Monday, 14 December 2015
KUTUKAN STATUS
Suatu pagi, Januari 1993 silam. Saya disambut oleh seorang teman yang sudah duluan kost di depan sebuah kost yang akan saya sewa di kawasan kleben witobrajan Jogja. Pria itu membantu mengangkat satu koper saya ke kamar . Dia tampak berjuang menyandang beban koper itu.
“Apa isi koper ini, kok berat?” tanya teman saya.
“Buku dan baju saya,” kataku.
“Oh, pantas. Sebagai intelektual, Anda terkutuk oleh buku,” katanya. Kami pun tertawa.
Ungkapan ‘terkutuk oleh buku’ memang sarat makna. Seperti kutukan, buku seolah keburukan yang tak dapat ditolak bagi kaum terpelajar. Selain berat dibawa, buku perlu tempat. Saya kenal seorang cendekiawan yang rumahnya penuh buku, dari lantai satu hingga empat. Begitu pula, sudah biasa jika ruang kantor seorang profesor di universitas terkemuka menjadi sempit gara-gara dipenuhi buku.
Tetapi bagi pribadi cendekiawan itu sendiri , buku bukan laknat, tetapi rahmat, bukan kutukan, tetapi kebaikan. Buku adalah sahabatnya di kala sepi, jawaban atas aneka persoalan, penghibur hati yang lara, dan pembimbing di kala kebingungan. Karena itu, tak heran jika seorang cendekiawan tidak bisa lepas dari buku. Kemana pun dia pergi, dia selalu membawa buku, membeli buku, dan menulis buku.
Di sisi lain, minat masyarakat kita pada buku masih rendah, termasuk di kalangan mahasiswa, guru dan dosen. Orang lebih suka beli ponsel ketimbang buku, lebih suka menjiplak ketimbang mengarang sendiri berdasarkan buku-buku yang dibaca, lebih suka meminjam buku perpustakaan ketimbang membeli sendiri. Bahkan ada yang pinjam buku perpustakaan, bertahun-tahun tak dikembalikan.
Minat pada buku lahir dari minat baca, dan minat baca lahir dari minat pada ilmu. Minat baca laksana cinta. Cinta lahir dari ketulusan, bukan paksaan. Cinta buku lahir dari cinta akan ilmu.
Sedangkan cinta ilmu lahir dari kesadaran akan pentingnya ilmu bagi kehidupan. Orang yang terpaksa apalagi dipaksa membaca buku hanya karena ingin lulus ujian, tidak akan mencintai buku, apalagi ilmu.
Mencintai ilmu laksana mencintai kekasih. Anda mencintai sang kekasih, karena dia dapat membuat hidup Anda bermakna dan berharga untuk dijalani bersama. Orang yang membaca buku penuh cinta dan gairah, adalah orang yang membaca untuk hidupnya. Ia membaca untuk mencari jawaban atas aneka pertanyaan dalam hidup ini. Membaca baginya adalah suatu pencarian dan pergumulan diri.
Membaca untuk hidup juga berarti membaca untuk kesenangan dan wawasan. Membaca tulisan yang menghibur dapat membuat hidup yang sepi menjadi berisi.
Membaca tulisan yang memberi banyak informasi, akan membuka hati, wawasan dan pikiran . Bahkan, menurut HAMKA, membaca cerita-cerita sedih, dapat mendorong seorang pendosa bertobat dan berbalik menjadi baik.
Kini kita hidup di era ledakan informasi. Setiap ledakan akan membuat kejutan. Koran, buku hingga majalah sudah diterbitkan dalam bentuk elektronik. Orang tak perlu lagi takut pada ‘kutukan’ buku yang berat dan menuntut tempat. Berkat teknologi informasi dan komunikasi yang canggih, kini tiap orang bisa membaca kapan pun dan di mana pun ia berada tanpa harus menenteng buku.Dunia serba elektronik ini ternyata bermuka dua. Dia dapat mendorong minat baca, cinta ilmu dan cinta buku, tetapi dapat pula sebaliknya.
Tak sedikit orang yang hanya suka membaca status kawan-kawannya di media sosial ketimbang membaca artikel opini, kolom, apalagi artikel jurnal ilmiah dan buku.
Membaca hanyalah pengisi waktu luang, untuk tujuan-tujuan sesaat dan instan.
Saya khawatir, jangan-jangan membaca tulisan-tulisan instan di media sosial itu justru berbuah kutukan. Apalagi jika informasi yang dihadirkan malah menista dan memupuk kebencian kepada orang atau kelompok tertentu. Tak jarang pula sumpah serapah dan kata-kata kasar diumbar tanpa malu. Membaca tulisan-tulisan semacam itu bukannya mencerahkan, tapi menggelapkan hidup.
Membaca adalah aktivitas penting dalam hidup manusia. Sebagaimana perbuatan lainnya, membaca dimulai dengan niat, yakni dorongan dan tujuan yang ingin dicapai. Niat yang baik dapat melahirkan perbuatan baik, dan niat yang buruk akan berbuah buruk. Tanpa niat, perbuatan akan netral, tak bernilai. Membaca dengan cinta, hanya akan lahir dari niat mengisi dan memperkaya makna hidup.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment