ALKISAH. Ada sepasang suami isteri yang sudah berumah tangga selama 20 tahun. Mereka hidup miskin. Karena sudah tak tahan menanggung hidup susah, suatu hari, si isteri
berkata pada suaminya, “Mengapa kamu selama ini tidak jujur kepadaku?
Kamu itu ternyata sejak dulu miskin, dan sampai sekarang masih miskin,
sehingga rumah tangga kita pun ikut miskin!” Sang suami tersentak. Hening sebentar. “Sebenarnya sejak dulu, aku
itu jujur kepadamu, tapi kamu salah paham. Waktu kita menjalin cinta,
aku kan dulu bilang padamu: Wahai kekasihku, kaulah satu-satunya hartaku
yang paling berharga di dunia ini!”
Lelucon di atas, selain memberi peringatan kepada kaum wanita akan
bahaya rayuan gombal pria, juga menyiratkan pandangan bahwa kebahagiaan
rumah tangga sangat tergantung pada pendapatan.
Syair-syair lagu romantis yang mengatakan, “aku rela hidup susah dan
menderita, asal kita selalu bersama” hanya ada dalam impian. Dalam
kenyataan, perut harus diisi, dan cinta tak bisa dimakan.
Faktanya, Indeks Kebahagiaan Indonesia 2014 yang dirilis Badan Pusat
Statistik awal Februari 2015 lalu menunjukkan, orang Indonesia masih
belum puas dengan pendapatan, pendidikan, papan, pekerjaan dan kesehatan
mereka. Namun orang Indonesia cukup puas dengan keharmonisan keluarga,
keamanan, keadaan lingkungan, hubungan sosial dan ketersediaan waktu
luang (Kompas, 14-2-2015).
Hasil survei ini tampaknya sesuai dengan Indeks Kebahagiaan Dunia
2013, yang menempatkan Indonesia pada urutan ke-76 dari 156 negara yang
disurvei. Artinya, posisi Indonesia masih di tengah.
Ukuran yang dipakai adalah ukuran negara masing-masing, ditambah
angka harapan hidup, persepsi atas korupsi, pendapatan per kapita,
kebebasan berpendapat, dukungan sosial dan kedermawanan. Namun, kalau dicermati lebih dalam, kebahagiaan jelas tidak mudah
diukur. Ukuran-ukuran yang dipakai dalam survei-survei, cenderung
menekankan aspek materi dan sosial saja, dan tidak memasukkan aspek
spiritual (ruhani).
Padahal, pandangan hidup seseorang tentang dari mana ia berasal, apa
yang harus dia lakukan dalam hidup ini, dan ke mana kelak dia akan
kembali, sangatlah penting. Manusia adalah makhluk jasmani dan ruhani, sehingga kebahagiaan
hidupnya harus mencakup kedua-duanya. Tubuhnya memerlukan sandang, papan
dan pangan. Ruhnya memerlukan ilmu, hikmah dan kedekatan dengan Tuhan.
Sebagai makhluk sosial, manusia memerlukan keluarga dan kelompok
sebagai tempat berlindung sekaligus lapangan untuk memberi, melayani dan
mengaktualisasikan diri. Selain itu, memahami kebahagiaan tidak bisa terlepas dari memahami
penderitaan. Keduanya ibarat dua sisi dari mata uang yang sama. Tak ada
hidup tanpa duka-derita, sebagaimana tak ada pula hidup tanpa
suka-bahagia.
Di sini, yang menentukan kebahagiaan adalah cara dan sikap orang
dalam menghadapi penderitaan. Cara dan sikap itu lahir dari pandangan
hidup, yang berasal dari agama atau filsafat. Memang, hidup bebas dari penderitaan tidak otomatis berarti
kebahagiaan, tetapi ia adalah prasyarat bagi kebahagiaan. Karena itu,
pertanyaan survei tentang kebahagiaan bisa dibalik.
Jika survei-survei itu mengajukan pertanyaan tentang apa yang membuat
orang bahagia, maka survei sebaliknya bisa menanyakan tentang apa saja
yang membuat orang merasa menderita. Namun, dengan segala keterbatasannya, survei-survei itu mengingatkan
bahwa pendapatan, pendidikan dan kesehatan masyarakat kita umumnya masih
jauh panggang dari api.
Menurut Pisani (2014:3) dari 240 juta penduduk kita, 110 juta di
antaranya masih berpenghasilan di bawah dua dolar sehari. Kini nilai
tukar rupiah anjlok, dan harga bahan-bahan pokok melonjak. Tidakkah
hidup mereka makin melarat?
Alhasil, kebahagiaan yang paling bisa diukur adalah kesejahteraan
materi dan sosial, meskipun menurut kaum bijak bestari, para filosof dan
sufi, kebahagiaan semacam ini masih berada di tingkat rendah.
Sayangnya, untuk tingkat yang rendah itupun, rakyat kita masih
menggapai-gapai tak berdaya!
.
No comments:
Post a Comment