Thursday, 19 July 2018

2017


Kemarin, minggu 1 Januari 2017 semua umat merayakan tahun baru .tahun baru adalah perayaan rutin yang berulang setiap tahun. Ia adalah tanda dari gerak waktu yang berputar melingkar, seiring perputaran bumi dan matahari.
Gerak melingkar itu unik. Ia tetap sekaligus berubah, sama sekaligus berbeda. Tetap karena dimulai dari satu titik dan akan kembali ke titik itu lagi. Tahun ini, tahun depan tahun baru lagi. Tetapi untuk sampai kembali ke titik awal, ada garis perjalanan yang dilewati oleh lingkaran itu. Perjalanan itu cukup panjang: satu tahun. Karena itu, mungkin bagi tiap orang, tahun baru dimaknai berbeda di tahun yang berbeda.
Sudah tentu, menemukan makna tahun baru itu sebagai wujud dari kepercayaan. Kita berdoa dan mengikuti perjalanan waktu .kita juga berkumpul bersama keluarga dan handai taulan. Mereka mengadakan perjamuan, saling mengunjungi dan mengucapkan selamat. Anak-anak pun turut bersuka cita, pesta kembang api, berdoa di tempat-tempat ibadah atau berdiam diri merenungi apa yang sudah dilakukan ditahun kemarin berharap akan lebih baik.
Namun, mereka yang tidak percaya pada tahun baru juga turut memaknai dari sudut yang berbeda. Di luar sudut pandang berbeda.tahun baru dapat dimaknai secara pragmatis. Ada yang memaknainya sebagai hari libur biasa untuk istirahat dan berkumpul bersama keluarga. Ada pula yang memanfaatkannya untuk meraih keuntungan ekonomi dengan menjual aneka barang dan jasa.
Selain itu, juga dapat dimaknai dari sudut pandang keagamaan oleh para penganut agama lain. Sebagai sesama penganut agama, mereka tentu akan berpikir tentang yang sama dan yang berbeda. Sebenarnya kesamaan dan perbedaan itu gampang sekali ditemukan. Yang sama adalah setiap agama memiliki hari raya. Yang berbeda.
Kesadaran akan persamaan dan perbedaan itulah yang membuat orang dapat saling menghormati dan menghargai. Ada kekhawatiran akan terjadi serangan bom bunuh diri atau gangguan lainnya. para sosiolog cenderung melihat konflik agama itu bukan terutama karena perbedaan kepercayaan, melainkan karena alasan sosial politik. Sudah maklum, sejak era perang salib, penjajahan hingga krisis politik dunia abad ke-21, sentimen ‘perang’ antara agama ini seolah tak mau berhenti. Logika politik memang menang-kalah, dan agama ikut terbawa-bawa.
Ketika arus utama yang melanda dunia adalah gonjang-ganjing politik berbumbu agama, maka tak ayal lagi, sisi perbedaan semakin dipertajam. Batas antara ‘kita’ dan ‘mereka’ bukan hanya makin jelas tetapi makin jauh. Di sisi lain, orang-orang yang berusaha mengingatkan adanya titik temu dan membangun jembatan persaudaraan dengan gampang dituduh pengkhianat, perusak iman dan sesat.
Dalam keadaan demikian, para petualang politik yang tujuan utamanya adalah kekuasaan dan kekayaan, akan dengan mudah bermain. Jika kedua belah pihak ditunggangi oleh para petualang dengan modal besar, maka dampaknya akan besar pula. Yang menjadi korban justru rakyatnya. Seperti kata pepatah: dua gajah bertarung, pelanduk mati di tengah atau menang jadi abu, kalah jadi arang.
Kita tentu tidak ingin hal itu terjadi. Contohnya agama Islam seakar kata dengan salâm yang artinya selamat dan damai?
Salâm atau damai itulah kiranya titik temu dari lingkaran waktu tahun baru yang kita harapkan. Semoga di tahun 2017 akan lebih baik dari tahun sebelumnya.

No comments:

Post a Comment