Tuesday, 27 January 2015

YANG PENTING GOYANGANNYA

YANG PENTING GOYANGANNYA

      BARANGKALI tidak ada artis yang popularitasnya bertahan selanggeng Raja Dangdut, Rhoma Irama, meski usianya sudah 67 tahun. Tokoh yang akrab dipanggil Bang Haji ini memang bukan artis biasa. Ia adalah penyanyi, pencipta lagu, pemain film dan penyampai pesan agama. Ia juga akrab dengan dunia politik.
      Pada pemilu legislatif lalu, Rhoma  berkampanye untuk Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dengan iming-iming akan dicalonkan menjadi presiden. Namun, seperti yang sudah diperkirakan, minggu lalu tersiar kabar, PKB tidak jadi mencalonkannya.
Alasannya, suara PKB tidak cukup untuk mengajukan capres sendiri, sementara capres dari partai yang lebih besar, tidak mau mencalonkan Rhoma sebagai wakil presiden.
     Rhoma Irama, lahir di Tasikmalaya, Jawa Barat, 11 Desember 1946, dengan nama Irama, dan dipanggil Oma. Tambahan RH di depan Oma adalah kependekan dari Raden Haji. Ayahnya, R Burdah Anggawirja adalah perwira TNI AD, dan ibunya, Tuty Juwairiyah, adalah ibu rumah tangga. Menurut cerita, ia diberi nama Irama karena ibunya melahirkannya seusai ayahnya menonton grup sandiwara, Irama Baru.
Pada 1950-an, keluarga Rhoma hijrah ke Jakarta agar si anak bisa mendapatkan pendidikan yang lebih baik. Namun pada 1957, ayahnya meninggal. Ini membuat ibunya agak sulit mengarahkan pendidikan anaknya.
Rhoma muda rupanya lebih tertarik pada lagu dan musik ketimbang belajar. Ia pindah dari satu SMA ke SMA lain di Jakarta. Setelah tamat SMA, ia sempat kuliah, namun kandas di tengah jalan.
      Rhoma semula tertarik pada musik Barat, rock ‘n roll, dan pada 1960-an sempat membuat grup musik bernama Tornado dan Gayhand. Grup ini tidak sukses.
      Pada 1968, Rhoma kemudian bergabung dengan Orkes Melayu Purnama, yang mempertemukannya dengan Elvy Sukaesih (kelak bergelar Ratu Dangdut). Tak puas ikut orang lain, pada 1970, Rhoma akhirnya membentuk grup musik sendiri, Soneta.
William H Frederick, dalam Rhoma Irama and the Dangdut Sytle yang terbit di Jurnal Indonesia (No.32 1982), menjelaskan peran sentral tokoh ini bagi kebangkitan musik dangdut di Indonesia.
     Sukses Rhoma, catatnya, terutama karena kreativitas dan sensitivitasnya yang tinggi membaca perkembangan musik dan selera pasar. Ia berhasil menggabungkan musik melayu, rock, dan India menjadi musik dangdut.
     Selain itu, Rhoma adalah seorang komunikator ulung. Kata-kata dalam lagu-lagunya sederhana, mudah dicerna, dan akrab dengan kehidupan rakyat Indonesia. Pada 13 Oktober 1973, Rhoma mendeklarasikan Soneta sebagai The Voice of Muslims. Sejak itu, pesan-pesan Islam mulai mewarnai lagu-lagunya. Setelah berhaji pada 1975, semua personel Soneta makin taat beragama dan tidak lagi berambut gondrong.
Frederick juga mencatat, keberhasilan Rhoma sebagai superstar, antara lain didukung oleh film-filmnya. Dalam film-film itu, Rhoma tampil sebagai tokoh baik, panutan, dan pembela kaum lemah. Ini adalah cara yang sangat cerdik dan efektif dalam usaha mendekatkan diri ke hati para penggemarnya.
     Khayalan dan kenyataan menjadikabur karena dalam film-film itu Rhoma berperan sebagai dirinya sendiri.
Andrew N Weintraub dalam Dangdut Stories (2010), buku ilmiah terbaru tentang dangdut, antara lain menguraikan sepak terjang Rhoma di bidang politik.
     Pada 1977-1982, Rhoma menjadi juru kampanye PPP (Partai Persatuan Pembangunan). Lagu-lagu Rhoma makin kritis pada pemerintah. Selama masa itu, pemerintah melarangnya tampil di TVRI dan RRI, dan mencekal beberapa lagunya. Namun, hal ini justru menaikkan popularitasnya.
Ketika politik Soeharto bergesar ke kelompok Islam santri, Rhoma mulai dekat dengan pemerintah. Pada 1988, ia tampil lagi di TVRI. Pada 1992-1997, ia menjadi anggota MPR utusan Golkar.
     Setelah Reformasi 1998, Rhoma tak lagi ikut partai. Namun, pada 2003, ia menjadi sorotan karena mengkritik keras goyang ngebor Inul Daratista. Pada Pemilukada Jakarta 2012, ia juga disorot karena komentarnya yang berbau SARA.
“Musik adalah suatu pertanggungjawaban kepada manusia dan Tuhan.” Itulah motto yang diguratkan di prasasti yang terletak di depan pintu masuk salah satu studio Soneta, sebagaimana dikutip Weintraub.
     Mungkin, tahun ini, melalui PKB Bang Haji ingin mengganti kata ‘musik’ di prasasti itu dengan ‘politik’. Sayang, musik dan politik tampaknya hanya serasi saat kampanye, bukan saat membagi kursi!
     Namun Bang Haji tetaplah orang besar, meski a tidak jadi, dan memang tidak perlu, menjadi presiden. Indonesia akan tetap berdangdut dan bergoyang, bukan?

No comments:

Post a Comment