NASIB PAHLAWAN DEVISA
Sejak awal, pengiriman TKW keluar negeri memberikan citra buruk di
dalam negeri. Banyak pihak mengaitkan dengan harga diri bangsa. sejak
pengiriman pertama pada 1980-an banyak cerita sedih yang sampai di tanah
air. Cerita sekarang semakin mengerikan. Mau berangkat sampai pulang,
semua menimbulkan derita. Misalnya mau berangkat ditampung di
tempat-tempat yang kurang layak. Sewaktu pulang di bandara dicegat
puluhan calo yang menawarkan jasa mengantar rumah.
Tidak sedikit dari mereka yang menjadi korban penipuan. Ini semua terjadi di depan para petugas keamanan. TKW itu rata-rata berpendidikan rendah, ada juga yang lulusan SLTA atau sederajat. Tetapi di mata majikan mereka tetap saja seorang buruh yang harus bekerja keras. Mereka tidak punya hak apa pun kecuali kerja. Gaji tak dibayar juga tak bisa protes apalagi paspor dipegang oleh majikan. Mereka tidak tahu harus mengadu kepada siapa. Jangan tanyakan apa tugas kedutaan, karena ada TKW dipacung pun tidak tahu.
Demi memanusiakan manusia, pemerintah seharusnya tidak hanya melakukan moratorium (menghentikan sementara) pengiriman TKW ke Arab Saudi, tapi menghentikan total pengiriman TKW ke semua negara. Kita hendaknya hanya mengirim TKI yang punya keterampilan, bukan tenaga serabutan yang bekerja mulai pagi hingga larut malam. Untuk level bawah misalnya, perawat bayi (baby sister), perawat orang tua, ahli kecantikan untuk melayani nyonya-nyonya petro dolar, ahli kuliner, pengemudi atau pekerja dengan ketrampilan lainnya.
Itu pun setidaknya lulusan SLTA agar memiliki bekal pengetahuan yang cukup sehingga tidak mudah diperdaya. Untuk pekerjaan babu lebih baik stop, di dalam negeri masih banyak yang butuh. Apa artinya gaji lumayan kalau keamanan tidak terjamin. Menyedihkan, negara lain meninggalkan pekerjaan kasar karena ekonomi membaik, kita mengejarnya karena kesulitan ekonomi.

Tidak sedikit dari mereka yang menjadi korban penipuan. Ini semua terjadi di depan para petugas keamanan. TKW itu rata-rata berpendidikan rendah, ada juga yang lulusan SLTA atau sederajat. Tetapi di mata majikan mereka tetap saja seorang buruh yang harus bekerja keras. Mereka tidak punya hak apa pun kecuali kerja. Gaji tak dibayar juga tak bisa protes apalagi paspor dipegang oleh majikan. Mereka tidak tahu harus mengadu kepada siapa. Jangan tanyakan apa tugas kedutaan, karena ada TKW dipacung pun tidak tahu.
Demi memanusiakan manusia, pemerintah seharusnya tidak hanya melakukan moratorium (menghentikan sementara) pengiriman TKW ke Arab Saudi, tapi menghentikan total pengiriman TKW ke semua negara. Kita hendaknya hanya mengirim TKI yang punya keterampilan, bukan tenaga serabutan yang bekerja mulai pagi hingga larut malam. Untuk level bawah misalnya, perawat bayi (baby sister), perawat orang tua, ahli kecantikan untuk melayani nyonya-nyonya petro dolar, ahli kuliner, pengemudi atau pekerja dengan ketrampilan lainnya.
Itu pun setidaknya lulusan SLTA agar memiliki bekal pengetahuan yang cukup sehingga tidak mudah diperdaya. Untuk pekerjaan babu lebih baik stop, di dalam negeri masih banyak yang butuh. Apa artinya gaji lumayan kalau keamanan tidak terjamin. Menyedihkan, negara lain meninggalkan pekerjaan kasar karena ekonomi membaik, kita mengejarnya karena kesulitan ekonomi.

No comments:
Post a Comment