Parno memang bukan siapa-siapa.
Dia hanya seorang pedagang kecil. Saking kecilnya, dagangan gorengan
yang dijualnya pun terbilang mini. Tahu dan tempe goreng yang biasa
dijajakan dengan ukuran standar, terpaksa besarannya dipangkas menjadi
tigaperempat. Parno terpaksa melakukan itu lantaran harga kacang kedelai
sebagai bahan dasar dua kudapan khas anak negeri, ini memang sedang
menggeliat naik.
Tidak hanya Parno. Rekan-rekannya sesama
pedagang gorengan melakukan hal yang sama. Bahkan, aksi mereka pun
diikuti pedagang-pedagang lainnya.Kang Jono, misalnya, terpaksa
mengatrol harga jual satu porsi makanan di warung Tegal-nya. Pendek
kata, hampir semua pedagang memiliki cara masing-masing menyiasati
semakin mendakinya harga bahan- bahan pokok.
Jauh lebih ke
atas lagi. Para juragan pemilik usaha besar pun uring-uringan. Pabrik
yang selama ini menopang kehidupan mapan mereka terancam berhenti
beroperasi. Artinya, keran keuangan mereka pun bakal tersendat. Mereka
bingung karena selama ini pabrik garmen menggunakan bahan baku dari luar
sana yang dibayar menggunakan ‘Mr Dollar (AS)’. Celakanya, sudah dua
bulan belakangan ini, mata uang ‘Paman Sam’ itu terus menekan mata uang
Garuda (rupiah). Saat ini saja, harga 1 dolar AS sudah di atas
angka Rp 14.000. Nah, cara paling realistis di mata para juragan adalah
penutupan pabrik atau pemehakaan karyawan!
Bagaimana dengan
pemerintah? Ilustrasi di atas menggambarkan betapa sejatinya pemerintah
kita pun sedang kalut menghadapi persoalan di luar sana (global).
Berbagai persoalan di luar sana yang mengerucut dengan berjayanya ‘Mr
Dollar’ seolah menjadi trouble maker bagi perekonomi kita. Ironisnya,
pemangku kebijakan sektor finansial, dalam hal ini Bank Indonesia, tidak
pernah bisa mengangkat ‘martabat’ rupiah.
Di sisi lain,
selama ini, ‘Mister Dollar’ kerap membuat para pengampu kebijakan di
negeri lupa daratan, lupa akan kemandirian, dan lupa terhadap
kebersamaan. Akibatnya, seperti yang dialami saat ini, rakyatlah yang
menjadi korban.
Dan, cara paling ampuh yang kerap kita dengar
yakni alasan pengampu kebijakan di pusat pemerintahan; “kita tidak
sendiri. Semua negara mengalami hal yang sama”. Parahnya, mereka menilai
kita masih jauh lebih baik ketimbang tetangga-tetangga, dan
sahabat-sahabat kita. Apakah dengan mengatakan ‘kita masih jauh lebih
baik’, rakyat bisa percaya?
Seharusnya krisis ekonomi di negeri ini
--dalam bahasa pemerintah, ‘pelemahan ekonomi’-- tidak perlu harus
dibanding-bandingkan dengan negara tetangga atau sahabat. Jangan sampai
rakyat menilai, para pemangku kebijakan di pusat-pusat kekuasaan tidak
becus mengurusi perekonomian lantas ‘mengambinghitamkan’ persoalan di
luar sana sebagai pembenaran.
Apa pun alasannya, kita saat ini
sedang dibelit masalah ekonomi cukup krusial --yang jika tidak disikapi
dengan cepat, cermat dan cerdas, bisa saja situasinya tidak jauh beda
seperti krisis ekonomi 1997 silam. Oke lah, bisa jadi benar apa yang
dikatakan banyak orang bahwa situasi sekarang berbeda dengan 18 tahun
silam. Namun, apa pun argumennya, fakta bahwa perekonomian negeri ini
sedang dirundung masalah berat yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan
blusukan ke sana-ke mari. Perlunya berbagai terobosan agar perekonomian
negeri ini kembali bergairah dan bisa tetap survive.
Syukur
kita bisa sedikit lega Presiden Jokowi menyatakan bahwa pemerintah masih
memiliki banyak uang untuk menggerakkan perekonomian. Dana sebesar
hampir Rp 900 triliun yang terhimpun dari APBN, APBD dan BUMN, itu
diharapkan bisa digunakan guna menggairahkan perekonomian nasional.
Harus diakui, selama ini kecilnya serapan penggunaan anggaran
pemerintah menjadi salah satu faktor pelemahan ekonomi kita. Tumpukan
uang itu sudah ada di hadapan yang sudah selayaknya digunakan
sebagaimana mestinya sehingga napas ekonomi negeri ini tidak lagi
megap-megap, tapi benar-benar bisa berlari cepat. Syukur-syukur, itu
juga bisa mengangkat ‘martabat’ rupiah!

No comments:
Post a Comment