Friday, 27 March 2015

BAHAGIA ATAU DERITA

       ALKISAH. Ada sepasang suami isteri yang sudah berumah tangga selama 20 tahun. Mereka hidup miskin. Karena sudah tak tahan menanggung hidup susah, suatu hari, si isteri berkata pada suaminya, “Mengapa kamu selama ini tidak jujur kepadaku? Kamu itu ternyata sejak dulu miskin, dan sampai sekarang masih miskin, sehingga rumah tangga kita pun ikut miskin!” Sang suami tersentak. Hening sebentar. “Sebenarnya sejak dulu, aku itu jujur kepadamu, tapi kamu salah paham. Waktu kita menjalin cinta, aku kan dulu bilang padamu: Wahai kekasihku, kaulah satu-satunya hartaku yang paling berharga di dunia ini!”
Lelucon di atas, selain memberi peringatan kepada kaum wanita akan bahaya rayuan gombal pria, juga menyiratkan pandangan bahwa kebahagiaan rumah tangga sangat tergantung pada pendapatan.
       Syair-syair lagu romantis yang mengatakan, “aku rela hidup susah dan menderita, asal kita selalu bersama” hanya ada dalam impian. Dalam kenyataan, perut harus diisi, dan cinta tak bisa dimakan.
Faktanya, Indeks Kebahagiaan Indonesia 2014 yang dirilis Badan Pusat Statistik awal Februari 2015 lalu menunjukkan, orang Indonesia masih belum puas dengan pendapatan, pendidikan, papan, pekerjaan dan kesehatan mereka. Namun orang Indonesia cukup puas dengan keharmonisan keluarga, keamanan, keadaan lingkungan, hubungan sosial dan ketersediaan waktu luang (Kompas, 14-2-2015).
        Hasil survei ini tampaknya sesuai dengan Indeks Kebahagiaan Dunia 2013, yang menempatkan Indonesia pada urutan ke-76 dari 156 negara yang disurvei. Artinya, posisi Indonesia masih di tengah.
Ukuran yang dipakai adalah ukuran negara masing-masing, ditambah angka harapan hidup, persepsi atas korupsi, pendapatan per kapita, kebebasan berpendapat, dukungan sosial dan kedermawanan. Namun, kalau dicermati lebih dalam, kebahagiaan jelas tidak mudah diukur. Ukuran-ukuran yang dipakai dalam survei-survei, cenderung menekankan aspek materi dan sosial saja, dan tidak memasukkan aspek spiritual (ruhani).
       Padahal, pandangan hidup seseorang tentang dari mana ia berasal, apa yang harus dia lakukan dalam hidup ini, dan ke mana kelak dia akan kembali, sangatlah penting. Manusia adalah makhluk jasmani dan ruhani, sehingga kebahagiaan hidupnya harus mencakup kedua-duanya. Tubuhnya memerlukan sandang, papan dan pangan. Ruhnya memerlukan ilmu, hikmah dan kedekatan dengan Tuhan.
        Sebagai makhluk sosial, manusia memerlukan keluarga dan kelompok sebagai tempat berlindung sekaligus lapangan untuk memberi, melayani dan mengaktualisasikan diri. Selain itu, memahami kebahagiaan tidak bisa terlepas dari memahami penderitaan. Keduanya ibarat dua sisi dari mata uang yang sama. Tak ada hidup tanpa duka-derita, sebagaimana tak ada pula hidup tanpa suka-bahagia.
        Di sini, yang menentukan kebahagiaan adalah cara dan sikap orang dalam menghadapi penderitaan. Cara dan sikap itu lahir dari pandangan hidup, yang berasal dari agama atau filsafat. Memang, hidup bebas dari penderitaan tidak otomatis berarti kebahagiaan, tetapi ia adalah prasyarat bagi kebahagiaan. Karena itu, pertanyaan survei tentang kebahagiaan bisa dibalik.
        Jika survei-survei itu mengajukan pertanyaan tentang apa yang membuat orang bahagia, maka survei sebaliknya bisa menanyakan tentang apa saja yang membuat orang merasa menderita. Namun, dengan segala keterbatasannya, survei-survei itu mengingatkan bahwa pendapatan, pendidikan dan kesehatan masyarakat kita umumnya masih jauh panggang dari api.
       Menurut Pisani (2014:3) dari 240 juta penduduk kita, 110 juta di antaranya masih berpenghasilan di bawah dua dolar sehari. Kini nilai tukar rupiah anjlok, dan harga bahan-bahan pokok melonjak. Tidakkah hidup mereka makin melarat?
       Alhasil, kebahagiaan yang paling bisa diukur adalah kesejahteraan materi dan sosial, meskipun menurut kaum bijak bestari, para filosof dan sufi, kebahagiaan semacam ini masih berada di tingkat rendah. Sayangnya, untuk tingkat yang rendah itupun, rakyat kita masih menggapai-gapai tak berdaya!

.

No comments:

Post a Comment