NGAPAIN BERDOA SEGALA
SEORANG
anak balita, bergegas ke toilet karena ingin pipis. Sesampai di depan
pintu toilet, ia berdiri membeku, kemudian mengalirlah air kencing
membasahi celananya hingga ke lantai. “Kenapa kamu tidak langsung masuk
toilet, malah kecing di situ?” tanya orangtuanya geram. “Maaf, saya lupa
doa masuk toilet. Karena mencoba mengingat-ngingat doa itu, akhirnya
terkencing di depan pintu,” kata si anak polos. Begitulah cerita seorang
kawan tentang anaknya, yang membuat saya tertawa geli. Selain doa-doa
dalam salat, sejak kecil, kaum Muslim memang biasanya diajari berbagai
macam doa. Ada doa sebelum dan sesudah makan, doa sebelum tidur dan
bangun tidur, doa sebelum belajar, doa untuk ayah dan ibu, dan lan-lain.
Ketika sudah dewasa, doa-doa semakin banyak. Ada doa selamat, doa
meminta ampun, doa untuk pengantin hingga doa sebelum berhubungan suami
isteri.
Doa-doa tersebut umumnya dalam bahasa Arab. Ada yang diambil dari ayat-ayat Alquran atau Hadis Nabi, dan ada pula yang digubah oleh para ulama. Bagi anak-anak, doa-doa itu diajarkan oleh guru di sekolah atau orangtua di rumah. Kadang kalimat-kalimat Arabnya saja yang diajarkan tanpa diberitahu maknanya. Namun, karena bahasa Arab dianggap sakral dalam Islam, nuansa relijiusnya tetap terasa. Kegemaran akan doa-doa ini berlanjut hingga dewasa. Di Banua ini, salah satu tipe ulama tradisional yang disukai masyarakat adalah ulama yang sering dengan murah hati membagikan aneka bacaan dan doa kepada jemaahnya untuk diamalkan. Apalagi kalau sang ulama berkenan menuliskan bacaan dan doa itu di atas kertas, lengkap dengan terjemahannya, lalu diperbanyak dalam bentuk fotokopi.
Orang mungkin bertanya, mengapa tidak membeli buku-buku doa saja yang melimpah di pasar? Bagi mereka, doa yang diajarkan langsung oleh sang ulama jauh lebih mantap karena diberikan berdasarkan ijâzah, yakni izin spiritual untuk mengamalkannya. Izin itu berantai panjang dari guru ke gurunya, dan terus sampai kepada Nabi Muhammad sendiri atau kepada seorang ulama besar di masa lampau. Di kalangan orang-orang yang katanya pintar, doa sering dikritik. Bagi seorang atheis, doa tak berarti apa-apa selain ungkapan ketidakberdayaan manusia. Bagi seorang rasionalis, doa dianggap tak berguna, karena yang dapat mengubah hidup manusia bukanlah ucapan, melainkan tindakan. Percuma berdoa siang malam, kalau tak bekerja. Sebaliknya, orang akan berhasil kalau bekerja keras, meski tak berdoa. Tetapi menurut Dale Carnigie, doa justru sangat berguna. Pertama, dengan berdoa, orang merasa tidak sendirian dalam hidupnya. Ada Tuhan yang selalu menyertainya.
Kedua, dalam keadaan kalut, orang biasanya bingung, tak benar-benar jelas mengenai apa sebenarnya masalah yang dia hadapi. Melalui doa, masalah itu akan menjadi jelas. Ketiga, doa sebenarnya mendorong manusia untuk bertindak. Bagi sufi seperti Fritjhof Schuon (Muhammad Isa Nuruddin), doa adalah ketika hati naik menggantikan otak, lalu otak tertidur dalam damai yang suci. Doa adalah sarana yang menghubungkan antara yang lahir dan yang batin, yang relatif dan yang mutlak.Doa adalah perjuangan meluluhkan ego, hingga manusia terbebas dari sikap pongah dan sombong. Doa membuat manusia melihat dirinya apa adanya.
Tentu saja, doa dalam pandangan sufi bukanlah doa yang diucapkan laksana mantra tanpa penghayatan akan maknanya. Bukan pula doa bersajak indah yang dibaca lantang di depan publik, seolah ditujukan kepada Tuhan, tapi sebenarnya ditujukan kepada para hadirin agar terpesona. Bukan pula doa politik, yang memuja-muji dan menjilat penguasa. Doa sejati adalah doa yang tulus ikhlas, terbit dari hati. Pada akhirnya, doa yang tulus mungkin bukanlah doa yang dapat mengubah takdir, yaitu ketetapan-ketetapan Tuhan atas hidup manusia dan alam semesta, melainkan doa yang menyiapkan diri kita untuk menyongsong hidup, apapun takdir yang akan terjadi nanti. Doa yang bermakna barangkali adalah doa yang berhasil mentransformasi diri kita menjadi lebih baik, bukan mengubah yang tak dapat diubah. Seperti kata Muhammad Iqbal: Your prayer is that your destiny be changed. My prayer is that, you your self be changed (Doamu adalah, agar nasibmu diubah. Doaku adalah, agar dirimu sendiri yang diubah).

Doa-doa tersebut umumnya dalam bahasa Arab. Ada yang diambil dari ayat-ayat Alquran atau Hadis Nabi, dan ada pula yang digubah oleh para ulama. Bagi anak-anak, doa-doa itu diajarkan oleh guru di sekolah atau orangtua di rumah. Kadang kalimat-kalimat Arabnya saja yang diajarkan tanpa diberitahu maknanya. Namun, karena bahasa Arab dianggap sakral dalam Islam, nuansa relijiusnya tetap terasa. Kegemaran akan doa-doa ini berlanjut hingga dewasa. Di Banua ini, salah satu tipe ulama tradisional yang disukai masyarakat adalah ulama yang sering dengan murah hati membagikan aneka bacaan dan doa kepada jemaahnya untuk diamalkan. Apalagi kalau sang ulama berkenan menuliskan bacaan dan doa itu di atas kertas, lengkap dengan terjemahannya, lalu diperbanyak dalam bentuk fotokopi.
Orang mungkin bertanya, mengapa tidak membeli buku-buku doa saja yang melimpah di pasar? Bagi mereka, doa yang diajarkan langsung oleh sang ulama jauh lebih mantap karena diberikan berdasarkan ijâzah, yakni izin spiritual untuk mengamalkannya. Izin itu berantai panjang dari guru ke gurunya, dan terus sampai kepada Nabi Muhammad sendiri atau kepada seorang ulama besar di masa lampau. Di kalangan orang-orang yang katanya pintar, doa sering dikritik. Bagi seorang atheis, doa tak berarti apa-apa selain ungkapan ketidakberdayaan manusia. Bagi seorang rasionalis, doa dianggap tak berguna, karena yang dapat mengubah hidup manusia bukanlah ucapan, melainkan tindakan. Percuma berdoa siang malam, kalau tak bekerja. Sebaliknya, orang akan berhasil kalau bekerja keras, meski tak berdoa. Tetapi menurut Dale Carnigie, doa justru sangat berguna. Pertama, dengan berdoa, orang merasa tidak sendirian dalam hidupnya. Ada Tuhan yang selalu menyertainya.
Kedua, dalam keadaan kalut, orang biasanya bingung, tak benar-benar jelas mengenai apa sebenarnya masalah yang dia hadapi. Melalui doa, masalah itu akan menjadi jelas. Ketiga, doa sebenarnya mendorong manusia untuk bertindak. Bagi sufi seperti Fritjhof Schuon (Muhammad Isa Nuruddin), doa adalah ketika hati naik menggantikan otak, lalu otak tertidur dalam damai yang suci. Doa adalah sarana yang menghubungkan antara yang lahir dan yang batin, yang relatif dan yang mutlak.Doa adalah perjuangan meluluhkan ego, hingga manusia terbebas dari sikap pongah dan sombong. Doa membuat manusia melihat dirinya apa adanya.
Tentu saja, doa dalam pandangan sufi bukanlah doa yang diucapkan laksana mantra tanpa penghayatan akan maknanya. Bukan pula doa bersajak indah yang dibaca lantang di depan publik, seolah ditujukan kepada Tuhan, tapi sebenarnya ditujukan kepada para hadirin agar terpesona. Bukan pula doa politik, yang memuja-muji dan menjilat penguasa. Doa sejati adalah doa yang tulus ikhlas, terbit dari hati. Pada akhirnya, doa yang tulus mungkin bukanlah doa yang dapat mengubah takdir, yaitu ketetapan-ketetapan Tuhan atas hidup manusia dan alam semesta, melainkan doa yang menyiapkan diri kita untuk menyongsong hidup, apapun takdir yang akan terjadi nanti. Doa yang bermakna barangkali adalah doa yang berhasil mentransformasi diri kita menjadi lebih baik, bukan mengubah yang tak dapat diubah. Seperti kata Muhammad Iqbal: Your prayer is that your destiny be changed. My prayer is that, you your self be changed (Doamu adalah, agar nasibmu diubah. Doaku adalah, agar dirimu sendiri yang diubah).

No comments:
Post a Comment