Tuesday, 25 August 2020

BAGAIMANA

BAGAIMANA

Bagaimana saya selanjutnya bagaimana anak saya nanti, ada narkoba, ada LGBT, Free sex, dan lain-lainnya?
Bagaimana anak saya setelah lulus
Bagaimana anak saya kurang komunikasi dengan orang lain, karena hampir tiap saat pegang HP? Dan berjuta pertanyaan yang lainnya

Jika burung-burung saja dipelihara oleh Sang Pencipta setiap hari tanpa harus ada manusia yang memeliharanya, mengapa kita harus khawatir akan hidup ini? Bukankah manusia adalah makhluk dengan derajat tertinggi sehingga pasti akan dipelihara oleh Sang Pencipta.

Kekhawatiran kita sebenarnya merupakan wujud keserakahan yang ingin mendapatkan lebih terus-menerus serta didorong oleh rasa kurang puas setiap kali menemukan dan memperoleh sesuatu.

Kita tidak akan mampu mengubah nasibnya sendiri kecuali kita sendiri memiliki niat untuk mengubahnya.

Dengan memilih untuk berpikir positif, semangat optimisme dan cara pandang yang positif akan mengalir dalam menghadapi kehidupan yang semakin hari semakin sulit.

Daripada terus menerus menggerutu akan apa yang kita alami saat ini, ada baiknya kita mensyukuri bahwa kita masih diberi kesempatan untuk hidup hingga memungkinkan kita masih tetap berjuang.

Bersama Tuhan semuanya akan terselesaikan dengan sangat luar biasa, percayalah dan buktikan.
Dengan niat yg lurus mengharap Tuhan, buktikan dengan Usaha keras, tuntas, cerdas dan ikhlas, dorong dengan Do’a dan bertawakallah kepada Tuhan, karena kita hanya hamba Tuhan.

“Have a nice day” semoga harimu menyenangkan.
Semoga kita senantiasa mensyukuri nikmatNya, menjadi lebih baik dan lebih bermanfaat.

ISIS

ISIS 

Kalau dalam bahasa jawa isis adalah cari angin sejuk beda dengan ISIS dari Propaganda Abu Bakar Al Baghdadi teroris internasional yang berhasil mempengaruhi simpatisan dari berbagai penjuru dunia. Dari Eropa mencapai angka 5.000, negara eks Uni Soviet mencapai 4700, Amerika Utara 280, Afrika Utara 8,000, Timur Tengah 8,240, dan Asia Tenggara 900 orang, untuk Indonesia 660 orang.

Pemerintah Indonesia sendiri kelihatannya dalam posisi dilematis karena di satu sisi mereka yang bergabung ISIS merupakan yang mengingkari kesetiaan kepada negara --bergabung dengan ISIS untuk terlibat sebagai tentara dan pengikut adalah pelanggaran konstitusi Indonesia. Sementara di sisi lain pemerintah Indonesia merasa memiliki tanggung jawab moral untuk mengembalikan mereka ke Tanah Air.

Respons masyarakat Indonesia terbelah; sebagian mendukung, sebagian lainnya menolak. Terkait mekanisme repatriasi mantan pejuang yang sebagian besar merupakan wanita dan anak-anak itu. 

kita contohkan Nada Fedulla ikut dihukum karena dosa-dosa sang ayah yang menjadi mantan kombatan ISIS di Suriah. Ayah Nada membawa keluarganya termasuk sang nenek ke tempat konflik di Suriah pada tahun 2015 silam.

Saat itu dirinya masih duduk di bangku Pendidikan dan memiliki cita-cita untuk menjadi seorang dokter. Namun impiannya sirna, saat tiba-tiba sang ayah memintanya untuk berhenti bersekolah dan mengikuti sang ayah ke tempat yang jauh, sekalinya terjerumus di oraganisasi terlarang. Masih banyak Nada Fedulla yang senasib semoga sebagai pertimbangan.

Indonesia perlu mempelajari pengalaman Jerman, Inggris, dan Australia yang baru-baru ini memulangkan warga mereka dari Timur Tengah. Indonesia membutuhkan pengalaman negara-negara tersebut dalam upaya deradikalisasi jangka pendek dan jangka panjang untuk warga yang pernah bergabung dengan organisasi teror paling berbahaya dalam sepuluh tahun terakhir itu.

CORONA 1

CORONA 1

Dunia memang sudah tua mengalami beberapa wabah penyakit yang mengerikan. Ebola, MERS, SARS dan kini, corona. Mengakibatkan korban jiwa hingga puluhan ribuan orang. Sejak terdeteksi di Wuhan, Cina, sekitar dua bulan lalu, wabah virus corona tetaplah mengerikan.

Setidaknya 603 orang dikabarkan tewas akibat virus tersebut, dan sangat mungkin bertambah. Sekitar 30.000an orang lainnya terkonfirmasi terinfeksi. Selain itu, corona juga berdampak pada penutupan atau pengisolasian sebanyak 14 kota di Cina. Akibatnya sekitar 238 warga negara Indonesia (WNI) di Wuhan, di jemput diobservasi di natuna. Sepertinya kondisi ini belum pernah terjadi di negara manapun. Bahkan, kabarnya virus corona menjangkau pula sejumlah negara lain di Asia, seperti Korsel, Taiwan, Thailand dan Jepang, Amerika, Australia, Thailand, malaysia dan Singapure.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) juga menyebut virus corona berasal dari famili yang sama dengan SARS dan MERS yang dulu pernah menjadi momok yang menakutkan di Asia. Jadi besar kemungkinan penyebaran virus corona memiliki pola dan kecepatan yang sama dengan SARS serta MERS. Ingat, betapa cepatnya virus SARS menyebar sejak ditemukan kasus pertama pada 2002 silam. Cuma dalam waktu setahun, ada 8.069 kasus dengan korban tewas sebanyak 775 orang. Penyebarannya cepat, luas, dan mematikan.

Kita harus belajar dari Cina. Bukan hanya soal bencana tapi juga dalam bernegara. Puluhan tahun dikucilkan dunia kini sudah menjelma menjadi raksasa yang tangguh di segala bidang, ekonomi, perdagangan, teknologi, kedokteran, militer dll. Sayang dia lengah, tak berdaya menghadapi virus. Kecuali corona, virus SARS dan flu burung yang terkenal di Indonesia juga berasal dari Cina. Bagi yang percaya dengan kebesaran Ilahi, datangnya virus itu harus dimaknai sebagai “pesan” yang maha penting. Jangan arogan dengan keunggulan duniawi.

Virus corona ini seharusnya menjadi perekat persatuan, untuk dihadapi bersama, bukan sebaliknya.

CORONA

CORONA

Virus Corona (Covid-19) terus merajalela. Ia memangsa siapa saja, dari orang biasa, pemain sepakbola, hingga pejabat tinggi negara. Seluruh dunia waspada dan berjaga-jaga, meningkatkan pertahanan dan menghindari serangan dari musuh yang sakti mandraguna. Orang takut pada Corona karena ia laksana hantu yang melihat kita, tetapi kita tak dapat melihatnya dengan mata kepala.

Berawal dari Wuhan, Tiongkok, kini 136 negara sudah terkena sehingga pada 11 Maret 2020 lalu WHO (Organisasi Kesehatan Dunia) menyatakan Covid-19 sebagai pandemik, yakni wabah yang tersebar ke hampir seluruh wilayah dunia.

Covid-19 telah menimbulkan rentetan akibat yang berlipat-lipat dari sudut ekonomi, sosial, politik, budaya hingga agama.

Kini Covid-19 memaksa kita untuk keluar dari berbagai kebiasaan. Kita biasa bersalaman ketika bertemu teman, tamu, orangtua, sesama jemaah di tempat ibadah dan seterusnya. Kita terbiasa kumpul-kumpul dalam jumlah banyak di berbagai kegiatan seperti olahraga, hiburan, seminar, konferensi hingga ibadah. Kita terbiasa belajar di kelas, bertatap muka dengan guru/dosen. Kita jarang mencuci tangan dengan sabun.

Demikianlah, Corona mengingatkan sesuatu dengan membangkitkan lawannya. Corona mengajarkan kebersamaan dengan memaksa kita sendirian. Corona memaksa kita menghargai kesehatan dengan menghadirkan penyakit. Corona menyadarkan kita akan nilai kehidupan dengan menebar kematian. Corona, virus kecil yang menyadarkan manusia akan kelemahan dirinya yang sering merasa kuat.

Boleh jadi, Corona adalah sarana pendidikan karakter kita?

MALAS MENULIS, MEMBACA

MALAS MENULIS, MEMBACA

Membaca adalah jendela dunia, karena dengan membaca maka manusia dapat mengetahui banyak hal yang tidak diketahuinya. Kemampuan dan kemauan membaca akan mempengaruhi pengetahuan dan keterampilan (skill) seseorang. 

Semakin banyak membaca dapat dipastikan seseorang akan semakin banyak tahu dan banyak bisa, artinya banyaknya pengetahuan seseorang akan membantu dirinya dalam melakukan banyak hal yang sebelumnya tidak dikuasainya, sehingga seseorang yang banyak membaca memiliki kualitas yang lebih dari orang yang sedikit membaca.

Tetapi dalam tahun-tahun ini tepatnya lupa kapan, Membaca buku atau menulis sangat malas. Membaca buku tebal sekarang akan memakan waktu yang sangat lama hanya untuk menyelesaikan satu buku, Sering terjadi baru satu lembar membaca lalu istirahat kelelehan mata buat kegiatan lain bukunya ditinggal, ada rasa titik kejenuhan.

Dengan Adanya jaman modern ini kita di manjakan dengan kemudahan penggunaan hp berandroid yang bisa dan mudah meng akses kemana saja dan apa saja. 

Yang jelas karena sudah termakan usia yang mana panca indra sudah melemah ada rasa kelelehan menjadikan tau-tau sudah tertidur di kursi, malas dan tidak ada berminat untuk membaca apa lagi menulis entah gejala apa lagi. 

Semoga aja bukan karena sekarang menulis sudah tidak dihargai lagi atau sudah tidak sebagai gantungan hidup untuk mendapatkan materi. Sebenarnya Membaca dan menulis adalah sebuah kebutuhan untuk mendapatkan pengetahuan demi kebaikan nantinya.

KETAKUTAN DALAM BAHAYA

KETAKUTAN DALAM BAHAYA

Kita disajikan dengan sebuah monster yang namanya virus corona mahluk super kecil yg kita tidak bisa melihat secara telanjang mata, kecuali dengan miskroskop.

Sebenarnya corona seganas apa kok pada takut, apakah mematikan buat manusia. Sebenarnya terkena
Corona gejalanya pilek, pusing  dan Sesak ini gejala sama dengan penyakit flu biasa.

Kita dibuat bingung sampai WHO ikutan bingung. Pernah menyampaikan yang sehat tidak boleh pakai masker dalam hitungan minggu diumumkan lagi semua harus pakai masker, ini ada apa?.

Coba kita kembali ke penyakit yang terkena virus corona apakah ada yang langsung mati dengan virus corona. Pasti yang mati karena ada penyakit bawaan, biasanya usia sudah tua atau muda yg sudah ada bawaan penyakit yang kronis dan ditunggangi virus corona maka di vonis akibat corona yang parah, sekarang yang meninggal apapun penyakitnya akan di cap terkena corona. 

Apakah benar corona ada konspirasi dan ada pemboman media agar manusia sedunia ketakutan. Seakan kita disuruh dirumah. Tidak melakukan aktifitas dengan itu kita digiring akan ketergantungan, oleh siapakah ini?, entahlah.

Dengan saling berlomba membuat vaksin atau obat corona. Ini bila sudah ada vaksin diharuskan suntik vaksin dan ada chipnya. Bila diketahui tidak disuntik vaksin maka akan di pidanakan. Bolehlah kita bayangkan ga ada pidananya atau  disempit ruang gerak, bila kita kesuatu tempat anggap saja pergi ke Mall atau Bandara dan pihak berwajib mensensor dimana ada tertanam chip corona ga, bila kita ga ada melakulan vaksin maka kegiatan kita tidak dibolehkan, diduga ada penularan corona.

Kegiatan apapun sebelum ada pemasangan chip atau vaksin akan dipersulit. Ini sebagai gambaran segitunya mengerikan dalam kehidupan kita menghadapi virus corona. Semoga saja ini tidak terjadi apa yang kita bayangkan dan ketakutan dalam bahaya.

NASI ANJING

NASI ANJING

Peristiwa nasi bungkus dinamai dan distempel “nasi anjing” ini hanya memiliki dua arti; 
1) nasi untuk makanan anjing; 
2) nasi berisi lauk anjing.

Meski tak ada kandungan anjing di dalam sajian yang diberikan kepada masyarakat, Hukum seseorang memberi nama olahan makanan dengan atribut hewani yang najis? Masyarakat Sangat sensitif dengan hal yang nyrempet-nyrempet akidah. 

Kegemaran kita memberi nama makanan dengan jargon yang nyeleneh, dan bagaimana para pemuka agama bersikap, sejatinya bukan barang baru.

Mulai dari lema “Iblis”, “Setan”, sampai “Neraka” yang jelas-jelas punya citra buruk langsung dijatuhi hukum haram, karena menurut mereka itu bertautan langsung dengan akidah.
Misalnya, “Ayam Geprek Dada Bahenol” karena bisa mengundang syahwat atau “Es Teler” karena memabukkan.

Apa alasan di balik itu semua? Tentu saja waspada. Seluruh yang masuk pada kerongkongan, diolah sistem pencernaan, dan dibuang di lubang jamban, konon harus diwaspadai sepenuhnya sebab ia berkaitan dengan tumbuhnya watak tertentu.

Konon lho, ya. Jika kita makan daging babi, kita akan menjadi rakus. Artinya, jika seorang bocah rutin jajan Mie Ceker Setan, besar kemungkinan ia menjadi fakboy setelah dewasa. Jika gemar ngemil Bakso Neraka, maka bersiaplah kepanasan di akhirat.

Perlu diwaspadai sebagai gejala agama yang dicurangi, dikadali, atau dizalimi.