Monday, 14 December 2015

OH TRUMP

KITA baru saja menjalani pesta demokrasi. Dan, kita bersyukur pesta pemilihan kepala daerah secara umum berlangsung aman dan lancar. Terlepas apakah nantinya dari pesta itu memunculkan sengketa, namun kitabersyukur berjalan lancar, meski memiliki banyak kekurangan di sana-sini.
Siapa pun yang terpilih sebagai penguasa di satu wilayah, itulah yang memang dikehendaki dan dipercaya oleh rakyat. Tinggal bagaimana para penguasa yang terpilih nantinya benar-benar menjaga kepercayaan yang diberikan oleh rakyat. Tidak kemudian menjadi lupa daratan ketika sudah duduk di singgasana mewah. Rakyat tidak menginginkan para pemimpin baru seperti penguasa sebelum-sebelumnya –yang hanya perlu sesaat suara mereka guna memenuhi ambisi berkuasa. Di tengah kemeriahan ‘pesta kecil’ di negeri ini, ada ‘pesta’ lain di negara adidaya. Ya, Amerika Serikat kini sedang mencar calon pemimpin baru untuk menggantikan Presiden Barack Obama menempati Gedung Putih –yang awal 2016 ini jabatan dua periodenya berakhir.
Salah satu kandidat presiden dari Partai Republik, Donald Trump dalam salah satu kampanyenya, Senin (7/12) menyerukan pencegahan total dan menyeluruh orang-orang Muslim memasuki Amerika Serikat. Pesan Trump itu muncul terkait penembakan massal di California yang dilakukan simpatisan ISIS. Publik dunia pun geger atas pernyataan kontroversial Trump. Masyarakat muslim di berbagai belahan dunia mengecam, dan menyebut pemilik Trump Organization itu sebagai orang gila. Lawan Trump dari kubu Republik, Jeb Bush, mengecam keras dan terang-terangan menyebut Trump memiliki masalah mental serius.
Tidak ketinggalan para calon presiden yang sedang bertarung memperebutkan tiket ke Gedung Putih menyuarakan hal yang sama. Mereka mengecam keras seruan Trump untuk melarang umat Muslim masuk ke Amerika Serikat. Calon presiden dari Partai Demokrat, Hillary Clinton dengan ketus menyebut Trump sebagai sosok pemecah belah, penuduh yang tidak layak dipercaya.
Pernyataan sangat berbau rasis Trump itu tentu sesuatu yang merugikan bagi Amerika Serikat. Sebagai bangsa besar, Uncle Sam memiliki ketergantungan terhadap negara-negara Islam. Bagaimana kalau kemudian negara-negara Islam melarang orang-orang Amerika masuk ke sana.
Publik dunia sepakat aksi-aksi terorisme, separatis atau apa pun sebutannya adalah tindakan yang tidak bisa dibenarkan. Aksi brutal penembakan disertai pemboman di Paris, baru-baru ini, dan penembakan yang menewaskan belasan orang di California, bukan berlandaskan ajaran-ajaran Islam.
Kita melihat apa yang yang dinyatakan Trump bukanlah suara dari rakyat Amerika. Melainkan suara dari seorang Trump yang memang penuh kontroversi dan ambisi. Indonesia sebagai negara dengan mayoritas umat Islam terbesar di dunia, tentu tidak perlu berlebihan menanggapi pernyataan Trump. Kita cukup menilai sedemikian picikkah seorang entrepreneur seperti Trump melihat dinamika dunia dengan cara pandang yang kolot.

No comments:

Post a Comment