Mulutmu adalah harimau. lidah tak bertulang, Ucapanmu adalah cerminanmu, itulah ucapan yang sangat berpengaruh dengan orang tersebut, Itulah ungkapan yang sering kita dengarkan.dan sangat berbahaya kalau tidak hati-hati. Seperti yang diucapkan Ahok. Akibat ucapannya yang ditafsirkan menistakan agama, Ahok sebenarnya tidak perlu khawatir. Umat Islam tidak akan memukulinya. Mereka hanya berbicara dan bersikap atas ulahnya. Tapi kita seharusnya berterima kasih kepada Ahok , karena Ahok umat Islam semakin merapatkan barisan, bersatu, seia sekata dan setujuan untuk memperjuang keyakinannya agar tidak dibuat main-main. Ulama yang juga pemimpin majelis zikir ini mengharapkan agar Ahok lebih banyak mempelajari Islam agar tahu apa itu Islam.
Islam itu indah. Ajarannya baik dan benar. Itu pegangan umat Islam. Secara islami, mungkin umat Islam telah memaafkan Ahok. Tetapi secara yuridis, Indonesia adalah negara hukum. Ahok masih berurusan dengan masalah hukum. Jadi, Ahok tidak bisa terhindar dari jerat hukum.
Islam itu indah. Ajarannya baik dan benar. Itu pegangan umat Islam. Secara islami, mungkin umat Islam telah memaafkan Ahok. Tetapi secara yuridis, Indonesia adalah negara hukum. Ahok masih berurusan dengan masalah hukum. Jadi, Ahok tidak bisa terhindar dari jerat hukum.
Ahok dijerat Pasal 156 huruf a KUHP dalam kasus penistaan agama dan Pasal 28 ayat 2 UU Nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Namun, hingga sekarang Ahok masih bebas berkeliaran meski sudah ditetapkan sebagai tersangka.
Pada 11 Oktober 2016 Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat mengeluarkan fatwa tentang penistaan agama oleh Ahok . Berlanjut ribuan umat Islam menggelar sekian kali unjuk rasa atas penistaan agama oleh Ahok , yakni demonstrasi pada 14 Oktober 2016, 4 November dan 2 Desember 2016.
Kasus Ahok ini memang pelik. Kita berharap kasus Ahok ini tidak beraroma politik, karena keutuhan bangsa lebih penting daripada kepentingan kelompok. Tetapi, logika publik sulit untuk dibantah, bahwa Ahok, PDIP dan kekuasaan berada dalam satu perahu partai. Tiga serangkai. Bangsa kita yang besar ini ternyata memerlukan kekuatan unjuk rasa yang besar pula untuk menggolkan perjuangan. Cukup panjang perjuangan yang harus dilakukan oleh umat Islam demi citra dan keadilan.
Ahok kenapa jadi begini? Apakah filosofi Bhinneka Tunggal Ika belum cukup untuk membuhul warna-warni kehidupan bangsa ini? Kalau syair lagu berjudul Renungkanlah mengajak merenungi filosafi cinta, maka mari kita renungkan pula filosofi bangsa kita itu. Akhirnya, hidup damai itu menyenangkan. Dalam damai, kita dapat belajar dari masa lalu dan menata masa depan yang lebih baik.
Pada 11 Oktober 2016 Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat mengeluarkan fatwa tentang penistaan agama oleh Ahok . Berlanjut ribuan umat Islam menggelar sekian kali unjuk rasa atas penistaan agama oleh Ahok , yakni demonstrasi pada 14 Oktober 2016, 4 November dan 2 Desember 2016.
Kasus Ahok ini memang pelik. Kita berharap kasus Ahok ini tidak beraroma politik, karena keutuhan bangsa lebih penting daripada kepentingan kelompok. Tetapi, logika publik sulit untuk dibantah, bahwa Ahok, PDIP dan kekuasaan berada dalam satu perahu partai. Tiga serangkai. Bangsa kita yang besar ini ternyata memerlukan kekuatan unjuk rasa yang besar pula untuk menggolkan perjuangan. Cukup panjang perjuangan yang harus dilakukan oleh umat Islam demi citra dan keadilan.
Ahok kenapa jadi begini? Apakah filosofi Bhinneka Tunggal Ika belum cukup untuk membuhul warna-warni kehidupan bangsa ini? Kalau syair lagu berjudul Renungkanlah mengajak merenungi filosafi cinta, maka mari kita renungkan pula filosofi bangsa kita itu. Akhirnya, hidup damai itu menyenangkan. Dalam damai, kita dapat belajar dari masa lalu dan menata masa depan yang lebih baik.
No comments:
Post a Comment