FACEBOOKER MELAJU, MENGAPA KITA DIAM
ANGKA mengejutkan ditampilkan hasil survei pengguna facebook dunia.
Ingggeris 24 juta, Amerika Serikat 147 juta, dan Indonesia 33 juta,
padahal facebook baru ada sekitar 6 tahun lalu. Boleh jadi akun facebook
itu tidak memawakili jumlah pemakai yang sebenarnya karena banyaknya
user ganda. Tapi gambaran itu telah menginspirasi kita dalam banyak hal.
Pertama, betapa tingginya minas masyarakat Indonesia terhadap media
sosial dengan pertumbuhan enam persen dan betapa kuatnya daya tarik
facebook yang menyebabkan peningkatan yang luar biasa.
Sejak dikenalkan ke publik 2004 sudah ada 500 juta akun FB di dunia. Mungkin kehadiran facebook secara tidak sengaja menjadi oase dihamparan jiwa-jiwa yang narsis. Kita sadar, hamparan laten dalam interaksi sosial yang menjadio isu sepanjang zaman adalah struktur kaku dan ketat. padahal kita berada di alam demokrasi yang salah satu cirinya adalah kebebasan berekresi. Mark Zuckerberg datang, membuka katup ruang hampa itu.
Disisi lain, pembangunan network informasi teknologi (IT) nasional yang atraktif dalam 1,5 dekade terakhir laksana sebuah bom waktu. Ketika detonatornya disulut oleh reduksi tarif pulsa dan dunia gadged juga melakukan hal sama, maka yang terjadi adalah bom. Bayang kan. awal 90-an, densitas telepon hanya sekitar 3,5 unit perseratus penduduk. Tapi di posisi akhir 2010, indosat mengaku punya 44 juta pelanggan. XL 40 juta pelanggan, Telkom Grup mengklaim 120 juta pelanggan. Ditambah operator lain seperti Bakrie Telecom, Axis dan lain-lain, sekitar 20 juta-an.
Kalau ditotal, dari 240 penduduk Indonesia lebih 90 persen sudah punya telepon. Liberalisasi di bidang telekomunikasi sejak ditetapkan UU Nomor 36 tahun 1989 Telah menghasilkan pertumbuhan luar biasa. Ekspansi network telekomonikasi merebak seirama dengan perkembangan dunia informatika. Penggabungan kedua macam teknologi itu melahirkan internet. Tapi hanya sedikit orang yang bisa menikmati dan meneksplorasi IT. Mereka yang beruntung itu, menjadi power full. information is power itu benar adanya. Lalu tiba musim bloger dan frendster sebelum Mark Zuckerberg datang membawa Facebook. Internet diproduksi secara masal. Warnet menjamur.
Begitu mudahnya facebook dioperasikan, semudah memainkan remote control televisi, membuat setiap orang merasa jadul apabila tidak punya akun facebook. Impian memiliki domain di cyber space dapat diwujudkan lebih mudah lagi. Nikmat kemudahan itu ditunjang pula oleh jalan lebar yang dibangun network provider yang memungkinkan akses ke internet dapat dilakukan langsung dari handphone. Facebook, membelah keterasingan diri di tengah gempita perubahan dan kesenjangan komunikasi. Miskomunikasi orangtua, dapat dilampiaskan anak dengan update status. Bantu oleh ketatnya seleksi media konvensional, tersedia jalan pintas di facebook. Adalah Obama sampai Abah Rudi akhirnya menggunakan facebook untuk menyebarkan ide-ide politisi saat berkampanye.
Tak dapat disangkal, facebook menjadi kekuatan real yang bisa mengubah citra sejarah. Pritha menikmati keampuhan facebook saat berinteraksi dengan Rumah Sakit Omni Internasional. Benua kita termasuk yang tidak ketinggalan. Gaya hidup urang Banjar menemukan platform budaya yang hampir persis dengan Facebook. Tradisi kita, sebagai masyarakat dengan tingkat kepedulian sosial tinggi dan suka ngomong di-copas (copy paste) atau didigitalisasi ke dunia maya. ngomongan di kapal dan obrolan di angkringan diangkat naik kedunia maya.
Keterbatasan pengetahuan di bidang IT tidak menjadi kendala untuk sekedar ikut menikmati kemajuan yang selama ini menjadi milik elit. Tapi mestinya kita tidak boleh berhenti disitu. Facebook hanyalah face (baca: permukaan) dari book IT yang tebal. Bila kita hanya surfing di permukaan IT, kita akan menjadi korban . Korban akibat tidak pahaman atas datanya kepalsuan di dunia maya dansekaligus korban karena kecanduan dan obyek iklan. itu sudah banyak terjadi. Kesenjangan ini tidak boleh kita biarkan berlama-lama. Apa yang disediakan IT harus dimanfaatkan maksimal. euforia terhadap Facebook harus terarah menjadi dpirit penguasaan teknologi IT. Pemerintah Daerah adalah organisasi terbesar yang paling sering berhubungan dengan masyarakat diharapkan mengambil peran yang strategis. Peran sebagai end user IT, sekaligus peran sebagai agent of changing dalam memberantas buta internet.
Niat pemerintah untukmemanfaatkan IT dalam melayani masyarakat maupun mengelola administrasi pemerintah sudah terlihat serius. Pemkab Tabalong dan Banjarbaru punya Kantor Pusat Data Elektronik, punya web, punya CCTV dan aplikasi sistem informasi (SIM), bahkan Pemkab Banjarbaru memasang hot spot dilingkungan perkantorannya. Keseriusan itu menghadapi kendala yang juga serius, yaitu biaya. Banyaknya proiritas pembangunan yang sama-sama mendesak, menjadikan program modernisasi administrasi di urutan pucuk.
Itu sangat bijaksana. Karena untuk instansi pemerintahan yang ingin menggunakan IT lebih serius memang diharuskan menanam investasi jaringan yang tidak murah. Inovasi yang tiada henti didunia IT, kini sudah sampai kepada cloud computing atau ruang bersama, dijaga dan dipelihara bersama, Inilah jawaban paling bermakna untuk mengatasi kendala dana. Dengan sistem ini pihak pengguna cukup menyediakan perangkat ujung yang disebut CPE (customer primesi equipment) yang tersedia sangat banyak di pasaran. Apakah ingin laptop atau komputer tablet dan sebagainya.
Hasyrat untuk menjadi pemerintah yang cerdas bukan impian di langit ke tujuh, tetapi sudah turun ke bumi daerah kita yang terbentang dari gunung bersela di tabalong sampai pulau sembilan di Kotabaru terintegrasi dalam sebuah cloud.

Sejak dikenalkan ke publik 2004 sudah ada 500 juta akun FB di dunia. Mungkin kehadiran facebook secara tidak sengaja menjadi oase dihamparan jiwa-jiwa yang narsis. Kita sadar, hamparan laten dalam interaksi sosial yang menjadio isu sepanjang zaman adalah struktur kaku dan ketat. padahal kita berada di alam demokrasi yang salah satu cirinya adalah kebebasan berekresi. Mark Zuckerberg datang, membuka katup ruang hampa itu.
Disisi lain, pembangunan network informasi teknologi (IT) nasional yang atraktif dalam 1,5 dekade terakhir laksana sebuah bom waktu. Ketika detonatornya disulut oleh reduksi tarif pulsa dan dunia gadged juga melakukan hal sama, maka yang terjadi adalah bom. Bayang kan. awal 90-an, densitas telepon hanya sekitar 3,5 unit perseratus penduduk. Tapi di posisi akhir 2010, indosat mengaku punya 44 juta pelanggan. XL 40 juta pelanggan, Telkom Grup mengklaim 120 juta pelanggan. Ditambah operator lain seperti Bakrie Telecom, Axis dan lain-lain, sekitar 20 juta-an.
Kalau ditotal, dari 240 penduduk Indonesia lebih 90 persen sudah punya telepon. Liberalisasi di bidang telekomunikasi sejak ditetapkan UU Nomor 36 tahun 1989 Telah menghasilkan pertumbuhan luar biasa. Ekspansi network telekomonikasi merebak seirama dengan perkembangan dunia informatika. Penggabungan kedua macam teknologi itu melahirkan internet. Tapi hanya sedikit orang yang bisa menikmati dan meneksplorasi IT. Mereka yang beruntung itu, menjadi power full. information is power itu benar adanya. Lalu tiba musim bloger dan frendster sebelum Mark Zuckerberg datang membawa Facebook. Internet diproduksi secara masal. Warnet menjamur.
Begitu mudahnya facebook dioperasikan, semudah memainkan remote control televisi, membuat setiap orang merasa jadul apabila tidak punya akun facebook. Impian memiliki domain di cyber space dapat diwujudkan lebih mudah lagi. Nikmat kemudahan itu ditunjang pula oleh jalan lebar yang dibangun network provider yang memungkinkan akses ke internet dapat dilakukan langsung dari handphone. Facebook, membelah keterasingan diri di tengah gempita perubahan dan kesenjangan komunikasi. Miskomunikasi orangtua, dapat dilampiaskan anak dengan update status. Bantu oleh ketatnya seleksi media konvensional, tersedia jalan pintas di facebook. Adalah Obama sampai Abah Rudi akhirnya menggunakan facebook untuk menyebarkan ide-ide politisi saat berkampanye.
Tak dapat disangkal, facebook menjadi kekuatan real yang bisa mengubah citra sejarah. Pritha menikmati keampuhan facebook saat berinteraksi dengan Rumah Sakit Omni Internasional. Benua kita termasuk yang tidak ketinggalan. Gaya hidup urang Banjar menemukan platform budaya yang hampir persis dengan Facebook. Tradisi kita, sebagai masyarakat dengan tingkat kepedulian sosial tinggi dan suka ngomong di-copas (copy paste) atau didigitalisasi ke dunia maya. ngomongan di kapal dan obrolan di angkringan diangkat naik kedunia maya.
Keterbatasan pengetahuan di bidang IT tidak menjadi kendala untuk sekedar ikut menikmati kemajuan yang selama ini menjadi milik elit. Tapi mestinya kita tidak boleh berhenti disitu. Facebook hanyalah face (baca: permukaan) dari book IT yang tebal. Bila kita hanya surfing di permukaan IT, kita akan menjadi korban . Korban akibat tidak pahaman atas datanya kepalsuan di dunia maya dansekaligus korban karena kecanduan dan obyek iklan. itu sudah banyak terjadi. Kesenjangan ini tidak boleh kita biarkan berlama-lama. Apa yang disediakan IT harus dimanfaatkan maksimal. euforia terhadap Facebook harus terarah menjadi dpirit penguasaan teknologi IT. Pemerintah Daerah adalah organisasi terbesar yang paling sering berhubungan dengan masyarakat diharapkan mengambil peran yang strategis. Peran sebagai end user IT, sekaligus peran sebagai agent of changing dalam memberantas buta internet.
Niat pemerintah untukmemanfaatkan IT dalam melayani masyarakat maupun mengelola administrasi pemerintah sudah terlihat serius. Pemkab Tabalong dan Banjarbaru punya Kantor Pusat Data Elektronik, punya web, punya CCTV dan aplikasi sistem informasi (SIM), bahkan Pemkab Banjarbaru memasang hot spot dilingkungan perkantorannya. Keseriusan itu menghadapi kendala yang juga serius, yaitu biaya. Banyaknya proiritas pembangunan yang sama-sama mendesak, menjadikan program modernisasi administrasi di urutan pucuk.
Itu sangat bijaksana. Karena untuk instansi pemerintahan yang ingin menggunakan IT lebih serius memang diharuskan menanam investasi jaringan yang tidak murah. Inovasi yang tiada henti didunia IT, kini sudah sampai kepada cloud computing atau ruang bersama, dijaga dan dipelihara bersama, Inilah jawaban paling bermakna untuk mengatasi kendala dana. Dengan sistem ini pihak pengguna cukup menyediakan perangkat ujung yang disebut CPE (customer primesi equipment) yang tersedia sangat banyak di pasaran. Apakah ingin laptop atau komputer tablet dan sebagainya.
Hasyrat untuk menjadi pemerintah yang cerdas bukan impian di langit ke tujuh, tetapi sudah turun ke bumi daerah kita yang terbentang dari gunung bersela di tabalong sampai pulau sembilan di Kotabaru terintegrasi dalam sebuah cloud.

No comments:
Post a Comment