dari dengus nafas demokrasi yang dijamin oleh undang-undang. Jujur saja, selama ini sulit sekali kita mencatat apa benar ada peran partai politik dalam mendorong perubahan, dibanding peran mahasiswa. Dari setiap peristiwa besar politik di negeri ini, kita tidak pernah melihat partai politik mengeluarkan keringat untuk mendorong setiap perubahan besar di negeri ini

GELOMBANG INDONESIA


Rentetan kejadian cukup membuat kita terhenyak. Kejadian-kejadian ini juga sangat menyita perhatian. Bahkan banyak kalangan sempat mengkhawatirkan terjadinya perpecahan.
Berbagai peristiwa besar ini menjadi catatan penting bagi sejarah Indonesia saat menjelang berakhirnya 2016. Apalagi semua berlangsung dalam waktu yang jaraknya cukup pendek.
Antara lain munculnya penggalangan aksi massa sebagai reaksi dari pernyataan Gubernur DKI Jakarta nonaktif Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok , penangkapan sejumlah tokoh karena tuduhan makar, dan beberapa kejadian lainnya. Banyak opini yang kemudian secara liar berkembang di publik. Semua bebas mengeluarkan pendapat, bahkan tak jarang ada yang menghujat.
Adanya aksi yang mengusung tema persatuan dalam kebhinnekaan pun muncul. Destintegrasi seakan sudah menjadi ancaman bagi negara.
Namun kekhawatiran itu tidak terbukti, bahkan aksi super damai 212 yang berlangsung tertib dan lancar, telah memberikan jawaban yang tegas bahwa NKRI tetap menjadi harga mati. Ini bukan aksi yang menghina suku, agama, ras, maupun etnis, melainkan sebuah desakan keadilan atas tindakan bagi orang yang menistakannya.
Rabu (7/12/2016), bangsa Indonesia kembali dibuat tersentak. Kabar duka dari bumi Serambi Makkah, Aceh gempa bumi berkekuatan 6,5 skala richter (SR) mengguncang sejumlah daerahnya termasuk Pidie Jaya.
Ratusan jiwa tewas. Tak sedikit pula yang mengalami luka-luka dalam peristiwa yang hanya terjadi dalam waktu beberapa detik sekira pukul 05.03 WIB.
Kejadian ini kembali mengingatkan kita pada tragedi tsunami yang pernah terjadi di provinsi paling barat Indonesia tersebut pada 12 tahun silam. Ini bukan hanya duka bagi rakyat Aceh, tapi duka nasional. Bahkan ketika itu, sejumlah negara di dunia ikut berpartisipasi melakukan upaya kemanusiaan untuk menolong para korban.
Kini manakala bencana alam kembali memorakporandakan sejumlah daerah di Aceh, rasa solidaritas, persatuan, dan persaudaraan sesama anak bangsa kembali muncul. Berbagai organisasi, kelompok, maupun lembaga, secara spontan tergerak melakukan aksi sosial.
Fenomena penggalangan dana untuk membantu para korban pun berkumandang di berbagai daerah. Semua bersatu tanpa menyoal keberagaman suku, agama, ras, maupun etnis. Rasa kemanusiaan dan semangat gotong royong pun membahana.
Mungkin ini bisa dikatakan sebagai salah satu hikmah dari sebuah musibah. Rakyat Indonesia yang tersentak atas kejadian ini, telah dibangkitkan gelora solidaritasnya.
Tentu, kita tidak ingin peristiwa serupa terulang. Namun mengambil pelajaran berharga dari musibah merupakan wujud dari keberadaban manusia sebagai makhluk yang berakal.
Tak kalah penting, semua ini tidak lepas dari kesadaran bersama bahwa NKRI dengan kebhinnekaan telah mempersatukan bangsa Indonesia. Yang pasti dengan pesatuan dan kesatuan, kita menjadi kuat. Semoga

PERANG


Ketika saya sekolah dulu, salah satu tema pengajian rohis atau rohani Islam yang paling menarik teman-teman sekolah adalah perang budaya. Dalam materi tersebut dibahas bahwa cara paling efektif untuk menjauhi umat Islam dari ajarannya, bukanlah perang militer atau kekerasan tapi melalui pendekatan budaya.
Jika umat Islam dilarang sholat, tentu akan bangkit melawan. Jika umat Islam dilarang membaca Alquran, mereka akan berontak. Apalagi jika Alquran dihina, jangankan umat yang hatinya terikat pada Kitabullah, yang jarang menyentuh pun akan marah.
Lalu bagaimana menjauhkan kaum muslimin tanpa kekerasan? Bagaimana caranya agar umat jauh dari Alquran, lalai dari sholat, puasa dan perintah Allah lalu mendekat pada dosa, tanpa memaksa. Infiltrasi budaya jawabannya.
Saya ingat bagaimana film Barat yang sangat digandrungi anak muda dulu diputar pada malam Jumat atau waktu Magrib. Pengajian remaja malam jumatan pun mendadak sepi karena anak-anak muda terpaku pada layar kaca. Belum lagi acara menarik yang tayang di waktu magrib, membuat anak-anak bahkan orang tua sanggup melalaikan sholat.
Melalui musik, perang budaya juga menggerogoti keimanan. Tidak terbayang dahulu di keluarga Muslim, anak-anak berkata kotor di dalam rumah, mengumandangkan ketidaksenonohan. Akan tetapi melalui lirik lagu, ajakan berhubungan suami istri selama pacaran, bisa dikumandangkan seorang anak depan ayahnya. Terasa biasa-luput dari perhatian- karena diucapkan dalam bahasa Inggris dengan lantunan nada.
Degradasi iman melalui budaya dijalankan perlahan, tapi berhasil memudarkan jejak keislamam dan keimanan secara berkesinambungan.
Lantas apa yang harus dilakukan para pekerja dakwah? Alih-alih menghadapinya secara bijak, tidak jarang di antara mereka memilih untuk melawan perang budaya melalui tekanan dan paksaan yang akhirnya justru menjauhkan anak muda dari kegiatan keislaman. Sebagian anak-anak muda mulai merasa Islam membatasi kreativitas dan tidak fun.
Perang budaya seharusnya dihadapi dengan kekuatan budaya. Anak-anak muda harus didekatkan kepada Islam dengan cara yang menarik, sebagaimana pihak-pihak yang berupaya menjauhkan generasi muda dari Islam juga menempuh cara-cara yang memikat.
Musik yang mengajak pada hal-hal buruk harus diimbangi dengan lantunan yang menyeru pada keimanan. Bukan sekadar menjadi media dakwah, lagu islami juga menjadi hiburan bagi generasi muda Islam yang tetap butuh hiburan alternatif yang islami tentu. Bukan hanya lagu, barisan yang berjuang dengan pena berangsur belajar masuk dakwah budaya melalui buku.
Dengan cerita dan kisah penulis bisa menyampaikan pesan kebaikan dengan halus dan tidak menggurui, hingga pembaca sanggup mendapat sesuatu tanpa dipaksa.
Segenap proyek syiar kebaikan, seperti juga lewat tulisan bukan tanpa kendala. Minat baca yang masih rendah membuat penyebaran nilai-nilai kebaikan lewat buku masih terbatas pada kalangan tertentu yang gemar membaca. Padahal dakwah budaya mempunyai pengaruh lebih luas. termasuk paling besar cakupan pengaruhnya yaitu melalui film dan acara televisi.
Ini dakwah yang sangat menantang- bukan hanya karena modalnya besar akan tetapi butuh kreativitas dan energi yang sangat menguras. Tapi di satu sisi jika berhasil akan sangat besar pengaruhnya. Pertama karena jangkauan film jauh lebih massive dari buku dan musik. Jika buku hanya mencapai angka ratusan ribu pengaruh sebuah film sanggup menjangkau jutaan bahkan puluhan juta viewers ketika menyentuh layar televisi.
Dunia Barat sendiri sudah membuktikan. Melalui film dan serial serta acara televisi, mereka bisa mengkampanyekan cinta sesama jenis, minuman keras, dan free sex. Sesuatu yang membumi karena dengan setia dipropagandakan melalui media visual bertahun tahun, bahkan berpuluh-puluh tahun.
Banyak pihak menyadari, nilai-nilai kebaikan Islam harus diperjuangkan dengan pendekatan serupa. Tantangannya menebar kebaikan lewat film bukan sekedar membuat film bagus dengan pesan yang dikemas indah, akan tetapi sekaligus bagaimana memastikan film tersebut mampu diminati masyarakat.
Saat ini sebuah film islami bertajuk Cinta Laki-laki Biasa sedang tayang di bioskop. Alhamdulillah, banyak Muslimah mulai mengerti konsep taaruf dalam Islam, menikah tanpa berpacaran. Memulai proses dengan taaruf - dekat untuk tujuan nikah bukan sekadar bersenang-senang. Bahkan artis yang berperan dalam film tersebut bilang, "Saya sekarang maunya taaruf. Pacaran bikin capek."
Konsep menjadi anak yang baik, suami yang baik, Islam yang anti kekerasan, antiterorisme, nilai kebangsaan, memilih suami berdasarkan akhlak, menyandarkan kebahagiaan dan cinta sejati pada namaNya dan bukan materi, insya allah semua dikemas tanpa menggurui dan tetap menghibur.
Butuh dukungan dan solidaritas semua yang peduli dan memahami urgensi dakwah melalui pendekatan budaya, agar roda dakwah melalui film bergulir. Tantangan menjadi lebih berat sebab di saat yang sama sebagian kalangan Muslim memilih menentang film yang membawa keburukan tanpa mendukung usaha dakwah yang berusaha mengimbanginya

CANGKEMMU


Mulutmu adalah harimau. lidah tak bertulang, Ucapanmu adalah cerminanmu, itulah ucapan yang sangat berpengaruh dengan orang tersebut, Itulah ungkapan yang sering kita dengarkan.dan sangat berbahaya kalau tidak hati-hati. Seperti yang diucapkan Ahok. Akibat ucapannya yang ditafsirkan menistakan agama, Ahok sebenarnya tidak perlu khawatir. Umat Islam tidak akan memukulinya. Mereka hanya berbicara dan bersikap atas ulahnya. Tapi kita seharusnya berterima kasih kepada Ahok , karena Ahok umat Islam semakin merapatkan barisan, bersatu, seia sekata dan setujuan untuk memperjuang keyakinannya agar tidak dibuat main-main. Ulama yang juga pemimpin majelis zikir ini mengharapkan agar Ahok lebih banyak mempelajari Islam agar tahu apa itu Islam.
Islam itu indah. Ajarannya baik dan benar. Itu pegangan umat Islam. Secara islami, mungkin umat Islam telah memaafkan Ahok. Tetapi secara yuridis, Indonesia adalah negara hukum. Ahok masih berurusan dengan masalah hukum. Jadi, Ahok tidak bisa terhindar dari jerat hukum.
Ahok dijerat Pasal 156 huruf a KUHP dalam kasus penistaan agama dan Pasal 28 ayat 2 UU Nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Namun, hingga sekarang Ahok masih bebas berkeliaran meski sudah ditetapkan sebagai tersangka.
Pada 11 Oktober 2016 Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat mengeluarkan fatwa tentang penistaan agama oleh Ahok . Berlanjut ribuan umat Islam menggelar sekian kali unjuk rasa atas penistaan agama oleh Ahok , yakni demonstrasi pada 14 Oktober 2016, 4 November dan 2 Desember 2016.
Kasus Ahok ini memang pelik. Kita berharap kasus Ahok ini tidak beraroma politik, karena keutuhan bangsa lebih penting daripada kepentingan kelompok. Tetapi, logika publik sulit untuk dibantah, bahwa Ahok, PDIP dan kekuasaan berada dalam satu perahu partai. Tiga serangkai. Bangsa kita yang besar ini ternyata memerlukan kekuatan unjuk rasa yang besar pula untuk menggolkan perjuangan. Cukup panjang perjuangan yang harus dilakukan oleh umat Islam demi citra dan keadilan.
Ahok kenapa jadi begini? Apakah filosofi Bhinneka Tunggal Ika belum cukup untuk membuhul warna-warni kehidupan bangsa ini? Kalau syair lagu berjudul Renungkanlah mengajak merenungi filosafi cinta, maka mari kita renungkan pula filosofi bangsa kita itu. Akhirnya, hidup damai itu menyenangkan. Dalam damai, kita dapat belajar dari masa lalu dan menata masa depan yang lebih baik.

KRITIK MENGGELITIK


"Hormat saya untuk Bapak yang pakai peci putih" atau "Kami bangga dan kagum dengan Bapak yang berbaju hijau". Mengkritik sambil berbisik, meninju sambil memangku. Kritik model begini tren baru sebagai 'jalan tengah' yang lebih damai dan sejuk.
Sosial media memang memiliki jalan nasib dan takdirnya sendiri. Masih ingat model pemberitaan media online yang memukau dan memaku?
Contoh memukau:
"Ditanya Soal Ahok, Jawaban Ayu Tongtong Mengagetkan".
Contoh memaku:
"Lima Syarat Pendamping Ahok, Syarat Nomer Empat Mengejutkan".
Jurnalisme model 'klickbait' ini pernah jadi tren berita media online. Demikian pula dengan model kritik pada kekuasaan di era media sosial mengalami berbagai perubahan. Berbeda zaman dan penguasa, berbeda pula pendukung dan pengkritiknya, maka berbeda pula polanya.
Pada era Soeharto hingga SBY, kritik sering dilupakan lewat aksi demonstrasi, diskusi atau menulis artikel opini. Tahun 2009-2012 pada era kedua pemerintahan SBY mulai marak kritik melalui media sosial. Tapi tetap menggunakan aksi demonstrasi.
Saat itu, saking meluapnya bahkan seekor kerbau tidak bersalah juga diajak demo di depan istana. Di Sosial Media jauh lebih parah, caci maki merajalela. Selain SBY ada Foke (Gubernur DKI saat itu) yang menjadi bulan-bulanan bully netizen di media sosial. Apakah ini real, nyata? Sabar...
Inilah masa awal kekerasan virtual dan era caci maki di sosial media, kekerasan virtual tersebut muncul dari kelompok tertentu yang memang memiliki karakter progresif. Mungkin terlalu lama merasakan marginalisasi politik pada era Orde Baru, kelompok ini terlatih dalam berjejaringan dan militan.
Dalam banyak kasus, hanya dengan menggunakan media sosial mereka dapat mengorganisir diri dan berkumpul dengan cepat. Ingat kasus Cecak vs Buaya? Kecepatan itu saat ini melambat setelah mendapat apa yang selama ini ingin didapat. Untuk mempertahankan apa yang telah didapat, berbagai aspirasi mulai disumbat dan dihambat. Inilah hukum umum kekuasaan.
Dalam konteks ini, peci putih menjadi simbol tersembunyi yang dihadapkan pada dominasi peci hitam. Peci putih menjadi anti tesis setelah sejumlah Taipan mengenakan peci hitam. Bagi penikmat semiotika, simbol-simbol ini sedang bekerja menggiring pada suatu polarisasi politik.
Kendati saya juga penikmat semiotika visual, namun pada konteks ini poin dan minat saya pada model dan strategi yang digunakan untuk mengritik. Jika kalimat ""Hormat saya untuk Bapak yang pakai peci putih" merupakan kritik, butuh kecerdasan membacanya sebagai pesan politik. Ada pihak yang menurut saya menularkan kritik satir yang mencerdaskan jika dibanding kritik kasar penuh caci maki pada kekuasaan di era awal perang siber tahun 2010-an.
Secara akademik, hal ini sebenarnya sangat menarik untuk diteliti. Keyakinan terhadap nilai dan ajaran politik atau tekanan (marginalisasi) politik pada masa lalu rupanya menentukan juga corak prilaku netizen dalam aktivitasnya di sosial media pada masa kini.
Jika ada yang tertarik meneliti hal ini, saya siap menghibahkan diri menjadi salah satu tim peneliti. Tapi apa iya pihak asing bersedia memberi donasi? Diragukan, karena mereka tidak ingin modus perang siber ini terungkap pada publik

GARUDAKU


Sepatutnya kita harus ucapkan terima kasih kepada para pemain tim nasional Indonesia. Ucapan itu pantas disematkan setelah skuat Garuda memastikan langkahnya menuju final kelimanya di turnamen Piala AFF. Tadi malam Boaz dan kawan-kawan tampil begitu heroik. Rasanya tak berlebihan untuk menyematkan tontonan kepertama tim ini sebagai hal yang menarik. Sebuah semangat juang yang tak kenal lelah telah dipertontonkan oleh kedua tim. Di stadion pakansari cibinong
Meski di luar lapangan kecewa suporter tidak bisa menonton secara langsung walau tiket sudah ditambah tetapi tribun sudah penuh dengan daya tampung 30.000 penonton , namun secara keseluruhan pertemuan kedua tim ini telah memberikan pelajaran berharga kepada kita semua. Sebuah pelajaran tentang arti kesabaran dan semangat yang tak pernah padam dalam meraih tujuan akhir.
Panggung kesabaran itu telah diperlihatkan para pemain Indonesia. awal sudah gol di menit ke 33 oleh Teerasil Thailand, Indonesia harus ekstra sabar menghadapi agresifitas pemain Thailand . Seakan tak kenal lelah, Thailand terus menerus membombardir pertahanan Indonesia. Saya percaya, jika Anda berkesempatan menonton siaran langsung pertandingan tersebut, pastilah degup jantung Anda bakal berpacu kencang.
Namun kesabaranlah yang akhirnya menjadi kunci. Buah kesabaran itu tersaji selepas turun minum. Buah itu disajikan oleh Ricky rizal dipora gol pertama buat indonesia menit ke 65 yang sukses menggetarkan gawang tim tuan rumah. Publik Thailand seakan tak percaya kalau Indonesia mampu melepaskan diri dari tekanan dan membobol gawang lawannya dan di menit ke 69 Hansomu yowa menambah gol sebagai penentu kemenangan untuk Indonesia. Sekali lagi, babak selanjutnya tanding tandang di Thailand sebagai penentu juara AFF. itulah kesabaran dari sebuah permainan bertahan.
Salahkah untuk menerapkan gaya permainan semacam itu? Bagi Anda yang menggemari permainan sepak bola indah ala Inggris atau Spanyol, mungkin sah-sah saja untuk menyebut permainan Indonesia pada leg kepertama final itu tak menarik. Namun bukankah gaya permainan semacam itu juga kerap dipertontonkan oleh tim-tim dunia.
Sebutlah Timnas Italia yang begitu kesohor dengan catenaccio. Lalu ada juga nama pelatih top dunia, Jose Mourinho. Bahkan, gaya permainan bertahan Mourinho itu kerap dicemooh dengan perumpamaan parkir bus di depan gawang. Salahkah menerapkan strategi semacam itu?
Tentunya, terlalu naif untuk mencemooh strategi yang diadopsi seorang pelatih. Toh, dalam pragmatisme sepak bola modern masa kini, hasil akhir adalah hal paling utama. Itulah yang telah dilakukan oleh Alfred Riedl saat menyingkirkan Thailand. Sekali lagi, apapun strategi permainan yang dipilih, hal terpenting adalah bagaimana membangun kesabaran dan merebut kemenangan.
Selain kesabaran dalam bertahan, laga final tadi malam juga memperlihatkan tentang semangat juang yang tak pernah lelah. Contoh ini rasanya sangat tepat diberikan kepada para pemain Thailand. tak ada istilah berpatah arang alias menyerah. Harga diri tampil di depan ribuan pendukung.Indonesia justru menjadi pembakar semangat pemain Thailand untuk terus memberikan perlawanan kepada Indonesia. Hasilnya, seperti yang kita saksikan. Laga yang berjalan selama 120 menit itu seakan mengaduk-aduk ketegangan para penontonnya, terutama para pendukung Indonesia.
Saat posisi Thailand sudah berada di atas angin dan optimisme meraih kemenangan sudah di depan mata, justru Indonesia mampu membobol gawang lawannya 2 berturut turut . Inilah ikhtiar tak kenal lelah yang sudah diteladankan para pemain.
//So//, untuk laga final leg kedua di Thailand sebagai penentu juara AFF. Indonesia tentunya harus tampil lebih baik lagi. Kesabaran, konsentrasi serta semangat tak pernah lelah harus terus ditanamkan. Jadi berikanlah kami hasil terbaik dengan gelar juara

ADA APA


Jaman saya dulu sekolah, kenakalan remaja hal biasa dan tidak sampai tragis, tapi jaman sekarang remaja membahayakan diri sendiri bahkan orang lain mungkin terispirasi tontonan di televisi baik berita atau sebuah film. Seperti peristiwa mengenaskan baru-baru ini menimpa Indonesia. Bukan hanya satu, melainkan tiga kasus tragis dalam waktu berdekatan. Tidak ada kaitan satu dan lainnya, namun terdapat persamaan. Semua pelaku tidak mempunyai motivasi yang jelas.
Di Nusa Tenggara Timur, seorang pria dengan tenang melangkah masuk langsung menuju kursi belakang sebuah ruang kelas sekolah dasar. Mendadak, tanpa alasan jelas, menyayat leher siswa yang duduk di bangku belakang.
Semua siswa menjerit dan berhamburan keluar akan tetapi tujuh pelajar sudah telanjur terluka. Tidak ada korban meninggal tapi gelombang kemarahan orang tua tak terbendung. Sang pelaku dilempari batu beramai-ramai hingga tewas.
Di Bandung pada hari yang sama seorang pria tiba-tiba mengamuk dan menikam para pejalan yang melintas di jembatan penyeberangan Tol Purbaleunyi. Delapan orang terluka dan satu korban tewas akibat tertusuk dibagian dada.
Di Yogyakarta, sekelompok remaja dengan penutup wajah, menyerang remaja lain yang baru pulang tamasya, saat berpapasan di tengah jalan. Satu tewas sementara enam lainnya terluka. Tidak ada alasan jelas kenapa pelaku yang kemudian diketahui pelajar sekolah swasta melakukan perbuatan keji tersebut.
Allah, kemana menguapnya rasa kemanusiaan?
Sebegitu mudahkan anak-anak pelajar melakukan kekerasan yang tak terbayangkan ini?
Di sekolah kekerasan tidak pernah diajarkan. Akan tetapi perpeloncoan masih membudaya, mungkin kah ini menjadi akar kekerasan?
Di rumah sebagian besar orang tua pun tidak mengajarkan kekerasan.
Namun tidak semua anak beruntung memiliki orang tua yang memberikan tuntunan dan bimbingan yang baik. Termasuk mengarahkan anak-anak mereka menonton film, tayangan atau hiburan yang mendidik dan menginspirasi.
Padahal manusia adalah mahluk visual. Karenanya pengaruh media visual sangat besar bagi jiwa anak. Ini salah satu titik penting yang menggerakkan kesadaran banyak insan kreatif untuk mempersembahkan film atau tayangan yang menginspirasi keluarga dan bisa dinikmati anak-anak, seperti film Cinta Laki Laki Biasa atau Bulan Terbelah di Langit Amerika, yang berjuang untuk generasi yang lebih terjaga. Semoga ke depan lebih banyak dukungan diberikan para orang tua.
Secara umum, masyarakat membenci kekerasan. Kenyataan bercokolnya para preman di berbagai ruang publik, atau perilaku dominan pejabat dan aparat yang menggunakan kekuasaan untuk memaksakan kehendak, justru berbalik menjadi bentuk kampanye kekerasan dan paksaan sebagai kekuatan yang harus ditakuti.
Akhirnya kita tidak hanya bisa menghakimi tapi juga harus melakukan muhasabah diri.
Seberapa jauh telah menyiapkan anak-anak, adik, murid dan semua yang peduli untuk menjadi manusia yang -- seiring berangsurnya usia -- makin menghargai dan bukan justru membuang rasa kemanusiaan