PENDEKAR tua dan berwibawa itu mengatakan, hidup di dunia
persilatan laksana berjalan di dalam lorong gua yang panjang dan gelap.
Kita harus selalu waspada karena serangan musuh bisa datang tiba-tiba
dari depan ataupun belakang. Sepanjang apapun lorong gelap itu, di
ujungnya kita akan bertemu cahaya. Namun kita tidak tahu, apakah cahaya
itu berarti harapan atau ancaman. Begitulah kurang lebih prolog dalam
sebuah film yang dirilis tahun lalu. Meski ide ceritanya tidak unik,
pesan moral film ini cukup kuat.
“Menguasai ilmu silat
bagiku bukan untuk mencari kesempurnaan, tetapi untuk menolong
orang-orang yang lemah. Apa gunanya kesempurnaan jika tidak bisa
menolong sesama manusia?” kata dalam film tersebut. Dunia persilatan
tampaknya mirip dunia politik, seperti ditunjukkan oleh kisruh beberapa
partai beberapa bulan ini, dan gairah politik yang mulai menggeliat di
beberpa daerah menjelang pemilukada serempak yang tak lama lagi.
Bukankah dunia politik juga laksana lorong gua yang gelap, karena orang
tidak tahu pasti, mana kawan, mana lawan? Bukankah seperti pendekar,
politisi berpikir menang atau kalah, jatuh atau dijatuhkan? Silat dan
politik memang sama-sama bertumpu pada kekuatan. Siapa yang paling kuat,
maka dialah yang akan menang, sedangkan yang lemah akan kalah. Di ranah
politik, pemenang juga berarti penguasa. Di masa klasik, ketika
kekuatan fisik hampir identik dengan kekuasaan politik, seorang penguasa
adalah juga petarung yang sakti mandraguna. Seorang raja bukan saja
pintar, tetapi juga pendekar.
Karena itu, baik pendekar
maupun politisi, sama-sama berusaha mengumpulkan kekuatan sebanyak
mungkin. Pendekar yang hebat bukan saja memiliki tubuh kuat, tetapi juga
jurus-jurus sakti yang didapat dari guru yang mumpuni. Para pendekar
rela mempertaruhkan nyawa untuk memperebutkan satu kitab yang
mengajarkan jurus maut, atau senjata bertuah berupa pedang dan tongkat.
Demikian pula dengan politisi. Ia berusaha sekuat tenaga untuk
mengumpulkan kekuatan. Kekuatan itu bisa berupa uang atau dukungan
suara. Ia melamar ke partai-partai, medekati pengusaha, ulama dan elite
masyarakat lainnya. Ia juga bekerja sama dengan media guna mempengaruhi
massa. Tidak hanya itu. Ada pula politisi yang datang ke dukun atau
ulama, mencari kekuatan gaib untuk menghadapi lawan. Ketika pertarungan
berlangsung, seluruh kekuatan dikerahkan, dari jurus biasa hingga jurus
pamungkas. Ada yang bertarung dengan jujur sesuai aturan, ada pula yang
culas dan licik. Ada yang hanya ingin melumpuhkan lawan, tetapi ada juga
yang ingin menghabisi.
Baik politisi maupun pendekar, ada
yang masih menjaga nilai kemanusiaan dan keadilan, ada pula yang tega
dan kejam tanpa ampun. Ketika pertarungan sudah berakhir, sikap pemenang
dan pecundang juga beragam. Ada pemenang yang congkak dan sombong, dan
ada pula yang rendah hati. Ada pecundang yang menerima kekalahan dengan
lapang dada, ada pula yang penuh dendam kesumat, lalu membuat intrik di
belakang. Ada pemenang yang dapat merangkul pecundang dan ada pula yang
selamanya bermusuhan. Perbedaan mereka itu, terutama karena perbedaan
pandangan hidup, yakni cita-cita yang ingin diraih melalui kekuatan yang
dikumpulkan dan kekuasaan yang didapatkan.
Sebagai pendekar,
menginginkan kepandaiannya dalam ilmu silat berguna untuk menolong
mereka yang lemah. Bukankah ini pula yang seharusnya menjadi cita-cita
politisi, yakni menegakkan keadilan, membela yang lemah? Sayang, ketika
kita menyaksikan perilaku kaum elite yang main akrobat di panggung
politik, kita mungkin hanya dapat menarik napas dalam-dalam, lalu
menghembuskannya.
Kita terlalu sering membuktikan, bahwa
cita-cita politik yang mulia itu justru jauh panggang dari api.
Kepentingan pribadi dan golongan, seringkali dibungkus rapi dengan
janji-janji manis dan pasal-pasal hukum yang membingungkan. Namun,
bagaimanapun hebatnya film silat, tanpa penonton, film itu tidak ada
artinya. Begitu pula, tanpa rakyat, kaum elite tidak bisa berbuat
banyak. Karena itu, seperti kata dalam film, di ujung lorong panjang
yang gelap itu akan ada cahaya. Artinya, kita tidak boleh kehilangan
harapan!
No comments:
Post a Comment