Monday, 14 December 2015

MASIH MUDA


Delapan puluh tujuh tahun yang lalu, 28 Oktober 1928 Mohammad Yamin mengemukakan resolusi elegan dalam sebuah Kongres Pemuda II. Resolusi itu ia sampaikan tidak lama sebelum sesi akhir dalam kongres tersebut. Dalam secarik kertas ia rumuskan ikrar pemuda yang kemudian dikenal sebagai Sumpah Pemuda. Sumpah yang memberikan makna pesatuan kaum muda dalam proses perjuangan kemerdekaan.
Dalam kontruksi kekinian sumpah (pemuda) itu mesti dimaknai lebih dalam. Sebab, perjuangan kaum muda bukan lagi memerdekakan bangsa ini dari penjajah, melainkan membebaskan bangsa ini dari kehilangan optimisme untuk menjadi bangsa yang besar.
Romantisme bangsa ini dengan kaum muda yang memberikan napas optimisme begitu indah. Kalau kita ingat, Boedi Oetomo yang diyakini sebagian besar orang sebagai penanda fase modern perjuangan kemerdekaan merupakan organisasi yang dilahirkan oleh kaum muda. Bahkan, belakangan hari lahirnya Boedi Oetomo itu diperingati sebagai hari kebangkitan nasional.
Selain Boedi Oetomo banyak organisasi pergerakan yang dimotori oleh kaum muda. Misalnya Perhimpunan Indonesia yang pernah dipimpin oleh Moh. Hatta ketika ia berusia 24 tahun. Algemeene Studie Club (ASC) yang didirikan oleh Sukarno pada 1926 atau ketika ia berusia 25 tahun.
Kaum muda yang mempimpin pergerakan kemerdekaan Indonesia itu belakangan kita kenal sebagai proklamator kemerdekaan. Kendati saat mereka menjadi proklamator kemerdekaan usia mereka tak lagi muda. Namun bagaimanapun sejarah di Republik ini mencatat sebelumnya mereka adalah kaum muda yang memberi napas optimisme pada bangsa ini.
Pascarepublik ini merdeka, kaum muda masih menjadi bagian dari upaya perbaikan bangsa ini. Misalnya, ketika reformasi, gerakan mahasiswa yang menjadi representasi kaum muda juga hadir untuk menghadirkan pemerintahan yang lebih baik. Karenanya, hari ini dan masa-masa datang, kaum muda mesti hadir membawa optimisme itu.
Optimisme kita sebagai bangsa untuk bisa menjadi besar tak jarang diganggu oleh sikap pesimistis. Tak jarang kita kehilangan optimisme bahwa pertumbuhan ekonomi kita di tengah krisis global bakal membaik. Kehilangan optimisme korupsi bisa kita lawan, bahkan kita tampaknya (hampir) pesimis melawan bencana kabut asap yang dalam beberapa bulan ini menyelimuti sebagian wilayah republik ini. Oleh karena itu kaum muda harus hadir memberi gagasan, memberi napas pada optimisme.
Kaum muda adalah orang-orang yang sejatinya mampu menawarkan harapan-harapan baru dengan inovasi yang penuh manfaat. Terlebih dalam masa-masa dimana bangsa ini perlu kaum muda yang kreatif untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, menguatkan pemerintahan yang baik, menguatkan penegakan hukum dan lain sebagainya. Kaum muda ditantang tidak hanya kritis terhadap suatu persoalan tapi mampu menawarkan solusi.
Tanggung jawab dan peran aktif kaum muda di berbagai dimensi dalam upaya pembangunan nasional diatur dalam kerangka hukum nasional melalui hadirnya UU Nomor 40 Tahun 2009 tentang Kepemudaan. Undang undang ini dihadirkan guna menata dan mengatur pembangunan nasional kepemudaan yang berorientasi pada pelayanan kepemudaan. Oleh UU itu pelayanan kepemudaan diartikan sebagai penyadaran, pemberdayaan, dan pengembangan kepemimpinan, kewirausahaan serta kepeloporan pemuda. Dengan begitu, kaum muda (terlepas dari perdebatan batasan usia pemuda) diamanahi untuk membangun kreativitas dan inovasi untuk turut ambil bagian dalam pembangunan nasional.
Memberi Optimisme
Permasalahan bangsa ini tentu tidaklah sedikit. Dalam berbagai bidang bangsa ini dihadapkan pada tantangan perbaikan, terlebih angka kepuasan publik kepada pemerintahan ini relatif rendah. Kaum muda mesti merespons masalah ini dengan tawaran solusi. Di bidang ekonomi misalnya, kaum muda mesti hadir membangun ekonomi kreatif. Di bidang hukum dan pemerintahan, kaum muda yang ada dalam tubuh institusi itu mesti hadir sebagai aktor reformasi hukum dan birokrasi.
Kehadiran kaum muda dalam merespons setiap permasalahan akan memberi optimisme pada republik ini. Hal ini bisa kita lihat dari kehadiran kaum muda dalam upaya pembangunan ekonomi Indonesia. Kita bisa lihat bagaimana ekonomi digital kita dimotori oleh kaum muda. Pasar ekonomi digital seperti Go Jek, Traveloka, Tokopedia dan Kaskus, merupakan hasil inisiasi kaum muda kreatif di republik ini.
Di bidang pemerintahan, kita bisa lihat banyak kaum muda yang hadir menjadi pemimpin pada pemerintahan daerah. Misalnya kita bisa lihat di Tanah Jawa ada Ridwan Kamil dan Tanah Kalimantan kita bisa Mardani H Maming. Kehadiran pemimpin muda tersebut membawa angin segar bagi birokrasi.
Di Kota Bandung Ridwan Kamil dikenal sebagi wali kota yang kreatif. Ia dikenal melahirkan ide-ide yang mampu mendorong masyarakat Kota Bandung menjadi masyarakat yang memiliki akar lokal yang kuat dengan pemikiran yang global.
Begitu pula Mardani H Maming. Semasa menjadi Bupati Kabupaten Tanahbumbu, ia dikenal punya gagasan yang kuat dalam membangun kesejahteraan masyarakatnya. Misalnya ia menginisiasi program dana pembangunan desa sebesar Rp 1 miliar per desa per tahun. Kehadiran dua pemimpin muda itu memberikan kita makna baru sumpah pemuda. Bahwa kendati mereka berkarya di tanah yang berbeda, karya mereka sejatinya untuk satu tujuan yakni tanah dan bangsa Indonesia.
Kehadiran-kehadiran kaum muda dalam bidang-bidang strategis itu memberikan kita optimisme. Dengan demikian kita mesti terus mendorong peran kaum muda untuk turut mengambil tanggung jawab dalam upaya pembangunan nasional. Semoga peringatan Sumpah Pemuda tahun ini menjadi pelecut kita (kaum muda) untuk berkarya dan memberi opimisme pada bangsa ini. Wallahualam bi sawab.

No comments:

Post a Comment