Tuesday, 27 January 2015

TRICK DAN TIPS TELEPON GRATIS VIA HP

TRICK DAN TIPS TELEPON GRATIS VIA HP

Plen-2 ini agak Rahasia......Tolong jangan disebar luaskan. Saya sudah mencobanya, dan terbukti membuat kantong tidak teganggu dan tetap tebal.....dan masih sampai sekarang, kalau anda bisa memahami dan mempelajari trick telepon Gratis di bawah ini. Trick mengunakan HP tanpa Pulsa. ini adalah trick yang bisa dicoba, disadap dari sumber yang tidak mau disebutkan namanya karena tidak mau ketahuan. sebenarnya saya sedikit enggan memberikan trick yang ditemukan ini, ilmu meen. masa kasih gratis?? tapi setelah saya pikir-pikir lagi, apalah arti keberadaan saya didunia ini jika untuk ilmu saja (bukan materi) saya enggan berbagi........PULSA HANDPHONE MAHAL ??? manfaatkan kelemahan sistem ponsel anda sehingga anda bisa main HP dengan GRATIS kemana saja, berapapun lamanya !!! yang dibutuhkan adalah cuma beberapa menit untuk mempelajari tulisan ini dengan teliti sekaligus langsung mempraktekannya ke ponsel anda inilah yang akan saya Share ke teman-teman sekalian..
Langkah Pertama : Catat Spesifikasi ponsel anda meliputi:
1. Merk (misal Nokia, Siemens, Motorola, dll)
2. Jenis (misal 321,m35,3310,t185)
3. No IMEI (Optional, tapi sebaiknya di catat kalau ada masalah)
Langkah Kedua :
siapkan segera nomer telepon yang akan di tuju !, serta amati sinyal pada Indikator. sebaiknya sinyal pada posisi maksimum, artinya anda tidak boleh terlalu jauh dari Base Station, atau bila anda berada dalam ruangan tertutup, sebaiknya anda keluar atau mencari tempat dimana kuat sinyal diterima maksiml. pastika nomor HP yang anda lakukan dengan menelepon, kemudian tutup (Missed Call). bila sedang sibuk tunggu sampai Idle.
Langkah Ketiga :
lakukan prosedur Exsekusi berikut :
1. tekan tombol bintang (*)
2. tekan tombol angka konversi untuk merk anda
Nokia : 23
Motorola : 17
Ericsson : 45
Samsung : 19
Siemen : 22
untuk merk lain sedang dalam proses pencarian.
3. tekan tombol seri ponsel anda, misal Nokian N321 = 321, Ericsson T10S = 10, Ericsson A6118 = 6118
4. tekan tombol pagar (#)
5. kuti dengan nomor telepon yang akan dituju : Format : Kode Negara + Kode Wilayah + Noomer telepo, kalau yang di telepon di medan, nomornya 123456, maka harus ditekan : 6261123456. keterangan kode negara : 62 dan kode Wilayah : 061
6. tekan tombol pagar (#) jadi sebagai contoh kalau saya punya ponsel Nokia 211, dan ingin menelepon ke palembang dengan nomor telepon 370066 (kode Kota 0711) maka saya harus menekan *232100#62711370066#
silahkan periksa sekali lagi sebelum kita melakukan eksekusi terakhir !!!
LANGKAH TERAKHIR ; VERY IMPORTANT THING. Pastikan pada layar ponsel anda tertera karakter dengan urutan yang benar ! kesalaha penggunaanbisa menyebabkan kartu anda tidak berlaku lagi, dan saya tidak bertanggung jawab untuk hal tersebut. jadi silahkan periksa sekali lagi. sebelum anda tekan enter atau Call, yang harus anda perhatikan bahwa anda HARUS segera matikan ponsel pada hitungan antara detik ke-2 dan ke-3 !!! tidak lebih dan tidak boleh KURANG !!! anda bisa melakukan pada detik ke 2,1 atau 2,4 atau 2,7 setelah menekan tombol Call. sebaiknya anda mempersiapkan jam tangan, lebih baik bila ada stop watch-nya setelah itu anda bisa bicara sepuasnya, mau berapa jam, mau berpa hari atau bahkan berbulan-bulan, mau berteriak sekerasnya, dijamin anda tidak akan mengeluarkan biaya kecuali yang telah dijelaskan diatas. sebaiknya anda berbicara jangan didepan muka umum, karena akan memalukan anda sendiri. kalau sudah puas lelah bicara, silahkan nyalakan kembali ponsel anda, siapa tahu ada orang yang serius menghubungi anda, kasian dia mau menelepon anda tapi masuk ke Mailbox terus. he.....he.....he......
emang enak, makanya bacanya nagan terlalu serius masa mau nelpon nggak mau keluar pulsa, yang benar aja, ha .....ha......ha....hi...hi....hi...hi...(jangan kaya orang susuah aja ah).......nah kena deh.....ya.....haa......ha....ha......ha.... peaceeeeeouttt:- peace.....ya.....

BAKPIA PATHUK BIKIN MANTHUK2

BAKPIA PATHUK BIKIN MANTHUK2

Bakpia sebenarnya berasal dari negeri Cina, aslinya bernama Tou Luk Pia, yang artinya adalah kue pia (kue) kacang hijau. Selain itu pula bakpia mulai diproduksi di kampung Pathok Yogyakarta, sejak sekitar tahun 1948. Waktu itu masih diperdagangkan secara eceran dikemas dalam besek tanpa label, peminatnya pun masih sangat terbatas. Proses itu berlanjut hingga mengalami perubahan dengan kemasan kertas karton disertai label tempelan.

Tidak hanya warga Pathuk yang membuat bakpia, salah satu produsen bakpia “pribumi” alias warga Yogyakarta yang cukup populer adalah pada tahun 70-an adalah Nitigurnito yang tinggal di daerah Taman sari. Bakpia buatanya agak berbeda dengan buatan warga Pathuk. Bakpia Nitigurnito lapisan kulitnya lebih tebal, berwarna putih dengan bagian tengah menjadi kecoklatan karena dipanggang, sedangkan Bakpia Pathuk berkulit tipis dan mudah rontok.

Dengan segera, bakpia Nitigurnito menginspirasi warga sekitar Tamansari untuk memproduksi dan membuka toko bakpia. Bahkan bagi warga asli Yogyakarta, Bakpia Tamansarilah yang dianggap sebagai bakpia khas Yogyakarta. Namun tampaknya etos dagang orang Jwa tidak seulet orang Tionghoa. Toko bakpia di daerah Tamansari tidak bertahan lama, banyak toko yang tutup, sehingga industri Bakpia di wilayah itu terpuruk dan tak meninggalkan sisa.

Karena banyaknya warga Pathuk yang membuat usaha Homea, maka kawasan tersebut dikenal sebagai sentral pembuatan dan penjualan Bakpia yang paling terkenal di Yogyakarta. Kemasan Bakpianya pun tampil dengan kemasan baru dengan merek dagang sesuai dengan nomor rumah seperti 75,55,25 dan lainnya. Kemudian diikuti munculnya bakpia-bakpia dengan inovasi yang berbeda. Demikian pesatnya perkembangan “kue oleh-oleh” itu hingga mencapai booming sekitar tahun 1992 sampai sekarang sehingga menjadi ikon wisata kota Yogyakarta dalam hal pusat oleh-oleh khas kota Yogyakarta.

Berikut sentra penjualan bakpia di Yogyakarta:

1. Bakpia 75
Jalan Aipda KS Tubun 75 Pathuk, Jalan Aipda KS Tubun 83 Pathuk, Jalan HOS Cokroaminoto 119B Wirobrajan, Jalan Magelang Km 4,5 Tegalrejo Yogyakarta.

2. Bakpiapia Djogdja
Bayeman Permai 4, Jalan Wates Km 3, Yogyakarta tlp: (0274) 7000068, 560 938

3. Bakpia Pathok
Jalan Agus Salim 5 Yogyakarta

4. Bakpia Pathok 25
Jalan Aipda KS Tubun NG I/504 Pathuk Yogya

5. Toko Kembang Jaya
Jalan Laksda Adisucipto Km 9, tlp: (0274) 484458

6. Toko Ongko Joyo
Jalan Aipda KS Tubun 65, tlp: (0274) 512219, 583237

7. Toko Bandara Jaya
Jalan Laksda Adisucipto, tlp(0274) 489059

8. Toko Pasar Pathok
Kios Pasar Pathok 14 18, tlp: (0274) 561551

9. Bakpia Citra
Jalan Pandean 2 Gg Legi 20 Condong Catur, Sleman

10. Bakpia Kurnia Sari
Jalan Glagah Sari  112, Ruko Pogung Lor Jalan Ringroad Utara Yogyakarta

YANG PENTING GOYANGANNYA

YANG PENTING GOYANGANNYA

      BARANGKALI tidak ada artis yang popularitasnya bertahan selanggeng Raja Dangdut, Rhoma Irama, meski usianya sudah 67 tahun. Tokoh yang akrab dipanggil Bang Haji ini memang bukan artis biasa. Ia adalah penyanyi, pencipta lagu, pemain film dan penyampai pesan agama. Ia juga akrab dengan dunia politik.
      Pada pemilu legislatif lalu, Rhoma  berkampanye untuk Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dengan iming-iming akan dicalonkan menjadi presiden. Namun, seperti yang sudah diperkirakan, minggu lalu tersiar kabar, PKB tidak jadi mencalonkannya.
Alasannya, suara PKB tidak cukup untuk mengajukan capres sendiri, sementara capres dari partai yang lebih besar, tidak mau mencalonkan Rhoma sebagai wakil presiden.
     Rhoma Irama, lahir di Tasikmalaya, Jawa Barat, 11 Desember 1946, dengan nama Irama, dan dipanggil Oma. Tambahan RH di depan Oma adalah kependekan dari Raden Haji. Ayahnya, R Burdah Anggawirja adalah perwira TNI AD, dan ibunya, Tuty Juwairiyah, adalah ibu rumah tangga. Menurut cerita, ia diberi nama Irama karena ibunya melahirkannya seusai ayahnya menonton grup sandiwara, Irama Baru.
Pada 1950-an, keluarga Rhoma hijrah ke Jakarta agar si anak bisa mendapatkan pendidikan yang lebih baik. Namun pada 1957, ayahnya meninggal. Ini membuat ibunya agak sulit mengarahkan pendidikan anaknya.
Rhoma muda rupanya lebih tertarik pada lagu dan musik ketimbang belajar. Ia pindah dari satu SMA ke SMA lain di Jakarta. Setelah tamat SMA, ia sempat kuliah, namun kandas di tengah jalan.
      Rhoma semula tertarik pada musik Barat, rock ‘n roll, dan pada 1960-an sempat membuat grup musik bernama Tornado dan Gayhand. Grup ini tidak sukses.
      Pada 1968, Rhoma kemudian bergabung dengan Orkes Melayu Purnama, yang mempertemukannya dengan Elvy Sukaesih (kelak bergelar Ratu Dangdut). Tak puas ikut orang lain, pada 1970, Rhoma akhirnya membentuk grup musik sendiri, Soneta.
William H Frederick, dalam Rhoma Irama and the Dangdut Sytle yang terbit di Jurnal Indonesia (No.32 1982), menjelaskan peran sentral tokoh ini bagi kebangkitan musik dangdut di Indonesia.
     Sukses Rhoma, catatnya, terutama karena kreativitas dan sensitivitasnya yang tinggi membaca perkembangan musik dan selera pasar. Ia berhasil menggabungkan musik melayu, rock, dan India menjadi musik dangdut.
     Selain itu, Rhoma adalah seorang komunikator ulung. Kata-kata dalam lagu-lagunya sederhana, mudah dicerna, dan akrab dengan kehidupan rakyat Indonesia. Pada 13 Oktober 1973, Rhoma mendeklarasikan Soneta sebagai The Voice of Muslims. Sejak itu, pesan-pesan Islam mulai mewarnai lagu-lagunya. Setelah berhaji pada 1975, semua personel Soneta makin taat beragama dan tidak lagi berambut gondrong.
Frederick juga mencatat, keberhasilan Rhoma sebagai superstar, antara lain didukung oleh film-filmnya. Dalam film-film itu, Rhoma tampil sebagai tokoh baik, panutan, dan pembela kaum lemah. Ini adalah cara yang sangat cerdik dan efektif dalam usaha mendekatkan diri ke hati para penggemarnya.
     Khayalan dan kenyataan menjadikabur karena dalam film-film itu Rhoma berperan sebagai dirinya sendiri.
Andrew N Weintraub dalam Dangdut Stories (2010), buku ilmiah terbaru tentang dangdut, antara lain menguraikan sepak terjang Rhoma di bidang politik.
     Pada 1977-1982, Rhoma menjadi juru kampanye PPP (Partai Persatuan Pembangunan). Lagu-lagu Rhoma makin kritis pada pemerintah. Selama masa itu, pemerintah melarangnya tampil di TVRI dan RRI, dan mencekal beberapa lagunya. Namun, hal ini justru menaikkan popularitasnya.
Ketika politik Soeharto bergesar ke kelompok Islam santri, Rhoma mulai dekat dengan pemerintah. Pada 1988, ia tampil lagi di TVRI. Pada 1992-1997, ia menjadi anggota MPR utusan Golkar.
     Setelah Reformasi 1998, Rhoma tak lagi ikut partai. Namun, pada 2003, ia menjadi sorotan karena mengkritik keras goyang ngebor Inul Daratista. Pada Pemilukada Jakarta 2012, ia juga disorot karena komentarnya yang berbau SARA.
“Musik adalah suatu pertanggungjawaban kepada manusia dan Tuhan.” Itulah motto yang diguratkan di prasasti yang terletak di depan pintu masuk salah satu studio Soneta, sebagaimana dikutip Weintraub.
     Mungkin, tahun ini, melalui PKB Bang Haji ingin mengganti kata ‘musik’ di prasasti itu dengan ‘politik’. Sayang, musik dan politik tampaknya hanya serasi saat kampanye, bukan saat membagi kursi!
     Namun Bang Haji tetaplah orang besar, meski a tidak jadi, dan memang tidak perlu, menjadi presiden. Indonesia akan tetap berdangdut dan bergoyang, bukan?

PERANGI PREDATOR SEKS

PERANGI PREDATOR SEKS

BELUM lagi masalah kekerasan seksual yang dialami beberapa bocah di TK Jakarta International School (JIS) tuntas diproses secara hukum, masalah serupa kembali terjadi. Kali ini pelakunya Andri Sobari alias Emon (24).
Emon melakukan aksinya di Sukabumi, Jawa Barat, sejak tahun lalu. Korbannya sebanyak 55 orang bocah laki-laki berusia 6 sampai 13 tahun. Sebelum mencabuli korbannya, karyawan perusahaan swasta ini terlebih dahulu membujuk dan mengimingi uang antara Rp 25 ribu hingga Rp 50 ribu.
Dengan dua kejadian teranyar ini secara tidak langsung mengusik kekhawatiran dan rasa takut para orangtua di republik ini. Karena seolah-olah sudah tidak ada tempat yang aman lagi buat anak-anaknya. Bahkan, orang yang sangat dipercaya para orangtua, yakni guru, pun tidak memberikan rasa aman kepada mereka. Karena tidak jarang ada guru menjadi predator seks bagi muridnya.
Sebagai contoh, William James Vahey, merupakan sosok guru yang menjadi pelaku fedofil tersohor di dunia. Guru asal Amerika Serikat ini, pernah mengajar di JIS pada 1992-2002.
Vahey yang mengajar di sejumlah negara dan dijuluki sebagai ‘predator’ ini, bunuh diri di Luverne, Minnesota, Maret lalu, atau dua hari setelah seorang hakim federal di Houston mengatakan bahwa pemerintah Amerika Serikat bisa mencari bukti salah satu foto korbannya.
Kekhawatiran dan rasa takut para orangtua akan kekerasan terhadap anaknya, itu tak bisa disalahkan. Pasalnya, negara ini tidak punya tenaga super untuk mencegah, memberantas dan menanggulangi ulah para predator seks yang terus menggila. Kalau pun ada hanya dalam bentuk Undang Undang, tidak dalam bentuk sanksi tindakan keras. Akibatnya, dengan leluasa predator seks ini bergerilya mencari mangsa, baik itu di sekolah maupun di tempat-tempat umum.
Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait, memiliki data yang sangat mengerikan terkait kekerasan seksual terhadap anak ini. Dia menyebut, pada 2013-2014 sebagai tahun darurat nasional kejahatan seksual terhadap anak.
Komnas Perlindungan Anak mencatat, kejahatan seksual ini terjadi di banyak daerah di Indonesia. Selain di Jakarta, Sukabumi, kekerasan seksual terhadap anak terjadi juga di Medan, Siantar (Sumut), Jembrana (Bali), Malang (Jatim), Magelang (Jateng), Padang (Sumbar), Makassar (Sulsel), Garut dan Bandung (Jabar).
Darurat nasional kejahatan seksual terhadap anak itu harus disikapi serius oleh presiden, wakil rakyat, dan penegak hukum. Jangan berdiam diri saja melihat kejadian ini atau hanya menyatakan prihatin. Mereka harus satu kata menyatakan perang terhadap predator seks ini. Bagaimana pun juga anak ini harus dilindungi, karena mereka adalah aset bangsa, yang akan menentukan mau dibawa ke mana negara ini selanjutnya.
Selain menyatakan perang, presiden, wakil rakyat dan penegak hukum juga harus membumikan hak-hak anak kepada masyarakat luas. Setidaknya ada empat hak dasar yang wajib didapatkan anak. Yakni hak hidup lebih layak seperti berhak atas kasih sayang orangtua, dan ASIi eksklusif. Hak tumbuh dan berkembang, seperti hak atas pendidikan yang layak, istirahat, makan makanan yang bergizi, dan bermain.
Hak perlindungan, seperti dilindungi dari kekerasan dalam rumah tangga, dari pelecehan seksual, tindak kriminal, dan dari pekerjaan layaknya orang dewasa. Hak berpartisipasi, seperti menyampaikan pendapat, punya suara dalam musyawarah keluarga, punya hak berkeluh kesah atau curhat, dan memilih pendidikan sesuai minat dan bakat.

NGAPAIN BERDOA SEGALA

NGAPAIN BERDOA SEGALA

     SEORANG anak balita, bergegas ke toilet karena ingin pipis. Sesampai di depan pintu toilet, ia berdiri membeku, kemudian mengalirlah air kencing membasahi celananya hingga ke lantai. “Kenapa kamu tidak langsung masuk toilet, malah kecing di situ?” tanya orangtuanya geram. “Maaf, saya lupa doa masuk toilet. Karena mencoba mengingat-ngingat doa itu, akhirnya terkencing di depan pintu,” kata si anak polos. Begitulah cerita seorang kawan tentang anaknya, yang membuat saya tertawa geli. Selain doa-doa dalam salat, sejak kecil, kaum Muslim memang biasanya diajari berbagai macam doa. Ada doa sebelum dan sesudah makan, doa sebelum tidur dan bangun tidur, doa sebelum belajar, doa untuk ayah dan ibu, dan lan-lain. Ketika sudah dewasa, doa-doa semakin banyak. Ada doa selamat, doa meminta ampun, doa untuk pengantin hingga doa sebelum berhubungan suami isteri.
     Doa-doa tersebut umumnya dalam bahasa Arab. Ada yang diambil dari ayat-ayat Alquran atau Hadis Nabi, dan ada pula yang digubah oleh para ulama. Bagi anak-anak, doa-doa itu diajarkan oleh guru di sekolah atau orangtua di rumah. Kadang kalimat-kalimat Arabnya saja yang diajarkan tanpa diberitahu maknanya. Namun, karena bahasa Arab dianggap sakral dalam Islam, nuansa relijiusnya tetap terasa. Kegemaran akan doa-doa ini berlanjut hingga dewasa. Di Banua ini, salah satu tipe ulama tradisional yang disukai masyarakat adalah ulama yang sering dengan murah hati membagikan aneka bacaan dan doa kepada jemaahnya untuk diamalkan. Apalagi kalau sang ulama berkenan menuliskan bacaan dan doa itu di atas kertas, lengkap dengan terjemahannya, lalu diperbanyak dalam bentuk fotokopi.
     Orang mungkin bertanya, mengapa tidak membeli buku-buku doa saja yang melimpah di pasar? Bagi mereka, doa yang diajarkan langsung oleh sang ulama jauh lebih mantap karena diberikan berdasarkan ijâzah, yakni izin spiritual untuk mengamalkannya. Izin itu berantai panjang dari guru ke gurunya, dan terus sampai kepada Nabi Muhammad sendiri atau kepada seorang ulama besar di masa lampau. Di kalangan orang-orang yang katanya pintar, doa sering dikritik. Bagi seorang atheis, doa tak berarti apa-apa selain ungkapan ketidakberdayaan manusia. Bagi seorang rasionalis, doa dianggap tak berguna, karena yang dapat mengubah hidup manusia bukanlah ucapan, melainkan tindakan. Percuma berdoa siang malam, kalau tak bekerja. Sebaliknya, orang akan berhasil kalau bekerja keras, meski tak berdoa. Tetapi menurut Dale Carnigie, doa justru sangat berguna. Pertama, dengan berdoa, orang merasa tidak sendirian dalam hidupnya. Ada Tuhan yang selalu menyertainya.
     Kedua, dalam keadaan kalut, orang biasanya bingung, tak benar-benar jelas mengenai apa sebenarnya masalah yang dia hadapi. Melalui doa, masalah itu akan menjadi jelas. Ketiga, doa sebenarnya mendorong manusia untuk bertindak. Bagi sufi seperti Fritjhof Schuon (Muhammad Isa Nuruddin), doa adalah ketika hati naik menggantikan otak, lalu otak tertidur dalam damai yang suci. Doa adalah sarana yang menghubungkan antara yang lahir dan yang batin, yang relatif dan yang mutlak.Doa adalah perjuangan meluluhkan ego, hingga manusia terbebas dari sikap pongah dan sombong. Doa membuat manusia melihat dirinya apa adanya.
Tentu saja, doa dalam pandangan sufi bukanlah doa yang diucapkan laksana mantra tanpa penghayatan akan maknanya. Bukan pula doa bersajak indah yang dibaca lantang di depan publik, seolah ditujukan kepada Tuhan, tapi sebenarnya ditujukan kepada para hadirin agar terpesona. Bukan pula doa politik, yang memuja-muji dan menjilat penguasa. Doa sejati adalah doa yang tulus ikhlas, terbit dari hati. Pada akhirnya, doa yang tulus mungkin bukanlah doa yang dapat mengubah takdir, yaitu ketetapan-ketetapan Tuhan atas hidup manusia dan alam semesta, melainkan doa yang menyiapkan diri kita untuk menyongsong hidup, apapun takdir yang akan terjadi nanti. Doa yang bermakna barangkali adalah doa yang berhasil mentransformasi diri kita menjadi lebih baik, bukan mengubah yang tak dapat diubah. Seperti kata Muhammad Iqbal: Your prayer is that your destiny be changed. My prayer is that, you your self be changed (Doamu adalah, agar nasibmu diubah. Doaku adalah, agar dirimu sendiri yang diubah).

GUDEG ASU

GUDEG ASU

     Di kawasan Jalan Wirobrajan,deket perempatan Kampus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), ada warung lesehan yg menjual Gudeg. Warung ini tidak pakai nama, tapi pengunjungnya banyak yang menamakan warung Gudeg Asu.
     Asu adalah bahasa Jawa yg berarti anjing. Bukan berarti memakai daging anjing, tapi orang yg keluar warung selalu mengumpat "Asu" karena harganya mahal, diluar rata-rata haga gudeg. Warung ini sudah tutup, pemiliknya sudah meninggal tanpa ada penerusnya.
     Itulah kenangan sisalah satu sudut Kota Yogya. di setiap lorong jalan di Yogya ada penjual gudeg. Pusatnya Malaiboro, warung lesehan menjamur dg berbagai jenis makanan. tapi bagi pendatang sebaiknya memang tanya dulu harganya agar tidak digebuk.
     Malioboro adalah maskotnya Yogya,dari pagi hingga malam tak pernah sepi. becak, andong, mobil, motor harus merayap jika melewatinya.Trotoarnya penuh pedagang kaki lima yg buka dari pagi sampai malam. setelah itu ganti warung lesehan sampai pagi.
     Berbagai kultur ada di Malioboro karena yg datang kesitu orang dari berbagai daerah bahkan manca negar. seniman sampai pengamen ada. dagangan PKL nya sebenarnya juga itu-itu saja,berbagai kerajinan, pakaian dan semacamnya. Tapi orang merasa tidak lengkap kalau datang ke Yogya tidak mampir ke Malioboro.
     Malioboro sebenarnya nama jalan, tapi karena saking bekenya sebagai pusat perbelanjaan rakyat, fungsi sebagai jalan malah hampir tak kelihatan. Fungsi sosial budayanya yang mempertemukan  berbagai etnis justru lebih menonjol.
     Banyak lagi keistimewaan Yogya. Keraton dg segala atributnya jelas mrpkan pusat kebudayaan.Pohon beringin kembar, dan alun-alun begitu akrab dg rakyat dan mnjd tempat kumpul2 kaum tua dan muda.
     'Aksesoris' Yogya seperti gunung merapi dan Laut selatan oleh sebagian masyarakat juga diyakini melengkapi keistimewaan keraton dari sudut yang lain. imbasnya, melahirkan suasana yang nyaman, adem dan ayem. konon orang Yogya itu senang tidur siang, ini indikasi adanya ketentraman hidup.
     Sebagi kota Pelajar, Yogya memiliki pusat2 pendidikan. Berbagai macam sekolah sampai perguruaan tinggi terkemuka ada di Yogya. mahasiswa/pelajar datang dari berbagai daerah bahkan manca negara. Suasana pendidikan amat terasa kental. Yogya buka saja kota pelajar tapi juga kota terpelajar. Banyak orang yg sdh pernah hidup di Yogya tdk mau meninggalkannya. Yogya seperti memiliki magnet.
     Dulu Yogya pernah mnjd kota Sepeda, krn ribuan sepeda setiap hari memadati jalan. byk pejabat dari berbagai daerah pernah merasakan bersepeda di Yogya saat masih kuliah. satu2nya lampu pengatur lalu lintas di tugu mjd saksi.
     Saat ini nyala lampu masih diatur oleh polisi, belum otomatis. begitu sabar pak polisi menunggu para pengayuh sepeda dan becak dari satu sisi melintas, baru setelah itu nyala lampu berganti. Byur...ratusan sepeda dari sisi yg lain bergerak bersama seperti laron.
     Tapi masyarakat Yogya jg manusia biasa, mereka tdk bisa menahan laju modernisasi. sepeda motor kini ganti memacetkan jalan setiap hari.Bangunan tua-bangunan tua telah berganti dg bangunan modern bertingkat tinggi. Modernisasi Yogya telah menyentuh seluruh segi kehidupan.
     Namun demikian kecintaan masyarakat thdp Keraton dan Sultan berikut budayanya tetap tdk berubah sampai sekarang. Karena itu lah mereka mati-matian mendambakan Sultan Hamengku Buwono X tetep mjd Gubernur tanpa dipilih karena menganggap apa yang ada di Yogya itu sesunggguhnya milik Sultan. Rakyat tidak rela jk rajanya dilucuti, hanya dijadikan simbol.
     Tapi tidak ada yg bisa menjamin Yogya akan terus mnjd magnit yg menjanjikan ketenangan dan kenyamanan jiwa.Juga tdk bisa dijamin masih memiliki daya tarik untuk dikunjungi sekedar bernostalgia. Tidak ada lagi hubungan batin antara rakyat dan pemerintah. Yogya akan kehilangan pamornya.
     Itu jika usulan pemerintah untuk melaksankan pemilukada di setujui DPR. Dampaknya Indonesia bisa bercabik2 krn jika rakyat Yogya memilih Referendum, kerajaan-kerajaan nusantara jg akan tertantang untuk mint merdeka. Pendukung Yogya itu dari sabang sampai merauke,buka sekedar sekretariat gabunga parpol.
    Dulu Pangeran Mangkubumi mbalelo (membangkang) dari kerajaan Kasunanan Surakarta juga karena kecewa pd pemerintahan. Dia keluar dari keraton dan mendirikan keraton sendiri drngan gelar Sultan Hamengku Buwono I. sejak itu Kasultanan Yogyakarta menjadi negar merdeka.

GENG MOTOR LAGI

GENG MOTOR LAGI

     ADA perasaan miris saat mendengar kelakukan anak muda sekarang yang seakan kelewat batas seiring kata mencari jati diri. Aksi balap liar yang dilakukan sekelompok anak muda  berujung pada kekerasan dan perusakan. Alhasil, pebalap liar pun ditangkap dan dijadikan tersangka oleh aparat berwajib. Penangkapan terhadap pemuda yang sejatinya adalah penerus generasi bangsa itu terpaksa dilakukan karena pebalap liar itu bertindak nekat dan beringas.Kelakuan mereka sudah kelewat batas. Menyerang dan menganiaya seorang anggota polisi yang bermaksud membubarkan balapan liar. Parahnya lagi, tak hanya melukai korban, sepeda motor milik polisi juga mereka rusak.
     Aksi tak terpuji seperti ini memang baru pertama kali terdengar. Memang masih jauh jika dibanding dengan aksi para pebalap liar atau geng motor. Semisal seperti di Bandung, Jawa Barat atau di Makassar Sulawesi Selatan. Atau bahkan geng motor sadis asal Pekanbaru, Riau yang dipimpin Klewang. Menilik peristiwa yang sering terjadi. bisa disimpulkan bahwa kesalahan tidak bisa jika hanya ditimpakan kepada kelompok anak muda itu. Pemerintah daerah harusnya memiliki peran lebih untuk mencegah hal itu terjadi.
     Para pebalap liar, geng motor, atau apalah namanya hanyalah sekelompok anak muda yang mencari jati diri. Mereka memiliki nyali dan bakat dalam hal adu kecepatan atau balapan sepeda motor. Namun, bakat mereka tidak tersalurkan pada tempat yang tepat. Di daerah tidak ada arena balap yang representatif dan mampu menyalurkan hobi dan bakat para pebalap itu. Alhasil, jalan yang mulus lebar di perkotaan pun mereka jadikan arena balap.
Kondisi ini sebenarnya sudah lama berlangsung, namun Pemerintah seakan tak peduli atau memandang hal itu tidak berdampak luas pada perkembangan anak-anak di kota ini.
     Lain halnya dengan apa yang terjadi di daerah itu banyak anak muda yang memiliki nyali dan bakat di bidang balap. Namun, mereka bisa menyalurkan bakat di arena balap. Keberadaan arena balap pun seperti menjadi peredam aksi negatif para anak muda. Anak muda secara mudahnya menyalurkan hobi mereka. Menyikapi maraknya balap liar di banua sekarang ini, sudah sepantasnya pemerintah daerah menyiapkan arena representatif untuk meredam aksi negatif dan menyalurkan hobi para anak muda. Selain itu, ketegasan aparat, dalam hal ini Polisi Lalu Lintas, mengamankan jalan yang bisa dijadikan sebagai arena balap juga harus diperlihatkan. Bagaimanapun juga, peran polisi dalam mencegah aksi balapan liar sangatlah besar.
     Televisi kerap menyajikan berita yang berisi tentang bagaimana polisi berjibaku membubarkan balapan liar yang hampir tiap malam meresahkan warga. Atau warga permukiman yang terlibat tawuran dengan pebalap liar karena kesal dengan ulah mereka. Cukuplah itu terjadi di luar sana. Atau cukuplah sudah penganiayaan dan menganggu terhadap anggota polisi dan masyarakat. Kini bagaimana pihak terkait mencegah hal itu terjadi lagi dan pengguna jalan bisa lalu lalang di jalan umum secara tenang.