Sunday, 29 March 2015

JEJAK SEJARAH DAN EKSOTIKA TAMAN SARI

JEJAK SEJARAH DAN EKSOTIKA TAMAN SARI

     SESUAI namanya, Taman Sari di Kota Yogyakarta, tempatnya begitu indah.Pesona taman kerajaan atau pesanggrahan Sultan Yogyakarta dan keluarganya, mampu membius siapa saja yang emelihatnya. Taman Sari adalah sebuah tempat yang menarik untuk dikunjungi. Selain letaknya tidak terlalu jauh dari keraton Yogya hanya sekitar setengah kilometer, Taman Sari memiliki beberapa keistimewaaan. Keistimewaannya antara lain pada bangunannya antara lain pada bangunannya yang masih utuh dan terawat, serta lingkunganya yang sangat mendukung keberadaannya sebagai obyek wisata.
     Arsitektur bangunannya erupakan perpaduan gaya Portugis, Cina, Islam dan Jawa. Memang selintas, seolah-olah bangunan ini memiliki seni arsitektur Eropa yang sangat kuat. Tempat ini dibangun pada masa Sultan Hamengkubuwono I atau sekitar akhir abad ke-17. Taman Sari bukan sekedar taman kerajaan, namun bangunan ini merupakan sebuah kompleks yang terdiri dari kolam pemandian, kanal air, ruangan-ruangan khusus dan sebuah kolam yang besar. Dulu digunakan untuk bebagai kepentingan, sebagai tempat rekreasi, peristirahatan, persembunyian, maupun tetirah dan meditasi.
     Taman Sari dibagi menjadi tiga bagian, yakni bagian sakral, bagian kolam pemandian, dan pulau kenangan. Pada bagian ketiga ini, terdiri atas beberapa bangunan yaitu Pulau Kenanga atau Pulau Cemeti, Sumur Gemuling, dan lorong-lorong bawah tanah. Khusu lorong-lorong bawah tanah yang ada di kawasan ini, dahulu konon berfungsi sebagai jalan rahasia yang menghubungkan Taman Sari dengan Kraton Yogya. Bahkan ada legenda yang menyebutkan bahwa lorong ini tembus ke pantai selatan dan merupakan jalan bagi Sultan Yogyakarta untuk bertemu dengan Nyi Roro Kidul yang juga konon menjadi istri bagi raja-raja Kasultanan Yoyakarta.
     Di lingkungan Taman Sari, juga dapat dijumpai Mesjid Saka Tunggal yang memiliki satu tiang. Meskipun mesjid ini dibangun pada abad 20, namun keunikannya tetap dapat menjadi aset  di kompleks tersebut. Disamping itu, Kawasan Taman Sari sangat terkenal dengan kerajinan batiknya. Kita dapat berbelanja maupun melihat l;angsung pembuatan batik-batik yang berupa lukisan maupun konveksi.
     Sebagai obyek wisata, Taman Sari sangat sayang untuk dilewatkan. Disamping bangunan dan arsitekturnya  mempunyai nilai seni dan muatan sejarah yang tinggi, didalamnya juga sangat eksotik.

IKHLAS

IKHLAS

Ilahi!
Dengan namamu yang suci
Kutapak jalan hidup ini
Menurun mendaki berbelok berkelok
Semua jadi petunjuk

Dalam suka dan duka
Dalam seneng dan susah
Dalam sukar dan mudah
Semua itu batu uji
Dalam mengabdi

Kala hujan dan panas
Kala tawa dan tangis
Kala hening dan keruh
Tak perlu aku bersedu
Iklas'lah siap taruh

Masih ingat aku janji-Mu
Termaktub di lauh mahfuz
"Siapapun yang ikhlas kepada-Ku
Dalam melangkah tak perlu berkeluh"

Bersyukurlah aku
atas segala tuntunan-Mu
Sejak awal langkhku
Sampai ke penghujung waktu

GANJA SAMA DENGAN KOPI ???

GANJA SAMA DENGAN KOPI ???

     SEBUAH unjuk rasa "aneh" digelar satu kelompok massa di kawasan Tugu Tani, Jakarta Pusat, Sabtu(7/5). Disebut begitu karena baik nama kelompok demonstran maupun apa yang mereka tuntut sungguh asing dan tidak lazim di negeri ini. Lingkar Ganja Nusantara (LGN) yang terdiri atas sekitar 100 orang pemakai ganja aktif, pemakai momaktif, hingga aktivis yang peduli ganja dari Jabodetabek, Lombok, Yogya, dan Bandung itumenuntut pemerintah Indonesia melegalisasi Ganja.
     Menurut juru bicara LGN, Dhira Narayana, ganja tidaklah berbahaya sebagaimana anggapan masyarakat selama ini. Ganja, juga memiliki sejumlah manfaat yang belum diketahui masyarakat. Salah satunya bisa mengobati kanker. Selain itu satu pernyataan yang potensial menimbulkan kontroversi. Dia menyebut ganja sama halnya dengan kopi.
     Terlepas bagaimana nanti respons produksen kopi dan penikmat minuman rakyat tersebut, dua lembaga yang terkait langsung dengan tuntutan LNG itu sejak awal menolak keras dan bahkan mencurigai motif di baliknya. Menurut Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri, Kombes Pol Roy Boy Rafli Amar pemakaian ganja tak membawa banyak keuntungan. Justru, ganja cenderung menimbulkan pelanggaran hukum.
     Sedangkan Kepala Humas Badan Narkotika Nasional (BNN), Sumirat Dwiyanto mengatakan saat ini tanaman ganja masuk dalam golongan 1 narkotika, Dalam UU No 35 Tahun 2009 tentang Tindak Pidana Narkotika, ganja sejajar dengan heroin dan kokain. bila ganja dilegalisasi, semua orang malah lebih mudah mendapatkannya sehingga resiko penyalahgunaannya meningkat.
     Psikiater yang kerap merawat pemakaipsikotropika, Profesor Dr dr Dadang Hawari, mengatakan ganja sangat berbahaya bagi kesehatan psikis. Memang tidak membunuh, tapi membuat orang sakit jiwa. Efek mengkonsumsi ganja adalah euforia, yaitu rasa senang tanpa sebab. Efek lain , muncul delusi, yaitu waham atau rasa percaya pada apa yang dianggap benar, padahal tidak. Efek ini, berdampak jangka panjang berupa gangguan mental dan perilaku.
     Dunia kedokteran, saat ini sudah mulai meninggalkan zat yang bersifat adiktif untuk keperluan medis. Morfin saja sekarang sudah tidak dipakai, diganti analgesik (penghilang rasa sakit) yang tidak membuat kecanduan, Jadi sebelum LGN makin menjadi lewat aksi-aksinya, sebab rencananya mereka mengelar demo dengan tema yang sama pada saban Sabtu selama Mei 2011, untuk memperingati Global Marijuana Marc yang jatuh awal Mei, yang juga konon diperingati di 225 kota di seluurh dunia, sebaiknya pemerintah cepat bersikap.
     Paling sederhana pemerintah lewat kepolisian tidak lagi memberikan izin lagi LGN untuk menggelar demo serupa. sebab walaupun kebebasan menyampaikan pendapat atau aspirasi secara bebas dan terbuka dijamin dalam undang-undang, namun materi dan tujuan para demonstras sudah jelas bertentangan dengan undang-undang lainya dan pemakaian ganja diharamkan agama.
     Dalam waktu bersamaan BNN secepatnya menguak motif dibalik aksi LGN. Patut dicurigai kenapa demo mereka terlambat dua tahun setelah undang-undang yang melarang pemakaian ganja diberlakukan di Indonesia.Selain itu, kepolisisan dan BNN sebaiknya kembali melakukan sosialisasi bahaya penggunaan narkotika kepada generasi muda lewat sekolah-sekolah, perguruan tinggi, komunitas dan pertemuan informal lainya.
     Di samping itu, pemerintah sebaliknya juga menyampaikan fakta bahwa apa yang ditiru LGN dari luar negeri sejatinya tidaklah berhasil. Seperti yang pernah dicoba oleh kelompok ganjamania di California, Amerika Serikat, akhir tahun ini. Mengutip laman harian TheNew York Times, selasa 2 November 2010, mayoritas penduduk California tidak sudi membiarkan ganja beredar bebas, Hasil referendum khusus di negara bagian itu adalah sebanyak 57 persen.
     Sementara itu, kalaupun LGN berpedoman pada Belanda, ternyata pemerintah di sana malah tengah meninjau kembali undang-undang legalisasi ganja tersebut, Bagaimana dengan Anda ...???....

mandi bonekamandi boneka

BAU DARI SENAYAN

BAU DARI SENAYAN

     IBARAT  sumur yang tak pernah kering walaupun di musim kerontang, itulah Senayan yang tidak pernah berhenti melahitkan berita. Kita tahu, berita seperti manusia : ada yang baik dan tentu banyak yang buruk. Namun anehnya berita yang mengalir dari senayan kok rasanya selalu yang buruk-buruk. Padahal saya yakin di Senayan tentu ada yang baik-baik.
     Ah, mungkin karena persentase yang buruk jauh lebih unggul sehingga mereka yang masuk kategori baik itu kabarnya hanya berupa gaung ketika sampai kepada kita. Kasihan mereka yang memilih jalan lurus karena jejaknya tertutup jejak-jejak yang belepotan lumpur.
     Bicara soal Seanayan, kita punya dua referensi. Pertama adalah Senayan yang dikaitkan dengan Gedung DPR/MPR. Kedua adalah Senayan yang identik dengan jantor PSSI. Nah, baik dari Gedung DPE/MPR maupun dari kator PSSI, akhir-akhir ini berita yang keluar selalu berbau sangit. Ini kalau tidak mau disebut bau busuk, lho.
     Walaupun kita semua sedang menunggu berita paling gres dari kantor PSSI di Senayan terkait pemilihan ketua umum, pada kesempatan ini saya tidak akan mengarahkan radar kuping saya ke kantor pusat organisasi sepak bola di tanah air itu. Alassnya hingga detik ini tidak pernah ada berita baru dari kantor PSSI itu. Kisruh pemilihan ketua umum PSSI masih berlarut-larut dan bahkan sampai melahirkan kelompok yang saling "berhadapan".
      Dari titik ini, rasanya semuanya sudah nembrak (terbuka) bahwa persaingan menuju kursi ketua umum PSSI adalah persaingan mereka yang membawa sekarung kepentingan. Mari berdoa semoga benang kusut yang sedang menjerat PSSI segera terurai. Mudah-mudahan kita segera memiliki sosok ketua umum PSSI yang benar-benar ingin membangkitkan sepak bola Indonesia.
     Mari kita berdoa, kisruh di PSSI tidak beranak pinak seperti episode sinetron-sinetron itu. Marikita berdoa, jangan sampai kisruh di PSSI justru lebih "rame" dibanding mereka yang sedang berkompetisi di lapangan hijau. Jangan sampai kompetisi sepak bola yang masih jauh dari profesional itu makin telantar dan mengenaskan hanya karena urusan memilih ketua umum PSSI.
     Maka, mari mencoba memasang mata dan telinga ke bagian lain dari kompleks Senayan, Yaitu ke gedung DPR/MPR. Kita berharap dari gedung para wakil rakyat ini ada berita yang mampu menyejukkan apa yang sedang terjadi di kantor PSSI atau di kantor Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga.
     Tapi harapan itu tinggal harapan. Pasalnya, apa yang keluar dari senayan, eh, dari Gedung DPR/MPR itu kok bukanya menyejukkan, tapi malah membuat geram. Bayangkan, para wakil rakyat itu kini sedang disoroti dan dinilai ngomong karena tidak tahu alamat e-mail milik mereka yang seharusnya sudah hapal di luar kepala.
     Untung tidak ada ujian nasional (UN) bagi para wakil rakyat seperti harus dilakoni adik-adik kita yang nyuprih ilmu dari tingkat Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, hingga tingkat Sekolah Menengah Atas. Soal tidak tahu e-mail adalah gerbong terakhir dari kasus memalukan yang datang dari para wakil rakyat di Senayan sana. Sebelum kasus alamat surat elektronik itu, kita masih ingat berita tentang wakil rakyat yang ketahuan selingkuh.
     Lalu ada berita tentang tindak pidana korupsi hingga rencana pembangunan Gedung baru nan megah bagi para wakil rakyat. Sayang itu semua masuk kategori berita-berita sangit di Senayan. Sambil menunggu kabar baik dari Senayan, lebih baik kita menunggu final Liga Champions 2011 antara Manchester United versus Barcelona yang akan digelar di stadion Wembley, 28 mei mendatang. Bukankah Liga Champions jauh lebih bisa menghibur dibanding tuan dan puan di Senayan sana ?

PUJAAN

PUJAAN

Jika mentari esok masih bersinar
Ku ingin dia yang pertama kukejar
Tak peduli pada orang yang tercecer
Bagiku dia bunga yang selalu mekar

Walau kadang layu tersapu panas
Wanginya juga sedikit memudar
Dihatiku dia tetap menjadi pujaan
Yang selalu aku dambakan
<Photo 1>

APA KATA ANAK CUCU KITA

APA KATA ANAK CUCU KITA

     PENGGUNA narkotika dan zat adiktif (narkoba) kini bisa bernafas lega. Mereka tidak lagi diancam hukuman apabila tertangkap razia. Pasalnya, Menteri Hukum dan Hak Azasi Manusia (Menkumham) Patrialis Akbar dan Badan Nakotika Nasional (BNN) memutuskan tidak menghukum orang yang kedapatan membawa narkoba kurang dari satu gram. Tapi. keputusan itu langsung mendapat tanggapan negatif dari orang-orang yang konsern memerangi narkoba. Bagi mereka, penggunaan narkoba untuk keperluan medis masih bisa ditoleransi, tapi saat terang diperbolehkan bagi umum, jelas merupakan keputusan konyol.
     Pernyataan Patrialis tersebut mengingatkan kita pada aktivis Lingkar Ganja Nusantara (LGN) yang melakukan aksi demontrasi di Silang Monas, Jakarta, 7 Mei 2011, yang menuntut legalisasi ganja (cannabis sativa) di tanah Air. Mereka beralasan ganja memiliki berbagai manfaat, misalnya dalam bidang medis, yaitu untuk kemoterapi bagi penderita kanker. ganja juga diklaim dapat digunakan sebagai bahan baku kertas, sehingga LGN menuntut legalitas umum pemanfaatan tanaman ganja.
     Tuntutan mereka langsung mendapat tentangan. Bahkan ada menilai, aktivitas LGN meungkin kebanyakan menghisap ganja hingga pikiran mereka menjadi tidak logis alias tidak waras. Barang berbahaya dan mengandung narkotika yang merusak jaringan syaraf aneh jika mereka anggap tidak berbahaya. Mungkin, tuntutan LGN tersebut telah menjadi inspirasi bagi Patrialis dan BNN mengeluarkan keputusan 'aneh' tersebut. Mungkin mereka berpendapat, selama menggunakan dosis rendah masih bisa diobati.
     Memang Patrialis mengeluarkan ancaman, apabila pengguna tersebut kembali kedapatan membawa narkoba, pelaku akan langsung berhadapatan dengan hukum. Tapi jelas ancaman tersebut pun masih dipertanyakan. Beberapa kasus, baik lokal kalsel maupun nasional, menunjukkan berapa banyak pelaku yang dinyatakan harus menjalankan rehabilitasi ke rumah sakit, tetapi kembali mempergunakan narkoba.
     Di kalsel, H Dony, tersangka kepemilikan sabu yang kemudian diperintahkan pengadilan harus menjadi pasien di rumah sakit Sambang Lihum, kembali tertangkap karena menyimpan narkoba jenis psikotropika golongan II tersebut di kamar rawat inapnya. Penjara pun bukan jaminan orang akan jera berkecimpung di dunia narkoba. sosok Hertomy contohnya.
     Bandar narkoba yang seharusnya mendekam di Nusakambangan sejak 2008 itu ternyata  dengan kekuatan uangnya, ia bisa tingal diluar penjara. yaitu, di sebuah rumah yang lokasinya tak jauh dari Lapas Narkotika Nusakambangan. Hertomy leluasa menerima kiriman sabu dengan aman di penjara. Dia juga bebas berhubungan dengan dunia luar melalui jaringan telepon yang dimilikinya, Termasuk, berinteraksi dan bertransaksi dengan bandar dan kurir narkoba lainya.
     Melihat contoh ini, seharusnya pejabat negara seperti Patrialis bisa lebih bijak mengambil keputusan. Bukannya malah 'melegalkan' kepemilikan narkoba. Bisa saja pelaku bermain dan bisa mendapat keputusan dia baru tertangkap, padahal telah berulang kali diamankan membawa narkoba.
     Bahkan, seorang penanggap disalah satu forum di internet menilai, kalau pejabat seperti Patrialis baru akan mengerti keputusan tersebut salah, apabila efek buruknya menimpa mereka. Kalau memang narkoba lebih banyak menimbulkan masalah, tidak perlu ada toleransi untuk melegalkannya.
jelajah daerah....istirahat di tengah hutan..............jelajah daerah....istirahat di tengah hutan..............

Friday, 27 March 2015

BAHAGIA ATAU DERITA

       ALKISAH. Ada sepasang suami isteri yang sudah berumah tangga selama 20 tahun. Mereka hidup miskin. Karena sudah tak tahan menanggung hidup susah, suatu hari, si isteri berkata pada suaminya, “Mengapa kamu selama ini tidak jujur kepadaku? Kamu itu ternyata sejak dulu miskin, dan sampai sekarang masih miskin, sehingga rumah tangga kita pun ikut miskin!” Sang suami tersentak. Hening sebentar. “Sebenarnya sejak dulu, aku itu jujur kepadamu, tapi kamu salah paham. Waktu kita menjalin cinta, aku kan dulu bilang padamu: Wahai kekasihku, kaulah satu-satunya hartaku yang paling berharga di dunia ini!”
Lelucon di atas, selain memberi peringatan kepada kaum wanita akan bahaya rayuan gombal pria, juga menyiratkan pandangan bahwa kebahagiaan rumah tangga sangat tergantung pada pendapatan.
       Syair-syair lagu romantis yang mengatakan, “aku rela hidup susah dan menderita, asal kita selalu bersama” hanya ada dalam impian. Dalam kenyataan, perut harus diisi, dan cinta tak bisa dimakan.
Faktanya, Indeks Kebahagiaan Indonesia 2014 yang dirilis Badan Pusat Statistik awal Februari 2015 lalu menunjukkan, orang Indonesia masih belum puas dengan pendapatan, pendidikan, papan, pekerjaan dan kesehatan mereka. Namun orang Indonesia cukup puas dengan keharmonisan keluarga, keamanan, keadaan lingkungan, hubungan sosial dan ketersediaan waktu luang (Kompas, 14-2-2015).
        Hasil survei ini tampaknya sesuai dengan Indeks Kebahagiaan Dunia 2013, yang menempatkan Indonesia pada urutan ke-76 dari 156 negara yang disurvei. Artinya, posisi Indonesia masih di tengah.
Ukuran yang dipakai adalah ukuran negara masing-masing, ditambah angka harapan hidup, persepsi atas korupsi, pendapatan per kapita, kebebasan berpendapat, dukungan sosial dan kedermawanan. Namun, kalau dicermati lebih dalam, kebahagiaan jelas tidak mudah diukur. Ukuran-ukuran yang dipakai dalam survei-survei, cenderung menekankan aspek materi dan sosial saja, dan tidak memasukkan aspek spiritual (ruhani).
       Padahal, pandangan hidup seseorang tentang dari mana ia berasal, apa yang harus dia lakukan dalam hidup ini, dan ke mana kelak dia akan kembali, sangatlah penting. Manusia adalah makhluk jasmani dan ruhani, sehingga kebahagiaan hidupnya harus mencakup kedua-duanya. Tubuhnya memerlukan sandang, papan dan pangan. Ruhnya memerlukan ilmu, hikmah dan kedekatan dengan Tuhan.
        Sebagai makhluk sosial, manusia memerlukan keluarga dan kelompok sebagai tempat berlindung sekaligus lapangan untuk memberi, melayani dan mengaktualisasikan diri. Selain itu, memahami kebahagiaan tidak bisa terlepas dari memahami penderitaan. Keduanya ibarat dua sisi dari mata uang yang sama. Tak ada hidup tanpa duka-derita, sebagaimana tak ada pula hidup tanpa suka-bahagia.
        Di sini, yang menentukan kebahagiaan adalah cara dan sikap orang dalam menghadapi penderitaan. Cara dan sikap itu lahir dari pandangan hidup, yang berasal dari agama atau filsafat. Memang, hidup bebas dari penderitaan tidak otomatis berarti kebahagiaan, tetapi ia adalah prasyarat bagi kebahagiaan. Karena itu, pertanyaan survei tentang kebahagiaan bisa dibalik.
        Jika survei-survei itu mengajukan pertanyaan tentang apa yang membuat orang bahagia, maka survei sebaliknya bisa menanyakan tentang apa saja yang membuat orang merasa menderita. Namun, dengan segala keterbatasannya, survei-survei itu mengingatkan bahwa pendapatan, pendidikan dan kesehatan masyarakat kita umumnya masih jauh panggang dari api.
       Menurut Pisani (2014:3) dari 240 juta penduduk kita, 110 juta di antaranya masih berpenghasilan di bawah dua dolar sehari. Kini nilai tukar rupiah anjlok, dan harga bahan-bahan pokok melonjak. Tidakkah hidup mereka makin melarat?
       Alhasil, kebahagiaan yang paling bisa diukur adalah kesejahteraan materi dan sosial, meskipun menurut kaum bijak bestari, para filosof dan sufi, kebahagiaan semacam ini masih berada di tingkat rendah. Sayangnya, untuk tingkat yang rendah itupun, rakyat kita masih menggapai-gapai tak berdaya!

.