Thursday, 12 March 2015

BANGSAT

BANGSAT

     MUNGKIN kini Indonesia menjadi negara yang paling riuh, hiruk pikuk dalam segala urusan yang silih berganti. Mulai kejengkelan rakyat atas kepemimpinan yang tidak tegas, korupsi, pengejaran koruptor di luar negeri, penangkapan hakim, serbuan barang impor sampai kerisauan para tokoh nasional akan kemungkinan bangkrutnya negeri ini. Penangkapan para teroris yang waktunya banyak bersamaan dengan ramainya pemberiataan tentang korupsi, makin membuat miris. Kalau teroris sudah habis siapa lagi berikutnya.
     Tapi dari semua kericuhan itu yang paling menonjol masih tetap merajalelanya korupsi. Itu intinya korupsi tetap menjadi persoalan utama di negeri ini. Semua tahu korupsi sudah merembet ke manamana bahkan juga penegak hukum, hingga susah untuk memberantasnya. Harus dimulai dari mana, dari penegak hukum dulu atau yang lain. Semuanya mudah ditengarai, tinggal kemauannya. Menteri Dalam Negeri Gumawan Fauzi di Padang mengatakan, hingga saat ini di Indonesia ada 158 kepala daerah yang terdiri dari Gubernur, bupati dan walikota tersangkut dugaan tindak pidana korupsi. Jumlah kepala daerah di Indonesia 557 terdiri 33 gubernur dan 524 bupati/walikota.
     Jadi kurang lebih 30 persen kepala daerah tersangkut korupsi. Katanya ini akibat tingginya biaya untuk menjadi kepala daerah. Gumawan bahkan mengatakan untuk menjadi gubernur di jawa seseorang bisa menghabiskan Rp 100 miliar. PernyataanMendagri tersebut disambut Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang siap untuk menindaklanjuti. Tapi sebelum KPK bertindak, Sekjen Transparansi Internasional Indonesia (TII) Teten Masduki mengingatkan, yang harus digarap dulu adalah pemberantasan korupsi di bidang politik dan hukum (kepolisian, kejaksaan dan pengadilan). Ini akan berdampak dari pada memberantas korupsi kepala daerah yang tersebar di mana-mana.
     Pendapat Teten masuk akal juga. Pengalaman selama ini banyak koruptor dihukum ringan, bahkan banyak yang dibebaskan seperti yang dilkukan hakim Syarifuddin Umar yang barusan ditangkap KPK. Alih-alih efek jera, putusan hakim secara tidak langsung justru melegalkan korupsi karena orang yang jelas-jelas mencuri kekayaan negara dianggap tidak bersalah. Ini belum lagi permainan jaksa yang bisa membelokkan kasus seperti yang ditutuduhkan kepada Jaksa Cirus Sinaga dalam kasus mafia pajak yang melibatkan Gayus Tambunan.
     Polisi juga begitu sigap menangani kasus-kasus besar yang ditunggu rakyat. Terkesan pura-pura bodoh, padahal korupsi dan teroris sama jahatnya.
     Presiden Yudhoyono menjadi panglima pemberantasan korupsi tapi tidak mampu mengyunkan pedangnya. Dalam kasus mantan Bendahara Partai Demokrat M Nazaruddin yang kabur ke singapur sebenarnya 'titah' SBY cukup untuk menghadirkannya ke KPK. TApi perintahnya untuk memulangkan Nazaruddin tak dipatuhi. Padahal SBY seorang presiden sekaligus ketua Dewan Pembina Partai Demokrat. Apakah perintahnya hanya sekedar untuk pencitraan?
     Ini semakin memperkuat dugaan bahwa parta atau oknum pimpinan partai, terlibat dengan kepergian Nazaruddin. Orang percaya Nazaruddin sengaja di sembunyikan karena sebagian mantan bendahara dia pasti banyak memegang rahasia pemasukan dana-dana partai yang tidak semua bisa dibuka. Kasus Nazaruddin hanyalah salah satu dari kasus-kasus mencurigakan yang diduga berhubungan dengan penguasa seperti Bank Century dan mafia pajak. Kalau kita kembali ke pokok persoalan, mana lembaga yang harus dibersihkan lebih dahulu, jawabanya sulit. Memberantas korupsi di lingkungan penegak hukum maupun pemerintahan ibarat membasmi "BANGSAT", kutu yang bersarang di tempat tidur atau kursi.
     Ia akan menggigit sembari menghisap darah sampai perutnya buncit. Disemprot obat, atau direndam air cukup lama pun tak akan punah. Akan muncul gemerasi  baru dari telur-telurnya yang tetap hidup. Orang Betawi menamakannya 'bangsat', ada pula yang menyebut kutu busuk. Binatang ini baru punah kalau dibakar bersama sarangnya. Bagaimana dengan korupsi di lembaga politik ? Ya bersihkan saja sarangnya biar mereka lumat, karena di situ banyak 'bangsat' yang mencari hidup.
     Yang harus diingat, negera ini bukan hanya milik penguasa, bukan pula milik parpol. Negara ini milik rakyat. Kalau rakyat sudah tidak tahan melihat kelakuan para pemegang kekuasaan, jangan salahkan kalau mereka bergerak. Karena itu sadarlah sebelum terlambat. Soekarno dan Soeharto yang begitu kuat pun bisa runtuh oelh kekuasaan rakyat.

FACEBOOKER MELAJU, MENGAPA KITA DIAM

FACEBOOKER MELAJU, MENGAPA KITA DIAM

     ANGKA mengejutkan ditampilkan hasil survei pengguna facebook dunia. Ingggeris 24 juta, Amerika Serikat 147 juta, dan Indonesia 33 juta, padahal facebook baru ada sekitar 6 tahun lalu. Boleh jadi akun facebook itu tidak memawakili jumlah pemakai yang sebenarnya karena banyaknya user ganda. Tapi gambaran itu telah menginspirasi kita dalam banyak hal. Pertama, betapa tingginya minas masyarakat Indonesia terhadap media sosial dengan pertumbuhan enam persen dan betapa kuatnya daya tarik facebook yang menyebabkan peningkatan yang luar biasa.
     Sejak dikenalkan ke publik 2004 sudah ada 500 juta akun FB di dunia. Mungkin kehadiran facebook secara tidak sengaja menjadi oase dihamparan jiwa-jiwa yang narsis. Kita sadar, hamparan laten dalam interaksi sosial yang menjadio isu sepanjang zaman adalah struktur kaku dan ketat. padahal kita berada di alam demokrasi yang salah satu cirinya adalah kebebasan berekresi. Mark Zuckerberg datang, membuka katup ruang hampa itu.
     Disisi lain, pembangunan network informasi teknologi (IT) nasional yang atraktif dalam 1,5 dekade terakhir laksana sebuah bom waktu. Ketika detonatornya disulut oleh reduksi tarif pulsa dan dunia gadged juga melakukan hal sama, maka yang terjadi  adalah bom. Bayang kan. awal 90-an, densitas telepon hanya sekitar 3,5 unit perseratus penduduk. Tapi di posisi akhir 2010, indosat mengaku punya 44 juta pelanggan. XL 40 juta pelanggan, Telkom Grup mengklaim 120 juta pelanggan. Ditambah operator lain seperti Bakrie Telecom, Axis dan lain-lain, sekitar 20 juta-an.
     Kalau ditotal, dari 240 penduduk Indonesia lebih 90 persen sudah punya telepon. Liberalisasi di bidang telekomunikasi sejak ditetapkan UU Nomor 36 tahun 1989 Telah menghasilkan pertumbuhan luar biasa. Ekspansi network telekomonikasi merebak seirama dengan perkembangan dunia informatika. Penggabungan kedua macam teknologi itu melahirkan internet. Tapi hanya sedikit orang yang bisa menikmati dan meneksplorasi IT. Mereka yang beruntung itu, menjadi power full. information is power itu benar adanya. Lalu tiba musim bloger dan frendster sebelum Mark Zuckerberg datang membawa Facebook. Internet diproduksi secara masal. Warnet menjamur.
     Begitu mudahnya facebook dioperasikan, semudah memainkan remote control televisi, membuat setiap orang merasa jadul apabila tidak punya akun facebook. Impian memiliki domain di cyber space dapat diwujudkan lebih mudah lagi. Nikmat kemudahan itu ditunjang pula oleh jalan lebar yang dibangun network provider yang memungkinkan akses ke internet dapat dilakukan langsung dari handphone. Facebook, membelah keterasingan diri di tengah gempita perubahan dan kesenjangan komunikasi. Miskomunikasi orangtua, dapat dilampiaskan anak dengan update status. Bantu oleh ketatnya seleksi media konvensional, tersedia jalan pintas di facebook. Adalah Obama sampai Abah Rudi akhirnya menggunakan facebook untuk menyebarkan ide-ide politisi saat berkampanye.
     Tak dapat disangkal, facebook menjadi kekuatan real yang bisa mengubah citra sejarah. Pritha menikmati keampuhan facebook saat berinteraksi dengan Rumah Sakit Omni Internasional. Benua kita termasuk yang tidak ketinggalan. Gaya hidup urang Banjar menemukan platform budaya yang hampir persis dengan Facebook. Tradisi kita, sebagai masyarakat dengan tingkat kepedulian sosial tinggi dan suka ngomong di-copas (copy paste) atau didigitalisasi ke dunia maya. ngomongan di kapal dan obrolan di angkringan diangkat naik kedunia maya.
     Keterbatasan pengetahuan di bidang IT tidak menjadi kendala untuk sekedar ikut menikmati kemajuan yang selama ini menjadi milik elit. Tapi mestinya kita tidak boleh berhenti disitu. Facebook hanyalah face (baca: permukaan) dari book IT yang tebal. Bila kita hanya surfing di permukaan IT, kita akan menjadi korban . Korban akibat tidak pahaman atas datanya kepalsuan di dunia maya dansekaligus korban karena kecanduan dan obyek iklan. itu sudah banyak terjadi. Kesenjangan ini tidak boleh kita biarkan berlama-lama. Apa yang disediakan IT harus dimanfaatkan maksimal. euforia terhadap Facebook harus terarah menjadi dpirit penguasaan teknologi IT. Pemerintah Daerah adalah organisasi terbesar yang paling sering berhubungan dengan masyarakat diharapkan mengambil peran yang strategis. Peran sebagai end user IT, sekaligus peran sebagai agent of changing dalam memberantas buta internet.
     Niat pemerintah untukmemanfaatkan IT dalam melayani masyarakat maupun mengelola administrasi pemerintah sudah terlihat serius. Pemkab Tabalong dan Banjarbaru punya Kantor Pusat Data Elektronik, punya web, punya CCTV dan aplikasi sistem informasi (SIM), bahkan Pemkab Banjarbaru memasang hot spot dilingkungan perkantorannya. Keseriusan itu menghadapi kendala yang juga serius, yaitu biaya. Banyaknya proiritas pembangunan yang sama-sama mendesak, menjadikan program modernisasi administrasi di urutan pucuk.
     Itu sangat bijaksana. Karena untuk instansi pemerintahan yang ingin menggunakan IT lebih serius memang diharuskan menanam investasi jaringan yang tidak murah. Inovasi yang tiada henti didunia IT, kini sudah sampai kepada cloud computing atau ruang bersama, dijaga dan dipelihara bersama, Inilah jawaban paling bermakna untuk mengatasi kendala dana. Dengan sistem ini pihak pengguna cukup menyediakan perangkat ujung yang disebut CPE (customer primesi equipment) yang tersedia sangat banyak di pasaran. Apakah ingin laptop atau komputer tablet dan sebagainya.
     Hasyrat untuk menjadi pemerintah yang cerdas bukan impian di langit ke tujuh, tetapi sudah turun ke bumi daerah kita yang terbentang dari gunung bersela di tabalong sampai pulau sembilan di Kotabaru terintegrasi dalam sebuah cloud.

JUJUR ANCUR

JUJUR ANCUR

     Alifah Achmad Maulana dan Muhammad Abrary Pulungan, tidak memiliki hubungan darah dalam kekerabatan. Mereka juga tidak saling kenal dan terpisahkan jarak sekitar 670 kilometer. Alif di Surabaya, sedangkan Abrary di Jakarta. Akan tetapi, selain usia dan jenis kelamin, mereka memiliki sikap yang sama. Sikap yang patut diacungi jempol karena sikap itu sidah menjadi barang langka di negara ini. Mereka berani memilih jujur meski risikonya besar.
     Pada usianya yang baru 12 tahun, Alif dan Abrary berani menguak ketidakjujuran yang dilakukan generasi yang jauh lebih lama. Tragisnya, yang mereka koreksi itu memiliki profesi yang agung dan luhur : Guru !. Adalah Ujian Nasional Sekolah Dasar (UN SD) yang menjadi momentum keberanian mereka. Alif dan Abrary mengaku disuruh guru masing-masing untuk memberi sontekan kepada rekan sekolah. Jika Alif mengikuti perintah itu, Abrary menolak.
     Selain berani, keduanya adalah anak pintar. Kepintaran Alif bukan isapan jempol. Dalam pengumuman hasil UN, jum'at (17/6), putra pasangan Widodo dan Siami itu menduduki peringkat tertinggi di sekolahnya. Nilainya 27,3 dengan perincian hasil UN 27,85 dan Ujian Akhir Sekolah (UAS) 26,46 Seluruh rekannya di SD Gadel II Surabaya juga lulus dengan nilai rata-rata 23,45. Bagaimana Abrary ? Dia belum mengetahui hasilnya karena hasil ujian SD di Jakarta, baru diumumkan senin (20.6) tadi. Konsekwensi keberanian dua bocah itu sangat besar. Keluarga Alif diusir oleh warga kampung Gadel Sari Barat, Tandes karena dinilai telah mencemarkan nama baik sekolah dan kampungnya. Perlu diketahui, sekolah itu berada di kampung tersebut. Sebagian guru dan mayoritas muridnya berasal dari situ juga. Kini, keluarga Alif 'mengungsi' di Gresik, jatim.
     "Yang dialami sangat berat, tetapi tak bisa menyimpanbeban keridak jujuran itu selamanya. yang mana diharapkan keluarganya untuk menjadi anak yang pintar, jujur dan saleh, karena anak teersebut. Sedangkan nasib Abrary agal lebih baik. Dia dan keluarganya tidak sampai terusir. Akan tetaopi, bocah itu dimusuhi teman sekolah dan gurunya di SDN 06 Petang, Pesanggarahan. yang dialami tidak mau mengobrol dan sering di soraki, putra pasangan Muhammad Aswary Pulungan dan Irma Winda Lubis.
    Keberanian du bocah itu mempertahankan nilai kejujuran mendapat simpati dan dukungan banyak kalangan baik secara langsung maupun melalui dunia maya. Mereka menyerukan wvaluasi terhadap proses pendidikan di negara ini yang dinilai penuh kepentingan, membebani anak didik dan menyampingkan pendidikan mental dan karakter. Tragisnya, Menteri Pendidikan Nasional M Nuh secara lantang menegaskan sontek massal tidak terjadi. Patokan dia hanyalah hasil UN yang tidak seragam. Bahkan, Sabtu (18/6), Nuh memberi hadiah laboratorium komputer. Dia pun memberi notebook untuk Alif.
     Sontek massal adalah persoalan serius dalam dunia pendidikan Indonesia. Semua kalangan terutama pemerintah harus mengevaluasi sistem pendidikan yang diterapkan selama ini. itu bukti sistem pendidikan harus segera dibenahi. Tidak bisa dibiarkan jika ingin menciptakan generasi yang cerdas dan bermental jujur. Harusnya pemerintah menindak keras guru yang mendorong perilaku ketidakjujuran itu.

KEGILAAN POLITISI SAMPAI KAPAN ?

KEGILAAN POLITISI SAMPAI KAPAN ?

    PESTA  demokrasi masih tiga tahun lagi. Rasanya masih cukup jauh bagi rakyat untuk menentukan sikap warna apa atau figur siapa yang bakal dipilih. Bisa jadi rakyat justru semakin apatis untuk menentukan pilihannya pada gelaran demokrasi nanti. Rakyat sudah terlalu jenuh dijadikan komoditas politik oleh para elit partai. Terlbih, prilaku mereka semakin tidak memiliki kesantunan, dan jauh dari rasa empati terhadap apa yang dirasakan rakyat.
     Tidak heran jika keapatisan rakyat terhadap priode reformasi ini tidak mendapat nilai lebih dari yang diharapkan. Harapan adanya perubahan dari sebuah demokrasi baru yang terbebas dari belitan masa silam ternyata telah mengubah pandangan rakyat terhadap priode kekinian. Hasil surve Indobarometer justru membuat kita terkejut ketika mayoritas responden mengaku rindu dengan zaman Soeharto. Jujur, periode yang oleh reformis disebut masa kungkungan demokrasi itu telah memberikan banyak kemakmuran bagi rakyat.
     Hasil surve itu tentu saja mengundang kritik pedas sejumlah kaum cendekia. Hasil jajak pendapat Lingkar Surve Indonesia, misalnya, menyampaikan elektabilitas partai-partai politik di mata rakyat. Hasil surve LSI menyebut Partai Demokrat yang menjadi partai penguasa mengalami penurunan di mata rakyat. Sebaliknya, dua pesaingnya, PDI Perjuangan dan Golkar mengalami penaikankepercayaan dari responden.
     Apapunm bentuk atau metode yang disajikan tentu harus kita pahami bahwa lembaga-lembaga surve itu memiliki kepentingan tertentu. Bahasa lugasnya, sangat absurd kalau kemudian tidak dikatakan bukan pesanan atau prodeo semata. Bagaimanapun sebuah surve tentu memerlukan dana yang tidak sedikit. Terlepas adanya pesanan atau tidak, hasil surve itu bukanlah jaminan kebenaran. Hasil jajak pendapat sejumlah lembaga surve yang tidak menempatkan Partai Demokrat menjadi pemenang Pemilu 2009. Faktanya, Demokrat mampu meraih suara terbanyak mengungguli partai konservatif seperti Golkar dan PDI Perjuangan.
     Yang pasti, rakyat kini dalam suasana berkabung dengan kondisi politik di tanah air. Apatisme rakyat terhadap proses politik merupakan akibat perilaku politisi yang mengecewakan, misalnya, terlibat suap dan korupsi. Dari  mulai pusat hingga daerah, hingar-bingar praktik suap dan korups ioleh elit politik menjadi sebuah kezaliman. Hal ini sebagai akibat kontestasi politik pascva reformasi yang berbiaya tinggi. Para elit tentu ingin mengembalikan modalnya yang terkuras pada kontestasi politik lalu.
     Ketua DPR Marzuki Alie mengakui banyak anggota dewan yang masih muda dan berwajah baru-yang selama ini diharapkan membawa perubahan nasib bangsa  kea arah yang lebih baik-justru membuat parlemen semakin bobrok. Padahal, DPR wajah baru ini merupakan produk reformasi yang diharapkan mampuy berbuat lebih meningkatkan kesejahteraan rakyat. Faktanya, setelah 10 tahunreformasi, kasus korupsi, asusila, dan arogansi marak terjadi ditubuh lembaga perwakilan rakyat. Pendek kata, prilaku politisi di dewan seperti sebuah kegilaan baru yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.
     Hampir saban waktu kita dipertontonkan sosok elit dan politisi dengan wajah ganda. Wajah yang satu penampilan kemanisan dengan buian janji dan setumpuk harapan kepada konstituennay. Wajah lainya menampilkan keserakahan, ketamakan dan nafsu yang tak terkendali. ASlih-alih lembaga perwakilan rakyat mmpu smenjadi penyambung aspirasi rakyat justru disana hanya memikirkan kepentingan mereka.
      Mereka tak ubahnya seperti selebriti, mencari panggung untuk mengatrol popularitas ngomong sana, ngomong sini agar dicap populis dan kritis. TApi coba tengok ketika rapat-rapat di parlemen untuk membahas soal rakyat,mereka memilih duduk diam, tidur mendengkur, main game atau ber-chating-ria melalui ponsel. Bahkan, tidak sedikit yang asyik  membuka portal-portal tidak senonoh di komputer jinjing atau komputer tablet.

AMPUNAN

AMPUNAN

Doa yang sama
Berlariku ke arah yang syahdu
Menjaring serpihan doa
Yang dulu pernah tertutur
Berharap menjadi utuh
Hingga kembali kutadahkan tangan
Memohon kembali dengan doa yang sama

Bersujud mengharap kedamaian hati
Terkapar dalam kekhilafan yang kesekian kali
Menjilat kembali air mata yang menjadi saksi

Kini kukembali menghadap-Nya
Meminta ampun atas dosa yang sama
Ya Allah hukumlah aku dengan cara-mu
Agar aku menjadi hamba-Mu yang setia
ada di wates yogyakartaada di wates yogyakarta

Tuesday, 10 March 2015

SURAT WASIAT

SURAT WASIAT

Berkacalah sahabatku pada danau kering
di tengah hutan rimba sana yang airnya payau
kini bumi kita telah jadi bara
api meranggas membakari jiwa kerontang
dihadapankan kemana wajah kita nanti ?

Inilah surat wasiat yang lusuh berdebu
tersangkut di ranting pepohonan hutan bakau
di bibir pantai abrasi telah pula melumat
kerang, udang, kepiting, dan penyu laut
yang merupakan rahasia antara kita dan alam

Sekali lagi cobalah berkaca ke dalam danau itu
lihat pada wajahmu, apa yang tampak
mungkin gelap memancar disitu
karena wajahmu dan wajahku telah retak disana

NASIB PAHLAWAN DEVISA

NASIB PAHLAWAN DEVISA

     Sejak awal, pengiriman TKW keluar negeri memberikan citra buruk di dalam negeri. Banyak pihak mengaitkan dengan harga diri bangsa. sejak pengiriman pertama pada 1980-an banyak cerita sedih yang sampai di tanah air. Cerita sekarang semakin mengerikan. Mau berangkat sampai pulang, semua menimbulkan derita. Misalnya mau berangkat ditampung di tempat-tempat yang kurang layak. Sewaktu pulang di bandara dicegat puluhan calo yang menawarkan jasa mengantar rumah.
     Tidak sedikit dari mereka yang menjadi korban penipuan. Ini semua terjadi di depan para petugas keamanan. TKW itu rata-rata berpendidikan rendah, ada juga yang lulusan SLTA atau sederajat. Tetapi di mata majikan mereka tetap saja seorang buruh yang harus bekerja keras. Mereka tidak punya hak apa pun kecuali kerja. Gaji tak dibayar juga tak bisa protes apalagi paspor dipegang oleh majikan. Mereka tidak tahu harus mengadu kepada siapa. Jangan tanyakan apa tugas kedutaan, karena ada TKW dipacung pun tidak tahu.
     Demi memanusiakan manusia, pemerintah seharusnya tidak hanya melakukan moratorium (menghentikan sementara) pengiriman TKW ke Arab Saudi, tapi menghentikan total pengiriman TKW ke semua negara. Kita hendaknya hanya mengirim TKI yang punya keterampilan, bukan tenaga serabutan yang bekerja mulai pagi hingga larut malam. Untuk level bawah misalnya, perawat bayi (baby sister), perawat orang tua, ahli kecantikan untuk melayani nyonya-nyonya petro dolar, ahli kuliner, pengemudi atau pekerja dengan ketrampilan lainnya.
     Itu pun setidaknya lulusan SLTA agar memiliki bekal pengetahuan yang cukup sehingga tidak mudah diperdaya. Untuk pekerjaan babu lebih baik stop, di dalam negeri masih banyak yang butuh. Apa artinya gaji lumayan kalau keamanan tidak terjamin. Menyedihkan, negara lain meninggalkan pekerjaan kasar karena ekonomi membaik, kita mengejarnya karena kesulitan ekonomi.