Thursday, 19 July 2018

MISKIN & SERAKAH


Manusia ini memang aneh. Kadangkala, dia mau melakukan apapun asal teler, termasuk menelan pil jin alias zenith alias Carnophen dan yang sedang baru tembakau cap gorila yang mengandung ganja. Jin dikenal dalam sebagai makhluk yang hidup di ‘alam gaib’. Selain itu,
Adapun zenith berasal dari bahasa Inggris artinya puncak, suatu ketinggian yang tak ada lagi di atasnya kecuali langit. Hasrat manusia yang menggebu untuk ingin selalu menjadi orang nomor satu adalah wujud nyata dari ambisi berada di puncak itu. Dari puncak, orang dapat melihat dengan nyaman ke bawah, sedangkan dari bawah, orang harus menengadah ke atas, sehingga leher pun payah.
Alam gaib juga memiliki daya pikat tersendiri. Meskipun keberadaan alam gaib itu diakui, tetapi tidak banyak orang yang benar-benar mengenal dan mengalaminya. Mengenal alam jin adalah keistimewaan dan kekuatan. Konon, makhluk di alam sebelah itu senantiasa dapat melihat kita di alam nyata, tetapi tidak sebaliknya. Alam gaib itu misterius, menakutkan sekaligus memesona.
Masalahnya, bagaimanakah proses yang ditempuh hingga orang dapat mencapai puncak atau memasuki alam gaib itu? Untuk sampai ke puncak, orang harus mendaki. Untuk memasuki alam rohani, orang harus mensucikan hati. Proses ini melelahkan dan menuntut keteguhan hati serta kesabaran. Padahal, salah satu kelemahan umum manusia adalah, dia suka tergesa-gesa, ingin serbacepat dan instan.
Mungkin itu sebabnya, sepanjang 2016 lalu, polisi menyita hampir 16 juta butir zenith. Ini berarti, rata-rata lebih dari satu juta butir per bulan! Ini tentu belum termasuk yang telah dikonsumsi dan yang masih beredar di masyarakat. Tak salah jika pil jin ini disebut ‘pil sejuta umat’ karena saking lakunya dan menyebar jauh hingga ke pelosok desa.
Pada 10 Maret 2016, polisi menangkap bos zenith karena memiliki hampir 1,5 juta butir obat Daftar G, terutama zenith. Ketika diadili, berkat tekanan massa, divonis sembilan tahun penjara dan denda Rp 500 juta. Namun setelah naik banding, Pengadilan Tinggi menjatuhkan vonis 1 tahun 6 bulan, dan denda Rp 10 juta saja!
Banyak pihak yang merasa kecewa dengan keputusan pengadilan ini. Tetapi, bagi aparat hukum, alasan tentu ada (atau bisa diada-adakan). Di antaranya karena dalam hukum dan peraturan yang ada, obat zenith tidak termasuk narkoba yang dapat dihukum berat. Karena itulah, beberapa pihak mengusulkan agar di tahun 2017 ini dibuat perda (peraturan daerah) khusus perihal penyalahgunaan obat zenith dan sejenisnya.
Usul tersebut baik sekali. Namun, kita juga perlu ingat, setiap orang ingin sampai ke puncak. Pil jin yang murah itu (Rp 25 ribu per keping, isi 10 butir) adalah jalan pintas bagi kaum menengah ke bawah. Sangat mungkin mereka sudah putus asa, merasa tidak sanggup lagi mendaki dalam keadaan papa. Mereka lari dari alam nyata yang sengsara, memasuki alam lain untuk mencapai puncak impian-impian mereka.
Mencari jalan pintas jelas bukan perilaku khas orang miskin. Kelas menengah dan atas juga tak kalah bergairah. Mereka korupsi, memeras, menipu hingga mengonsumsi narkoba agar sampai ke puncak yang diimpikan. Termasuk di dalamnya mereka yang diam-diam turut menikmati uang bisnis zenith dan narkoba. Mereka memilih jalan pintas bukan karena kemiskinan, tetapi karena keserakahan.
Dengan demikian, pil jin yang laris manis itu menunjukkan bahwa masyarakat kita sedang sakit. Penyakit yang dideritanya adalah kemiskinan dan keserakahan. Dua penyakit ini saling terkait. Keserakahan kaum berpunya akan membuat banyak orang menjadi miskin. Namun, pada saat yang sama, orang yang serakah itu pada hakikatnya juga miskin karena dia tak pernah merasa cukup.
Karena itu, selain peraturan yang keras, untuk memberantas tuntas pil jin, kita harus memberantas kemiskinan dan keserakahan. Jika tidak, akan makin banyak orang yang majnûn, yakni gila akibat kerasukan (pil) jin!

LUAR BIAS A


Rumah Mbahnya ufa kulonprogo yogyakarta memang menyenangkan. Di sebelah kiri kanan depan dan belakang ada rumah dengan halaman yang 4x lebih besar dari rumahnya, halamanya ditanami pohon kelapa, di selatan rumah sampai sekitar 2 kilometer laut lepas sekitaran pantai gelagah nan indah dan masih alami, ke barat dan timur 200 meter membentang areal sawah luas. Karena bentangan sawah itulah, bila langit cerah, setiap pagi kami bisa memandangi Gunung Menoreh yang membiru nun di sana. Benar-benar kemewahan tak terkira.
Malang, semua itu akan segera lenyap. Sebagian sawah sedang ditanami fondasi-fondasi bangunan baru, dan pemandangan itulah menggugah ufa protes. Ya, sebuah kompleks perumahan belasan kapling akan segera berdiri. Itu yang membuat kami sedih. Kami memang selalu sentimentil tiap kali melihat persawahan lenyap, diganti perumahan. Kadang kita berpikir tentang ketahanan pangan masyarakat. Tapi kali ini kami juga memikirkan pemandangan Gunung Menoreh yang dirampas tumpukan batu bata.
Tunggu dulu. Dirampas?
"Wis to," saya menenangkan diri saya.sendiri . "Itu sawah wong ya bukan punya kita. Suka-suka yang punya sawah to. Mereka para petani yang butuh duit dan lelah dengan kehidupan bertani yang tidak menghasilkan apa-apa. Saatnya kita merelakan indie mooi Menoreh pagi di atas sawah-sawah petani yang nelangsa. Hehehe."
Jawaban saya terdengar menistakan petani. Tapi sebentar. Kalimat itu juga bukan asal-asalan. Saya coba ceritakan kisah selengkapnnya.
Sejak kecil, ibu alm tinggal di kampung yang dikepung persawahan. Kakek-nenek saya dari jalur ibu adalah para petani tulen. Paman-paman, meski mereka pada jadi guru, pun nyambi bertani. Tetangga-tetangga apalagi, mayoritas mereka petani.
Selepas periode 1990-an, kehidupan bertani di lingkungan mulai bergeser. Sawah-sawah mulai dikeringkan. Ada yang dipakai untuk membangun rumah sendiri, namun yang lebih masif lagi adalah pengeringan sawah di sepanjang pinggir jalan besar untuk disewakan.
Daerah saat itu memang mulai bangkit jadi daerah wisata dan sentra industri cendera mata rupa-rupa. Maka, para pedagang dari luar berdatangan, dan membutuhkan gerai-gerai. Mereka pun menyewa lahan-lahan di sepanjang pinggir jalan. Walhasil, lenyaplah deretan sawah di sekitar , berganti dengan bangunan-bangunan show room pernak-pernik aneka rupa.
Salahkah para pemilik sawah? Apakah artinya mereka abai pada masa depan ketahanan pangan Indonesia? Aih, pertanyaan semacam itu terlalu sekolahan.
Begini. Hidup menjadi petani di Indonesia itu serba mepet. Dukungan negara kepada sektor pertanian juga selalu setengah-setengah. Para orang pinter bilang, negeri kita buru-buru melompat ke tahap industri, sementara tahap pertanian sebagai basis paling dasar kehidupan masyarakat kita belum dikembangkan dengan semestinya. Akibatnya ya pertanian morat-marit, kehidupan para petani kembang kempis. Nggak percaya?
Sekarang coba tebak, untuk hasil panen setelah kerja penggarapan selama empat bulan dengan luas lahan 1000 meter persegi, berapa uang yang didapat? Rp 30 juta? Rp 50 juta? Hehe, bukan. Ini menanam padi, bukan menanam saham.
Lazimnya, para petani di daerah menjual padi mereka ke tengkulak. Dari tengkulak, harga padi siap panen rata-rata Rp 20 ribu per 'lobang' atau per 10 meter persegi. (Kalau musim jelek Rp 15 ribu, kalau musim bagus Rp 25 ribu). Artinya, untuk luasan 1000 meter persegi, tengkulak ngasih duit Rp 20 juta. Eh, maaf, salah ketik, yang benar: Rp 2 juta.
Kalau pemilik lahan menggarap sendiri, dia akan dapat angka Rp 2 juta dikurangi ongkos benih, pestisida, dan lain-lain senilai sekitar 500 ribu. Berarti hasil bersih dia Rp 1,5 juta. Itulah hasilnya bekerja berikut hasil investasi lahannya selama empat bulan penuh.
Sebenarnya, petani akan lebih untung kalau bisa menjual dalam bentuk beras dan tidak melalui tengkulak. Hasil penjualan bisa 30% lebih banyak. Masalahnya, tenaga petik (ani-ani) di masa-masa panen susah sekali carinya. Kebanyakan buruh-buruh panen sudah pada ikut jadi tenaganya para tengkulak. Jadilah, padi 'ditebaske' atau dijual saat masih tertanam.
Apa pun itu, dalam setiap masa tanam selama empat bulan, nilai keekonomian lahan 1000 meter persegi hanya berkisar di angka Rp 1,5 hingga Rp 2 juta. Dalam setahun, maksimal petani hanya akan memperoleh Rp 6 juta. Begitulah kehidupan para petani kita.
Dengan kondisi demikian, tak usah heran-heran amat kalau para petani tidak pernah bercita-cita agar anak mereka mengikuti jejak mereka. Rata-rata ya pada berharap keturunan mereka jadi 'pegawai', syukur-syukur jadi polisi atau tentara.
Problemnya, untuk bisa mendudukkan anak mereka ke kursi PNS apalagi TNI, ongkosnya tinggi. Ratusan juta. Itu baru masuknya. Belum lagi untuk 'biaya' penempatannya.
Beruntung jika posisinya seperti tetangga-tetangga saya yang bisa menyewakan lahan mereka kepada toko-toko suvenir. Sekarang mereka kaya-kaya. Lahan seluas 1000 meter bisa dibagi jadi banyak kapling, disewakan sekian tahun, menghasilkan ongkos sewa ratusan juta, dan sertifikat tanah tetap ada di tangan pemiliknya. Lha bagaimana dengan para pemilik sawah di daerah-daerah lain yang tidak kecipratan berkah daerah wisata?
Maka berlakulah pola itu. Berharap mendapatkan uang cepat dari menjual padi tak lebih dari mimpi. Maka sawah-sawah pun dijual. Hasil penjualannya dipakai buat 'ongkos' anak masuk tentara. Harapannya anaknya nanti yang akan merawat orangtuanya.
Lagi-lagi, itu masih bagus. Tak jarang orang terpaksa menjual sawahnya bukan untuk memasukkan anaknya jadi pegawai, melainkan karena sakit berat. Sakit, masuk rumah sakit, sementara rumah sakit tak bedanya 'monster penghisap darah' yang menyedot habis segala kekayaan orang-orang desa yang tak mengenal asuransi kesehatan dan semacamnya.
Nah, di atas sawah-sawah yang terjual itu, berdiri bangunan-bangunan baru. Masih mending kalau yang menempati kapling-kapling itu mereka yang level sosialnya tak jauh-jauh amat dengan para petani. Toh bagaimanapun manusia berkembang biak, dan membutuhkan perumahan. Yang sial, jika bangunan-bangunan itu tidak ditinggali, namun cuma dibeli orang-orang kaya sebagai investasi.
Ini bukan barang asing di Yogyakarta. Di perumahan-perumahan mewah yang dulunya juga sawah, tak ada lagi kapling tersisa. Semua sudah laku terjual. Namun para penghuninya tak banyak yang tampak. Benar, rumah-rumah itu kosong saja. Para pemiliknya tinggal di Jakarta, Balikpapan, Samarinda, Banjarmasin dan entah mana pula. Mungkin rumah-rumah itu jadi rumah kesembilan atau ketiga puluh yang mereka miliki. Semakin lama, kepemilikan atas tanah semakin mengumpul di segelintir orang saja.
Memang demikianlah permainannya. Para petani tidak didukung negara untuk mengembangkan kerja pertaniannya. Mereka juga dicekik layanan pendidikan yang mahal, dibelit layanan kesehatan yang tak terjangkau, disandera sistem yang korup dalam penerimaan kerja bagi anak-anak mereka. Akhirnya, mereka terpaksa kehilangan sawah-sawah mereka.
Dari sekian juta orang yang kehilangan lahan, ada sebagian yang kalah sekalah-kalahnya. Sawah tak lagi punya, sumber pangan tiada, anak-anak yang disekolahkan tak juga berhasil sebagaimana diharapkan semula. Lalu orang-orang kalah itu mencari hidup ke tempat di mana uang berada: kota.
Di kota, mereka tinggal di tempat seadanya. Kemudian mereka digusur, sembari para penggusur berkhotbah tentang legalitas. Luar biasa, saya kira. Luar biasa.

BISA BENAR BISA SALAH


"Jadi bentuknya dinosaurus tuh seperti ini, Yah ," kata Ufa , anak saya. Ia mengucapkannya sambil menunjukkan beberapa patung binatang masa lalu tersebut, saat kami tengah berjalan-jalan di taman pintar Yogyakarta . "Tapi it can be right, it can be wrong." Bisa benar, bisa salah, katanya.
Lho, siapa yang bilang begitu? Saya bertanya.
"Ya guru saya, " jawab Ufa . "Bentuk yang ini bisa benar, bisa salah. Soalnya hewan-hewan ini sudah nggak ada yang hidup lagi, dan scientist cuma guessing aja pakai tulang-tulang."
Wow. Saya langsung terkesan dengan jawaban itu. Lebih tepatnya, saya terkesan dengan penjelasan guru sekolah Ufa . Murid kelas lima SD sudah diberi bonus keterangan, bahwa apa yang dipaparkan guru mereka adalah hal yang relatif, sekaligus rapuh. Bisa benar, namun bisa juga salah. Entahlah, apakah itu memang metode pengajaran standar sekarang , ataukah cuma karena gurunya Ufa saja yang kebetulan luar biasa.
Saya tidak tahu apa istilah pedagogisnya. Bolehkah saya sebut dengan... mmm... pendidikan yang rendah hati? Hehehe. Terdengar kurang akademis, ya. Namun saya kira itu bisa jadi satu poin menarik.
Selama ini, kita selalu resah melihat orang-orang yang berpikiran ekstrem, khususnya dalam hal keyakinan beragama. Kita galau melihat mereka seolah ingin memaksakan tafsir kebenaran versi mereka sendiri kepada segenap umat manusia, bahkan kerapkali kekerasan yang jadi jalannya. Namun pernahkah kita gelisah menyaksikan orang yang juga tak kalah ekstremnya dalam menjunjung tinggi tafsir pengetahuan menurut apa yang ia dapatkan di bangku pendidikannya?
Bersikap fanatik buta kepada ilmu pengetahuan justru melanggar fitrah ilmu itu sendiri. Ilmu adalah sesuatu yang terus berkembang. Terus berdialog, saling berbantahan, dan membentuk ilmu baru. Demikian terus menerus yang terjadi sepanjang sejarah. Pengondisian anak didik untuk memposisikan kebenaran ilmiah yang ia dapatkan sebagai kebenaran final, rasa-rasanya agak berbahaya. Akibatnya bukan cuma kejumudan, melainkan juga ketakutan untuk bertanya.
Dengan ketakutan untuk bertanya, produk pendidikan yang kita hasilkan hanyalah mesin-mesin penghafal, mesin-mesin peng-copy-paste. Rangsangan untuk membuat eksplorasi lebih jauh jadi minim. Motivasi untuk membuat karya-karya baru juga rendah.
Barangkali saya lebay. Namun saya punya contoh yang paling sederhana. Saya ingat, ketika saya SD, seorang teman disalahkan guru kami karena mengatakan kucing makan tulang. "Yang benar kucing makan... tikuuus," begitu kata Bu Guru. Belasan tahun setelahnya, lembar jawaban anak saya dicoret oleh gurunya, karena dia menyebut bahwa yang mencuci baju di rumah adalah ayah. "Yang benar, yang mencuci baju adalah ibu," begitu teori dari gurunya.
Repotnya, karena teori-teori tersebut diposisikan sebagai kebenaran final, maka murid tak bisa memprotes. Saya memang sampai-sampai datang ke sekolah untuk menggugat teori "Hanya ibu yang mencuci baju." Namun tetap saja upaya dialog yang agak keras mesti dijalankan dulu, meyakinkan Bu Guru bahwa memang di rumah itu ayahlah yang mencuci baju, hingga akhirnya pihak guru menerimanya.
Kenapa sampai segitunya? Kira-kira, ada dua sebabnya. Pertama, karena guru dan buku sekolah hanya punya satu versi tunggal atas "kebenaran". Kedua, karena belum pernah terdengar semangat mendidik yang berendah hati dengan mengatakan "Anak-anak, bisa jadi apa yang Ibu-Bapak Guru sampaikan ini benar, namun bisa jadi juga ini salah."
Sependek yang pernah saya baca, pendidikan bukanlah semata proses mengoleksi dan menjejalkan hal-hal baru ke otak anak didik. Jauh di atas itu, pendidikan adalah perkara membentuk pola pikir. Pada titik inilah, sikap berendah hati dalam mendidik naga-naganya mulai perlu diperhatikan. Saya jadi ingat kalimat luar biasa dari Pak Dosen saya , salah satu Dosen paling keren di Jogja. Dalam sebuah kesempatan ngopi-ngopi pas liburan anak kemarin , beliau bersabda di hadapan saya,
"Di zaman ini, kebutuhan murid kepada gurunya bukan lagi knowledge, melainkan wisdom. Lha kalau cuma pengetahuan, wong lewat Google, lewat Wikipedia, mereka dengan gampang mengakses pengetahuan, kok. Mereka hanya butuh wisdom. Kearifan." Itu dia. Itu dia.
Tulisan ini tidak saya maksudkan untuk menggambarkan bahwa pendidikan di negeri kita buruk sekali. Sama sekali tidak. Toh, peristiwa-peristiwa kecil yang saya ceritakan di atas terjadi sudah lama. Saya yakin, seiring zaman yang terus bergerak, pelan-pelan semua akan berubah. Guru era sekarang sudah memiliki sistem remunerasi sendiri, yang berbeda dengan guru-guru di masa lalu. Hukum pasar tenaga kerja akan membuktikan, semakin guru sejahtera, profesi ini akan semakin diminati. Dengan demikian, bibit-bibit muda yang tajir dan cerdas tak akan lagi malu-malu untuk berkompetisi menjadi guru.
Kemudian, satu lagi. Pada perjalanan Banjanegara menuju yogyakarta lalu, saya dipertemukan Tuhan dengan selembar koran gratisan. Di salah satu halamannya tampak satu berita penting namun kurang ramai dibicarakan. Dikabarkan, Direktorat Sejarah pada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tengah menyiapkan satu buku babon sebagai panduan guru untuk pendampingan pendidikan sejarah, mulai jenjang sekolah dasar hingga menengah. Dengan buku tersebut, diharapkan perbedaan sudut pandang dalam materi pelajaran sejarah dapat terjelaskan.
Ini menarik, dan wajib kita dukung. Sejak dulu, pelajaran sejarah di sekolah disajikan dalam versi tunggal. Anak didik tak banyak yang tahu bahwa sejarah adalah tafsir, ilmuwan sejarah tak cuma satu, dan kerapkali setiap kelompok sejarawan menggali dan membangun interpretasi masing-masing atas peristiwa demi peristiwa.
Situasi semacam ini rentan memunculkan kegagapan, saat murid mulai masuk ke lingkungan perbincangan yang lebih luas dan menjumpai narasi-narasi lain yang bertentangan dengan yang selama ini mereka pelajari. Umumnya, mereka akan sangat sulit menerima versi lain tersebut, bahkan menganggapnya sebagai ancaman.
Repotnya, selama puluhan tahun pun guru-guru kita punya pandangan yang sama. Lha ya jelas, wong buku yang dibaca oleh guru dan murid juga sama, kok. Maka di situlah pentingnya buku panduan untuk guru dalam menjelaskan perbedaan versi sejarah, sebagaimana yang saya ceritakan barusan.
Tenang saja, saya bukan sales buku, dan tidak terkait urusan apa pun dengan penerbitan buku itu. Namun membayangkan bahwa anak-anak kita akan mulai melatih kebijaksanaan demikian dalam belajar, bahwa materi yang mereka dapatkan (apalagi dalam ranah sosial-humaniora) bukan kebenaran mutlak, bahwa selalu terbuka kemungkinan bagi mereka untuk menggali dan terus menggali, itu menyenangkan sekali.
Kelak mereka akan berkembang menjadi generasi yang lebih haus lagi akan pengetahuan, selalu bergairah untuk terus menyelam lebih dalam. Terlebih lagi, mereka akan tumbuh menjadi generasi yang tidak kagetan, tidak paranoid, dan tidak sedikit-sedikit merasa terancam.
Eh, tapi yang barusan ini juga cuma pandangan saya lho ya. Bisa jadi benar, bisa jadi juga salah. Hehehe

DURIAN RUNTUH


Banyak harapan pada 2017, terutama menyangkut pembangunan untuk masyarakat. Periode 2016, umumnya pemerintah daerah mengeluhkan turunnya Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan bantuan dari pemerintah pusat seperti Dana Alokasi Khusus (DAK) atau Dana Alokasi Umum (DAU).
Di tengah kegalauan itu, ada juga hal yang mampu mengukir senyum para pejabat daerah yaitu dana desa yang digelontorkan pemerintah pusat. Apalagi nominalnya cukup besar yakni hampir mencapai Rp 1 miliar.
Ada pihak yang menilai Menteri Keuangan begitu sadis, karena memotong DAK dan DAU yang menyebabkan pejabat daerah kelabakan mengongkosi daerahnya. Ada sejumlah proyek yang terpaksa harus ditunda dan lainnya.
Merujuk fakta itu, terlihat jelas betapa pejabat di daerah begitu tergantung terhadap durian runtuh atau ‘hujan’ uang dari Jakarta. Bisa jadi, ada pikiran; ya memang Jakarta yang harusnya membiayai daerah. Jika ada pejabat berpikiran seperti ini, bisa dikatakan ironis.
Seorang pejabat ketika memegang amanah jabatan, sebenarnya harus berpikir keras agar PAD naik. Kalau PAD naik tentunya daerah akan mampu membangun sarana dan sarana yang benar-benar diperlukan masyarakat.
Harusnya pula si pejabat terpilih betul-betul bekerja keras supaya investor percaya sehingga banyak yang menanam uangnya di daerah setempat. Bukan justru asyik tenggelam dalam rutinitas melayani masyarakat.
Sok terlihat sibuk. Terlihat lelah tatkala menyusun acara seremonial. Sok bangun ini atau bangun itu. Meski uang tidak punya, tetap nekat membangun. Soal bangunannya nanti mangkrak atau tidak, itu sih urusan nanti. Sok membangun atau membentuk perusahaan daerah dengan dalih agar PAD meningkat dan lainnya.
Ternyata, dalam perjalanannya justru tidak mampu memberikan konstribusi yang memadai. Bahkan ada saja perusahaan daerah yang malah membebani APBD. Perusahaan bukan menghasilkan uang, tapi malah diberi uang dari APBD yang notabene adalah uang rakyat. Total gaji direksinya saja mencapai miliaran, tapi kontribusi bagi PAD malah minim.
Sejarah menjadi saksi, hingga kini hanya Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) yang umumnya masih eksis. Bahkan ada yang mampu berkontribusi lumayan bagi daeah dalam PAD. Sementara itu, prusahaan daerah lainnya tak terdengar kabarnya. Malah, di antaranya justru bangkrut.
Pada akhirnya para pejabat tetap sangat berharap pada DAK, DAU, Dana Desa dan sejenisnya. Kondisi ini kontradiktif ketika pejabat justru merasa bahagia oleh padatnya jadwal dinas ke luar daerah dan bahkan ke luar negeri dengan segala macam alasan berkedok demi membangun daerah.
Akibat gaya pejabat seperti itu, tidak usah heran kalau hingga kini masih kerap ditemui jalan rusak, sekolah rusak yang kondisinya cukup menyedihkan. Di sisi lain, si pejabat selalu berlagak selalu fokus menambal jalan, membangun sekolah, padahal gagal. Alasannya macam-macam, menunggu struktur organisasi pemerintahan yang baru lah, menunggu pelantikan pejabatnya lah, waktunya yang mepet lah dan lainnya.
Apakah fenomena itu akan terulang pada 2017? Bila masih banyak pejabat yang mentalnya berharap durian runtuh atau ‘hujan’ uang dari Jakarta, tidak usah heran kalau banyak jalan rusak, sekolah dan fasilitas umum lainnya tetap rusak. semoga tidak Harapan kosong atau mimpi setinggi langit, tetapi tercapai harapan kita semua. amin.

GAGAL PAHAM


Dunia ada di tangan kita, mau kemana aja dan ingin tau apa saja juga bisa, tinggal klik mbah google, begitu mudahnya mengakses apa saja, karena kita dimanjakan menjadikan otak kita kurang kerja keras ini mengakibatkan kita malas mikir.atau sering lupa, dengan ketergantungan untuk menyimpan di otak baik penting atau biasa, ga mau repot. “Git, kita sudah puluhan tahun sekelas, padahal sudah diuploud foto teman-teman. Saya lupa nama semuanya?, tolong sebutin semua ya...he....he....” tanya seorang kawan. Faktor U. “Alhamdulillah, masih lupa. Lupa itu juga nikmat Allah. Kalau tak pernah lupa, mungkin kita tak bisa tidur,” jawabku. Kami pun tertawa.
Tahun 2016 telah berlalu. Banyak sekali peristiwa yang kita alami di tahun itu, tetapi tidak semuanya dapat kita ingat secara rinci. Semakin jauh jarak waktu suatu peristiwa, semakin kabur pula ingatan kita terhadapnya. Informasi yang melimpah ruah bagai air bah di era teknologi komunikasi canggih ini, justru membuat orang makin mudah lupa karena kapasitas ingatan tak sanggup lagi menampungnya.
Namun, tentu ada sejumlah peristiwa yang mengesankan, baik yang bersifat pribadi ataupun publik, yang cukup kuat tertancap dalam ingatan. Peristiwa itu mudah diingat, karena memberikan pengaruh yang besar dalam pergumulan hidup kita sebagai pribadi ataupun masyarakat. Karena itulah, satu peristiwa penting tidak hanya akan berlalu bersama angin ke masa lalu, tetapi juga bertiup ke masa depan.
Di sisi lain, ada berbagai kejadian dalam hidup ini yang jika terus diingat akan membuat orang sakit hati dan dendam. Semakin diingat, semakin menyakitkan. Masa lalu semacam itu tentu lebih baik dilupakan. Caranya sederhana: maafkan, lalu lupakan. Cara ini terdengar gampang, tetapi sebenarnya tidak mudah diwujudkan. Berbeda dengan lupa yang bersifat alamiah, melupakan adalah suatu perjuangan batin.
Karena itu, selain melupakan, manusia juga perlu diingatkan. Manusia perlu ‘saling menasihati tentang kebenaran dan kesabaran’ (QS 103:3). Kebenaran adalah sesuatu yang sesuai dengan kenyataan. Kadang orang gagal melihat kenyataan yang sebenarnya, sehingga dia perlu diingatkan oleh yang lain. Apalagi di zaman sekarang, ketika kabar palsu dan fitnah berhamburan di dunia maya dan dunia nyata.
Kata ‘kabar’ berasal dari kata Arab ‘khabar’ yang artinya pernyataan yang mungkin benar, mungkin pula salah. Karena itu, untuk mendapatkan kebenaran, orang harus sabar. Dia harus mau mendengarkan dengan dua telinganya, dan memandang dengan dua matanya. Jika dia hanya menggunakan satu mata dan satu telinga, maka yang ditangkapnya mungkin hanya separuh dari kenyataan, bukan kebenaran.
Selain itu, karena ingatan manusia terbatas, dan kemampuannya memahami kenyataan/kebenaran juga terbatas, maka dia harus rendah hati. Kesediaan untuk mendengarkan suara-suara yang berbeda dan kesabaran mendengarkan nasihat dan pendapat orang lain adalah wujud dari kerendahan hati. Kerendahan hati juga ditunjukkan oleh kesediaan untuk meminta maaf, dan kerelaan untuk memaafkan.
Melupakan, mengingatkan dan memaafkan, tidak hanya berarti berdamai dengan masa lalu, tetapi juga bersikap positif terhadap masa kini dan masa depan. Sikap positif itu penting karena manusia dengan segala keterbatasannya, memiliki ruang untuk menciptakan hidupnya sendiri. Setiap peristiwa di dunia ini pada dasarnya netral. Sikap manusialah yang membuat peristiwa itu menjadi bermakna.
Sikap manusia terhadap satu peristiwa tentu tidak muncul begitu saja. Sikap itu lahir dari pandangan hidup. Pandangan hidup adalah seperangkat keyakinan tentang hakikat manusia dan alam semesta, dari mana dia berasal, apa yang harus dilakukan di dunia ini dan ke mana kelak dia akan kembali. Pandangan hidup ibarat kompas yang menuntun manusia dalam mengisi dan memaknai hidupnya.
Agama adalah sumber pandangan hidup paling dalam. Agama mengajarkan, hidup harus didasari iman dan diisi dengan amal saleh, yakni perbuatan baik. Perbuatan baik itu tertuju kepada Allah, kepada sesama manusia dan kepada lingkungan. Saling menasihati tentang kebenaran dan kesabaran adalah cara untuk mengawasi dan mengawal hidup ini agar tetap dalam iman dan perbuatan baik.
Baik itu bahagia. Bahagia itu sederhana, tetapi orang harus berjuang meraihnya!

2017


Kemarin, minggu 1 Januari 2017 semua umat merayakan tahun baru .tahun baru adalah perayaan rutin yang berulang setiap tahun. Ia adalah tanda dari gerak waktu yang berputar melingkar, seiring perputaran bumi dan matahari.
Gerak melingkar itu unik. Ia tetap sekaligus berubah, sama sekaligus berbeda. Tetap karena dimulai dari satu titik dan akan kembali ke titik itu lagi. Tahun ini, tahun depan tahun baru lagi. Tetapi untuk sampai kembali ke titik awal, ada garis perjalanan yang dilewati oleh lingkaran itu. Perjalanan itu cukup panjang: satu tahun. Karena itu, mungkin bagi tiap orang, tahun baru dimaknai berbeda di tahun yang berbeda.
Sudah tentu, menemukan makna tahun baru itu sebagai wujud dari kepercayaan. Kita berdoa dan mengikuti perjalanan waktu .kita juga berkumpul bersama keluarga dan handai taulan. Mereka mengadakan perjamuan, saling mengunjungi dan mengucapkan selamat. Anak-anak pun turut bersuka cita, pesta kembang api, berdoa di tempat-tempat ibadah atau berdiam diri merenungi apa yang sudah dilakukan ditahun kemarin berharap akan lebih baik.
Namun, mereka yang tidak percaya pada tahun baru juga turut memaknai dari sudut yang berbeda. Di luar sudut pandang berbeda.tahun baru dapat dimaknai secara pragmatis. Ada yang memaknainya sebagai hari libur biasa untuk istirahat dan berkumpul bersama keluarga. Ada pula yang memanfaatkannya untuk meraih keuntungan ekonomi dengan menjual aneka barang dan jasa.
Selain itu, juga dapat dimaknai dari sudut pandang keagamaan oleh para penganut agama lain. Sebagai sesama penganut agama, mereka tentu akan berpikir tentang yang sama dan yang berbeda. Sebenarnya kesamaan dan perbedaan itu gampang sekali ditemukan. Yang sama adalah setiap agama memiliki hari raya. Yang berbeda.
Kesadaran akan persamaan dan perbedaan itulah yang membuat orang dapat saling menghormati dan menghargai. Ada kekhawatiran akan terjadi serangan bom bunuh diri atau gangguan lainnya. para sosiolog cenderung melihat konflik agama itu bukan terutama karena perbedaan kepercayaan, melainkan karena alasan sosial politik. Sudah maklum, sejak era perang salib, penjajahan hingga krisis politik dunia abad ke-21, sentimen ‘perang’ antara agama ini seolah tak mau berhenti. Logika politik memang menang-kalah, dan agama ikut terbawa-bawa.
Ketika arus utama yang melanda dunia adalah gonjang-ganjing politik berbumbu agama, maka tak ayal lagi, sisi perbedaan semakin dipertajam. Batas antara ‘kita’ dan ‘mereka’ bukan hanya makin jelas tetapi makin jauh. Di sisi lain, orang-orang yang berusaha mengingatkan adanya titik temu dan membangun jembatan persaudaraan dengan gampang dituduh pengkhianat, perusak iman dan sesat.
Dalam keadaan demikian, para petualang politik yang tujuan utamanya adalah kekuasaan dan kekayaan, akan dengan mudah bermain. Jika kedua belah pihak ditunggangi oleh para petualang dengan modal besar, maka dampaknya akan besar pula. Yang menjadi korban justru rakyatnya. Seperti kata pepatah: dua gajah bertarung, pelanduk mati di tengah atau menang jadi abu, kalah jadi arang.
Kita tentu tidak ingin hal itu terjadi. Contohnya agama Islam seakar kata dengan salâm yang artinya selamat dan damai?
Salâm atau damai itulah kiranya titik temu dari lingkaran waktu tahun baru yang kita harapkan. Semoga di tahun 2017 akan lebih baik dari tahun sebelumnya.

SILUMAN BBM


PREMIUM dalam beberapa hari terakhir, kembali sulit diperoleh di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di beberapa daerah diluar jawa . Kalau pun ada, biasanya hanya pagi hingga menjelang siang, setelahnya pelang bertulisan “Premium Habis” dan sejenisnya yang dipampang.
Kondisi ini, menyebabkan SPBU kerap dijejali antrean kendaraan bermotor. Tidak terkecuali para pelangsir bahan bakar minyak (BBM). Bahkan terkadang, tak cuma bensin yang habis, pertalite juga ikut diinformasikan habis.
Sementara itu pihak Pertamina mengklaim, jumlah stok BBM cukup. Kendala yang terjadi adalah pada proses distribusi yang terhambat cuaca. memanggil instansi atau lembaga terkait perihal kelangkaan BBM ini. jika dibarengi tindak lanjutnya, tentu sangat kita nantikan agar hal serupa tidak terulang di masa mendatang. Dengan kondisi saat ini, untuk tetap bisa berkendara.
Saat ini, di SPBU harga premium Rp 6.550 per liter. Sedangkan pertalite harganya Rp 6.900 dan pertamax harganya mencapai Rp 7.350 per liter. Gerundelan masyarakat tak terelakkan, termasuk muncul tudingan terhadap pemerintah--dalam hal ini Pertamina--telah berlaku tidak fair. Mereka menuding seretnya bensin akhir-akhir ini, karena jumlah distribusi premium contohnya ke Banjarnegara memang dikurangi. Pengurangan ini akal-akalan Pertamina untuk meningkatkan konsumsi pertalite dan pertamax.
Berdasar data Pertamina, hingga November 2016 distribusi BBM jenis premium terus mengalami penurunan. Pada Januari distribusi ptemium sebanyak 44.603 kiloliter, bulan berikutnya Februari turun sebanyak 3.696 kiloliter menjadi 40.907 kiloliter. Pada November hanya didistribusikan 32.426 kiloliter yang berarti turun hingga 12.177 kiloliter atau sebanyak 27 persen sejak Januari.
Jumlah ini berbanding terbalik dengan distribusi pertalite dan pertamax yang pada rentang bulan yang sama mengalami lonjakan kenaikan jumlah distribusi hingga ratusan persen. Rinciannya, pertalite 261 persen dari 3.446 kiloliter (Januari) menjadi 12.433 kiloliter pada November dan pertamax 174 persen dari 1.704 kiloliter menjadi 4.667 kiloliter.
Kondisi seperti di Banjarnegara ini, sudah terjadi sejak Agustus lalu di sejumlah kabupaten dan kota di Jawa Barat (Jabar). Sejumlah SPBU di Ciamis dan Kota Banjar mulai tidak menyediakan premium. Sebaliknya, pertalite ketersediaannya mulai menggantikan premium.
Solusi mengendalikan konsumsi BBM subsidi yang terus meroket, tidak dengan menyunat jumlah yang seharusnya menjadi hak rakyat. Pemerintah sesungguhnya bisa mengeluarkan kebijakan kembali melarang mobil mewah atau kendaraan di atas 2.000 cc menggunakan premium.
Saatnya kementerian terkait untuk membuat dan mematangkan payung hukum terkait aturan itu. Bila ini dijalankan efektif, kita yakin tidak hanya mendorong kemajuan perekonomian masyarakat, tapi juga bakal bisa menghemat subsidi triliunan rupiah uang negara.