Thursday, 12 March 2015

JUJUR ANCUR

JUJUR ANCUR

     Alifah Achmad Maulana dan Muhammad Abrary Pulungan, tidak memiliki hubungan darah dalam kekerabatan. Mereka juga tidak saling kenal dan terpisahkan jarak sekitar 670 kilometer. Alif di Surabaya, sedangkan Abrary di Jakarta. Akan tetapi, selain usia dan jenis kelamin, mereka memiliki sikap yang sama. Sikap yang patut diacungi jempol karena sikap itu sidah menjadi barang langka di negara ini. Mereka berani memilih jujur meski risikonya besar.
     Pada usianya yang baru 12 tahun, Alif dan Abrary berani menguak ketidakjujuran yang dilakukan generasi yang jauh lebih lama. Tragisnya, yang mereka koreksi itu memiliki profesi yang agung dan luhur : Guru !. Adalah Ujian Nasional Sekolah Dasar (UN SD) yang menjadi momentum keberanian mereka. Alif dan Abrary mengaku disuruh guru masing-masing untuk memberi sontekan kepada rekan sekolah. Jika Alif mengikuti perintah itu, Abrary menolak.
     Selain berani, keduanya adalah anak pintar. Kepintaran Alif bukan isapan jempol. Dalam pengumuman hasil UN, jum'at (17/6), putra pasangan Widodo dan Siami itu menduduki peringkat tertinggi di sekolahnya. Nilainya 27,3 dengan perincian hasil UN 27,85 dan Ujian Akhir Sekolah (UAS) 26,46 Seluruh rekannya di SD Gadel II Surabaya juga lulus dengan nilai rata-rata 23,45. Bagaimana Abrary ? Dia belum mengetahui hasilnya karena hasil ujian SD di Jakarta, baru diumumkan senin (20.6) tadi. Konsekwensi keberanian dua bocah itu sangat besar. Keluarga Alif diusir oleh warga kampung Gadel Sari Barat, Tandes karena dinilai telah mencemarkan nama baik sekolah dan kampungnya. Perlu diketahui, sekolah itu berada di kampung tersebut. Sebagian guru dan mayoritas muridnya berasal dari situ juga. Kini, keluarga Alif 'mengungsi' di Gresik, jatim.
     "Yang dialami sangat berat, tetapi tak bisa menyimpanbeban keridak jujuran itu selamanya. yang mana diharapkan keluarganya untuk menjadi anak yang pintar, jujur dan saleh, karena anak teersebut. Sedangkan nasib Abrary agal lebih baik. Dia dan keluarganya tidak sampai terusir. Akan tetaopi, bocah itu dimusuhi teman sekolah dan gurunya di SDN 06 Petang, Pesanggarahan. yang dialami tidak mau mengobrol dan sering di soraki, putra pasangan Muhammad Aswary Pulungan dan Irma Winda Lubis.
    Keberanian du bocah itu mempertahankan nilai kejujuran mendapat simpati dan dukungan banyak kalangan baik secara langsung maupun melalui dunia maya. Mereka menyerukan wvaluasi terhadap proses pendidikan di negara ini yang dinilai penuh kepentingan, membebani anak didik dan menyampingkan pendidikan mental dan karakter. Tragisnya, Menteri Pendidikan Nasional M Nuh secara lantang menegaskan sontek massal tidak terjadi. Patokan dia hanyalah hasil UN yang tidak seragam. Bahkan, Sabtu (18/6), Nuh memberi hadiah laboratorium komputer. Dia pun memberi notebook untuk Alif.
     Sontek massal adalah persoalan serius dalam dunia pendidikan Indonesia. Semua kalangan terutama pemerintah harus mengevaluasi sistem pendidikan yang diterapkan selama ini. itu bukti sistem pendidikan harus segera dibenahi. Tidak bisa dibiarkan jika ingin menciptakan generasi yang cerdas dan bermental jujur. Harusnya pemerintah menindak keras guru yang mendorong perilaku ketidakjujuran itu.

No comments:

Post a Comment