Dunia ada di tangan kita, mau kemana aja dan ingin tau apa saja juga bisa, tinggal klik mbah google, begitu mudahnya mengakses apa saja, karena kita dimanjakan menjadikan otak kita kurang kerja keras ini mengakibatkan kita malas mikir.atau sering lupa, dengan ketergantungan untuk menyimpan di otak baik penting atau biasa, ga mau repot. “Git, kita sudah puluhan tahun sekelas, padahal sudah diuploud foto teman-teman. Saya lupa nama semuanya?, tolong sebutin semua ya...he....he....” tanya seorang kawan. Faktor U. “Alhamdulillah, masih lupa. Lupa itu juga nikmat Allah. Kalau tak pernah lupa, mungkin kita tak bisa tidur,” jawabku. Kami pun tertawa.
Tahun 2016 telah berlalu. Banyak sekali peristiwa yang kita alami di tahun itu, tetapi tidak semuanya dapat kita ingat secara rinci. Semakin jauh jarak waktu suatu peristiwa, semakin kabur pula ingatan kita terhadapnya. Informasi yang melimpah ruah bagai air bah di era teknologi komunikasi canggih ini, justru membuat orang makin mudah lupa karena kapasitas ingatan tak sanggup lagi menampungnya.
Namun, tentu ada sejumlah peristiwa yang mengesankan, baik yang bersifat pribadi ataupun publik, yang cukup kuat tertancap dalam ingatan. Peristiwa itu mudah diingat, karena memberikan pengaruh yang besar dalam pergumulan hidup kita sebagai pribadi ataupun masyarakat. Karena itulah, satu peristiwa penting tidak hanya akan berlalu bersama angin ke masa lalu, tetapi juga bertiup ke masa depan.
Di sisi lain, ada berbagai kejadian dalam hidup ini yang jika terus diingat akan membuat orang sakit hati dan dendam. Semakin diingat, semakin menyakitkan. Masa lalu semacam itu tentu lebih baik dilupakan. Caranya sederhana: maafkan, lalu lupakan. Cara ini terdengar gampang, tetapi sebenarnya tidak mudah diwujudkan. Berbeda dengan lupa yang bersifat alamiah, melupakan adalah suatu perjuangan batin.
Karena itu, selain melupakan, manusia juga perlu diingatkan. Manusia perlu ‘saling menasihati tentang kebenaran dan kesabaran’ (QS 103:3). Kebenaran adalah sesuatu yang sesuai dengan kenyataan. Kadang orang gagal melihat kenyataan yang sebenarnya, sehingga dia perlu diingatkan oleh yang lain. Apalagi di zaman sekarang, ketika kabar palsu dan fitnah berhamburan di dunia maya dan dunia nyata.
Kata ‘kabar’ berasal dari kata Arab ‘khabar’ yang artinya pernyataan yang mungkin benar, mungkin pula salah. Karena itu, untuk mendapatkan kebenaran, orang harus sabar. Dia harus mau mendengarkan dengan dua telinganya, dan memandang dengan dua matanya. Jika dia hanya menggunakan satu mata dan satu telinga, maka yang ditangkapnya mungkin hanya separuh dari kenyataan, bukan kebenaran.
Selain itu, karena ingatan manusia terbatas, dan kemampuannya memahami kenyataan/kebenaran juga terbatas, maka dia harus rendah hati. Kesediaan untuk mendengarkan suara-suara yang berbeda dan kesabaran mendengarkan nasihat dan pendapat orang lain adalah wujud dari kerendahan hati. Kerendahan hati juga ditunjukkan oleh kesediaan untuk meminta maaf, dan kerelaan untuk memaafkan.
Melupakan, mengingatkan dan memaafkan, tidak hanya berarti berdamai dengan masa lalu, tetapi juga bersikap positif terhadap masa kini dan masa depan. Sikap positif itu penting karena manusia dengan segala keterbatasannya, memiliki ruang untuk menciptakan hidupnya sendiri. Setiap peristiwa di dunia ini pada dasarnya netral. Sikap manusialah yang membuat peristiwa itu menjadi bermakna.
Sikap manusia terhadap satu peristiwa tentu tidak muncul begitu saja. Sikap itu lahir dari pandangan hidup. Pandangan hidup adalah seperangkat keyakinan tentang hakikat manusia dan alam semesta, dari mana dia berasal, apa yang harus dilakukan di dunia ini dan ke mana kelak dia akan kembali. Pandangan hidup ibarat kompas yang menuntun manusia dalam mengisi dan memaknai hidupnya.
Agama adalah sumber pandangan hidup paling dalam. Agama mengajarkan, hidup harus didasari iman dan diisi dengan amal saleh, yakni perbuatan baik. Perbuatan baik itu tertuju kepada Allah, kepada sesama manusia dan kepada lingkungan. Saling menasihati tentang kebenaran dan kesabaran adalah cara untuk mengawasi dan mengawal hidup ini agar tetap dalam iman dan perbuatan baik.
Baik itu bahagia. Bahagia itu sederhana, tetapi orang harus berjuang meraihnya!
No comments:
Post a Comment